NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

"Kiana Lim," katanya pelan, "kamu sebenarnya mau apa?"

Kiana menahan napas.

Pertanyaan itu seharusnya mudah. Ia bisa berkata uang dan mobil itu bagian dari kontrak, bukan perhatian. Namun Hans menahannya tanpa memaksa.

"Aku tidak ingin berutang nyawa," jawabnya akhirnya. "Kamu menyelamatkanku dari api. Kamu juga setuju menikah denganku tanpa banyak bertanya. Kalau aku bisa membuat hidupmu sedikit lebih mudah, aku akan melakukannya."

Mata Hans bergerak turun ke kunci Bentley di meja, lalu kembali ke wajah Kiana.

"Hidupku tidak sesulit itu."

"Dari luar, kelihatannya begitu."

"Kelihatannya bisa salah."

Kiana terdiam. Bukankah hidupnya sendiri juga begitu? Dari luar, ia putri keluarga Lim yang lahir di atas karpet merah. Dari luar, semua orang mengira ia hanya kehilangan pernikahan.

Hans melepaskan tangannya.

"Bawa pulang uangnya," katanya.

"Kuncinya?"

"Tinggalkan kalau kamu mau. Aku tidak janji pakai."

Kiana mengambil amplop uang dari meja dan memasukkannya kembali ke tas. Kunci Bentley tetap ia biarkan di sana.

"Besok Senin," ucapnya sambil mundur ke pintu. "Aku harus ke Bintang Grup."

Hans tidak bertanya untuk apa. Ia hanya berkata, "Jangan pakai sepatu tinggi."

Kiana hampir tersenyum. "Kamu ini suami kontrak atau dokter ortopedi?"

"Pemadam kebakaran. Kami sering melihat orang jatuh karena keras kepala."

Pintu tertutup di antara mereka, tapi kalimat pendek itu ikut turun bersama Kiana ke lantai bawah.

Keesokan paginya, Jakarta masih basah oleh hujan malam ketika mobil putih itu berhenti di depan gedung Bintang Grup. Kiana sengaja memakai flat shoes hitam yang cukup rapi untuk ruang rapat dan cukup aman untuk pergelangan kakinya.

Di lobi, dua resepsionis menatapnya dengan cepat, lalu segera menunduk.

"Pagi, Bu Kiana."

"Pagi."

Sapaan itu sopan, tetapi bisik-bisik di belakangnya lebih jujur. Berita batalnya pernikahan dengan Jovian sudah berputar di lingkaran bisnis Jakarta. Semua orang tahu. Semua orang pura-pura tidak tahu.

Kiana naik lift ke lantai hukum perusahaan.

Ia datang untuk satu hal: meminta pembaruan proses notaris terkait wasiat Engkong.

Namun staf legal hanya membuka map tipis, lalu mendorong satu surat ke arahnya dengan wajah serba salah.

"Maaf, Bu Kiana. Berdasarkan evaluasi internal, status Ibu di Bintang Grup dianggap nonaktif. Dalam enam bulan terakhir, tidak ada kontribusi bisnis langsung atas nama Ibu. Karena itu, permohonan lanjutan terkait pengelolaan saham perlu ditinjau ulang oleh direksi."

Kiana membaca sampai selesai. Ujung jarinya berhenti di satu frasa.

Tidak ada kontribusi bisnis langsung.

Lucu.

Langit AI yang masih menjadi tulang punggung sistem prediksi Bintang Grup lahir dari kode yang ia tulis sendiri. Namun begitu ia tidak lagi berguna sebagai calon menantu keluarga Loe, mereka menyebutnya tidak berkontribusi.

"Siapa yang menandatangani memo ini?"

Staf itu menelan ludah. "Pak Hendro."

Kiana menutup map. Tidak ada gunanya memarahi staf. Orang kecil hanya membawa pisau yang diberikan orang besar.

"Baik. Saya akan bicara langsung dengan Papa."

Ia tidak langsung ke ruang Hendro. Kakinya berbelok ke lantai teknologi.

Dulu, ruangan di ujung koridor itu miliknya. Bukan karena namanya Lim, melainkan karena ia tidur di sofa kantor selama berbulan-bulan saat Langit AI masih belajar membedakan pola kebakaran dari gangguan cuaca.

Sekarang pintunya terbuka.

Papan nama baru terpasang mengilap.

Wakil Direktur Teknologi

Vanya Pai

Di balik kaca, Vanya duduk mengenakan blazer krem, rambutnya digelung rapi, seolah ruangan itu memang selalu menjadi miliknya. Beberapa dokumen Kiana ditumpuk di dalam kardus dekat dinding. Mug retak pemberian Mama tergeletak di atas kardus paling bawah, hampir tertutup kabel bekas.

Vanya mengangkat wajah. Senyumnya muncul terlalu cepat.

"Kiana? Aduh, aku kira kamu masih istirahat. Kakimu sudah baikan?"

Kiana masuk tanpa menunggu dipersilakan.

"Kamu duduk di kursiku."

Senyum Vanya menipis, lalu kembali lembut. "Pak Hendro yang minta. Katanya bagian teknologi butuh orang yang bisa bekerja cepat. Aku juga tidak enak, tapi kalau perusahaan membutuhkan..."

"Perusahaan atau kamu?"

Wajah Vanya berubah satu detik saja. Cukup bagi Kiana untuk melihat kepanikan kecil di balik mata manis itu.

Sebelum Vanya sempat menjawab, suara Hendro terdengar dari belakang.

"Kiana, jangan membuat keributan di kantor."

Kiana menoleh. Hendro berdiri di koridor dengan rahang mengeras. Kemejanya rapi, jam tangannya mahal, wajahnya memakai ekspresi seorang ayah yang kecewa. Ekspresi yang dulu cukup untuk membuat Kiana merasa bersalah.

Sekarang tidak lagi.

"Saya datang untuk mengurus proses wasiat Engkong. Tapi bagian legal bilang saya dianggap nonaktif."

"Karena itu fakta." Hendro masuk dan menutup pintu. "Kamu meninggalkan pekerjaan, membuat skandal keluarga, menjual perhiasan, lalu tiba-tiba datang menuntut hak. Direksi tidak bisa bekerja berdasarkan emosi anak kecil."

"Menarik." Kiana melirik Vanya yang berdiri di samping meja. "Jadi Vanya yang baru beberapa hari masuk bisa langsung duduk sebagai wakil direktur, sementara saya yang membangun Langit AI dianggap nonaktif?"

Vanya menggigit bibir. "Kiana, aku tidak bermaksud mengambil apa pun darimu."

"Tapi selalu berakhir di tanganmu."

"Cukup!" Hendro menampar permukaan meja.

Suara itu membuat beberapa orang di luar menoleh.

Kiana tidak berkedip.

Hendro menarik napas, lalu melemparkan satu folder ke meja. "Mulai hari ini, kamu dipindahkan ke Navara Tech sebagai direktur. Anak perusahaan itu butuh orang. Kalau kamu memang sehebat yang kamu kira, selamatkan dia."

Navara Tech. Di Bintang Grup, nama itu sering disebut dengan nada kasihan. Arus kas menipis, proyek macet, staf tinggal setengah. Dalam rapat terakhir yang Kiana ingat dari kehidupan sebelumnya, Navara hanya diberi dua bulan sebelum ditutup.

Jadi ini hukuman.

Kiana membuka folder itu sebentar, lalu menutupnya lagi.

"Papa baik sekali pada Vanya," katanya tenang. "Orang yang tidak tahu mungkin akan mengira dia anak kandung Papa."

Wajah Hendro berubah merah.

Vanya mendadak pucat.

Hanya satu kalimat. Namun reaksinya terlalu besar.

"Jaga mulutmu!" Hendro mengangkat tangan seolah hendak menunjuk wajah Kiana, tapi berhenti saat beberapa staf di luar benar-benar menatap ke dalam melalui kaca.

Kiana tersenyum tipis. "Kenapa marah? Saya cuma bilang orang bisa salah paham."

Pada saat itu, alarm dari ruang server memotong udara.

Tiiit. Tiiit. Tiiit.

Seorang pria berkacamata berlari dari koridor. Wajahnya berkeringat, kartu akses di lehernya berayun.

"Pak Hendro! Server utama Cakrawala AI down. Modul prediksi gagal sinkron. Dashboard klien kosong semua."

Hendro menoleh tajam. "Benny, panggil tim."

"Sudah, Pak. Tapi patch terakhir terkunci. Sistem minta key enkripsi lama." Pria itu, Benny Song, melirik Kiana dengan putus asa yang nyaris tidak disembunyikan. "Key itu... sepertinya dibuat dari struktur Langit AI."

Vanya langsung maju. "Aku bisa cek."

Mereka berlari ke ruang server. Kiana mengikuti beberapa langkah di belakang, karena suara alarm itu terdengar seperti seseorang menjerit dari mesin yang pernah ia lahirkan.

Di depan layar besar, kode merah memenuhi dashboard. Vanya duduk di kursi operator. Jarinya mengetik cepat, wajahnya tegang. Setiap perintah yang ia masukkan kembali dengan pesan gagal.

ACCESS DENIED.

INVALID LEGACY KEY.

Keringat tipis muncul di pelipis Vanya. Hendro menekan suaranya. "Vanya."

"Sebentar, Papa. Ini hanya masalah kecil."

Benny menatap grafik klien yang terus turun. "Kalau lebih dari sepuluh menit, data recovery bisa kacau. Ada tiga klien enterprise sedang memakai modul ini."

Kiana berdiri di samping rak server, mencium bau pendingin ruangan dan kabel panas. Tubuhnya mengingat ritme lama. Alarm, layar merah, orang-orang panik. Dulu ia hidup di tempat seperti ini.

"Benny," panggilnya.

Benny langsung menoleh. "Bu Kiana?"

"Buka terminal legacy. Jangan lewat dashboard Vanya."

Ruangan hening sepersekian detik.

Vanya menoleh tajam. "Kamu mau apa?"

"Menyelamatkan sistem yang kamu duduki."

Kiana menarik kursi kosong, duduk, lalu meletakkan tas di lantai. Pergelangan kakinya berdenyut, tapi ia mengabaikannya. Jarinya menyentuh keyboard.

Tidak ada drama. Hanya baris perintah, pola folder, dan ingatan tentang malam-malam ketika ia menulis lapisan keamanan agar Langit AI tidak bisa dicuri begitu saja.

Tiga menit kemudian, layar merah berubah kuning.

Benny menahan napas.

Kiana mengetik satu rangkaian key yang tidak pernah ia tulis di dokumen perusahaan. Key itu dibentuk dari pola waktu commit pertama Langit AI dan variabel kecil yang dulu ia beri nama bo_bo.

ENTER.

Dashboard berkedip. Hijau.

Satu per satu modul naik kembali.

"Online!" seseorang berseru dari belakang. "Cakrawala kembali online!"

Ruang server meledak oleh napas lega. Ada yang bertepuk tangan spontan. Benny sampai memegang meja.

Vanya duduk diam. Wajahnya putih seperti kertas.

Kiana berdiri. Ia tidak menatap Vanya. Ia menatap Benny.

"Backup key jangan disimpan di komputer yang bisa diakses semua orang. Dan audit modul prediksi. Kalau akar masalahnya tidak dibersihkan, ini akan jatuh lagi."

Benny mengangguk cepat. "Baik, Bu Kiana. Terima kasih. Sungguh, terima kasih."

Kiana mengambil tasnya.

Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. "Saya masih akan kembali."

Kalimat itu tidak keras, tapi cukup membuat seluruh ruang server mendengarnya.

Sore itu, Kiana tiba di kantor Navara Tech di kawasan industri lama Tangerang. Gedungnya tidak jelek, hanya lelah. Cat dinding mulai kusam, tanaman pot di lobi hampir mati.

Seorang perempuan muda berambut sebahu berdiri gugup dari meja administrasi.

"Bu Kiana? Saya Lina, admin di sini. Maaf, kantor agak berantakan. Kami baru tahu Ibu datang hari ini."

"Tidak apa-apa, Lina."

Lina mengantar Kiana ke ruang direktur. Ruangan itu kecil, meja kayunya tergores, jendela menghadap parkiran truk. Di atas meja ada laporan keuangan, daftar karyawan, dan satu map merah bertuliskan PROYEK POTENSIAL.

Kiana membuka laporan pertama. Kas perusahaan cukup untuk dua bulan. Gaji tertunda satu minggu. Tiga klien mundur. Lalu ia membuka map merah.

Di halaman pertama, logo yang tercetak membuat jarinya berhenti.

Vista Home.

Anak perusahaan Kei Group yang sedang mencari sistem AI untuk keamanan hunian pintar. Deadline pengajuan proposal: tujuh hari lagi.

Di luar, Lina masih berdiri dengan wajah cemas.

"Bu, jujur saja... banyak yang sudah siap cari kerja lain. Kalau proyek ini gagal, Navara mungkin tutup."

Kiana menatap halaman itu lama.

Ia menutup map, lalu menarik kursi usang di belakang meja direktur.

"Kumpulkan semua orang besok jam sembilan," katanya. "Kita akan ikut pitching Vista Home."

Lina tertegun. "Dengan kondisi kita sekarang?"

Kiana menatap logo Vista Home sekali lagi. Kei Group. Nama yang tanpa sadar menghubungkannya kembali pada kunci Bentley di meja Hans.

"Justru karena kondisi kita sekarang," jawabnya. "Kalau mereka ingin membuangku ke tempat yang hampir tenggelam, aku akan pakai tempat ini untuk berenang kembali."

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!