Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAIK PITAM
"Boleh bicara sebentar dengan Pevita?" tanya Refan memberanikan diri menghampiri meja Pevita-Kala. Hatinya tak tenang, terlebih Cindy sudah kabur duluan karena jengkel setengah mati pada Refan yang tak bisa mengalihkan pandangan dari mantan calon istrinya.
"Boleh, asal saya juga diizinkan untuk berada di antara kalian!" tegas Kala, pasang badan sebagai suami. Sebenarnya tadi Pevita memberi signal untuk menolak permintaan Refan, tapi Kala berpikir lain. Lebih baik diperjelas sekarang, entah itu minta maaf, atau memberi alasan yang jelas tak datang saat akad nikah, meskipun tak ada gunanya juga.
"Baik," jawab Refan menghargai izin dari suami Pevita tersebut. Refan duduk di depan pasangan suami istri tersebut. Tegang dan canggung, terlebih Pevita mana mau menatap Refan.
"Maaf!" ucap Refan, untuk urusan kali ini Kala hanya diam, dia ikhlas jadi pendengar saja. Biarkan dua orang ini menyelesaikan masalah dengan dewasa.
Pevita masih diam, karena dia masih menahan emosi, belum waktunya mencaci Refan. "Sungguh, saya pernah menyayangimu bahkan kamu adalah calon istri yang cocok dengan saya. Saya dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tua saya. Di rumah sakit, Om Adi juga tidak lagi menganggapku ada. Maaf sudah mengacau di hari itu. Aku salah, dan patut untuk tidak dimaafkan. Mungkin penjelasan saya ini sudah gak penting, tapi saya hanya ingin terbebas dari hutang penjelasan ke kamu. Selama kita menjalani pacaran, sesekali saya bertemu dengan Cindy. Terutama saat badan saya terlalu capek, saya butuh pelampiasan sebagai seorang laki-laki dewasa, dan saya tidak mungkin meminta padamu. Saya tahu kamu perempuan baik-baik, Pev. Aku dan Cindy memang sudah putus, dan kami hanya berhubungan saat kita saling butuh saja. Jujur hati saya berontak, telah berkhianat pada kamu, apalagi semakin dekat dengan hari pernikahan kita, saya sadar saya bukanlah pria yang layak untuk kamu. Malam sebelum akad, saya memberi jatah mantan dengan Cindy, dan saya pun memutuskan untuk tidak datang di hari akad malam itu juga. Bagi saya, meski sudah menikah denganmu, saya khawatir sudah terbiasa dengan Cindy malah menodai pernikahan kita, maka lebih baik tidak terjadi sekalian. Saya akui saya egois, saya pengecut, tapi percayalah ini semua demi kebaikan kamu. Lebih baik kamu sakit sekarang daripada sakit setelah tahu tabiat burukku!"
Sedari tadi Pevita diam, dan berniat tak mau berkomentar apapun karena penjelasan sedetail itu tidak akan mengubah keadaan, percuma. Namun, setelah mendengar adanya perselingkuhan selama pacaran, Pevita mendadak naik pitam. Ia melihat Refan dengan tatapan tajam. Mulut kasar siap beraksi.
"Gue sebenarnya malas mendengar penjelasan atau permintaan maaf lo, karena semua yang lo lakuin dalam keadaan sadar dan waras. Emang lo aja sengaja berbuat begitu, bukan untuk kebaikan gue, tapi lo nya aja yang bejat, dan Allah memang sayang sama gue, makanya pernikahan kita batal. Gue harap ini pertemuan terakhir kita, di setiap kesempatan anggap kita tidak pernah kenal. Sumpah gue jijik sama lo, sebagai dokter otak encer tapi pengendalian nafsu lo bodoh banget."
Kala hanya menahan nafas, gak mau ikutan, karena mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sang istri begitu tajam. "Pergi dari sini, kehadiran lo merusak nuansa makan kita!"
"Aku tahu kamu marah, dan aku hanya bisa minta maaf. Baik, aku akan menuruti permintaan kamu, untuk tidak mengenal kamu lagi. Selamat atas pernikahan kamu, aku yakin kalian adalah orang baik yang memang berjodoh. Buat kamu, Mas. Jaga Pevita ya." Kala hanya mengangguk saja.
Refan pun beranjak pergi, dan Kala segera menyodorkan air mineral pada sang istri. "Minum gih, kamu tadi ngomong seperti knalpot racing!"
"Ck, gak usah cari gara-gara!" sewot Pevita sembari mengambil air mineral dari sang suami, jangan lupa lirikan Pevita, semakin menggemaskan di mata Kala. Keduanya meneruskan acara makan siang sembari cerita random.
"Oh ya, Mbak. Kemarin saat aku dikasih hadiah boneka itu, aku sempat bilang kalau akan mengenalkan istriku ke teman-teman. Mbak berkenan?" tanya Kala, ia tak mau gegabah apalagi menyangkut kepentingan Pevita, siapa tahu dia mau merahasiakan pernikahan ini, karena sampai saat ini terlihat Pevita belum menerima dengan lapang dada pernikahan ini.
"Selagi mereka bertemu saat kita jalan berdua ya gak papa bilang istri, tapi kalau kita berjauhan ya udah sih, gak usah koar-koar."
"Mbak gak mau pakai cincin nikah?" tanya Kala lagi.
"Teman kelas banyak yang tahu gue sudah menikah, Cil. Kan mereka mengira gue menikah dengan Refan, hanya teman dekat saja yang tahu suami gue itu lo!"
"Jadi tetap keep nih?" Kala tak puas, tapi Pevita menghendaki hal itu.
"Lo kenapa sih, pengen banget koar-koar soal pernikahan kita. Apa lo gak malu nikah sama cewek yang lebih tua 2 tahun dari lo?"
"Mbak kali yang malu karena menikahi brondong," balas Kala membuat Pevita berdecak sebal.
"Ah udah deh, gue kan udah bilang, gak usah ribet menjalankan pernikahan ini. Asal gak selingkuh dan neko-neko, gue masih mau bertahan jadi istri lo!"
"Oke."
Pulang dari mall, Kala mendapat panggilan telepon dari sang mama. Pevita hanya mendengar obrolan ibu dan anak itu, sedikit terharu karena sang suami begitu dekat dengan ibunya.
"Mas, kemarin ada paket dari Titania," ucap mama Kala lalu beliau mengambil paket itu, ditunjukkan kepada sang putra. Kala melirik Pevita sebentar, karena menyangkut perempuan lain.
"Sepatu, Mas. Gimana, mau mama kirim ke kamu?" tanya mama lagi.
"Gak usah, Ma. Nanti kalau Kala pulang, bakal Kala ambil sendiri."
"Kalau pulang, tetap ajak Pevita. Dikenalkan ke keluarga sini juga," sang mama mulai menyinggung Pevita, dan Kala kembali menatap sekilas sang istri. Kebetulan Pevita juga melihat Kala.
"Iya, nanti kalau ada long weekend atau libur semester Kala dan Mbak Pevita pulang kampung!"
"Kok masih panggil, Mbak sih, Mas. Cari panggilan lain dong. Aneh saja dengarnya."
"Ya kalau lagi berdua aku panggil dia, Sayang kok, Ma!" Pevita menerbitkan senyum tipis, ternyata Kala sejujur itu pada sang mama. Tiba-tiba hati Pevita melow juga, lantaran ia tak pernah merasakan curhat dengan ibu kandungnya, selepas beliau menjadi korban tabrak lari, dan meninggal sejak Pevita SD. Tak menyangka saja, anak cowok bisa sedekat itu dengan sang mama.
"Jadi suami yang sabar ya, Mas. Banyak-banyak mengalah, karena perempuan itu ingin dimengerti."
"Beres, Ma. Kalau aku lagi jengkel sama istriku, aku diam aja, kemudian mengingat sikap papa saat bertengkar sama mama, dan aku meniru cara membujuk istri versi papa." Mama dan Kala tertawa bersama, dan Pevita yang pura-pura pakai earphone pun ikut tertawa juga, meski sangat tipis.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh