Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Akar dari permasalahannya
Keesokan harinya, Zevanna terbangun di ranjang utama. Sinar matahari pagi yang menerobos gorden terasa hangat di kulitnya. Rasa pegal di tubuhnya sudah jauh berkurang. Saat menoleh, sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Tapi, ada dua map tebal di meja nakas dengan selembar catatan kecil di atasnya.
Istriku
Map pertama isi surat kepemilikan 50% saham anak perusahaan logistik atas namamu. Map kedua berkas penetapan tersangka buat Paman Richard dan Bibi Sumi dari polisi.
Kamu menang hari ini, Zevanna.
— Areksa.
Zevanna menggenggam kertas itu erat-erat. Dadanya berdebar kencang. Dendam belasan tahun atas kematian ibunya akhirnya tuntas, dan masa depannya kini aman di tangan. Tapi, ada rasa aneh yang mengganjal. Kenapa rasanya kemenangan ini kurang pas tanpa Areksa di sisinya?
Zevanna segera bersiap dan turun ke bawah. Rumah yang biasanya sepi itu kini agak sibuk. Beberapa pria bersetelan jas tampak bolak-balik membawa berkas di ruang tengah.
"Areksa di mana?" tanya Zevanna pada salah satu pengawal di dekat tangga.
Pengawal itu menunduk sopan. "Tuan Muda lagi di ruang kerja sama tim pengacara, Nyonya. Ada sedikit kendala soal kakek beliau."
Zevanna mengerutkan dahi lalu berjalan menuju ruang kerja Areksa. Ia cuma mendorong pintunya pelan dan masuk tanpa suara.
Di ruangan beraroma kayu itu, Areksa berdiri menatap keluar jendela besar. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal sampai siku. Wajah santainya yang semalam sempat muncul kini tertutup lagi oleh ekspresi dinginnya yang biasa.
Para pengacara langsung pamit keluar begitu melihat Zevanna masuk.
"Udah bangun, my dear?" tanya Areksa santai tanpa berbalik.
"Ada masalah apa?" Zevanna mendekat. "Kenapa penanggung hukummu kumpul lagi? Paman Bram sama Bibi Sumi kan udah ditangkap?"
Areksa berbalik pelan lalu menyandarkan badannya di tepi meja kerja. "Penangkapan mereka baru awal. Paman Bram panik dan mendadak narik pengakuannya. Tapi yang bikin makin ramai... Kakekku turun tangan langsung buat nutupin jejak keluarga biar saham nggak anjlok."
"Kakekmu? Hubungan dengannya apa?"
"Iya," Areksa tersenyum tipis. "Pria tua itu tahu aku kasih kamu separuh aset logistik. Dia anggap kamu ancaman karena nggak suka ada orang luar yang pegang kartu as."
Zevanna maju satu langkah, menatap tepat ke mata suaminya. "Terus, suamiku ini mau ngelakuin apa buat ngelindungi aku?"
Areksa terkekeh pelan. Tangannya terulur meraih pinggang Zevanna dan menariknya makin rapat. "Ngelindungi kamu?" bisiknya di depan bibir Zevanna. "Aku jagain kamu bukan karena kamu lemah, Zevanna. Tapi karena kamu punya aku... dan aset paling berharga yang aku miliki."
Zevanna meremas kemeja dada Areksa, merasakan detak jantung pria itu yang sama cepatnya. "Ingat janji kita, Areksa. Transaksi kita belum kelar sepenuhnya..."
"Kalau gitu... ayo kita beresin sekarang, Nyonya Areksa," bisik Areksa sambil mempererat pelukannya.
Kringgg!
Dering telepon di meja mendadak memecah suasana. Itu nada panggil khusus darurat. Areksa menghentikan gerakannya, mengambil HP-nya, lalu menggeser layar.
"Bicara," kata Areksa singkat.
Suara di telepon terdengar panik.
"T-Tuan Muda... Bram mendadak kejang di dalam sel lima menit lalu. Tim medis bilang beliau meninggal di tempat!"
Mata Areksa memicing. "Sianida?"
"Bukan, Tuan. Indikasinya racun saraf dosis tinggi yang nggak ninggalin jejak. Terus... Bibi Sumi kabur dari ruang pemeriksaan sebelum sempat tanda tangan BAP!"
Klik. Panggilan terputus.
Zevanna yang berdiri dekat bisa mendengar semuanya. Wajahnya mendadak pucat. Paman Bram tewas dan Bibi Sumi hilang?
"Kakekmu..." bisik Zevanna kaget. "Apa dia pelakunya?"
Areksa meletakkan HP-nya di meja agak keras. Wajahnya berubah serius. "Bukan"
"Maksudnya? Ada orang lain selain dia?"
Areksa mengangguk. "Paman bungsuku yang menghilangkan buktinya. Dia ada sangkut pautnya dengan kematian ibumu. Dia nggak cuma nyari aman, Nana. Dia lagi bersih-bersih papan catur. Dan sasaran dia berikutnya... itu kamu."
"A... Aku? Apa hubungannya denganku?"
Areksa tersenyum tipis sebelum menjawab, dia menangkup wajah istrinya, memaksakan kedua mata istrinya menatap dirinya. Kedua ibu jari mengusap lembut kedua pipinya.
"Hei... jangan panik. Mereka nggak akan bisa sentuh kamu. Dulu, pamanku punya obsesi gila terhadap Mama kamu. Mama kamu malah milih Papa kamu yang seorang berandalan. Pada saat itu dia merencanakannya. Dia bekerja sama dengan paman dan bibi kamu untuk memisahkan mereka"
"Obsesi?"
"Iya... dia menginginkan kamu karena kamu sangat mirip dengan mama kamu."
Zevanna sedikit terguncang atas berita yang dia dengar. Kecantikan seseorang bisa membuat orang gila ternyata.
"Soal kakek, dia hanya tidak suka kita bersama dan mengajukan syarat seorang pewaris"