"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Tania Cemong
.........
...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....
...Tidak untuk ditiru....
.........
...Happy Reading...
.........
Langit Jakarta di pagi kedua terasa jauh lebih menyengat di kulit Tania. Sesuai dengan nasihat Bu Yuni kemarin, sebelum keluar dari kontrakan petaknya yang sempit, dia sengaja mengusapkan sedikit sisa arang kayu dari tungku masak dapur pemilik kontrakkan ke area tulang pipi dan dahinya. Coretan hitam itu dia baurkan kasar hingga kulit wajahnya yang putih bersih sewarna porselen berganti rupa menjadi agak kusam dan berdebu. Rambut cokelat terangnya yang dipotong sebahu dia sembunyikan di balik topi caping bambu yang longgar.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Dinas Kebersihan Jakarta Utara.
Ketika Tania tiba di pos titik kumpul, aroma kopi hitam, asap rokok kretek, dan candaan riuh langsung menyambut indra pendengarannya. Puluhan pekerja berseragam oranye kusam sedang duduk santai di atas bangku panjang, bersiap melakukan presensi pagi sebelum disebar ke rute jalanan masing-masing. Di dunia lamanya, pertemuan dengan puluhan orang asing dalam satu ruangan selalu berarti satu hal, potensi ancaman tak terduga. Namun di sini, ketegangan itu perlahan mencair oleh atmosfer kasual yang murni.
Mandor pos, seorang pria berbadan tegap dengan kumis tebal, menatap berkas identitas palsu milik Tania dengan dahi berkerut sejenak. "Tania Sae Ning, ya? Mukamu ini... kayak ada chindo chindonya, Neng? Putih bener walau udah dekil begini."
Tania yang sudah melatih skenario ini di dalam kepalanya selama pelayaran, menjawab dengan nada sedatar mungkin agar tidak terdengar gugup. "Saya asli Indonesia, Pak. Hanya saja... nenek buyut saya memang ada darah Korea. Cuma nenek buyut." tidak menyebutkan detail tempat daerah lahirnya.
Mandor itu mengangguk-angguk percaya karena muka Tania selain cantik juga terlihat polos, melambaikan tangan sebagai tanda bahwa urusan sudah selesai. "Ya sudah, yang penting kerjamu bener. Gak usah males-malesan. Jakarta gak butuh orang malas."
Tania mengembuskan napas pelan dari balik masker kainnya. Identitas barunya berhasil melekat tanpa memicu kecurigaan lebih lanjut. Catat! Mungkin karena cantik.
Saat dia berjalan ke sudut halaman untuk mengambil sapu lidi bertangkai panjang dan sepasang sarung tangan kain, sesosok pria muda bertubuh jangkung dengan seragam oranye yang lengannya digulung hingga siku mendadak melompat kecil mendekatinya. Pria itu membawa sebuah pengki plastik besar dan tersenyum lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat jelas.
"Halo, Neng! Pekerja baru, ya? Kenalin, namaku Rangga," sapa pria itu. Suaranya terdengar sangat nyaring dengan cengkok medok khas Jawa yang kental dan kaku di telinga Tania. "Nanti rute kita barengan loh di sektor jalur lingkar luar. Salam kenal, ya!"
Tania menghentikan gerakannya. Sepasang alisnya menyengkit, menatap pria bernama Rangga itu dengan pandangan yang agak aneh dan penuh selidik. Di Seoul, tidak ada satu pun bawahan laki-laki yang berani mendekatinya dalam jarak satu meter dengan ekspresi seakrab dan seceria itu tanpa izin tertulis. Ditambah lagi dengan logat bicaranya yang naik-turun dengan intonasi lambat yang terdengar ganjil bagi telinga Tania yang terbiasa dengan dialek kaku dan cepat khas Gangnam. Namun, saat menatap mata Rangga yang jernih, Tania tidak menemukan adanya niat busuk atau hawa membunuh. Pria ini murni hanya bersikap baik.
"Tania," jawabnya pendek, mengangguk sekali tanpa membalas senyuman itu.
Rangga tidak menciut melihat respons dingin rekan barunya. Dia justru terkekeh pelan, mengayunkan pengki plastiknya dengan santai. "Wah, lumayan judes juga, ya? Gak apa-apa hehehe, Oh iya, Neng Tania... nanti kalau sif kita udah kelar sorean, mau gak tak ajak makan nasgor bareng di pengkolan depan? Nasi gorengnya Pak Kumis itu top markotop, loh. Bumbunya meresap sampai ke jiwa!"
Tania terdiam, menatap sapu lidi di tangannya dengan perasaan campur aduk. Makan bersama setelah bekerja? Konsep kehidupan sosial kelas pekerja ini terasa begitu asing namun anehnya tidak membuat dadanya sesak seperti saat dia berada di dalam sel Cheongju.
Sebelum Tania sempat memikirkan kalimat penolakan yang cukup sopan, sebuah tepukan mendarat di bahu Rangga dari belakang. Bu Yuni muncul dengan topi capingnya, membawa botol minum plastik besar yang diikat tali rafia.
"Halah, Rangga, Rangga! Bocah baru sedetik masuk pos udah langsung mau digodain aja," cerocos Bu Yuni sambil tertawa geli, melirik Tania dengan kedipan mata jenaka. "Neng Tania, jangan gampang percaya sama si Rangga ini, ya. Dia ini playboy cap kampret disini. Semua anak baru pasti diajakin makan nasgor. Kemarin si Siti juga diajakin hal yang sama!" Tania sedikit menyengkrit bingung karena tidak mengenal, siapa siti?
Kenyataannya, Rangga memang terkenal suka menebar pesona ke setiap wanita yang lewat, sebuah reputasi yang sudah menjadi rahasia umum di antara para pekerja kebersihan.
Mendengar ledekan terang-terangan dari Bu Yuni, Rangga sama sekali tidak tersinggung atau memasukkannya ke dalam hati. Dia justru tertawa renyah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menanggapi dengan nada bercanda yang santai. "Wah, Bu Yuni ini suka memotong jalur rezeki asmaraku toh. Kan namanya juga usaha, Bu. Siapa tahu Neng Tania kesepian di Jakarta yang kejam ini, toh?"
Tania memperhatikan interaksi di hadapannya dalam diam. Di tempat ini, humor dan candaan ringan menjadi perisai paling ampuh bagi mereka untuk menertawakan kerasnya hidup. Ada kedamaian yang aneh yang merayap di sudut hati Tania yang dingin. Di bawah langit tropis ini, dia bisa menjadi siapa saja, bahkan menjadi seorang Tania yang kikuk menghadapi rayuan jenaka seorang tukang sapu jalanan berlogat medok.
Dari kejauhan, di seberang jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan, sepasang mata dari seorang pria bertopi pet hitam terus mengawasi pergerakan Tania dengan waspada. Itu adalah salah satu anak buah setianya yang menjaga dari jarak aman yang tak tersentuh, memastikan sang ratu mafia tetap aman dalam penyamaran barunya tanpa mengganggu proses adaptasinya sebagai manusia biasa yang sedang bertahan hidup di antara kemiskinan.
...
Sementara itu, ribuan mil di utara, dinginnya musim dingin Seoul seolah berpusat di dalam sebuah butik pengantin mewah di kawasan distrik Gangnam.
Lampu-lampu kristal gantung yang megah membiaskan cahaya kekuningan yang hangat di atas deretan gaun pengantin sutra putih dan setelan jas formal rancangan desainer ternama. Wangi aromaterapi lavender yang menenangkan memenuhi ruangan, namun semua kemewahan itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang menguar dari tubuh Kapten Herry.
Herry berdiri tegak di atas podium kecil di depan cermin raksasa setinggi langit-langit. Dua orang perancang busana wanita sedang berlutut di dekat kakinya, menyematkan beberapa jarum pentul untuk menyesuaikan lekuk setelan jas tuksedo hitam pekat yang melekat di tubuh tegapnya.
Namun, sepasang mata jelaga milik Herry tidak sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Tatapannya kosong, lurus menembus kaca bening butik yang menampilkan jalanan Seoul yang tertutup salju tipis.
Pikirannya melayang jauh, tersesat di dalam labirin memorinya sendiri yang semakin hari semakin bergejolak hebat.
Sejak kilasan suara Marysa di Pelabuhan Incheon itu muncul, Herry kerap kali terjebak dalam kondisi pandangan kosong seperti ini. Di dalam kepalanya, wajah Marysa saat berada di ruang interogasi dua minggu lalu terus berputar seperti piringan hitam yang rusak. Mengapa wanita itu menatapnya dengan rasa sakit yang begitu mendalam? Mengapa kata-kata Marysa tentang masa lalu terasa seperti sebuah kebenaran yang sengaja disembunyikan dari jiwanya?
"Herry? Bagaimana menurutmu bagian kerahnya? Apakah terlalu kaku?"
Suara Jessica Hwang Won memecah keheningan yang dibangun oleh Herry. Jessica melangkah keluar dari ruang ganti di sebelahnya, mengenakan gaun pengantin ballgown putih megah dengan detail brokat berlian yang berkilauan. Wajah cantiknya tampak berseri-seri, memancarkan aura kepuasan seorang putri pejabat tinggi yang akan segera mendapatkan apa yang dia inginkan.
Herry tidak menjawab. Dia tetap bergeming dengan pandangan kosong, seolah-olah suara Jessica hanyalah desau angin musim dingin yang lewat di luar jendela.
Jessica mengernyitkan dahinya, merasa diabaikan. Dia melangkah mendekati podium Herry, menatap tunangannya dengan tatapan menuntut yang tajam. "Herry! Kamu mendengarku tidak? Sejak kita masuk ke butik ini, pandanganmu selalu kosong seperti itu. Kamu sebenarnya ada di sini atau tidak?"
Herry tersentak kecil, fokus matanya perlahan kembali berkumpul pada pantulan wajah Jessica di cermin. Dia menarik napas pendek, menekan rasa pening yang kembali mendenyut di pelipisnya akibat stres kronis yang menggerogoti otaknya selama berminggu-minggu memikirkan pelarian Marysa.
"Maaf, Jessica. Aku hanya sedang memikirkan beberapa detail analisis kasus di kantor yang belum selesai," jawab Herry, suaranya terdengar sangat datar, berat, dan tanpa emosi sedikit pun. Rahangnya yang tegas mengeras kuat saat dia memaksa dirinya untuk kembali memasang topeng polisi idealis yang dingin dan tak tersentuh. Dia menolak untuk membiarkan kelemahan psikologisnya terlihat oleh Jessica atau siapa pun di ruangan ini.
"Kasus lagi, kasus lagi! Apakah wanita mafia yang kabur itu jauh lebih penting daripada pernikahan kita?" cetus Jessica dengan nada suara yang mulai meninggi, mengabaikan tatapan canggung dari para perancang busana di sekitar mereka. "Ayahku sudah bilang kalau tim BIN akan segera mengambil alih minggu depan jika kamu tidak memberikan progres. Tolong singkirkan wajah kriminal itu dari kepalamu, Herry. Kamu adalah calon suamiku, fokuslah pada masa depan kita!"
Herry menatap wajah Jessica yang dipenuhi kekesalan dari balik cermin. Kata-kata "singkirkan wajah kriminal itu dari kepalamu" justru memberikan efek sebaliknya di dalam dada Herry. Ada rasa sesak yang pekat yang mendadak mencengkeram jantungnya, sebuah penolakan murni dari dalam jiwanya terhadap seluruh sandiwara formalitas ini.
Dia ingin melupakan Marysa. Dia benar-benar ingin membuang bayangan wanita itu ke dalam tempat sampah memorinya yang rusak. Namun, semakin dia mencoba melupakannya, semakin kuat pula ikatan gelap tak kasat mata yang menarik jiwanya untuk terus mencari tahu ke mana sang ratu mafia melarikan diri.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Jessica," sahut Herry, suaranya kini beruba mendingin hingga beberapa derajat, menciptakan atmosfer intimidasi yang pekat di dalam butik mewah tersebut. Dia turun dari podium tanpa menunggu para perancang busana selesai melepas jarum pentul di jasnya, lalu berjalan menuju ruang ganti dengan langkah kaki yang kaku dan penuh emosi terpendam.
Di dalam kesunyian ruang ganti yang sempit, Herry menyandarkan dahinya pada dinding kayu yang dingin. Dia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menguasai pandangannya sejenak. Di luar sana, salju Seoul terus turun, mengubur jejak-jejak masa lalu yang tersisa. Namun jauh di lubuk hatinya, Herry tahu, sebelum dia menemukan Marysa dan menuntut jawaban atas lubang hitam di kepalanya, dia tidak akan pernah bisa melangkah maju ke altar mana pun dengan jiwa yang utuh.
...