Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Karena terlalu asyik mengobrol, tanpa sadar langkah kaki mereka telah membawa mereka melewati persimpangan lorong terakhir. Di hadapan mereka, berdiri kokoh pintu kayu ganda berwarna cokelat gelap yang menjadi pintu masuk ruang klub OSIS.
Bayangan dari jendela lorong jatuh menutupi separuh pintu tersebut, menciptakan nuansa yang sedikit lebih suram dari biasanya. Jemari Nimura bergerak dengan lihai. Ia memegang ujung map dengan lengan kirinya, sementara tangan kanannya merayap maju meraih gagang pintu kuningan tersebut.
Ia menekan gagangnya ke bawah. Terdengar bunyi klik logam yang pelan, lalu Nimura menggeser pintu kayu yang berat itu ke arah dalam. Udara dingin seketika berhembus keluar dari celah pintu.
Keduanya melangkah beriringan melewati area rak buku depan menuju ke ruang utama OSIS yang terletak sedikit lebih dalam. Sepatu mereka berderit pelan di atas lantai kayu yang dipoles.
Namun, baru tiga langkah mereka berjalan melewati batas ambang pintu utama, hawa di dalam ruangan itu terasa sangat berbeda.
Keheningan yang ada bukan lagi keheningan yang tenang, melainkan keheningan pekat yang mematikan. Sebuah aura mencekam, berat, dan bertemperatur sangat dingin seolah merayap naik dari lantai, menggerayangi pergelangan kaki dan naik ke seluruh tubuh mereka berdua.
Gravitasi di ruangan itu terasa berlipat ganda.
Langkah kaki Yudi terhenti total. Tenggorokannya bergerak naik turun, menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Rambut halus di tengkuknya berdiri tegak. Setitik keringat dingin seukuran biji jagung meluncur dari pelipisnya.
Firasatku mengatakan... ada bahaya besar yang menanti di depan, bisik insting bertahan hidup Yudi di dalam kepalanya. Otot-otot betisnya menegang, bersiap untuk berbalik arah jika diperlukan.
"Senpai..."
Suara panggilan itu terdengar sangat lirih dan bergetar. Tangan Nimura secara refleks bergerak cepat, mencengkeram erat lengan kemeja Yudi. Gadis mungil itu melangkah menempel lebih dekat ke sisi tubuh Yudi, bahunya gemetar pelan, berusaha mencari sedikit sumber kehangatan dan rasa aman dari tekanan aura ruangan yang tiba-tiba mengintimidasi sarafnya.
Begitu mereka berbelok melewati partisi rak dan tiba di ruang utama yang diterangi oleh cahaya lampu gantung, pemandangan yang tersaji di depan mata mereka menjelaskan segalanya.
Komposisi orang di ruangan itu sama persis dengan kejadian siang tadi: lima orang gadis dan satu pria.
Namun, postur dan bahasa tubuh mereka berubah drastis. Tsubaki berdiri kaku di dekat jendela, kedua tangannya bertumpu rapat di depan perut, tatapannya tidak fokus. Reya dan Momo berdiri saling merapatkan diri di sudut meja, wajah mereka sedikit pucat, tidak ada lagi senyum menggoda.
Tomoe duduk kaku di kursinya, tidak ada tanda-tanda jari yang membentuk huruf 'V' di pelipisnya. Saji berdiri mematung di seberang meja, rahangnya terkatup sangat rapat, dan butiran keringat sebesar kacang membanjiri dahi dan pelipisnya tanpa henti.
Sedangkan sang sumber dari segala tekanan mematikan itu, Sona Sitri, duduk diam di kursi kebesarannya di ujung meja. Kepalanya sedikit tertunduk, membuat bayangan dari rambut pendeknya menutupi separuh wajahnya.
Matanya yang memancarkan kilatan es menatap tajam bagaikan anak panah, mengunci lurus ke arah Yudi yang baru saja tiba. Di sekeliling tubuh Sona, pendaran aura berwarna ungu kehitaman menguar pekat ke udara, menciptakan distorsi visual yang membuat sosoknya terlihat sangat menyeramkan.
Merasakan tatapan itu, cengkeraman jari-jari Nimura di lengan Yudi semakin menguat hingga kuku-kukunya nyaris menembus kain kemeja. Jarak di antara tubuh mereka berdua kian menipis. "Senpai..." panggil Nimura lagi, suaranya kini semakin bergetar, matanya yang lebar mulai berpendar karena rasa ngeri yang tidak bisa ia tahan.
Yudi menarik napas panjang, mencoba memompa sedikit oksigen ke paru-parunya yang terasa terjepit. Ia memaksakan otot wajahnya untuk bergerak, membentuk sebuah senyuman tipis dan kaku.
"Yo, Minna (semuanya)..." ucap Yudi mencoba melontarkan basa-basi dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan. Namun, tenggorokannya terasa begitu kering, seolah ada rasa panas yang membakar kerongkongannya.
"Maaf, sepertinya... aku sedikit terlambat datang kemari."
"Lekas duduk di tempat kalian berdua. Sekarang," perintah Sona. Suaranya tidak keras, tidak ada nada berteriak, namun setiap suku kata yang keluar dari mulutnya memotong udara layaknya bilah silet yang sangat tajam dan dipenuhi penekanan absolut.
Mendengar komando tersebut, kaki Yudi dan Nimura bergerak otomatis. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk berargumen, mereka berdua berjalan cepat dengan lutut sedikit gemetar dan segera menjatuhkan tubuh mereka, duduk di dua kursi kosong yang berada paling dekat dengan pintu masuk.
Punggung mereka tegak lurus, menegang kaku menempel di sandaran kursi. Keheningan kembali menyergap ruangan itu selama lima detik, sebelum Sona kembali memecah kesunyian.
"Kenapa kau tidak bisa datang tepat waktu kemari sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan?" Sona menggeser tatapan esnya dari Yudi, menatap lurus ke arah Nimura yang duduk di sebelahnya. "Nimura. Apa saja yang kau lakukan di luar sana sedari tadi?"
Mendapat tekanan tatapan langsung dari sang ketua, bahu Nimura tersentak kaget. Tubuhnya membungkuk sedikit, matanya bergerak panik menatap permukaan meja kayu di depannya.
"Ih... etto... S-Sona Kaichou..." Nimura membuka suara dengan terbata-bata, napasnya memburu menahan ketakutan. "A-aku sebenarnya sudah berusaha mencari Yudi-senpai sedari awal bel berbunyi... tapi aku baru berhasil bertemu dengannya beberapa waktu kemudian di dekat lapangan basket."
Nimura menelan ludahnya, melirik sekilas ke arah Yudi. "Saat aku menemukannya... dia entah kenapa berjalan dengan mengendap-endap di balik bayangan tembok... seolah-olah dia sedang sangat ketakutan akan adanya sebuah sergapan musuh dari arah depan. Bahkan... saat aku menepuk pundaknya untuk mengajak dan memberitahunya agar segera datang ke ruangan ini, respons tubuhnya begitu panik dan terkejut..."
Setelah mendapatkan laporan dari Nimura, sorotan mata ungu Sona kembali bergulir, bergerak perlahan layaknya moncong meriam yang membidik target utama.
Ia mengunci tatapannya lurus pada kedua kornea mata Yudi. Hawa ungu di sekelilingnya sedikit bergejolak. Ia menatap remaja itu dari atas ke bawah, seakan hendak menjatuhkan sebuah hukuman ilahi.
Di dalam benak Sona, rentetan kejadian siang tadi masih membekas sangat jelas. Ego dan kebanggaannya sebagai Ratu Catur sekaligus Ketua OSIS telah dilecehkan secara telak oleh pemuda di depannya ini; pertama, dengan kekalahan waktu akibat kesombongannya sendiri, dan kedua, yang paling tidak bisa dimaafkan, Yudi telah berani menolak tantangan ulang darinya dan kabur begitu saja berlindung di balik alasan kedisiplinan palsu.
"Apa pembelaanmu, Yudi?" ucap Sona. Nada suaranya turun satu oktaf, teramat sangat dingin, membekukan suhu udara di sekitarnya hingga titik terendah.
Mendengar nada suara Sona yang seperti itu, Saji Genshirou yang berdiri di seberang meja tak kuasa menahan bahunya yang bergidik keras. Selama satu tahun penuh ia berada di dalam kelompok ini, baru kali ini ia melihat dan mendengar Sona menatap serta bertanya dengan aura pembunuh sedingin es abadi.
Biasanya, Sona selalu menyelesaikan masalah dengan ketenangan yang elegan. Saji tahu betul, siapa pun orangnya, sekuat apa pun mentalnya, pasti akan gemetar ketakutan dan tidak berani merangkai satu kata pun jika dihadapkan pada tatapan mematikan seperti itu.
Saji melirik ke arah Yudi. Matanya memicing. Ia ingin melihat apakah adik kelas yang tadi siang bersikap penuh keangkuhan dan kepintaran itu masih memiliki sisa keberanian untuk membalas, atau justru hancur berlutut memohon ampun.
Kau... kau benar-benar akan tamat hari ini, bocah, gumam Saji tanpa suara, merapatkan gigi-giginya, bersiap menyaksikan kehancuran mental Yudi.
Namun, sebelum tatapan iba sekaligus kepuasan Saji terbentuk sepenuhnya, reaksi fisik yang ditunjukkan oleh Yudi justru memutarbalikkan ekspektasi semua orang.
Yudi tidak menundukkan kepalanya. Ia tidak menghindari tatapan Sona. Alih-alih bergetar ketakutan, alis Yudi justru menukik tajam ke tengah. Tangannya yang berada di atas paha mengepal kuat. Ia menghembuskan napas kasar melalui hidungnya.
"Pembelaanku?!" Yudi membalas ucapan Sona dengan intonasi suara yang sedikit meninggi, sarat akan rasa kesal yang tertahan. Ia memajukan kepalanya sedikit. "Kalau seandainya tadi pagi kau tidak sengaja memprovokasi seluruh siswa laki-laki di kelasku dengan cara menggandeng tanganku di depan umum seperti itu... aku mungkin bisa berjalan dengan normal dan tiba lebih cepat di ruangan ini!"
Yudi mengangkat tangan kanannya, menunjuk lurus ke arah pintu. "Tahu tidak? Sampai detik ini pun aku bahkan tidak punya sedikit pun celah ruang untuk bernapas atau lari dari tatapan menguliti para pria di lorong yang salah paham atas tindakanmu menggenggam tanganku pagi ini! Jadi jangan salahkan aku kalau aku harus bersembunyi layaknya buronan hanya untuk sekadar berjalan dari kelas menuju kemari!" bantah Yudi secara lugas, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura ungu yang mengelilingi Sona.
Jleeger!
Bagaikan sambaran petir menyambar tepat di atas ubun-ubunnya, kata-kata yang baru saja meluncur dari bibir Yudi menghancurkan pertahanan kewarasan Saji Genshirou. Saji membeku. Bola matanya membesar maksimal hingga nyaris melompat dari rongganya. Otot rahangnya menegang kaku.
Di dalam dadanya, sebuah memori lama berputar cepat. Saji telah mengagumi sosok Sona Sitri jauh lebih lama dari siapa pun di ruangan ini, lebih dari satu tahun lamanya. Saat dunia Saji hancur berkeping-keping akibat kematian kakeknya—satu-satunya kerabat yang mengurusi dirinya dan kedua adiknya—ia merasa kehilangan seluruh alasan untuk melanjutkan hidup.
Di titik terendah itulah, Sona hadir bagaikan cahaya. Sona menyelamatkan nyawanya, memberikannya tempat bernaung, dan memberikan sebuah pijakan alasan kuat bagi Saji untuk terus bertahan hidup dan bertarung.
Selama satu tahun itu, rasa hormat yang mendalam perlahan-lahan berubah wujud. Seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu bertransformasi menjadi rasa suka yang amat sangat kuat, atau lebih tepatnya... sebuah obsesi posesif yang tidak terkendali.
Jika pada insiden siang tadi Saji masih bisa menekan egonya dan memilih mundur perlahan saat diintimidasi, maka kali ini, mendengar kata "menggenggam tanganku" diucapkan dengan lantang oleh pria lain di depan Sona, akal sehat Saji putus total.
Entah dorongan dari mana, tanpa aba-aba, tanpa suara, tubuh Saji bergerak melesat ke depan. Ia melompati kursi di depannya, menghampiri posisi Yudi dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa.
"Neh... bajingan..." geram Saji. Suaranya terdengar sangat parau, berat, dan dipenuhi oleh aura pembunuh yang pekat. Matanya berubah merah darah. Ia berdiri tepat di sisi kiri Yudi, menarik lengan kanannya jauh ke belakang. "Kuberi tahu kau satu hal... JANGAN PERNAH KAU BERANI MENYENTUH ORANG YANG AKU SUKA!"
Bersamaan dengan teriakan yang menggelegar itu, sebuah pendaran cahaya magis berwarna hitam dan keunguan meledak dari lengan kanan Saji.
Sisik-sisik reptil ilusi muncul membungkus lengannya—manifestasi dari kekuatan Sacred Gear miliknya, pecahan jiwa dari Raja Naga Vritra. Saji melapisi kepalan tangannya dengan seluruh kekuatan iblis yang ia miliki, dan mengayunkan tinjunya lurus menghantam sisi wajah dan dada Yudi.
Buaaagh!
Suara daging yang beradu dengan tulang terdengar mengerikan. Dampak dari tinjuan yang dilapisi kekuatan naga itu sangatlah luar biasa.
Braaak!
Kursi kayu yang diduduki oleh Yudi hancur berantakan menjadi serpihan-serpihan kecil akibat gaya dorong yang ditimbulkan. Tubuh Yudi terangkat dari tanah, terdorong melayang secara horizontal sejauh beberapa meter melintasi udara ruang OSIS.
Pergerakan tubuh Yudi baru berhenti secara paksa ketika punggungnya menghantam keras pintu masuk utama dari kayu ek tebal.
BRAAAK! CRATTT!
Benturan keras itu menghasilkan suara dentuman yang mengguncang dinding. Permukaan kayu solid dari pintu tersebut langsung retak membentuk pola jaring laba-laba raksasa karena begitu kuat dan brutalnya daya hancur yang disalurkan oleh serangan Saji.
Tubuh Yudi merosot perlahan ke lantai, meninggalkan bekas gesekan di pintu kayu.
Pemandangan mengerikan yang terjadi dalam hitungan detik itu membuat seluruh penghuni ruangan bangkit berdiri dari kursi mereka secara serentak.
"YUDI!" teriak Sona dan Tsubaki secara bersamaan, mata mereka membelalak ngeri.
"YUDI/YUDI-SENPAI!" jerit Nimura Ruruko, Tomoe, Momo, dan Reya dengan nada suara panik yang saling bersahutan, tangan mereka terulur ke arah pintu.
Di lantai yang dingin, tubuh Yudi berbaring miring. Matanya setengah tertutup, pandangannya mulai mengabur dan kehilangan fokus. Setitik darah segar menetes dari sudut bibirnya, menodai kerah kemeja putihnya.
Ia merasakan seluruh tulang rusuk kanannya seolah remuk. Paru-parunya kesulitan meraup oksigen.
"Ga... gawat..." gumam Yudi dengan suara yang sangat lirih dan putus-putus. Matanya berkedip lambat. "Sakit... sakit sekali..."
Itu adalah gumaman terakhir yang berhasil keluar dari bibirnya, sebelum kelopak matanya tertutup rapat dan kegelapan absolut mengambil alih seluruh kesadarannya.
...* * *...