Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Gelisah.
Akibat tragedi tersebut, Bang Riegan tidak lagi di ijinkan untuk menjadi kawal 'bintang satu'. Ia tetap berada pada lingkungan Batalyon dengan pengawasan ketat langsung dari Danyon.
"Ijin, Danton. Ini air es nya." kata Prada Dareno sambil membawa air es di hadapan Bang Riegan.
"Letakan di meja..!! Oya Ren, tolong kamu selidiki semua teman Phia yang tadi sempat kamu amankan." perintah Bang Riegan.
"Siap, Dan." Prada Dareno pun pergi bersamaan dengan rekan letting Bang Riegan yang kemudian datang menghampiri.
"Waahh.. benaran bengeup. Kenapa sampai ada tragedi begini, Rieg? Memangnya kau benar-benar sudah nge-patil adiknya DanBrig?" tanya Bang Maliq.
"Nggak tau lah, Liq." jawab Bang Riegan dengan nada datar saja.
Sebagai sahabat, Bang Maliq langsung membantu mengompres pipi lettingnya itu.
"Aku tidak ingin ikut campur, tapi masalahmu ini sudah tersebar sampai telinga para perwira disini. Aku hanya ingin tau dari mulutmu sendiri, apakah 'jejak' yang di tuduhkan DanBrig padamu, itu benar??? Beliau masih ada di ruang meeting, masih sangat marah padahal sudah menghajarmu sampai seperti ini."
Bang Riegan memejamkan mata, raut wajahnya seakan menjelaskan penyesalan tanpa kata. Dan di saat itu, Bang Maliq pun menyadari hal itu.
Satu tepukan dari Bang Maliq memberikan dukungan moril agar sahabatnya tidak terus terbelenggu pada rasa bersalah yang baru saja terjadi.
***
"Sebenarnya ada apa sih, Bang?? Sejak kemarin Abang uring-uringan terus." Tanya Jilly, istri Bang Reigar. Sambil mengepang rambut putri bungsunya, ia sempat menangkap kegelisahan Phia.
"Kau tanyakan saja sendiri sama Phia." jawab Bang Reigar.
Phia gemetar sambil meneguk segelas air putih. Tapi melihat situasi yang tidak kondusif tersebut, Jilly menunda rasa penasarannya dan memilih menenangkan Bang Reigar.
"Ya sudah, ayo masuk ke kamar. Jill pijitin ya, Bang." bujuk Jilly. "Oomm.. tolong antar Tian ke sekolah ya..!!"
"Nggak mau, Tian mau berangkat sekolah sama Papa." rengek Tian kecil.
"Tian mau berangkat sama tante Phia aja??" kata Phia menawari keponakan kecilnya. Anak hasil kebobolan Abang dan kakak iparnya.
"Tapii.. tapiiii Tian maunyaa sama Papaa..!!!" pinta si kecil Tian.
Jilly berusaha keras menarik lengan suaminya yang nampak tidak bersahabat dengan siapapun sambil memberi kode agar Phia segera membawa Tian pergi ke sekolah.
...
Sambil menunggu Tian kecil, Phia banyak melamun. Ia memikirkan kejadian semalam, sungguh ia tidak bisa mengingat apapun, yang dirasakannya hanya nyeri dan pedih di tubuhnya.
Jarum jam semakin bergeser ke kanan, matahari semakin tinggi. Karena belum sempat sarapan, ia menuju sebuah kantin kecil di area kompleks. Tapi di tengah jalan, tak sengaja dirinya bertemu pria yang bermasalah dengannya semalam. Tak ingin bertemu dengan Bang Riegan lagi, Phia pun menghindar.
Tapi melihat Phia, Bang Riegan menghentikan laju motornya tepat di depan Phia.
"Tunggu, dek. Kita harus bicara." kata Bang Riegan.
Phia melihat nama dada pria di hadapannya itu. R. Roan Martumoga. "Aku nggak mau bicara apapun." tolaknya.
"Tapi kita harus bicara. Tentang masalah semalam, saya benar-benar minta maaf. Saya janji akan menemui orang tuamu dan menyelesaikannya secara baik-baik." ujar Bang Riegan.
"Nggak perlu. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah ada kejadian apapun semalam, meskipun tidak ada satu pun kejadian yang aku ingat." jawab Phia.
"Nggak bisa gitu, dek. Saya tau, saya salah. Saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya sama kamu."
"Ngerti nggak sih, aku nggak mau bicara sama kamu. Dan semoga, kita tidak akan bertemu lagi." kata Phia.
Bang Riegan tidak bisa berkata apapun, tapi dalam hati kecilnya masih terbelenggu beban atas rasa penyesalan yang tak terkira.
Di saat ini, ia melihat Phia berjalan menjauh, seiring dengan ingatannya tentang kejadian semalam.
Flashback Bang Riegan on..
"Kau mabuk, ya???"
"Mana ada aku maboooookk. Aku hanya makan permen tadi." jawab gadis cantik berperawakan mungil sambil merogoh saku rok tiga perempat namun belahannya jauh di atas paha. Sedikit kesulitan karena tangan kirinya sedang memegang botol minuman "Ini.."
Bang Riegan melihatnya, benda kecil yang sudah jelas ia pahami fungsinya hanya dari bungkusnya saja.
"Darimana kamu dapat benda seperti ini???" tanya Bang Riegan. Selain cemas, ia pun memperkirakan usia gadis itu masih nampak sangat muda.
"Kau mau yaaaa???" balasnya.
"Berikan benda itu..!! Kamu belum pantas mengenal obat seperti ini." Bang Riegan mencoba merebutnya tapi sial sungguh sial, gadis itu melawan. Entah bagaimana, tangannya begitu cepat memasukan obat tersebut pada mulut Bang Riegan lalu tangan kirinya menutup botol minuman hingga ia meneguknya. Sadar ada yang tidak beres, ia segera menangani gadis itu.
Namun, detik berganti memberi reaksi yang aneh pada tubuh pria berpangkat Letnan Satu itu, rasa tidak biasa menyergap di sekujur tubuhnya. Panas, tegang, gelisah, begitu menyiksa. Dalam keadaan setengah sadar, ia tidak menduga bahwa gadis di hadapannya sudah berjinjit mengecup bibirnya, seketika ingatannya mendadak hilang timbul, hanya samar bayangan, berbalas sentuhan dan semua terjadi begitu saja dengan pikiran yang menolak namun hasrat batin bertindak.
Flashback Bang Riegan off..
'Astaghfirullah hal adzim.. bagaimana cara bicara dengan Phia. Namanya Phia, kan??'
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍