"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Erdio mengatakan hal tersebut dengan lantang dan penuh penekanan. Matanya yang tajam cukup membuat hati Medi tertusuk. Dirinya kini sadar bahwa Erdio hanya menganggapnya sebatas pemuas nafsuu belaka, dan tak ada sedikit pun perasaan di dalamnya.
"Gimana bisa? Gimana kamu bisa ngomong kayak gitu, Mas? Aku, aku sangat mencintaimu. Disaat kamu datang menghampiri ku malam itu, aku beneran cinta sama kamu. Kenapa, kenapa kamu kayak gini ke aku, hiks."
Tangis Medi pecah, hatinya begitu sakit sekarang saat tahu bagaimana perasaan Erdio.
Tapi Erdio sama sekali tak peduli. Dia melenggang pergi, meninggalkan Medi begitu saja.
"Apa peduliku, sekarang urusanku sama Medi udah selesai. Tinggal ngeyakinin Mita buat batalin gugatan cerai. Tapi sial, nomornya juga sama sekali nggak bisa dihubungi."
Erdio kebingungan, dia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Mita. Dia juga tak bisa menghubungi wanita itu. Sedangkan tekadnya untuk tidak bercerai begitu besar.
"Kemana aku harus nyari dia ya. Dia beneran kayak hilang ditelan bumi gini. Ah iya, aku baru ingat, bukannya katanya dia kembali kerja sama orang itu. Berarti dia pasti ada di sana. Besok, besok aku haru ke tempat kerja Mita. Aku harus bilang ke dia kalau kita nggak perlu cerai karena urusan Medi udah kelar."
Agaknya otak Erdio benar-benar tidak berfungsi. Dia berpikir bahwa Mita menginginkan perpisahan hanya karena Medi hamil. Erdio tidak berpikir bahwa Mita sangat sakit hati karena pengkhianatan yang dilakukan olehnya.
Entah memang Erdio orang yang bodoh, atau memang dia tak sadar diri bahwa perbuatannya salah besar.
Selingkuh dengan adik ipar, sungguh perbuatan bejat yang tak termaafkan terlebih mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, yang mana itu memang disengaja.
Mita yang kini terus menerus membelenggu pikiran Erdio, saat ini tengah menikmati tidur nyenyak nya. Kabar dari Wilson tentang layangan gugatan yang sudah dikirimkan kepada Erdio merupakan sebuah pintu awal baginya untuk lepas dari pria itu.
Sekarang, Mita tak lagi menangis ketika mengingat Erdio. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi pria semacam itu.
Malam berlalu begitu saja, adzan subuh berkumandang dan Mita sudah menyelesaikan kewajibannya. Kini dia berada di dapur, bersama seoang asisten rumah tangga yang sudah berkutat untuk membuat sarapan.
"Aku bantu ya Mbok Mar," ucap Mita sambil tersenyum simpul.
"Eh ndak usah Mbak Mita. Mbok udah biasa ngerjainnya kook," jawab Mbok Mar canggung. Dia tidak enak atas tawaran bantuan dari Mita.
"Ndak apa, Mbok. Soalnya aku juga bingung mau ngelakuin apa. Sini Mbok aku bantu siangin bawangnya. Mau bikin nasi goreng ya?"
Mbok Mar pasrah, dia pun membiarkan Mita membantu. Pagi ini sarapan yang dibuat Mbok Mar tak sulit, hanya nasi goreng plus telur ceplok. Orang di rumah ini tak ada yang suka dengan nasi goreng yang dicampur telur. Maka dari itu Mbok Mar akan membuat telurnya terpisah.
Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat sarapan. Terlebih Mita datang untuk membantu, pastilah waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat.
"Lho, Mbak Mita bantuin Mbok Mar masak?" tanya Lintang saat melihat Mita menata meja makan.
"Iya Mbak Lintang, malah Mbak Mita yang masak nasi gorengnya."
Bukan Mita yang menjawab pertanyaan Lintang, melainkan Mbok Mar langsung. Ya jawaban Mbk Mar memang benar bahwa pagi ini Mita lah yang memasak.
Mata Lintang berbinar, dia tidak menyangka bahwa Mita akan memasak. Mengingat sedari kemarin Mita masih tampak murung, tapi pagi ini sudah tidak. Lintang juga merasa bahwa Mita tampak lebih bersemangat dan mungkin dengan cara memasak, wanita itu lebih bebas berekspresi.
"Mbak Mit, boleh lah kapan-kapan ajari aku masak ya? Ini enak bangeeeeet," ucap Lintang. Dia mengambil sesendok nasi goreng di piringnya lalu memakannya. Karena saking penasarannya dengan masakan Mita, Lintang pun tak menunggu kedua orangtuanya lebih dulu.
"Aku juga nggak pinter-pinter banget kok. Cuman sekedar bisa, Lin," jawab Mita dengan malu-malu.
"Nggak, nggak mungkin. Soalnya ini enyaaaak," sahut Lintang cepat.
"Ada apa ini, kok rame bener?" tanya Adam yang baru saja sampai di meja makan bersama istrinya.
"Ayah, ini cobain cepet. Mbak Mita masak nasgornya enak banget, serius deh," jawab Lintang dengan sangat antusias.
Adam dan Asha tersenyum, putri mereka nampak lebih bersemangat ketika ada Mita di rumah ini. Seolah dia memiliki teman baru.
Asha dan Adam duduk, dan menunggu Lintang mengambilkan nasi goreng yang dibuat Mita. Benar saja, ekspresi wajah Adam dan Asha sama seperti Lintang. Dua orang tua itu pun memuji masakan dari Mita seperti Lintang.
"Terimakasih Pak, Bu, alhamdulillah kalau masakan saya sesuai selera Bapak dan Ibu," ucap Mita dengan wajah bersemu merah.
Mereka pun menikmati makan pagi tersebut degan menyenangkan.
Mita juga sudah meras nyaman dan tak lagi memikirkan tentang Erdio. Dia merasa bahwa tak lagi merasa sakit dengan ulah Erdio dan Medi.
Hanya saja perasaan tenang dan nyaman Mita itu apakah akan berlangsung lama? Perasaan sakit yang dirasa sudah menghilang itu apakah masih bisa kembali lagi?
Jawabannya adalah masih. Jelas masih bisa. Dimana semuanya bersumber dari pria itu. Pria yang tak ingin ditemuinya lagi, ternyata masih berusaha mengejarnya. Pria itu masih sangat mengharapkan dirinya kembali.
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,