NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 setega itu

Malam itu ballroom hotel mewah dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan.

Para tamu undangan dari kalangan pebisnis, pengacara, pejabat, dan keluarga terpandang memenuhi ruangan dengan pakaian terbaik mereka. Alunan musik orkestra mengalun lembut di udara, berpadu dengan suara percakapan dan gelak tawa para tamu yang sedang menikmati pesta pernikahan putri salah satu direktur terbesar di kota.

Nadia datang bersama Adrian sebagai pasangan yang selama ini dikenal banyak orang.

Mereka tampak sempurna.

Adrian mengenakan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat berwibawa.

Sementara Nadia tampil anggun dalam gaun malam berwarna gelap yang sederhana namun elegan.

Beberapa tamu bahkan memuji mereka sebagai pasangan ideal, pasangan sukses.

Pasangan yang sama-sama memiliki karier cemerlang.

Pasangan yang tampak tidak memiliki masalah apa pun.

Dan Nadia hanya membalas semua pujian itu dengan senyum sopan.

Senyum yang akhir-akhir ini semakin sulit terasa tulus.

Tak lama kemudian, Nadia melihat Bianca memasuki ballroom.

Wanita itu tampil memukau malam itu.

Gaun panjang yang dikenakannya membuat banyak kepala menoleh.

Beberapa rekan kerja mereka langsung menyapa Bianca dengan ramah.

Pemandangan yang sebenarnya biasa.

Namun entah mengapa, Nadia tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Sejak menemukan berbagai petunjuk selama beberapa hari terakhir, nama Bianca terus menghantui pikirannya.

Meski demikian, Nadia masih belum memiliki bukti.

Belum ada sesuatu yang benar-benar bisa memastikan semua kecurigaannya, sampai malam itu, acara berlangsung meriah.

Nadia beberapa kali terlibat percakapan dengan para tamu dan kolega.

Sebagai partner senior firma hukum terkenal, kehadirannya cukup menarik perhatian.

Namun di tengah percakapan itu, matanya tanpa sadar mencari sosok Adrian.

Suaminya yang tadi berdiri tidak jauh darinya kini sudah tidak terlihat.

Awalnya Nadia tidak terlalu memikirkan hal tersebut, ballroom sangat besar.

Mudah sekali kehilangan seseorang di tengah keramaian.

Namun beberapa menit berlalu, Adrian tetap tidak terlihat.

Ada dorongan aneh yang membuat Nadia melangkah menjauh dari kerumunan.

Ia berjalan melewati area taman hotel yang berada di samping ballroom.

Tempat yang lebih sepi dibandingkan ruang utama pesta.

Angin malam berembus pelan membawa aroma bunga yang menghiasi area pernikahan, suasana di sana jauh lebih tenang.

Hanya ada beberapa tamu yang sedang berbincang santai.

Dan kemudian...

Nadia melihatnya.

Tubuhnya langsung membeku. Beberapa meter di depannya. Di balik lengkungan taman yang dipenuhi rangkaian bunga putih. Adrian berdiri bersama Bianca, jauh dari keramaian pesta.

Awalnya Nadia ingin meyakinkan dirinya bahwa mereka hanya berbicara. Bahwa semuanya bisa dijelaskan. Bahwa ia terlalu banyak berpikir.

Namun detik berikutnya, semua harapan itu runtuh. Karena Adrian mengulurkan tangannya.

Menyentuh wajah Bianca dengan begitu lembut.

Gerakan yang sangat akrab.

Gerakan yang tidak mungkin dilakukan kepada sekadar rekan kerja, Bianca tersenyum.

Senyum yang belum pernah Nadia lihat saat wanita itu berada di kantor.

Lalu tanpa ragu, Bianca menggenggam tangan Adrian.

Bukan sekadar sentuhan singkat.

Bukan kebetulan.

Melainkan genggaman yang menunjukkan kedekatan yang sudah berlangsung lama. Seolah mereka terbiasa melakukannya. Seolah mereka tidak lagi merasa bersalah. Nadia merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya.

Sunyi, namun menghancurkan.

Semua petunjuk yang selama ini berputar di kepalanya tiba-tiba menjadi kenyataan yang berdiri tepat di depan matanya.

Semuanya mengarah pada satu orang.

Bianca.

Air matanya hampir jatuh. Namun Nadia menahannya. Ia tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya terasa dingin. Jemarinya gemetar.

Namun matanya tidak berpaling.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua kecurigaan itu muncul, ia tidak lagi membutuhkan bukti.

Malam itu, dengan mata kepalanya sendiri, Nadia melihat pria yang dicintainya mengkhianati pernikahan mereka.

Dan rasa sakit yang selama ini hanya berupa kecurigaan akhirnya berubah menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi disangkal.

Nadia tidak langsung menghampiri mereka.

Ia juga tidak membuat keributan seperti yang sering terjadi dalam cerita-cerita yang selama ini hanya ia dengar dari klien atau teman-temannya. Kakinya terasa berat, namun pikirannya justru menjadi sangat tenang. Terlalu tenang hingga menakutkan.

Perlahan ia melangkah mundur meninggalkan taman sebelum Adrian atau Bianca menyadari keberadaannya. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Dadanya sakit, tetapi anehnya air mata yang tadi hampir jatuh justru menghilang begitu saja.

Mungkin karena kenyataan yang baru saja ia lihat jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Ketika Nadia kembali memasuki ballroom, senyum ramah kembali terpasang di wajahnya. Ia menyapa tamu yang menyapanya, mengangguk sopan ketika diajak berbincang, bahkan sesekali tertawa kecil saat mendengar candaan dari kolega yang hadir.

Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya dunia Nadia baru saja runtuh.

Tidak ada yang tahu bahwa wanita yang berdiri anggun dengan gaun malam itu baru saja melihat suaminya sendiri bersama wanita lain.

Sebagai pengacara, Nadia terbiasa menyembunyikan emosi saat menghadapi situasi sulit. Namun malam itu, kemampuan tersebut terasa seperti kutukan. Ia mampu berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa ketika hatinya sedang hancur berkeping-keping.

Semakin ia mengingat apa yang baru saja dilihatnya, semakin jelas pula berbagai kejadian selama beberapa bulan terakhir.

Hubungan yang terlihat senyaman itu tidak mungkin lahir dalam waktu singkat.

Cara Adrian memandang Bianca, cara Bianca menyentuh tangan Adrian, dan cara keduanya berdiri begitu dekat satu sama lain menunjukkan sesuatu yang sudah berlangsung cukup lama.

Dan kesadaran itu justru lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri.

Karena berarti selama berbulan-bulan, mungkin bahkan lebih lama, Adrian telah pulang ke rumah, tidur di sampingnya, berbicara dengannya setiap hari, sambil menyimpan rahasia besar di belakang punggungnya.

Beberapa saat kemudian Adrian kembali memasuki ballroom.

Wajahnya terlihat normal seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda panik atau rasa bersalah. Ia bahkan langsung berjalan menghampiri Nadia yang sedang berbicara dengan beberapa tamu.

"Nad."

Suara itu terdengar akrab seperti biasanya.

Nadia menoleh dan tersenyum tipis.

"Ke mana saja?"

Pertanyaan itu terdengar ringan.

Sangat ringan.

Namun entah mengapa membuat Adrian sedikit terdiam.

"Hanya menerima telepon."

jawabnya cepat.

Nadia mengangguk seolah mempercayainya.

Padahal beberapa menit sebelumnya ia melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Sepanjang sisa acara, Nadia tetap bersikap seperti biasa.

Justru itu yang mulai membuat Adrian merasa aneh.

Biasanya Nadia akan mengirim pesan jika tidak melihatnya terlalu lama. Kadang menanyakan di mana dirinya berada atau mengingatkan untuk menemui tamu tertentu.

Ketika mereka akhirnya pulang bersama, Adrian beberapa kali melirik ke arah istrinya yang duduk diam di kursi penumpang.

Nadia menatap keluar jendela sepanjang perjalanan.

Lampu-lampu kota berlalu dengan cepat di balik kaca mobil, sementara wajahnya tetap tenang dan sulit dibaca.

Dan justru itulah yang membuat Adrian merasa tidak nyaman.

Ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian merasa seperti sedang kehilangan kendali atas keadaan.

Sementara Nadia, yang selama ini selalu berusaha mempertahankan pernikahan mereka, kini mulai menyadari bahwa rasa sakit terdalam bukanlah saat mengetahui seseorang berselingkuh.

Melainkan saat menyadari bahwa orang yang paling dipercaya ternyata sudah lama berhenti jujur kepadamu.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!