Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Bangun di Rumah Asing
Bau lembap dan besi berkarat menyambut Meilan lebih dulu daripada cahaya.
Ia membuka mata dengan napas tersengal. Langit-langit di atasnya rendah, kusam, dan ada noda air melebar seperti bekas luka lama. Dari sudut ruangan, tetes air jatuh pelan ke dalam baskom plastik. Tik. Tik. Tik. Suaranya kecil, tetapi menusuk kepala.
Meilan tidak langsung bergerak.
Tubuhnya terasa asing. Lengannya lebih kurus dari ingatannya. Telapak tangannya kasar, bukan tangan yang terbiasa memegang senjata, bukan juga tangan yang biasa menandatangani laporan keamanan bernilai miliaran.
Ia seharusnya sudah mati.
Ledakan itu masih terasa di telinganya. Wajah sahabat yang mengkhianatinya masih tergantung di benaknya, bersama bau asap, pecahan kaca, dan rasa dingin saat darah mengalir dari tubuhnya sendiri.
Namun sekarang ia terbaring di kasur tipis yang menempel pada lantai semen.
"Mama..."
Suara kecil itu membuat seluruh ototnya menegang.
Meilan menoleh.
Dua anak kecil tidur meringkuk di sampingnya. Seorang anak laki-laki memeluk boneka kelinci lusuh di dada. Wajahnya kecil, tetapi garis alis dan hidungnya terlalu tegas untuk usia semuda itu. Di sisi lain, seorang anak perempuan memeluk ujung baju Meilan, pipinya masih basah oleh bekas air mata.
Jantung Meilan seperti diremas.
Ingatan yang bukan miliknya tiba-tiba masuk dengan kasar.
Meilan Mulyadi. Putri Hendry Mulyadi, pejabat menengah di bagian hubungan pemerintah. Anak sah yang sejak umur lima tahun dikirim jauh ke Bekasi dengan alasan "dibesarkan lebih tenang", padahal sebenarnya dibuang agar tidak mengganggu rumah tangga baru ayahnya dengan Cynthia Mulyadi.
Lima belas tahun. Dipanggil pulang bukan untuk disayangi, tetapi untuk dijadikan pengganti Xenia Mulyadi, dinikahkan ke keluarga Limanto demi membawa keberuntungan bagi pewaris mereka yang sakit parah.
Lalu pelarian.
Hujan.
Gudang tua di Jakarta Timur.
Napas seorang pria yang berat karena obat. Tangan yang sama-sama kehilangan kendali. Ketakutan. Sakit. Gelap.
Meilan menggigit bibir sampai terasa asin.
Ia tidak membiarkan ingatan itu membuka lebih jauh. Bukan sekarang. Bukan saat dua anak kecil bernapas di sampingnya.
Bobo dan Lala.
Nama itu muncul bersama rasa sakit yang bukan miliknya, tetapi segera menjadi miliknya. Anak kembar. Tiga tahun. Lahir dari tubuh yang selama ini dihina seluruh perumahan sebagai janda muda tanpa asal-usul jelas.
Meilan duduk perlahan.
Ruangan itu sempit. Dindingnya mengelupas. Pintu besi di depan berkarat, bagian bawahnya menganga sedikit sehingga angin pagi masuk membawa bau got dari gang kecil. Di dekat kompor satu tungku, ada panci penyok berisi nasi sisa semalam. Di atas piring plastik, hanya tersisa sedikit tempe goreng yang sudah keras.
Itu makanan mereka.
Nasi dengan lauk seadanya.
Meilan menatap piring itu lama. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah bertahan di banyak tempat buruk, tetapi kemiskinan seperti ini berbeda. Ini bukan misi. Ini hidup sehari-hari. Ini keadaan yang harus diterima oleh dua anak berusia tiga tahun.
Jari kecil tiba-tiba menyentuh lengannya.
Anak perempuan itu terbangun. Matanya besar dan basah, seperti anggur hitam yang baru dicuci. Begitu melihat Meilan duduk, bibir kecilnya bergetar.
"Mama sakit?"
Suara Lala begitu pelan sampai hampir hilang ditelan bunyi tetesan air.
Meilan menatapnya. Ada sesuatu yang lunak dan panas pecah di dadanya.
Ia bukan ibu anak ini.
Pikiran itu hanya lewat sekali.
Detik berikutnya, tubuh kecil Lala sudah merangkak mendekat dan menempelkan pipi ke perutnya. Anak itu gemetar, tetapi tetap memeluknya seolah takut Meilan akan menghilang.
Meilan mengangkat tangan. Gerakannya canggung hanya sesaat, lalu telapak tangannya turun ke punggung mungil itu.
"Mama tidak apa-apa, Sayang."
Lala mengendus kecil. "Tadi Mama diam lama."
"Sekarang Mama sudah bangun."
Anak laki-laki di sebelah mereka ikut membuka mata. Berbeda dari Lala yang langsung mencari pelukan, Bobo tidak bergerak cepat. Ia mengamati Meilan dengan mata gelap yang terlalu tenang.
Terlalu dalam.
Untuk sesaat, Meilan merasa melihat bayangan seseorang dari wajah kecil itu. Bukan Hendry Mulyadi. Bukan siapa pun dari ingatan pemilik tubuh ini. Garis wajah Bobo seperti potongan teka-teki yang belum ditemukan tempatnya.
"Mama lapar?" tanya Bobo.
Kalimatnya pendek. Nadanya datar, tetapi tangannya sudah mendorong piring plastik berisi tempe keras ke arah Meilan.
Meilan menatap piring itu, lalu menatap anak itu.
Bobo sendiri tampak menelan ludah.
Ia lapar.
Namun ia memberikan makanan itu untuk ibunya.
Meilan menarik napas pelan. Di dadanya, rasa sakit berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih tajam.
"Bobo makan dulu."
"Mama dulu," jawab Bobo.
Lala ikut mengangguk cepat. "Mama dulu. Lala masih kenyang."
Perut kecilnya berbunyi pada saat yang sama.
Meilan hampir tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu perih.
Ia mengambil piring itu, mematahkan tempe menjadi tiga bagian, lalu menyuapkan bagian paling besar kepada Lala. Bagian berikutnya ia berikan kepada Bobo. Bagian terkecil ia makan sendiri.
Rasanya keras, dingin, dan terlalu asin.
Tetapi ketika Lala mengunyah sambil menatapnya dengan mata penuh percaya, Meilan tahu satu hal dengan sangat jelas.
Ia boleh datang ke dunia asing. Ia boleh bangun di tubuh perempuan yang hidupnya hancur. Ia boleh tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat aman.
Namun mulai detik ini, dua anak ini berada di bawah perlindungannya.
Ketukan keras menghantam pintu.
Lala tersentak sampai hampir menjatuhkan tempe.
Bobo langsung turun dari kasur. Tubuhnya kecil, bahkan lututnya masih tampak bulat seperti anak balita, tetapi ia berdiri di depan Lala.
"Jangan buka," katanya pendek.
Meilan menatap punggung kecil itu. "Kamu tahu siapa?"
Bobo mengangguk. "Bu Ningsih. Suaranya kasar."
Dari luar, suara perempuan melengking menembus pintu.
"Meilan! Jangan pura-pura mati di dalam! Buka pintu!"
Beberapa tetangga mulai berbisik di gang. Meilan bisa mendengar sandal bergesek, jendela dibuka, dan suara ibu-ibu yang pura-pura menyiram tanaman.
Ingatan pemilik tubuh ini memberi jawaban cepat.
Ningsih. Tetangga sebelah yang sering datang meminjam beras tetapi selalu pulang membawa gosip. Perempuan itu suka menuduh Meilan menggoda suaminya, Joni, karena Joni pernah membantu memperbaiki atap bocor.
Meilan berdiri.
Kepalanya masih berat, tetapi langkahnya stabil.
Lala memegang ujung bajunya. "Mama..."
"Duduk di belakang Bobo."
Bobo menoleh. Meilan melihat kilatan waspada di mata anak itu. Ia belum percaya keadaan sudah aman, tetapi ia patuh.
Meilan membuka pintu.
Ningsih berdiri di depan dengan daster bunga-bunga dan wajah penuh amarah yang terlalu siap dipamerkan. Di belakangnya, tiga ibu tetangga berdiri setengah lingkaran. Mereka membawa ekspresi prihatin, tetapi mata mereka hidup karena rasa ingin tahu.
"Akhirnya keluar juga," kata Ningsih. "Kupikir kamu sengaja sembunyi karena malu."
Meilan menyandarkan satu tangan pada kusen. "Malu untuk apa?"
Ningsih tertawa tajam. "Masih tanya? Perempuan tidak tahu diri. Suamiku semalam pulang telat. Kamu pikir aku tidak tahu dia dari mana?"
Bisik-bisik di belakangnya langsung naik.
Meilan memperhatikan wajah perempuan itu. Mata merah, rambut belum disisir, bibir gemetar bukan karena yakin, tetapi karena takut suaminya benar-benar berpaling.
Sayangnya, sasaran kemarahannya salah.
"Kalau suamimu pulang telat, tanya suamimu," kata Meilan.
"Jangan sok polos!" Ningsih menunjuk wajahnya. "Sejak kamu tinggal di sini, laki-laki jadi suka lewat depan rumahmu. Janda muda, anak dua, tapi masih sempat tebar pesona. Kamu mau rebut Joni dari aku?"
Lala meringkuk di belakang kaki Bobo. Meilan merasakan itu tanpa menoleh.
Para tetangga makin mendekat.
Ningsih mendapatkan panggungnya.
Meilan tersenyum tipis.
"Joni tidak ada di sini."
"Tentu saja sekarang tidak ada!"
"Semalam juga tidak ada."
Ningsih membuka mulut, tetapi Meilan sudah melanjutkan.
"Kalau kamu benar-benar ingin tahu dia dari mana, tanya Bu Ani. Rumahnya dua gang dari sini. Pagar hijau. Lampu terasnya mati sejak magrib, tetapi sandal Joni ada di depan pintunya sampai hampir jam sebelas."
Gang mendadak sunyi.
Wajah Ningsih berubah.
"Kamu bohong."
"Kamu boleh cek." Meilan menatap sandal jepit Ningsih yang basah oleh lumpur. "Atau kamu sudah cek, tapi tidak berani ribut ke sana karena Bu Ani punya dua kakak laki-laki?"
Salah satu ibu tetangga menutup mulutnya.
Yang lain berbisik, "Pagar hijau itu benar rumah Bu Ani, kan?"
Ningsih tampak kehilangan pijakan. Kemarahannya masih ada, tetapi arah anginnya berubah. Ia melirik ke belakang, melihat para tetangga yang tadi ia bawa sebagai saksi kini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang baru.
"Kamu memfitnah aku," desis Ningsih.
"Tidak. Aku mengembalikan fitnahmu ke tempat asalnya."
Meilan maju setengah langkah.
Ningsih otomatis mundur.
Gerakan kecil itu membuat bisik-bisik makin ramai. Meilan melihatnya, lalu sengaja merendahkan suara. Bukan untuk melembut, tetapi agar setiap kata terdengar jelas.
"Dengar baik-baik, Bu Ningsih. Aku tidak tertarik pada suamimu. Aku juga tidak punya waktu meladeni drama rumah tanggamu. Kalau kamu datang lagi membawa tuduhan di depan anak-anakku, aku tidak akan hanya bicara di depan pintu."
Ningsih menelan ludah. "Kamu mengancam?"
"Aku memberi batas."
"Aku bisa lapor Ketua RT. Perempuan seperti kamu memang tidak cocok tinggal di Gang Pelita. Bikin malu warga."
Meilan memandang gang sempit itu. Dinding kusam, kabel listrik menjuntai, orang-orang yang menonton penderitaan orang lain seperti hiburan pagi. Di tempat ini, pemilik tubuh sebelumnya menunduk terlalu lama.
Meilan tidak akan menunduk.
"Silakan lapor," katanya. "Sekalian bawa Joni dan Bu Ani. Kita bicara di depan Ketua RT, lengkap dengan saksi."
Ningsih pucat.
Meilan tidak memberinya ruang untuk pulih. Ia memegang daun pintu dan menatap para tetangga satu per satu.
"Pertunjukan selesai."
Lalu ia menutup pintu tepat di depan wajah Ningsih.
Tidak dibanting. Tidak perlu.
Di luar, suara Ningsih masih terdengar memaki, tetapi nadanya sudah pecah. Beberapa tetangga mulai bertanya tentang Bu Ani. Panggung yang ia bawa untuk mempermalukan Meilan berubah menjadi tempat orang menguliti rumah tangganya sendiri.
Di dalam, Lala berlari memeluk kaki Meilan.
"Mama hebat," bisiknya.
Meilan menunduk dan mengusap rambutnya. "Mama hanya tidak mau orang jahat berisik di depan Lala."
Bobo masih berdiri dekat pintu. Matanya menatap kayu tipis itu, seolah memastikan Ningsih tidak kembali. Baru setelah suara di luar menjauh, bahunya turun sedikit.
"Dia akan panggil Ketua RT," kata Bobo.
Meilan berjongkok di depannya. "Tak apa. Kalau dia panggil, Mama hadapi."
Bobo menatapnya lama. "Mama tidak takut?"
"Tidak."
"Dulu Mama takut."
Kalimat itu sederhana. Namun tepat mengenai tempat paling sakit dari ingatan pemilik tubuh ini.
Meilan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Bobo. Kulit anak itu hangat. Wajah kecilnya begitu dekat, begitu jelas, dan sekali lagi rasa ganjil itu muncul. Mata, hidung, bentuk rahang yang masih lembut tetapi sudah memperlihatkan garis seseorang yang tidak dikenal.
Seseorang yang pasti bukan keluarga Mulyadi.
Meilan menahan napas.
Bobo mengerutkan kening. "Mama kenapa?"
Meilan memaksa ujung bibirnya naik. "Tidak apa-apa."
Ia menarik kedua anak itu ke dalam pelukan. Lala langsung menyusup ke dadanya. Bobo kaku sebentar, lalu membiarkan diri dipeluk.
Di luar, pagi Gang Pelita tetap sempit dan penuh gosip. Di dalam kontrakan bocor itu, Meilan memejamkan mata dan membuat keputusan pertama dalam hidup barunya.
Ia akan bertahan.
Ia akan memberi makan anak-anak ini, memberi mereka rumah yang layak, dan membuat siapa pun yang pernah menginjak mereka menyesal sudah pernah mencoba.
Ketika Lala kembali tenang, Bobo tertidur di pangkuannya. Meilan menatap wajah anak laki-laki itu dalam cahaya tipis dari celah pintu.
Semakin lama dilihat, semakin kuat rasa tidak masuk akal itu.
Wajah ini terlalu mirip dengan seseorang.
Tapi siapa?