"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Gudang Barang Bukti
Gudang barang bukti Bareskrim tidak berbau seperti museum.
Tidak ada kayu tua yang romantis. Tidak ada lampu lembut. Yang ada adalah rak besi, plastik segel, nomor perkara, kamera pengawas, dan bau kertas lembap bercampur debu.
Nadira menyerahkan rompi tamu kepada Bayu.
"Pakai. Di dalam, jangan menyentuh apa pun sebelum saya atau petugas bukti mencatat."
"Baik."
"Kalau lelah, bilang."
"Baik."
Nadira menatapnya.
"Saya serius."
"Saya juga."
Di meja depan gudang, Kombes Priyo menunggu bersama dua penyidik lain. Tubuhnya besar, kumisnya rapi, dan wajahnya seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar klaim ahli.
"Ini konsultan dari televisi itu?" tanyanya.
Nadira menjawab sebelum Bayu sempat membuka mulut.
"Konsultan eksternal yang berkasnya sudah Bapak setujui."
Priyo mengangkat alis.
"Saya menyetujui percobaan terbatas. Jangan menganggapnya keajaiban."
"Saya juga tidak membawa keajaiban, Pak," kata Bayu. "Saya membawa mata, catatan, dan alasan yang bisa diperiksa."
Priyo menunjuk rak panjang.
"Tiga ratus dua belas barang menunggu. Anggaran kami cukup untuk dua minggu ahli luar. Kalau Anda hanya bagus di depan kamera, gudang ini akan mengajarkan rendah hati."
"Kalau saya salah, mohon dicatat."
Jawaban itu membuat beberapa penyidik saling lihat.
Mereka mulai pukul sembilan.
Pemeriksaan dibuka oleh cincin yang ternyata campuran modern dengan ukiran baru, lalu fragmen patung asli dari situs berbeda dengan klaim pemilik. Delapan benda berikutnya terbagi menjadi empat palsu, tiga asli, dan satu yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Setiap kali Bayu memberi penilaian, ia menyebut alasan di balik kesimpulan `asli` atau `palsu`.
"Lubang korosi ini dibuat dari luar. Korosi alami akan tumbuh dari dalam dan meninggalkan lapisan berbeda."
"Sisa tanah di lekukan berbeda dengan tanah pada alas. Kemungkinan ditempel setelahnya."
"Serat kayu tua, tapi lapisan pernis baru. Jangan buang sebagai palsu penuh. Ini restorasi buruk."
Nadira mencatat cepat. Petugas barang bukti memotret ulang titik yang ditunjuk. Penyidik yang semula bersandar di dinding mulai maju ke meja.
Menjelang makan siang, angka di papan mencapai tiga puluh delapan.
Priyo kembali ke gudang, melihat papan, lalu berhenti.
"Berapa yang diverifikasi silang?"
Nadira menyerahkan map.
"Dua belas pertama sudah dibandingkan dengan laporan lama. Cocok. Tiga rekomendasi lab sesuai prioritas."
Priyo tidak memuji.
Tetapi ia tidak mengejek lagi.
Sore hari, Bayu mulai merasakan tekanan di belakang mata.
Ia berhenti setiap sepuluh barang, minum air, dan memakai kaca pembesar lebih lama daripada Mata Dewa. Setiap gambar yang terbuka di kepalanya harus diterjemahkan menjadi alasan tertulis.
Karena Nadira benar.
Di gudang ini, intuisi tidak cukup.
Yang tidak tertulis tidak ada.
Pukul delapan malam, barang ke-90 selesai.
Seorang penyidik muda berbisik, "Sembilan puluh dalam sehari..."
"Baru sembilan puluh yang tersortir," Bayu mengoreksi tanpa mengangkat kepala. "Yang butuh lab tetap butuh lab."
Nadira menatapnya sejenak.
Mungkin itu jawaban yang membuatnya lebih percaya daripada semua akurasi hari itu.
Tim forensik internal mengambil sepuluh nomor secara acak untuk dibandingkan dengan laporan lama, foto penyitaan, dan hasil uji yang sudah ada. Bayu tidak ikut memilih. Ia duduk di kursi plastik, menekan pelipis dengan dua jari.
Mata kirinya hanya terasa panas di belakang tulang, tanpa nyeri tajam.
Satu per satu hasil silang kembali.
Cocok.
Sembilan cocok penuh. Perbedaan pada benda terakhir terletak pada tingkat restorasi yang dulu tidak dicatat.
Penyidik muda yang tadi berbisik kini menutup map dengan lebih pelan.
"Kalau begini, prioritas perkara kita berubah semua."
Nadira menjawab tanpa senyum, "Itulah gunanya orang yang bisa memberi alasan."
Ketika data dimasukkan ke tabel, pola mulai muncul.
Bayu menggambar tiga kolom di papan.
`Generasi 1: kasar; Generasi 2: dokumen ikut rapi; Generasi 3: struktur hampir benar.`
"Generasi pertama banyak salah di permukaan karena patina, logam, dan dokumennya dikerjakan sembarangan," jelasnya. "Generasi berikutnya memakai sertifikat serta riwayat koleksi yang tampak sah. Angkatan terbaru sudah jauh lebih berbahaya."
Nadira berdiri di sampingnya.
"Berbeda bagaimana?"
"Mereka memahami cara benda tua dibuat sampai ke bekas alat, jalur aus, dan kesalahan kecilnya. Peniruan bentuk hanya lapisan luar."
Bayu mengetuk papan pada kolom ketiga.
"Dalam dua tahun terakhir, ada lompatan. Entah mereka mendapat alat lebih baik, atau ada perajin tingkat tinggi masuk ke dalam Bengkel."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Priyo melipat tangan.
"Nama?"
"Belum ada."
"Dugaan?"
"Dugaan bukan alat tangkap, Pak."
Untuk pertama kalinya, Priyo tersenyum tipis.
"Setidaknya Anda tahu itu."
Pintu gudang terbuka pukul sembilan lewat.
Seorang lelaki tua masuk tanpa terburu-buru. Rambutnya putih, tubuhnya tegap, kemejanya sederhana. Tidak ada tanda pangkat. Tidak ada rombongan. Tetapi semua orang di ruangan itu langsung mengubah cara berdiri.
Nadira mendekat.
"Pak Mangatas."
Bayu ikut berdiri.
Mangatas Situmorang tidak menjawab salam panjang. Ia mengambil sarung tangan, memilih satu benda dari meja, lalu melihat catatan Bayu.
"Siapa yang menyebutnya restorasi buruk dan menolak klasifikasi palsu?"
"Saya, Pak."
Mata tua itu menatap Bayu seperti pisau yang pernah dipakai membelah batu.
"Kenapa?"
Bayu menunjukkan bagian bawah patung kayu.
"Inti kayunya tua. Bekas serangga dan penyusutan sesuai. Tapi lapisan luar dipoles ulang dan satu bagian hidung diganti. Kalau disebut palsu penuh, pemilik kehilangan benda asli. Kalau disebut asli tanpa catatan, pengadilan kehilangan fakta restorasi."
Mangatas diam.
Ia mengambil benda lain.
"Dan ini?"
"Generasi ketiga. Palsu modern, tetapi dibuat oleh tangan yang memahami barang tua."
"Bah."
Satu kata itu jatuh berat.
Beberapa penyidik menahan napas.
Mangatas melepas sarung tangan.
"Besok datang ke tempat saya. Bawa mata itu."
Nadira langsung berkata, "Pak, jadwal besok—"
"Saya tidak bicara dengan jadwal, Nadira. Saya bicara dengan orang yang membuat gudang ini bergerak setelah lima tahun tidur."
Ia berbalik ke Bayu.
"Jam tujuh pagi. Jangan terlambat."
Lalu ia pergi.
Bayu menatap pintu yang menutup.
"Beliau selalu begitu?"
Nadira menggeser satu cangkir kopi tubruk ke arah Bayu.
"Kalau beliau tidak suka, tadi Anda sudah diusir sebelum barang kedua."
Bayu menerima kopi itu. Pahitnya langsung menampar lidah.
"Pak Mangatas kenapa begitu keras pada kasus ini?"
Nadira melihat rak-rak bersegel.
"Dulu beliau mengejar kasus pertukaran koleksi museum. Barang museum yang seharusnya aman, ternyata berganti wajah. Beliau menyinggung orang yang terlalu tinggi. Akhirnya lebih cepat keluar dari jabatan."
Bayu memegang cangkir itu lebih erat.
"Jadi barang palsu ini bagian dari operasi yang lebih besar."
"Tidak pernah sekadar barang palsu."
Malam itu, saat keluar dari gudang, mata Bayu terasa berat. Kepalanya berdenyut pelan, tetapi pikirannya justru lebih jernih.
Ia menoleh ke rak-rak bersegel.
Tiga generasi teknik.
Lima tahun berkas perkara.
Sebuah Bengkel yang seperti sudah mengganti darahnya sendiri.
Bayu tiba-tiba mengerti.
Jaring yang ia kejar jauh lebih besar daripada yang ia lihat di Surabaya.