Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Sinar matahari siang memancar terik, membakar trotoar di sepanjang kawasan perumahan elit tempat tinggal Ibu Lastri. Dengan pakaian jas yang kusut, dasi miring, dan wajah pucat pasi berhias peluh, Bagas melangkah gontai. Tidak ada lagi mobil sedan mengkilap yang biasa ia kendarai dengan bangga. Kunci mobilnya telah ditarik paksa di kantor, membuatnya harus pulang menggunakan angkutan umum dalam keadaan lunglai bagaikan jasad tanpa jiwa.
Begitu sampai di depan pagar besi tempa yang menjulang tinggi, Bagas mendorong pintu gerbang rumah dua lantai berarsitektur megah itu dengan kasar. Rumah Ibu Lastri memang cukup mewah hasil sokongan dan kesuksesan anak-anaknya yang mayoritas tergolong berada.
"Ibu! Ibu!" teriak Bagas dengan suara serak, melangkah masuk ke dalam rumah seraya melemparkan jas mewahnya ke atas sofa kulit di ruang tamu yang luas.
Ibu Lastri yang sedang duduk santai di ruang keluarga terkejut mendengar teriakan anak bungsunya. Ia melangkah tergesa-gesa dengan raut wajah heran.
"Loh, Bagas?! Kenapa kamu pulang siang-siang begini, Nak? Terus mana mobil baru kamu? Kok kelihatannya kusam begitu?" tanya Ibu Lastri bertubi-tubi seraya menyapu pandangan ke luar jendela.
Bagas menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Mobil Bagas ditarik, Bu... Bagas dipecat dari kantor," gumam Bagas dengan nada frustrasi yang mendalam.
Mata Ibu Lastri seketika membelalak sempurna. "Apa?! Dipecat?! Kamu ngomong apa toh, Gas?! Kamu kan baru saja dapat bonus ratusan juta! Kamu calon Manajer Senior! Kok bisa dipecat?!"
Bagas mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dengan nada tertahan, ia terpaksa menceritakan apa yang terjadi di kantor tentang taruhan gila bersama Rendy, percakapannya dengan Bu Maya di dalam mobil, hingga aksi penyadapan yang terbongkar langsung di depan Pak Kusuma.
Mendengar penuturan anak kesayangannya itu, wajah Ibu Lastri berubah dari kaget menjadi merah padam karena murka yang luar biasa!
"Gila kamu, Bagas! Kamu bener-bener gila!" amuk Ibu Lastri histeris seraya memukul bahu Bagas dengan bantal sofa. "Otakmu ditaruh di mana, Gas?! Kamu baru saja cerai dari Adinda, bukannya fokus kerja malah main api sama istri bos besar kamu sendiri?! Kamu mau bergaya sok penakluk wanita, hah?!"
"Ibu! Bagas cuma mau menang taruhan mobil sport dari Rendy! Bagas ndak ada maksud lain!" bela Bagas seraya menghindar dari pukulan ibunya.
"Taruhan matamu!" bentak Ibu Lastri melengking, napasnya naik turun menahan amarah. "Sekarang lihat hasilnya! Mobil barumu ditarik, bonusmu hilang, kamu dipecat tidak hormat! Kamu mau bikin Mama dan keluarga ini malu?!"
Ibu Lastri berjalan bolak-balik di ruang tamu mewah itu dengan raut wajah panik setengah mati. Rasa gengsi mendadak menguasai pikirannya. Bagi Ibu Lastri, mobil baru Bagas dan bonus ratusan juta itu adalah harga diri di mata kerabat dan tetangga. Ia langsung mengambil ponselnya dan menelpon Mas Broto anak tertua di keluarga mereka yang dikenal sangat tegas, mapan, dan berwibawa.
"Halo, Broto?! Tolong kamu sekarang ke rumah Mama!" jerit Ibu Lastri begitu sambungan telepon terhubung. "Adikmu Bagas kena masalah besar di kantornya! Mobil baru sama bonusnya ditarik paksa! Cepat kamu datang ke sini!"
Tidak butuh waktu lama, deru mesin mobil SUV gagah milik Mas Broto terdengar berhenti di depan rumah. Bersama Mas Broto, ikut pula Muhammad kakak kedua Bagas yang memiliki pembawaan lebih tenang dan dewasa.
Langkah kaki Mas Broto terdengar mantap dan berwibawa saat melangkah masuk ke dalam rumah mewah ibunya. Namun, wajahnya yang tegas memancarkan kilatan amarah yang membara. Sejak di jalan, Mas Broto sudah mencari tahu seluk-beluk masalah ini lewat jaringannya.
"Ada apa sebenarnya ini, Mama?" tanya Muhammad membuka suara seraya mendekati sang ibu dengan lembut.
Sementara Mas Broto langsung berdiri tegap di hadapan Bagas yang terduduk lesu. Tanpa basa-basi sedikit pun, Mas Broto menggebrak meja kaca di ruang tamu dengan telapak tangannya.
BRAKKK!
"Pria tak tahu diri!" bentak Mas Broto dengan suara menggelegar, menunjuk langsung ke muka Bagas. "Kamu ini otaknya ditaruh di mana, Bagas?! Sudah bagus kamu punya posisi mentereng, sekarang kamu malah berbuat murahan dengan menjadikan istri bosmu bahan taruhan?! Kamu pikir kamu siapa, hah?!"
Bagas tersentak, wajahnya makin pucat. "Mas Broto ndak usah ikut campur"
"Diam kamu!" potong Mas Broto tanpa ampun. "Mama! Dengar baik-baik. Jangan pernah Mama tampung atau urus anak ini lagi di rumah ini! Angkat kakimu sekarang dari sini, Bagas! Keluar kamu dari rumah Mama!"
Mendengar kata usir yang keluar begitu tegas dari mulut kakak tertuanya, dada Bagas mendidih hebat! Rasa malu, panik, dan egonya yang terluka berubah menjadi ledakan amarah yang tak terkendali.
Bagas berdiri dari sofa, membusungkan dadanya dan menatap Mas Broto dengan mata memerah penuh keberangan!
"Mas Broto ndak ada hak buat ngusir Bagas dari rumah ini!" teriak Bagas histeris di depan wajah kakaknya. "Rumah ini rumah Ibu! Dan Bagas punya andil besar di rumah ini! Ibarat kata, Bagas punya hak waris di rumah mewah ini! Mas Broto ndak bisa sembarangan mengusir Bagas seolah-olah rumah ini punya Mas Broto sendiri!"
"Kamu ngomong apa, Bagas?!" bentak Mas Broto dengan mata menyipit tajam. "Hak waris?! Kamu belum bersenang-senang di atas penderitaan orang lain saja sudah berani ngomong soal warisan?! Mama masih hidup, Bagas! Dan asal kamu tahu, rumah ini dibangun dari hasil keringat kami, kakak-kakakmu yang kerja keras, bukan dari uang iuran tidak seberapa kamu yang kamu kasih selama ini!"
Mbak Yanti yang melihat pertengkaran dua saudaranya itu makin memanas dan melenceng jauh seketika kaget setengah mati. Ia dengan cepat melangkah ke tengah, berdiri di antara Broto dan Bagas untuk menengahi.
"Sudah! Sudah! Cukup!" seru Mbak Yanti dengan nada menenangkan, menahan dada Mas Broto dan memegang pundak Bagas. "Mas Broto, tolong tahan emosi dulu. Bagas ini adik kita. Bagaimanapun salahnya dia, tidak bijak kalau kita langsung mengusirnya ke jalanan dalam kondisi panik begini. Biarkan Bagas tinggal di rumah Mama untuk sementara waktu dulu sampai suasananya tenang dan dia bisa berpikir jernih."
Mbak Yanti menoleh ke arah ibunya. "Mama juga tenang ya. Jangan bikin suasana makin keruh."
Namun, bukannya luluh oleh bujukan Mbak Yanti, Mas Broto justru tertawa sinis sebuah tawa dingin yang memancarkan kepahitan dan kecerdasan analisisnya.
Mas Broto menatap Mbak Yanti, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ibu Lastri dengan tatapan mata yang sangat tajam dan serius.
"Yanti... Mama... kalian ini benar-benar tidak paham ya siapa yang sedang dilawan oleh Bagas?" tutur Mas Broto dengan nada suara yang merendah namun sangat menekan.
Ruang tamu yang tadinya riuh mendadak hening.
"Pak Kusuma itu bukan sekadar atasan biasa," tegas Mas Broto, membeberkan kenyataan pahit yang membuat bulu kuduk berdiri. "Dia itu penguasa jaringan bisnis besar! Dia punya pengaruh hukum, finansial, dan politik yang luar biasa kuat. Secara tidak langsung, tindakan bodoh Bagas yang mencoba bermain api dengan istrinya itu sudah MENGUSIK KEHIDUPAN DAN HARGA DIRI PAK KUSUMA!"
Mas Broto melangkah satu tapak lebih dekat ke arah ibunya.
"Untuk apa Mama mengurusi benalu seperti Bagas ini?!" tembak Mas Broto menohok tajam tanpa tedeng aling-aling. "Mau bagaimanapun Bagas berusaha nantinya, mau dia mengemis atau melamar kerja ke ujung dunia sekalipun, DIA TIDAK AKAN PERNAH DAPAT PEKERJAAN LAGI! Namanya sudah resmi di-blacklist di seluruh perusahaan di Indonesia oleh jaringan Pak Kusuma! Karirnya mati total!"
Deg!
Pernyataan dari Mas Broto bagaikan petir di siang bolong yang menghantam seluruh orang di ruangan itu. Ibu Lastri membelalakkan matanya, membeku di tempatnya. Muhammad pun tertegun tak percaya mendengarkan skala kehancuran yang ditimbulkan oleh adik bungsunya.
"Menampung Bagas di sini sama saja memelihara benalu yang cuma bakal menggerogoti Mama dan keluarga kita!" lanjut Mas Broto dengan keputusannya yang dingin. "Dia tidak punya masa depan lagi di dunia korporasi.
Kesombongannya yang setinggi langit itu yang menghancurkan dirinya sendiri!"
Bagas berdiri mematung. Pipi dan dadanya terasa panas luar biasa. Kata-kata benalu dan kenyataan bahwa namanya telah di-blacklist total menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih coba dipertahankannya. Kehancurannya kini benar-benar nyata, telanjang, dan tanpa ampun.
apakabar bagassss enak kedinginan diluar sanaaa🤣🤣🤣