Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Perang Dunia di Rumah Budiman
Tan Darren tiba di Rumah Budiman di Depok pukul tujuh malam dengan kontrak kerja di tangan dan rasa takut di seluruh tubuh.
Ia sudah pernah masuk ruang rapat pemegang saham. Ia pernah menghadapi pemasok yang marah, wartawan yang mengejar, bahkan Koko yang bangun pagi tanpa kopi. Namun berdiri di depan rumah keluarga Budiman sambil membawa misi menjemput kembali Sekar ternyata jauh lebih menegangkan.
Handi menekan bel.
Dari dalam terdengar suara banyak orang sekaligus.
"Siapa?"
"Tunggu, jangan buka dulu!"
"Kalau orang Tan, panggil Engkong!"
Darren menatap Handi. "Mereka tahu kita datang?"
"Sepertinya tidak, Pak."
Pintu terbuka.
Sekar berdiri di baliknya dengan kaus rumah sederhana dan rambut diikat asal. Begitu melihat Darren, matanya membulat.
"Pak Darren?"
Darren langsung membungkuk sembilan puluh derajat. "Mbak Sekar, aku datang bukan untuk menculik."
Kalimat itu salah.
Sangat salah.
Dari belakang Sekar, suasana langsung meledak.
"Menculik siapa?" suara seorang kakek terdengar keras.
Engkong Budiman muncul dengan tongkat, padahal dari cara jalannya, tongkat itu lebih mirip properti perang daripada alat bantu. Di belakangnya, Ama Budiman memegang kipas bambu. Dari sisi lain, Engkong Halim keluar sambil merapikan kaus, sementara Ama Halim sudah memegang botol minyak angin.
Budiman Bayu dan Halim Meliana muncul hampir bersamaan. Mereka tidak bicara, tetapi tangan mereka bergerak cepat dalam bahasa isyarat. Sekar membaca gerakan Papa: Orang Tan datang? Ada masalah?
Mama menatap Darren dengan mata lembut tapi waspada. Nana yang baru keluar dari ruang belakang membawa kamera langsung mengangkat alis.
"Ini adiknya bos yang memecat kamu?" tanya Nana.
Darren merasa punggungnya dingin.
"Saya... iya, tapi saya bukan yang memecat. Saya justru pihak korban emosional."
"Korban?" Engkong Budiman mengangkat tongkat. "Cucu saya pulang bawa koper, kamu masih korban?"
"Engkong, jangan pukul tamu," kata Sekar cepat.
Engkong Budiman memegang dada. "Aduh. Tekanan darah Kong naik."
Ama Budiman langsung menangkap bahunya. "Kong! Jangan pingsan dulu. Tunggu dia jelaskan!"
Engkong Halim yang tidak mau kalah ikut memegang kepala. "Saya juga pusing. Ini seperti waktu babi di kampung lepas dari kandang."
Darren tidak tahu bagian mana dari dirinya yang mirip babi lepas kandang, tetapi ia memilih diam.
Ama Halim mengusap mata. "Cucu kami baru pulang sehari, sudah mau diambil lagi."
Meliana memberi isyarat cepat pada Sekar: Mereka menyakitimu?
Sekar menggenggam tangan Mama. "Tidak sekarang, Ma. Pak Darren datang baik-baik."
"Benar," Darren cepat mengangguk. "Saya datang baik-baik. Saya membawa kontrak. Resmi. Sangat resmi. Bahkan terlalu resmi."
Nana menyipit. "Kontrak apa?"
"Kontrak kerja baru untuk Mbak Sekar. Dengan syarat yang jauh lebih adil."
Semua orang diam.
Lalu Ama Budiman berkata, "Masuk dulu. Kalau mau berperang, jangan di depan pintu. Tetangga bisa dengar gratis."
Begitulah Darren berakhir duduk di ruang tamu Rumah Budiman, dikelilingi delapan pasang mata keluarga yang siap mengulitinya dengan sopan.
Rumah itu tidak besar, tetapi hidup. Foto keluarga menempel di dinding. Ada kalender toko roti, kipas angin yang bunyinya sedikit miring, aroma bubur kacang hijau dari dapur, dan tumpukan handuk Pijat Bahagia yang baru dilipat. Dibanding Rumah Tan yang selalu terlalu bersih, rumah ini seperti bernafas.
Darren tiba-tiba merasa lapar.
Perutnya berbunyi.
Semua orang menoleh.
Darren ingin menghilang.
Sekar menutup wajah. "Pak Darren belum makan?"
"Belum sempat."
Engkong Halim menatapnya dari atas sampai bawah. "Anak orang kaya juga bisa lapar?"
"Bisa, Kong."
"Bagus. Berarti masih manusia."
Sepuluh menit kemudian, sebelum perang kontrak dimulai, Darren sudah duduk di meja makan dengan sepiring nasi, ayam kecap, tumis kangkung, telur dadar, dan sambal yang katanya sedikit. Bagi lidah Darren, sedikit itu ternyata berarti bisa membuat roh melihat masa depan.
Ia tetap makan.
Lapar dan takut membuat segalanya enak.
"Pelan-pelan, Pak Darren," kata Sekar.
Darren mengangguk, tetapi tangannya terus bergerak. "Ini enak sekali. Di rumah, makanan sering cantik tapi tidak terasa seperti makanan."
Bayu yang duduk di seberang tersenyum kecil. Ia memberi isyarat pada Sekar.
Dia makan seperti anak kos.
Sekar menerjemahkan dengan versi lebih lembut. "Papa bilang Pak Darren makan dengan semangat."
Nana tertawa. "Jangan diperhalus. Ko Bayu pasti bilang dia makan seperti belum pernah lihat nasi."
Darren mengangkat wajah dengan pipi penuh. "Saya boleh tambah?"
Engkong Budiman yang tadi pura-pura darah tinggi langsung menunjuk piring. "Tambah. Orang mau minta maaf harus punya tenaga."
Setelah Darren menghabiskan piring kedua, barulah kontrak dibuka di meja makan.
Nana mengambil posisi seperti pengacara. Sekar duduk di samping Mama. Bayu memperhatikan setiap halaman, sesekali meminta Sekar menerjemahkan istilah hukum ke bahasa isyarat. Empat kakek nenek mencondongkan badan sampai kepala mereka hampir bertabrakan.
Darren menjelaskan satu per satu.
"Gaji pokok per bulan."
Ia menyebut angka.
Ruang makan langsung hening.
Sendok Ama Halim jatuh ke piring.
Engkong Budiman yang tadi sakit dada mendadak duduk tegak. "Ulangi."
Darren mengulang.
Nana merebut kontrak, memeriksa angka nolnya. "Ini bukan salah ketik?"
"Bukan. Koko, maksud saya Pak Tan, bahkan menaikkan dua puluh persen dari angka awal."
Sekar menatap angka itu. Napasnya tertahan. Uang sebanyak itu bisa membayar servis implan koklea Mama berbulan-bulan, cicilan rumah, kuliah, bahkan menambah tabungan darurat keluarga. Tapi justru karena jumlahnya besar, ia merasa curiga.
"Ada syarat aneh?" tanya Sekar.
"Tidak boleh dipukul majikan," jawab Darren cepat. "Itu tidak tertulis, tapi secara moral wajib."
Nana menatapnya. "Kompensasi pemecatan tanpa alasan medis?"
"Ada."
"Asuransi?"
"Ada."
"Hari libur?"
"Jelas."
"Transportasi?"
"Ditanggung."
Meliana memberi isyarat pada Sekar: Kalau kamu tidak nyaman, jangan ambil. Uang bisa dicari. Harga diri jangan ditukar.
Sekar merasakan matanya panas.
"Mama bilang apa?" tanya Darren pelan.
Sekar menjawab, "Mama bilang keluarga kami tidak menjual anak."
Darren langsung meletakkan sumpit. "Aku tahu. Sungguh. Aku datang bukan membeli Mbak Sekar. Aku datang karena... rumah itu kacau tanpa dia."
Kalimat itu membuat suasana berubah sedikit.
Darren menunduk. "Dan Koko salah. Dia belum bisa bilang, jadi aku bilang dulu. Maaf."
Bayu menatap Darren lama. Lalu ia memberi isyarat perlahan.
Orang yang tidak bisa bicara pun tahu cara minta maaf. Dia bisa belajar.
Sekar menerjemahkannya. Kali ini tidak diperhalus.
Darren mengangguk serius. "Saya akan sampaikan. Walau kemungkinan Koko pura-pura tidak dengar."
Engkong Budiman mengambil kontrak dari tangan Nana, melihat angka lagi, lalu menepuk meja.
"Cucu."
Darren tersentak. "Saya?"
"Mulai sekarang kamu cucu sementara. Makan lagi."
"Kong!" Sekar protes.
"Apa? Dia datang bawa kontrak, minta maaf, dan makan tidak pilih-pilih. Lebih mudah dirawat daripada bosmu."
Seluruh meja tertawa. Bahkan Sekar ikut tersenyum.
Namun setelah tawa mereda, semua mata kembali padanya.
Keputusan tetap miliknya.
Sekar melihat kontrak. Lalu melihat Papa, Mama, Nana, dan empat kakek nenek yang meski heboh, jelas siap mendukung apa pun pilihannya.
Ia menarik napas.
"Aku kembali," katanya akhirnya. "Tapi bukan karena uang saja."
Darren hampir menangis.
Sekar mengangkat jari. "Ada syarat."
"Apa pun."
"Pak Tan harus tahu saya kembali karena kontrak ini, karena jadwal pemulihannya, dan karena saya tidak suka Kevin merasa menang. Tapi kalau dia menjadikan saya samsak tinju lagi, saya pulang. Tidak pakai drama."
Darren mengangguk sekuat mungkin. "Setuju."
Sebelum Darren pulang, Meliana masuk ke dapur dan keluar membawa dua kotak makan. Ia menyerahkannya pada Darren sambil memberi isyarat. Sekar membaca gerak tangannya, lalu menerjemahkan.
"Mama bilang, satu untuk Pak Darren, satu untuk Pak Tan. Kalau dia tidak mau makan, taruh saja di dekatnya. Jangan dipaksa."
Darren menerima kotak itu dengan dua tangan. Untuk sesaat, ia tampak benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Terima kasih, Tante."
Bayu menepuk bahunya pelan. Isyaratnya singkat.
Bawa pulang anak kami baik-baik.
Kali ini Sekar tidak perlu menerjemahkan. Darren mengerti dari tatapan semua orang.
Malam itu, Darren pulang dari Depok dengan kontrak bertanda tangan dan perut terlalu penuh.
Di Rumah Tan, Ardian masih belum tahu.
Ia duduk menghadap pintu utama yang kosong, tidak bertanya apa pun pada siapa pun.
Tetapi sejak mobil Darren pergi, kursi rodanya tidak pernah benar-benar menjauh dari arah pintu.