Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23-Mulai Takut Kehilangan
Selamat Membaca 🐣
"Vi, jujur saja hati ini tak ingin meninggalkan mu. Lalu bagaimana jika jiwa ini yang harus pergi nantinya?" Harry berucap di dalam hati.
"Harry, besok kamu udah mulai kerja ya? terus aku sendiri dong di rumah."
"Engga la Vi, kan nanti ada pembantu. Kalo mau kamu bisa ikut ke kantor," gumam Harry yang mengetahui kegusaran Viana.
"Emang boleh, terus kamu engga ngerasa terganggu gitu kalau aku ikut?"
"Ck, kamu istri aku. Belahan jiwaku, mana mungkin aku ngerasa terganggu. Lagi pula aku juga khawatir kalau ada yang merebut kamu dariku, seperti dulu." Harry berucap spontan tidak menyadari keterkejutan Viana.
"Seperti dulu? maksudnya?"
"Hem ,itu seperti dulu ketika Tomi masih menginginkan kamu. Ya siapa tahu dia menyesal dan ingin kembali padamu, aku tidak rela sudah terlalu dalam nama ku terukir di hatiku." Harry bicara dengan gugup, seolah ada yang sedang dia sembunyikan.
"Cuma itu aja?" tanya Viana menyelidiki.
"Iya, aku bahkan lebih takut jika suatu saat kamu sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita." Harry mendekatkan wajahnya pada Viana, yang jelas Viana tahu apa yang selanjutnya terjadi.
Ketika wajah Harry sudah tinggal beberapa inci, Viana menahannya. Dengan beralasan haus, Harry membatalkan niatnya. Sebenarnya diam-diam Viana minum obat supaya dia tidak hamil, hal itu lantaran Viana masih belum yakin sepenuhnya. Di tambah Nayla yang begitu ngotot ingin Viana menjauhi Harry, bukan berarti Viana tidak percaya pada suaminya atau karena Viana termakan hasutan Nayla. Viana hanya berhati-hati saja, apalagi pernikahan mereka terkesan di paksakan oleh Harry.
"Siapa yang harus ku percayai?"
Ketika Viana minum obat, ternyata Harry menyusulnya ke bawah. Karena melamun, Viana tidak tahu kalau Harry sudah memeluknya dari belakang. Sontak Viana menjatuhkan pilnya, jantung Viana berdegup kencang. Sebelumnya Harry sudah mengatakan kalau dia ingin memiliki anak bersama Viana, jika Harry tahu pastilah Harry akan marah.
"Sayang kok lama sih?" tanya Harry menenggelamkan wajahnya di leher Viana.
"Masak sih, perasaan aku baru turun. Kamunya aja yang ngerasa lama," ucap Viana mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Vi, jangan tinggalkan aku ya." Harry mengeratkan pelukannya, seolah benar-benar takut kehilangan Viana.
"Kamu kenapa sih?" tanya Viana yang membalikkan tubuhnya menghadap Harry.
"Aku takut aja kehilangan kamu." Harry memeluk Viana erat, begitu juga Viana yang membalas pelukan Harry.
********
Keesokan harinya, Viana sudah bangun pagi-pagi sekali. Sebelum Harry berangkat kerja, Viana sudah menyiapkan sarapan untuknya. Harry meraba kasur di sampingnya, ternyata istrinya tidak ada. Harry kemudian bangun, lalu membersihkan dirinya. Harry bersiap untuk berangkat ke kantor, ketika turun terlihat Viana sudah menata masakan.
"Hem, selain cantik ternyata istriku pinter masak ya." Harry tersenyum manis sekali melihat Viana yang juga membalas senyumannya.
"Gombal ah," Viana menyiapkan makanan untuk Harry.
Ketika Viana menyiapkan makanan, Harry menarik Viana ke pangkuannya. Viana merasa malu, entah mengapa padahal mereka sudah menikah. Harry menyuapi Viana, begitu juga Viana. Mereka saling menyuapi dan makan dalam satu piring yang sama, sungguh pasangan yang romantis.
"Vi, aku berangkat sekarang ya. Kalo bosen, kamu boleh cari aku! nanti bibi Hazal akan datang jadi kamu jangan sampai capek ya." Harry mengecup kening Viana sebelum berangkat kerja.
"Iya, kamu hati-hati." Viana memeluk Harry.
Viana melihat kepergian Harry dengan mobilnya, benar saja tidak berselang lama datanglah taxi. Turun seorang wanita yang lebih tua sedikit dari Rita, tampaknya sangat ramah seolah dia sudah tahu tentang Viana.
"Nyonya Viana," sapanya ramah pada Viana.
"Bibi Hazal ya?" tanya Viana mengira-ngira.
"Iya nyonya, saya Hazal. Ternyata benar apa yang di katakan oleh Tuan Harry, nyonya sangat cantik." Hazal memuji Vian dan menatapnya penuh kekaguman.
"Bibi bisa saja, panggilnya Viana aja bi. Lagi pula bibi ini sepertinya hampir seumuran dengan Tante saya." Viana kemudian mempersilahkan Hazal untuk masuk, mereka langsung akrab.
"Bibi, makan dulu ya. Tadi aku sudah masak," ucap Viana mempersilahkan.
"Ya ampun maaf nyonya, kalau saya datang terlambat. Tapi saya juga tidak mungkin makan di sini, tempat makan saya di belakang." Hazal tampak menyesal karena datang terlambat, di karena ada yang harus dia selesaikan juga.
"Jangan panggil nyonya bi, panggil Viana saja ya. Dan masalah tempat makan, saya tidak masalah kalau bibi makan di sini. Harry pasti tidak keberatan, apalagi kita cuma tinggal bertiga sekarang soalnya Greta juga jarang kesini."
"Iya nyonya eh maksudnya Viana duh jadi engga enak, nona Greta memang jarang kesini. Saya berterima kasih sekali, baiklah saya akan makan disini tapi jika tuan Harry tidak ada. Takut mengganggu pasangan muda, " ucap bibi Hazal membuat Viana merasa bloshing.
"Iya baiklah bi, kalau begitu saya ke atas dulu ya. Tadi saya sudah makan, selamat makan bi." Viana naik ke atas.
"Kasihan tuan dan nyonya, apakah mereka akan tetap bersama nantinya?" gumam Hazal seorang diri.
Di kantornya Harry sedang ada meeting dengan kliennya, ternyata Margaretha tidak ada di kantor. Harry tidak tahu, kalau Margaretha mencari Tomi. Jadi hanya Harry dan beberapa staf yang menghadirinya tanpa Margaretha, setelah sore hari dan meeting sudah selesai Harry memutuskan untuk pulang lebih awal.
"Hana, tolong nanti minta Margaretha untuk menyelesaikan cetak birunya ya! Aku tidak mau dia libur terlalu lama, kalau dia sudah selesai mengerjakan tugasnya minta dia untuk pulang ke Mansion utama!"
"Iya tuan muda, permisi." Hana meninggalkan Harry dan kembali ke ruangannya.
"Duh kenapa deg-degan ya melihat tuan muda Harry, sayangnya dia udah nikah. Coba saja dia mau menikah lagi, aku pasti mau untuk menjadi istri keduanya." Hana dari tadi memegang dadanya, gadis ini memang sudah lama mencintai Harry.
Sayangnya Harry tak pernah meliriknya, karena Harry tidak mau memiliki skandal dengan karyawannya. Meski beberapa kali Harry menjalankan hubungan yang tidak serius, tapi Harry tidak pernah melakukan apa yang dia lakukan pada Viana. Harry hanya sebatas menjadikannya sebagai pelarian saja ketika jauh dari Viana selama bertahun-tahun mereka berpisah.
Harry sudah sampai di mansion, terlihat bibi Hazal membuka pintu. "Tuan sudah pulang." Hazal mengambil tas Harry kemudian menaruhnya di tempat kerja Harry.
"Viana dimana bi?" tanya Harry.
"Dia balkon belakang tuan, tadi Viana sepertinya sedang mengerjakan sesuatu," ucap bibi yang membuat Harry mengeraskan rahangnya.
"Bibi panggil Viana apa tadi?" tanya Harry pelan, tapi mampu membuat Hazal ketakutan.
"Maaf tuan, se-sebenarnya tadi non Viana yang meminta saya memanggilnya seperti itu, sekali lagi maaf tuan." Hazal mencakup kan tangannya karena begitu takut, sehingga bicara pun sampai menangis.
"Jadi begitu, baiklah. Tapi jika di depan saya bibi harus memanggilnya nyonya, kalau di depan Viana turuti saja apa yang dia minta!"
Bersambung 🌻