NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032

"Engkong menunggu di dalam."

Tangan Jason masih menggenggam tangan Keira saat mereka melewati ambang Rumah Liem. Dari luar, rumah itu tampak seperti bangunan tua yang dijaga sejarah. Dari dalam, ia terasa seperti napas panjang sebuah keluarga yang terlalu lama menahan tangis.

Lantai marmer hitam putih memantulkan langkah mereka. Di dinding, foto-foto lama tersusun rapi. Beberapa wajah asing, beberapa wajah yang membuat Keira berhenti tanpa sadar karena garis matanya terasa terlalu dekat dengan wajahnya sendiri.

Aroma kayu cendana dan teh tua memenuhi udara. Bukan aroma rumah sakit, bukan aroma hotel mewah, bukan juga aroma rumah Mulyono yang selalu membuat bahunya tegang. Rumah ini punya wangi yang pelan, berat, dan hangat, seperti lemari lama yang menyimpan surat-surat penting.

Pak Gunawan, seorang pria tua berambut putih dengan jas hitam sederhana, menunduk dalam.

"Tuan Muda Jason," katanya. Lalu matanya berpindah ke Keira, dan suara pria itu langsung bergetar. "Nona Keira."

Keira belum terbiasa dipanggil seperti itu. Bukan Nyonya, bukan Bu, bukan Keira yang diludahi orang-orang Mulyono. Nona Keira, seolah sejak awal rumah ini sudah menyiapkan tempat untuknya.

Jason menggenggam tangannya lebih erat. "Engkong di ruang utama?"

"Sejak pagi, Tuan Muda. Beliau menolak makan siang sebelum Nona datang."

Bi Mei menghapus air mata lagi. "Dasar orang tua keras kepala."

Jason menatapnya sekilas. "Bi."

"Saya bicara benar," gumam Bi Mei sambil terisak.

Keira hampir tersenyum, tetapi senyum itu hilang saat mereka sampai di depan ruang utama.

Ruang itu luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela besar yang menghadap taman dalam. Di sisi kanan, ada meja altar keluarga yang tertata bersih, bukan mencolok, hanya beberapa foto lama, bunga putih, dan lilin kecil yang belum dinyalakan. Di tengah ruangan, seorang pria tua duduk di kursi kayu berukir.

Rambutnya putih seluruhnya. Tubuhnya tidak lagi tegak seperti pemimpin konglomerat dalam cerita orang, tetapi matanya masih tajam. Tangan kanannya memegang tongkat kayu gelap. Di hadapannya, secangkir teh sudah dingin.

Liem Tjie Seng.

Engkong Liem.

Saat Keira melangkah masuk, pria tua itu tidak langsung bicara. Matanya melekat pada wajahnya, seperti sedang memastikan apakah tubuh renta masih mampu membedakan mimpi dan kenyataan.

"Engkong," suara Jason pelan. "Kei datang."

Tongkat di tangan Engkong Liem bergeser.

Keira menunduk sedikit. Ia tidak tahu harus memanggil apa. Ia baru saja menemukan seorang kakak, belum sempat menata hatinya untuk seorang kakek kandung.

"Selamat siang," katanya hati-hati. "Engkong."

Satu kata itu membuat dada pria tua itu naik turun.

Engkong Liem berdiri terlalu cepat untuk usianya. Pak Gunawan langsung maju, tetapi ia mengangkat tangan, menolak dibantu. Ia menatap Keira dari ujung rambut sampai ke wajah, lalu turun ke pergelangan tangan yang sedikit terlihat dari lengan bajunya.

Keira tidak sadar lengan bajunya tersingkap ketika tadi menggenggam tangan Jason.

Tanda daun maple tampak jelas.

Tongkat Engkong Liem jatuh ke lantai.

Bunyinya keras, memantul di ruang utama seperti sesuatu yang pecah.

Bi Mei menutup mulut. Jason bergerak hendak memungut tongkat, tetapi Engkong Liem tidak melihat tongkat itu sama sekali. Matanya hanya pada tanda kecil di tangan Keira.

"Rosalind..." bisiknya.

Keira menahan napas.

Engkong Liem melangkah pelan, satu langkah, lalu satu lagi. Lututnya tampak tidak kuat, tetapi matanya seperti ditarik oleh tanda itu. Ketika ia sampai di depan Keira, tangannya terangkat, berhenti di udara, gemetar.

"Boleh Engkong lihat?"

Keira mengangguk.

Ia menarik lengan bajunya lebih tinggi. Engkong Liem memegang pergelangan tangannya dengan dua tangan renta. Sentuhannya sangat ringan, tetapi getarnya terasa sampai ke dada Keira.

"Ini tanda Liem," katanya. "Jason punya. Rosalind punya. Kamu punya."

Air mata menggenang di mata pria tua itu. Keira mendadak tidak tahu harus berdiri bagaimana. Di hadapan Mulyono, ia selalu harus keras agar tidak dihancurkan. Di hadapan Engkong Liem, kekerasan itu terasa tidak berguna. Orang tua ini tidak menuntut, tidak menyalahkan, tidak bertanya kenapa ia baru datang.

Ia hanya memegang tangan Keira seperti memegang sisa hidupnya.

"Cucuku," suara Engkong Liem pecah. "Akhirnya Engkong melihatmu."

Keira menggigit bibir. "Maaf..."

"Tidak." Engkong Liem menggeleng cepat, air mata jatuh ke pipinya yang keriput. "Tidak ada yang perlu kau minta maaf. Kami yang kehilangan kamu. Kami yang gagal."

Jason memalingkan wajah. Bahunya kaku, tetapi rahangnya bergerak menahan tangis.

Bi Mei tiba-tiba berlutut di dekat meja kecil, membuka kotak kayu cendana yang sejak tadi dibawanya dengan kedua tangan. Kotak itu tua, warnanya gelap mengilap, dengan kunci kecil dari kuningan.

"Tuan," katanya serak. "Sudah waktunya."

Engkong Liem menatap kotak itu. Tangannya yang memegang Keira semakin gemetar.

Bi Mei membuka kunci. Di dalam kotak, ada liontin emas kecil berbentuk kunci umur panjang, disimpan di atas kain merah tua. Permukaannya tidak terlalu besar, tetapi ukirannya halus. Di bagian belakang, satu kata Latin terukir rapi.

Yan.

Keira menyentuh liontin giok di lehernya tanpa sadar.

Liontin Chang Ming itu memiliki pola ukiran yang sama dengan Liontin Giok miliknya. Bukan bahan yang sama, tetapi tangan yang membuatnya pasti datang dari pengrajin yang sama. Garis lengkung, motif awan kecil, sampai cara huruf Yan diletakkan di tengah, semua seperti sepasang bukti yang dipisahkan agar suatu hari bisa saling menemukan.

"Ini milikmu," kata Engkong Liem.

"Milikku?"

"Rosalind menyiapkannya saat kamu lahir. Dia bilang, kalau suatu hari kamu pulang, benda ini harus kembali ke lehermu." Engkong Liem mengambil liontin itu dengan tangan gemetar. "Kami menyimpannya dua puluh tahun lebih."

Keira menatap liontin itu. Satu benda kecil, disimpan selama hidupnya yang paling gelap, menjadi tanda bahwa di suatu tempat ada orang yang tidak berhenti menunggunya.

Engkong Liem tidak langsung memakaikannya. Ia menunggu.

"Boleh Engkong pakaikan?"

Keira mengangguk. Kali ini, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Jason membantu mengangkat rambut Keira sedikit. Engkong Liem memasangkan Liontin Chang Ming di lehernya dengan gerakan sangat pelan. Ketika liontin itu menyentuh kulitnya, Keira merasa seolah ada bagian masa kecil yang kembali menempel di tubuhnya.

Bi Mei menangis lebih keras.

Pak Gunawan memalingkan wajah, mengusap sudut matanya dengan saputangan putih.

Jason akhirnya tidak mampu menahan. Ia berdiri di samping Keira, satu tangan menutup mata. Tangisnya tidak bersuara, tetapi seluruh tubuhnya tegang.

Engkong Liem memegang kedua bahu Keira. Ia menatap wajahnya dari dekat, seolah ingin menghafal setiap garis agar tidak pernah kehilangan lagi.

"Matamu," katanya. "Matamu sama seperti Mama kamu."

Keira terdiam mendengar kata Mama.

Selama ini, sosok ibu kandung baginya hanyalah lubang kosong. Mulyono tidak pernah memberi cerita yang jelas. Hendra selalu memotong pembicaraan. Siska menyebutnya anak yang tidak tahu asal-usul dengan nada menghina.

Sekarang, nama itu datang dari mulut kakek kandungnya dengan rasa sakit yang terlalu nyata.

"Rosalind..." Keira mengucapkan nama itu perlahan.

Engkong Liem menutup mata. "Rosalind Liem. Anak perempuan Engkong. Mama kamu."

"Seperti apa dia?"

Pertanyaan itu keluar tanpa rencana. Begitu keluar, Keira merasa dirinya kembali menjadi anak kecil yang menunggu jawaban di depan pintu.

Engkong Liem tersenyum di tengah air mata. "Pintar. Keras kepala. Kalau dia yakin benar, sepuluh orang tidak bisa memindahkannya. Dia bisa membuat obat dari tanaman yang orang lain anggap rumput. Dia bisa menciptakan aroma yang membuat satu ruangan diam. Dan kalau dia marah, Jason kecil langsung pura-pura tidur."

Jason mengusap wajah. "Engkong."

"Itu benar," kata Bi Mei di sela tangis.

Keira tertawa kecil, tetapi dadanya sakit. Ia mendengar gambaran seorang perempuan yang asing, namun setiap katanya seperti cermin retak. Pintar. Keras kepala. Tidak mudah dipindahkan.

Apakah sifat yang selama ini ia pakai untuk bertahan sebenarnya warisan dari seorang ibu yang pernah mencintainya?

Engkong Liem mengangkat tangan, menyentuh pipi Keira dengan sangat hati-hati.

"Biarkan Engkong lihat kamu baik-baik, cucuku."

Keira tidak bergerak.

Tangan pria tua itu dingin, keriput, dan gemetar. Namun di sentuhan itu ada kasih sayang yang tidak menuntut bukti lain. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keira merasa tidak perlu membuktikan bahwa ia pantas disayangi.

"Dua puluh tahun," Engkong Liem berbisik. "Engkong kira sampai mati tidak akan melihat kamu lagi."

"Aku juga tidak tahu ada yang mencari," jawab Keira.

Kalimat itu membuat seluruh ruangan hening.

Jason mengepalkan tangan. "Hendra menutup semua jejak."

"Bukan hanya Hendra," kata Engkong Liem.

Nada suaranya berubah.

Keira merasakannya lebih dulu. Tangis di wajah orang tua itu belum kering, tetapi matanya yang tajam kembali muncul, membawa bayangan rahasia yang lebih gelap.

Jason menegang. "Engkong."

"Dia harus tahu." Engkong Liem mengambil napas, lalu duduk perlahan di kursi. Pak Gunawan cepat mengambil tongkat dari lantai dan menyerahkannya. "Keira sudah pulang. Kita tidak boleh menyambutnya hanya dengan tangis lalu menyembunyikan pisau di balik tirai."

Keira menyentuh Liontin Chang Ming di lehernya. "Apa yang harus aku tahu?"

Bi Mei berdiri di sisi meja, wajahnya pucat. Jason menatap Engkong Liem dengan tatapan memperingatkan, seolah takut orang tua itu terlalu cepat membuka luka.

Namun Keira sudah melewati terlalu banyak kebohongan. Ia tidak ingin rumah barunya dibangun di atas rahasia yang sama.

"Katakan," katanya.

Engkong Liem menatapnya lama. Air mata masih ada di bulu matanya, tetapi suaranya kini lebih rendah.

"Selama ini, banyak orang mengatakan Mama kamu meninggal saat kekacauan itu terjadi."

Jantung Keira berdenyut keras.

"Itu tidak benar?" tanyanya.

Jason memejamkan mata.

Engkong Liem menggenggam kepala tongkatnya sampai buku jarinya memutih.

"Tidak," katanya. "Rosalind tidak mati malam itu."

Ruang utama seperti kehilangan udara.

Keira merasa Liontin Chang Ming di lehernya tiba-tiba menjadi sangat berat.

"Lalu dia di mana?"

Engkong Liem mengangkat mata. Dalam matanya ada penyesalan, kemarahan, dan ketakutan yang tidak pernah hilang meski dua puluh tahun lewat.

"Dia dibawa orang," katanya pelan. "Dan sampai hari ini, Engkong belum berhasil membawanya pulang."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!