Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Berputar
Malam telah menjatuhkan tirai gelapnya yang pekat di atas perumahan Blok C-12 ketika jam dinding di kamar utama lantai dua berdentang tujuh kali.
Suasananya begitu sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang terdengar konstan memenuhi kamar mewah yang terasa seperti ruang isolasi itu.
Namun di dalam keheningan itu, jantung Alya bertubuh mungil berdegup kencang—bukan karena ketakutan, melainkan karena adrenalin yang meletup-letup di sekujur pembuluh darahnya.
Rencana yang telah ia susun bata demi bata bersama para sekutu domestiknya kini memasuki detik pembuktian.
Alya berdiri di depan cermin lemari pakaian raksasanya. Ia telah menanggalkan kaos kuning seragam aerobik yang basah, menggantinya dengan kemeja flanel kotak-kotak biru longgar dan celana jin hitam yang nyaman.
Rambut panjangnya ia biarkan tergerai untuk menyembunyikan sisa-sisa memar yang masih samar di pangkal lehernya. Di dalam tas jinjingnya, sebuah buku catatan baru dan pulpen sudah tersimpan rapi.
Ponselnya di atas meja rias bergetar pelan. Sebuah pesan dari Reza.
Reza: Malam ini ada dinner kelanjutan proyek dengan konsorsium asing. Aku baru pulang lewat tengah malam. Jangan kunci pintu depan.
Alya menatap layar itu dengan binar kemenangan yang dingin di matanya.
Sempurna, bisik hatinya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia meletakkan ponselnya di dalam tas, lalu melangkah ke pintu kamar utama.
Sesuai strategi, ia memutar anak kunci dari dalam. Klik. Klik. Dua kali. Pasti. Lalu ia menggantungkan selembar handuk putih di gagang pintu bagian dalam sebagai indikator keamanan.
Jika Reza tiba-tiba pulang mendadak karena firasat buruk, pintu yang terkunci dari dalam akan memberinya alibi bahwa ia sedang tertidur lelap pasca-kelelahan aerobik sore tadi.
Alya berjalan cepat menuju jendela besar kamar yang menghadap langsung ke arah taman samping. Di bawah sana, kegelapan malam menyembunyikan segalanya.
Dengan gerakan yang lincah dan hati-hati, Alya keluar melalui pintu geser balkon lantai dua yang terhubung dengan tangga besi darurat di bagian belakang—sebuah jalur arsitektur rumah yang semula dibangun untuk evakuasi kebakaran, kini menjadi jalan kebebasannya.
Ia menuruni anak tangga besi itu tanpa suara, mendarat di atas rumput taman yang basah oleh embun malam. Langkah kakinya bergerak cepat menuju balik batang pohon kenanga besar yang rimbun.
Di sana, di titik buta yang terbebas dari jangkauan lensa kubah hitam CCTV teras, Ningsih sudah menunggu dalam kegelapan.
Tanpa banyak bicara, Ningsih menggeser dua bilah pagar bambu yang ikatan kawat bawahnya sudah dilonggarkan. Celah sempit itu terbuka.
"Hati-hati, Mbak Alya. Semoga lancar kuliahnya," bisik Ningsih penuh harap.
"Terima kasih, Ningsih. Jaga rumah ya," balas Alya pelan.
Tubuh mungil Alya lolos melewati celah pagar dengan mudah. Begitu kakinya menginjak semen gang buntu di luar komplek, ia menarik napas dalam-dalam.
Udara malam itu terasa begitu segar, begitu bebas, seolah-olah seluruh pasokan oksigen yang sempat dirampas darinya selama enam minggu terakhir kini dikembalikan dalam satu helaan napas.
Ia berjalan cepat menuju jalan raya utama, di mana sebuah ojek daring yang ia pesan dengan nama samaran sudah menunggu di bawah lampu jalan yang temaram.
Gedung kampus swasta itu tidak semegah kantor properti milik Reza, namun bagi Alya, tempat itu terlihat seperti istana cahaya.
Lampu-lampu neon menerangi koridor lantai dua yang ramai oleh hiruk-pikuk mahasiswa kelas karyawan.
Alya berjalan masuk ke dalam ruang kelas Manajemen-A. Ruangan itu sudah terisi sekitar dua puluh orang. Kontras dengan suasana sanggar aerobik yang dipenuhi ibu-ibu, di sini atmosfernya adalah perpaduan antara lelahnya para pekerja yang baru pulang kantor dan semangat belajar yang menyala.
Alya mengambil tempat duduk di barisan nomor tiga dari depan, dekat jendela.
Jantungnya berdebar saat seorang wanita muda berkacamata dengan kemeja kerja yang sedikit kusut duduk di sampingnya.
"Hai, boleh duduk di sini?" sapa wanita itu ramah, sambil meletakkan tasnya. "Aku Maya.
Bagian administrasi di bank swasta ujung jalan sana. Baru pulang kantor langsung lari ke sini."
Alya tersenyum, senyuman yang kali ini benar-benar lepas dari hatinya. "Hai, Kak Maya. Saya Alya. Boleh, silakan."
"Kamu kerja di mana, Al? Kelihatannya masih muda banget ya? Segar banget wajahnya, gak kayak aku yang udah kusam kena tekanan bos," gurau Maya, membuat Alya terkekeh renyah.
"Saya... saya tidak bekerja, Kak. Hanya di rumah saja," jawab Alya aman.
"Wah, hebat! Berarti fokus belajar ya. Beruntung banget kamu," sahut seorang pria bertubuh kurus dari bangku belakang bernama Doni, yang ternyata ikut mendengarkan percakapan mereka.
"Kenalin, aku Doni, staf logistik. Salam kenal, Alya!"
Malam itu, sesi perkenalan kelas karyawan berjalan dengan penuh kehangatan. Di tempat ini, Alya mendengarkan cerita-cerita perjuangan hidup yang luar biasa—ada ibu satu anak yang rela kuliah malam demi kenaikan pangkat, ada buruh pabrik yang ingin mengubah nasib, dan ada Maya yang bercita-cita membuka bisnis sendiri.
Saat dosen masuk dan mulai menuliskan silabus materi Pengantar Manajemen di papan tulis, Alya membuka buku catatan barunya. Ia menggoreskan pena hitamnya, mencatat setiap patah kata dengan konsentrasi penuh.
Di bawah lampu kelas yang terang, di antara canda tawa dan diskusi kelompok yang hidup, Alya merasakan sebuah perasaan yang sudah lama hilang dari dirinya.
Ia merasa hidup. Ia merasa kembali menjadi Alya yang seutuhnya—gadis delapan belas tahun yang berharga, yang memiliki otak, memiliki suara, dan memiliki masa depan yang bisa ia rancang dengan tangannya sendiri.
Di saat yang bersamaan, di belahan kota yang lain, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang tercipta.
Di dalam kamar executive suite sebuah hotel berbintang lima, cahaya lampu temaram menciptakan nuansa romantis yang mewah namun terasa menyesakkan.
Alunan musik jazz lembut terdengar dari speaker pintar di sudut ruangan, sementara sebotol wine yang sudah setengah kosong berdiri di atas meja marmer.
Gita berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan distrik bisnis kota dari ketinggian lantai 18.
Ia mengenakan gaun tidur sutra berpotongan rendah sewarna zamrud yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Di lengannya, segelas wine bergoyang pelan seiring dengan ketukan jemarinya.
Di atas ranjang king-size, Reza duduk bersandar pada tumpukan bantal kepala. Kemeja putihnya sudah tidak berkancing di bagian dada, menyisakan gurat kelelahan yang nyata di wajah tampannya.
Mereka baru saja selesai makan malam romantis yang diantarkan oleh room service, namun malam ini, ada keheningan yang canggung di antara mereka.
Gita berbalik, melangkah anggun mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur dekat kaki Reza. Ia menatap pria itu dengan sepasang mata tajamnya yang penuh selidik.
"Reza," panggil Gita lembut, namun ada nada tuntutan yang samar di suaranya.
Reza menoleh, tersenyum tipis. "Ya, Git?"
"Bagaimana kabar Alya di rumah?" tanya Gita, nadanya sengaja dibuat santai seolah-olah itu hanya pertanyaan basa-basi seorang kakak yang perhatian.
"Kemarin sore aku mampir ke rumahmu, membawakannya beberapa hadiah. Tapi... anak itu berubah sekali."
Jantung Reza berdegup sedikit lebih cepat mendengar nama Alya disebut di kamar hotel ini. Ia merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Berubah bagaimana maksudmu?"
Gita menyesap wine-nya sedikit, matanya tidak lepas dari reaksi wajah Reza.
"Dia menjadi sangat dingin, Rez. Cuek. Saat aku ajak bicara tentang pernikahan kalian, dia hanya menjawab seadanya tanpa ekspresi. Senyumnya terasa palsu, seolah-olah dia sedang memasang tembok tinggi di depanku. Berbeda sekali dengan Alya-ku yang dulu—yang selalu manja, selalu memelukku, dan selalu mendengarkan setiap kataku sebelum dia menikah denganmu."
Gita meletakkan gelasnya di meja samping ranjang, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Reza, merayap mendekat hingga jemarinya menyentuh dada bidang pria itu.
"Kalian... tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Apa hubungan kalian di rumah berjalan terlalu baik hingga dia mulai melupakan kakaknya sendiri?"
Ada nada cemburu yang tajam yang menyelinap di balik bisikan lembut Gita. Wanita ambisius itu mulai merasakan kegelisahan yang aneh selama beberapa hari terakhir.
Paranoianya mulai bekerja. Ia yang semula merancang pernikahan ini agar bisa mempertahankan Reza sekaligus menjaga kebebasannya pribadi, kini mulai takut jika kepolosan dan kemudaan Alya justru perlahan-lahan berhasil memikat hati Reza di dalam rumah besar yang sunyi itu.
Ia tidak rela jika miliknya—pria mapan yang bisa ia kendalikan ini—justru benar-benar jatuh cinta pada adiknya sendiri.
"Bagaimana mungkin, Git?" suara Reza keluar sedikit serak. Ia menangkap tangan Gita yang ada di dadanya, menggenggamnya erat.
"Aku dan Alya... kami jarang bicara. Di rumah kami punya kesibukan masing-masing. Dia hanya di kamarnya, dan aku di ruang kerjaku. Dia berubah mungkin karena dia sedang beradaptasi dengan status barunya sebagai istri. Itu saja."
Reza berbohong. Dan di dalam hatinya yang terdalam, ada rasa takut yang teramat sangat yang membuat punggungnya dingin.
Reza merahasiakan satu fakta paling krusial dari Gita: fakta bahwa ia telah melanggar batas, bahwa ia telah menyetubuhi Alya secara paksa, bahwa mereka telah bercinta di dalam kamar utama rumah itu.
Reza tahu persis bagaimana watak Gita yang angkuh dan memiliki harga diri setinggi langit. Jika Gita sampai tahu bahwa pria yang selalu memohon cintanya malam ini ternyata telah menyentuh dan meniduri adik kandungnya sendiri secara fisik, Gita pasti akan meninggalkannya seketika tanpa ampun.
Bagi Gita, hal itu akan menjadi penghinaan terbesar terhadap pesonanya sebagai seorang wanita dominan.
"Kamu yakin, Rez?" Gita menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Reza, mencoba mencari celah kebohongan di sana.
"Alya itu masih delapan belas tahun. Dia muda, wajahnya manis. Laki-laki mana yang tidak akan goyah jika hidup satu atap dengan gadis seperti itu setiap hari? Jangan sampai... dia berniat merebutmu dariku, Reza. Karena kalau itu sampai terjadi, aku tidak akan tinggal diam."
Reza menarik tubuh Gita ke dalam pelukannya, membenamkan wajah wanita itu di bahunya agar Gita tidak bisa melihat kilatan rasa bersalah dan ketakutan yang terpancar dari matanya sendiri.
"Tidak akan, Git. Percayalah padaku. Di hatiku... hanya ada kamu. Selamanya hanya kamu," bisik Reza meyakinkan, sebuah kalimat janji yang terasa semakin hampa di telinganya sendiri semenjak bayangan wajah kosong Alya yang penuh luka malam itu terus menghantui tidurnya.
Gita memeluk leher Reza erat-erat, memejamkan matanya dengan senyuman kemenangan yang kembali terukir di bibirnya yang merah marun.
Ia merasa aman kembali di dalam pelukan hangat pria itu, tanpa pernah menyadari bahwa di saat yang sama, adik perempuan yang ia remehkan dan ia jadikan tumbal sedang duduk di sebuah kursi kelas yang terang, menuliskan takdir barunya sendiri, siap untuk menghancurkan seluruh permainan manipulasi mereka berdua dari akarnya.
jangan lupa mampir yaa🤭