Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 - Pintu yang Dibuat Sendiri
Institut Biomedis Nusantara berdiri di pinggir kawasan industri lama.
Gedungnya lima lantai, catnya kusam, pagarnya tinggi, dan papan namanya tinggal bayangan huruf yang hampir hilang. Secara resmi, tempat itu tutup delapan tahun lalu karena masalah pendanaan dan pelanggaran administratif.
Secara tidak resmi, listriknya menyala malam ini.
Ayla duduk di dalam van operasional bersama Arga, Bima, Lestari, Maya, dan dua anggota tim teknis. Di layar, denah lama gedung terbuka. Denah itu didapat dari arsip pemerintah. Maya menambahkan denah lain dari sumber yang tidak dia jelaskan.
Keduanya berbeda.
“Tentu saja ada lantai bawah tanah yang tidak tercatat,” kata Bima. “Kenapa penjahat tidak pernah puas dengan lantai resmi?”
Maya menjawab, “Karena lantai resmi bayar pajak.”
Lestari tertawa kecil, lalu cepat fokus lagi.
Arga menunjuk denah. “Pintu utama terlalu jelas. Surya pasti memasang pengawas di sana. Pintu belakang mengarah ke koridor servis, kemungkinan jebakan kedua.”
Ayla menunjuk sisi timur gedung. “Saluran limbah lama.”
Bima menatapnya. “Kamu mau masuk lewat saluran limbah?”
“Kamu boleh masuk lewat karpet merah.”
“Aku cuma bertanya.”
Arga melihat denah tambahan. “Saluran itu ditutup.”
Maya berkata, “Ditutup di dokumen. Di lapangan belum tentu.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku pernah ingin membeli gedung ini.”
Semua menatapnya.
Maya mengangkat bahu. “Lokasinya bagus.”
Ayla berkata, “Untuk laboratorium ilegal?”
“Untuk pusat data. Tapi setelah melihat riwayatnya, aku berubah pikiran. Energinya buruk.”
Bima bergumam, “Konglomerat memang beda. Gedung berhantu dibilang energinya buruk.”
Arga mengetuk meja lipat. “Fokus. Ayla tidak masuk lebih dulu.”
Ayla langsung berkata, “Aku masuk.”
“Tidak.”
“Sistemnya mungkin butuh aku.”
“Justru karena itu.”
Maya menatap Arga dengan senyum tipis. “Kamu sadar melarang Ayla biasanya hanya membuat dia mencari cara yang lebih merepotkan?”
“Saya sedang mencoba mengurangi tingkat kerusakan.”
“Lucu.”
Ayla melihat Arga. “Aku tidak akan bergerak sendiri.”
“Janji?”
“Aku akan bergerak dengan orang yang bisa mengejar.”
Bima mengangkat tangan. “Aku mengundurkan diri dari kategori itu.”
Arga menahan napas. “Kamu di belakang saya.”
“Tergantung ukuran lorong.”
“Ayla.”
“Baik.”
Operasi dimulai pukul 01.20.
Tim utama Arga bergerak ke sisi barat untuk membuat gangguan kecil pada sistem kamera. Bima dan dua anggota masuk melalui gerbang servis. Ayla, Arga, dan Maya menuju sisi timur bersama satu teknisi.
Maya memakai sepatu bot hitam dan sarung tangan kulit. Terlalu rapi untuk orang yang akan masuk saluran limbah.
Ayla meliriknya. “Kamu ikut kenapa?”
“Aku investor.”
“Ini bukan rapat.”
“Justru itu menarik.”
Arga berkata tanpa menoleh, “Bu Maya tetap di luar.”
Maya tersenyum. “Kalian berdua suka sekali melarang.”
“Karena Anda dan Ayla sama-sama buruk dalam mendengar.”
Ayla dan Maya saling pandang.
“Dia mulai mengenal kita,” kata Maya.
“Mengganggu,” jawab Ayla.
Saluran limbah lama ditemukan di balik semak dan beton retak. Penutup besinya berkarat, tetapi tidak terkunci dari luar. Itu lebih mencurigakan daripada jika terkunci.
Teknisi memindai gas dan suhu. “Aman untuk masuk. Tapi sinyal mungkin buruk.”
Arga memberi Ayla masker. “Pakai.”
Ayla menerimanya. “Perhatianmu makin praktis.”
“Pakai.”
Mereka turun satu per satu. Lorong bawah tanah sempit, lembap, dan berbau logam tua. Air kotor sudah lama kering, meninggalkan kerak di dinding. Kabel baru terlihat di sisi kanan.
“Aktif,” bisik Arga.
Ayla menyentuh kabel sebentar. “Dipasang belum lama.”
Mereka mengikuti lorong sampai menemukan pintu besi kecil. Tidak ada pegangan dari luar. Ada panel biometrik lama di sampingnya, menyala redup.
Maya, yang tentu saja tetap ikut turun meski dilarang, berbisik, “Nah.”
Arga menatapnya.
Maya tersenyum. “Aku tersesat.”
Ayla mengabaikan mereka dan melihat panel. Di layar kecil muncul tulisan:
MB SERIES ACCESS.
Bima di radio bertanya, “Status?”
Arga menjawab pelan, “Kami menemukan akses biometrik.”
Lestari dari van berkata, “Hati-hati. Kalau sistem lama terhubung ke file, input salah bisa memicu alarm.”
Ayla melihat jarinya sendiri.
Arga menangkap gerakan itu. “Tidak.”
“Kamu bahkan belum tahu aku mau apa.”
“Saya tahu.”
Maya mendekat. “Ayla, tunggu. Panel seri lama biasanya tidak hanya membaca sidik jari. Bisa darah, suhu, respons listrik kulit.”
Arga berkata, “Semakin alasan untuk tidak menyentuh.”
Dari dalam gedung, terdengar suara mesin menyala.
Panel berkedip.
Lalu muncul tulisan baru:
MB-07 DETECTED NEAR FIELD.
Ayla tidak menyentuh apa pun.
Arga langsung menariknya mundur.
Pintu besi terbuka sendiri.
Udara dingin keluar dari dalam.
Maya berbisik, “Surya benar-benar menunggunya.”
Ayla menatap lorong gelap di balik pintu.
Di dalamnya, lampu darurat menyala satu per satu, membentuk jalur.
Seolah gedung tua itu mengenali kepulangannya.
Arga berbicara ke radio. “Pintu timur terbuka otomatis. Kami masuk dengan hati-hati.”
Bima berseru, “Pak, jangan bilang itu karena Ayla.”
Tidak ada yang menjawab.
Ayla melangkah maju.
Arga menahan bahunya.
“Di belakang saya.”
Ayla menatap tangan di bahunya, lalu menatap wajah Arga.
Kali ini dia tidak bercanda.
“Kalau sistem ini mengenal aku, kamu di depan justru lebih berbahaya.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa?”
Arga menatap lorong gelap.
“Karena kamu bukan alat pembuka pintu.”
Ayla terdiam.
Maya melihat mereka, senyumnya hilang sebentar.
Kalimat sederhana itu masuk ke tempat yang tidak Ayla siapkan. Di dunia Besi Kelabu, orang sering dinilai dari fungsi: penembak, peretas, negosiator, instruktur, aset, target. Arga, di depan pintu yang jelas menunggu tubuhnya sebagai kunci, berkata dia bukan alat.
Menyebalkan.
Pria ini menyebalkan dengan cara yang sulit dilawan.
Ayla akhirnya berkata, “Baik. Kamu dulu.”
Arga masuk lebih dulu.
Lorong itu membawa mereka ke ruang bawah tanah yang dingin dan bersih, terlalu bersih untuk gedung terbengkalai. Di ujung ruangan, ada layar besar menyala.
Wajah Surya Atmadja muncul di sana.
“Selamat datang, MB-07.”
Ayla berdiri di samping Arga.
Surya tersenyum.
“Atau kau lebih suka dipanggil Ayla sekarang?”
Arga mengangkat senjata ke arah kamera.
Surya tertawa. “Tenang, Pak Arga. Kalau aku ingin membunuh kalian malam ini, pintu itu tidak akan kubuka.”
Ayla menatap layar. “Kamu ingin apa?”
Surya mencondongkan wajah.
“Mengembalikan ingatanmu.”
Di belakang mereka, pintu besi tertutup.
Lampu berubah merah.
Dan dari speaker, suara anak kecil mulai menangis.
Arga langsung memeriksa sambungan radio. “Bima, dengar?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara statis pendek, lalu hilang.
Maya menghela napas. “Aku benci ruangan yang terlalu dramatis.”
Ayla menatap kamera. “Surya selalu begini?”
“Dulu tidak,” jawab Maya. “Dulu dia pengecut yang bersembunyi di balik proposal riset. Sekarang dia pengecut yang punya tata cahaya.”
Arga bergerak ke pintu, memeriksa engsel dan kunci otomatis. “Kita cari kontrol manual.”
“Dia ingin kita tetap di sini,” kata Ayla.
“Maka kita keluar.”
“Sesederhana itu?”
“Saya mencoba tidak membuatnya puitis.”
Maya menyalakan senter kecil. “Kalian berdua menggoda di ruang jebakan?”
Ayla dan Arga sama-sama menoleh.
“Tidak,” kata Arga.
“Menjijikkan,” kata Ayla.
Maya tersenyum. “Jawaban kalian terlalu cepat.”
Tangisan anak kecil berubah menjadi gumaman angka. Satu. Dua. Tiga. Tujuh. Diulang berkali-kali. Ayla merasakan kulit belakang lehernya menegang.
Tujuh.
Angka itu seperti kuku yang menggores pintu dari dalam kepala.
Arga melihat tangannya mengepal.
“Ayla.”
“Aku dengar.”
“Fokus ke suaraku.”
“Aku tidak butuh—”
“Aku tahu. Lakukan saja.”
Ayla ingin membalas, tetapi angka itu kembali terdengar. Tujuh. Tujuh. Tujuh.
Dia menarik napas, lalu menatap Arga.
“Bicara.”
Arga mengangguk, suaranya stabil. “Kita di ruangan bawah tanah. Maya di kiri. Saya di depanmu. Pintu tertutup, tapi belum terkunci mati. Surya bicara lewat rekaman. Dia tidak di sini.”
Ayla menahan napas sejenak, lalu melepaskannya.
Angka itu masih ada. Tetapi lebih jauh.
Maya tidak lagi tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia tampak takut bukan pada Surya, melainkan pada apa yang mungkin mulai bangun dalam ingatan Ayla.
Maya menempelkan telinga ke dinding sebentar. “Ada ruang lain di balik panel kanan.”
Arga menatapnya. “Anda juga ahli struktur bangunan?”
“Aku ahli membeli gedung bermasalah.”
Ayla berjalan ke panel yang dimaksud. Di balik suara tangisan, ada dengung mesin kecil. Bukan pendingin. Bukan generator besar. Sesuatu yang lebih dekat, lebih personal.
Seperti alat pemutar rekaman analog.
“Surya ingin kita mendengar ini,” kata Ayla.
“Dan melihat sesuatu setelahnya,” tambah Arga.
Maya mengarahkan senter. Ada goresan lama di lantai, membentuk garis yang menuju panel kanan.
Ayla berjongkok. Di antara goresan itu ada noda gelap yang sudah terlalu tua untuk disebut darah baru.
Angka tujuh kembali terdengar dari speaker.
Kali ini Ayla tidak memejamkan mata.
Dia menatap noda itu sampai suara Arga menariknya kembali.
“Kita keluar dulu. Setelah itu kita buka dengan alat.”
Ayla mengangguk pelan.
Kali ini dia memilih mendengar.