NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012

Kiara Media

Workshop akting berakhir lebih cepat dari jadwal karena semua orang terlalu sibuk pura-pura tidak melihat ke arah pintu kaca.

Rayhan memang tidak masuk. Ia hanya berdiri di luar bersama Adi, sesekali menerima telepon, sesekali menunduk membaca tablet. Tapi kehadirannya cukup membuat instruktur workshop berbicara pada Kiara dengan nada dua tingkat lebih halus daripada peserta lain.

Kiara tidak suka itu.

Ia ingin dihormati karena kemampuan, bukan karena seorang pria menunggu di luar pintu.

Maka ketika kelas selesai dan Rayhan membukakan pintu mobil untuknya, kalimat pertama Kiara bukan terima kasih.

"Aku tidak mau semua orang memperlakukanku seperti barang rapuh."

Rayhan tidak tampak terkejut.

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu. Kamu berdiri di luar pintu saja sudah membuat mereka takut."

"Kalau aku masuk, mereka akan lebih takut."

Kiara menatapnya.

Rayhan menatap balik dengan wajah sangat tenang.

Entah kenapa, Kiara tidak bisa marah penuh. Ia justru menahan napas, lalu masuk ke mobil dengan kesal yang tidak tahu harus diarahkan ke mana.

"Kita mau ke mana?" tanyanya ketika mobil bergerak ke arah SCBD, bukan ke rumah Tanuwijaya.

"Melihat sesuatu."

"Kamu selalu begitu. Memutuskan dulu, menjelaskan belakangan."

Rayhan meliriknya. "Kalau kujelaskan dulu, kamu akan menolak."

"Berarti seharusnya tidak dilakukan."

"Belum tentu."

Kiara memejamkan mata. "Koh Rayhan."

"Hmm?"

"Kamu menyebalkan."

Sudut bibir Rayhan bergerak sedikit. "Tapi kamu tetap ikut."

Kiara membuka mata dan menoleh tajam. Sayangnya, ia memang tetap ikut.

Mobil berhenti di depan gedung kantor modern di kawasan SCBD. Tidak sebesar kantor pusat Purnawan Group, tapi tetap terlalu mewah untuk ukuran perusahaan baru. Lobi marmernya wangi, lift privatnya sunyi, dan staf resepsionis menunduk begitu melihat Rayhan.

Di lantai dua puluh satu, pintu lift terbuka ke sebuah kantor yang masih baru.

Dinding kaca menghadap gedung-gedung tinggi Jakarta. Meja-meja kerja tersusun rapi, ruang meeting dipisahkan panel bening, dan di salah satu sisi ruangan ada studio kecil dengan lampu, kamera, serta backdrop polos. Semuanya belum ramai, tapi sudah hidup seperti menunggu seseorang datang.

Kiara melangkah pelan.

Lalu ia melihat tulisan di dinding utama.

Kiara Media.

Dua kata itu dibuat dari huruf logam warna emas muda. Di bawahnya, logo sederhana berbentuk garis lengkung seperti bulan sabit tipis.

Kiara berhenti.

Untuk beberapa detik, ia lupa bernapas.

"Apa ini?"

Rayhan berdiri di sampingnya. "Perusahaan media."

"Aku bisa lihat itu."

"Namanya Kiara Media."

Kiara menoleh padanya. "Kenapa?"

Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang ia mau.

Rayhan memandang logo di dinding, lalu memandangnya.

"Karena aku ingin semua pintu yang dulu tertutup untukmu punya kunci baru."

Dada Kiara terasa penuh.

Ia seharusnya langsung menolak. Seharusnya mengatakan bahwa ini terlalu berlebihan, terlalu cepat, terlalu tidak masuk akal. Tapi melihat namanya berdiri di dinding kantor, bukan sebagai bahan gosip, bukan sebagai anak yang membuat malu, melainkan sebagai sesuatu yang dibangun dengan serius, membuat matanya panas.

Ci Lucy muncul dari ruang meeting dengan wajah yang jelas sudah tahu lebih dulu.

"Jangan lihat aku begitu," ucapnya cepat. "Aku baru tahu pagi ini. Dan secara profesional, ini masuk akal."

Kiara menatapnya. "Ci Lucy."

"Dengar dulu." Ci Lucy mengangkat map. "Kiara Media bukan cuma agensi untuk kamu. Struktur awalnya produksi konten, manajemen artis kecil, PR, dan pengembangan proyek film. Kamu tidak dipaksa tanda tangan eksklusif yang mengikat seumur hidup. Aku sudah cek draft kontraknya."

Kiara menatap Rayhan.

"Kamu melibatkan Ci Lucy?"

"Kamu mempercayainya."

Jawaban itu membuat Kiara diam.

Rayhan ternyata tidak hanya melempar uang lalu memaksanya menerima. Ia tahu siapa yang Kiara percaya, lalu menaruh orang itu di jalur yang bisa memeriksa keputusan.

"Aku tidak mau karierku jadi mainanmu," kata Kiara.

"Tidak akan."

"Aku tidak mau dipilih hanya karena kamu."

"Kalau kamu tidak punya kemampuan, aku tetap bisa memberimu perusahaan. Tapi aku tidak bisa membuat penonton menangis saat kamu berakting." Rayhan berhenti sebentar. "Itu hanya kamu yang bisa."

Kalimat itu menghantam tempat paling lembut di dada Kiara.

Selama ini, keluarga Tanuwijaya membuatnya merasa semua yang ia dapat harus mengalah pada Wenny. Industri membuatnya merasa ia cuma nama bermasalah. Tapi Rayhan, dengan semua cara gilanya, justru berbicara seolah bakat Kiara adalah fakta, bukan harapan.

Ci Lucy membuka map dan menunjuk beberapa halaman.

"Kamu tetap bisa audisi. Tetap bisa menolak proyek. Kiara Media akan jadi payung, bukan kandang."

Kiara menatap kata `payung` itu dalam diam.

Bukan kandang.

Ia tidak tahu apakah Rayhan sengaja memilih struktur itu karena percakapan mereka tentang menjaga dan mengurung, atau karena Ci Lucy menuntutnya. Apa pun alasannya, berat di dadanya sedikit berkurang.

"Dan siapa pemiliknya?" tanya Kiara.

Adi menjawab dari belakang, "Saham mayoritas sementara dipegang entitas investasi Purnawan Group. Ada opsi pengalihan bertahap untuk Nona Kiara saat beliau siap secara legal dan profesional."

Kiara menoleh. "Aku tidak minta."

Rayhan berkata pelan, "Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

"Karena kamu belum punya tempat yang berdiri untukmu."

Kiara menggenggam ujung map.

Di luar kaca, Jakarta berkilau di bawah matahari siang. Kota yang sama yang kemarin terasa siap menelannya, kini terbentang seperti panggung yang mungkin bisa ia pijak dengan kaki sendiri.

"Ini terlalu besar," bisiknya.

Rayhan berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, tapi dekat.

"Kalau berat, pakai pelan-pelan."

"Kalau aku menolak?"

"Kantor ini tetap di sini sampai kamu berubah pikiran."

Kiara menoleh padanya. "Kamu boros."

"Untukmu, iya."

Wajah Kiara panas.

Ci Lucy pura-pura batuk. Adi memandang tablet seolah tidak mendengar apa pun.

Kiara kembali melihat tulisan `Kiara Media` di dinding. Dua kata itu terasa seperti hadiah, janji, dan beban sekaligus.

"Aku belum menerima," katanya akhirnya.

Rayhan tersenyum tipis.

"Tapi kamu belum pergi."

Kiara ingin membantah.

Namun kali ini, ia memang tetap berdiri di sana, menatap namanya yang untuk pertama kalinya tidak terasa seperti hukuman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!