NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan di atas bara

## BAB 25 - Kehangatan di Atas Bara

Semenjak kejadian mengerikan pada malam teror itu, kehidupan Bi Sumi berubah menjadi neraka jahanam yang tak kasat mata. Wanita paruh baya itu kini hidup dalam ketakutan yang tiada tara di dalam rumah mewah tersebut. Tatapan matanya selalu nampak kosong, wajahnya pucat pasi, dan kantung matanya menghitam pekat karena ia tidak pernah lagi bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan sosok hitam raksasa bermata merah darah itu langsung hadir menghantui ingatannya, lengkap dengan bau kentang busuk yang seolah terus menempel di rongga hidungnya.

Selama beberapa hari berikutnya, Bi Sumi mati-matian mencoba untuk tetap bersikap biasa saja di depan majikannya. Namun, tubuh dan nalurinya menolak dengan keras. Setiap kali ia tidak sengaja berpapasan dengan Rahmat di koridor rumah, atau saat melihat Ratna yang perut buncitnya kian hari semakin membesar, keringat dingin langsung membasahi seluruh punggung Bi Sumi. Ia tahu rahasia terkutuk di rumah ini, namun lidahnya telah dikunci oleh ancaman maut.

Hingga pada suatu sore, suasana rumah yang biasanya terasa dingin dan mencekam mendadak terasa sedikit berbeda. Sore itu, sinar matahari senja yang hangat menerobos masuk lewat jendela kaca besar, menerangi ruang keluarga yang megah.

Rahmat dan Ratna tengah bersantai bersama di atas sofa panjang. Hubungan mereka yang sempat mendingin beberapa hari lalu kini perlahan-lahan mulai mencair. Rahmat sengaja meluangkan waktu sorenya khusus untuk menemani sang istri tercinta.

Pria itu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Ratna dengan manja, sementara jemari lentik Ratna bergerak pelan, mengusap dan memainkan rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang. Rasa kecewa dan ketakutan yang sempat menggelayuti benak Ratna siang itu perlahan sirna, tergantikan oleh rasa hangat melihat perlakuan manis Rahmat yang kembali seperti sedia kala.

"Bu... Coba tebak, Mas bawa apa lagi hari ini?" tanya Rahmat sembari mendongak menatap wajah istrinya, seulas senyum jahil terukir di bibirnya.

"Bawa buah-buahan lagi ya? Kan di dapur masih banyak, Mas," jawab Ratna lembut, diiringi tawa kecil yang sudah lama tidak terdengar dari bibirnya. Raut wajahnya nampak jauh lebih segar dan cantik sore ini.

"Bukan... Hari ini Mas bawa martabak manis kesukaan Ibu, sengaja Mas antre dari siang biar Ibu sama calon anak kita senang," ujar Rahmat sambil bangkit duduk, lalu meraih sekotak martabak yang masih hangat di atas meja.

Rahmat memotong sepotong kecil martabak dengan garpu, lalu mengarahkannya ke depan bibir Ratna. "Ayo, disuapi sama bapaknya, biar anak kita di dalam perut ikut merasakan manisnya."

Ratna tersenyum merona, pipinya bersemu merah layaknya pengantin baru. Ia pun menyambut suapan itu dengan perasaan bahagia yang membuncah. Sembari mengunyah, tangan Ratna perlahan bergerak mengelus perutnya yang kian membesar, merasakan kehangatan yang luar biasa.

Rahmat yang melihat hal itu lantas ikut menempelkan telapak tangan besarnya di atas perut Ratna, mengelusnya dengan sangat hati-hati penuh kelembutan. "Sehat-sehat ya di dalam sana, Sayang. Mas janji akan kasih semua kemewahan di dunia ini untuk kalian berdua."

Canda tawa dan kemesraan di antara sepasang suami istri itu sungguh terasa mengasyikkan dan begitu hangat, seolah-olah duka dan keganjilan yang sempat meneror rumah itu beberapa waktu lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang telah menguap dibawa angin senja.

Tak lama kemudian, datanglah Bi Sumi berjalan perlahan dari arah dapur. Kedua tangannya memegangi sebuah nampan kayu yang berisi dua gelas teh manis hangat, sesuai dengan apa yang telah diminta oleh Ratna beberapa menit sebelumnya.

"Ini air teh hangatnya... Bu, Pak," ujar Bi Sumi sembari meletakkan kedua gelas itu di atas meja kaca dengan gerakan tangan yang sedikit canggung.

Setelah meletakkan nampan, Bi Sumi tidak langsung kembali ke belakang. Ia tetap berdiri mematung di tempatnya, meremas ujung celemeknya dengan raut wajah yang tampak sangat bimbang dan ketakutan.

"Ma-maaf sebelumnya, Bu, Pak... kalau Bibi kelancangan. Bi-Bibi sebenarnya mau bicara sesuatu sama Ibu dan Bapak sebentar," lanjut Bi Sumi dengan nada suara yang sedikit gemetar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Mendengar ucapan asisten rumah tangganya, Ratna yang sedang mengunyah martabak manis langsung menoleh. Ia tersenyum tipis, mencoba memberikan rasa nyaman pada pembantunya yang terlihat sangat gugup itu.

"Iya, Bi... Memangnya Bibi mau bicara apa? Ngomong saja, tidak apa-apa kok," potong Ratna dengan nada suara yang teramat lembut.

"Iya, ngomong saja, Bi. Ada masalah apa?" timpal Rahmat, ikut menegaskan perkataan istrinya sembari mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh pembantu setianya itu.

"Bi-Bibi mau mengundurkan diri dari pekerjaan ini, Pak, Bu... Dan kalau diperbolehkan, ini hari terakhir Bibi bekerja di sini," sahut Bi Sumi dengan suara yang teramat gugup, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tidak berani menatap mata kedua majikannya.

Mendengar perkataan yang keluar secara mendadak dari mulut Bi Sumi, pasangan suami istri itu sontak terkejut bukan main. Canda tawa hangat yang baru saja menyelimuti ruang keluarga seketika menguap begitu saja, digantikan oleh rasa heran yang mendalam.

"Maksud Bibi bagaimana? Kenapa mendadak sekali? Apa Bibi sudah tidak betah lagi bekerja sama kita di sini?" tanya Ratna dengan raut wajah kaget sekaligus sedih. Selama ini, Bi Sumi sudah ia anggap seperti keluarga sendiri yang selalu membantunya di rumah.

"Bukan... Bukan begitu, Bu... Tapi..." sahut Bi Sumi dengan cepat, lalu sengaja menjeda kalimatnya sejenak.

Dadanya bergemuruh hebat. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan menceritakan bahwa rumah mewah ini sudah dikutuk dan dihuni oleh iblis beringas. Namun, bayangan taring tajam dan geraman maut makhluk malam itu kembali terngiang, membuat nyali Bi Sumi menciut seketika.

"Tapi... Bibi dapat kabar dari kampung kalau anak Bibi sakit, Pak, Bu. Di sana tidak ada siapa-siapa lagi yang mengurusnya," lanjut Bi Sumi berbohong, terpaksa mengarang alasan darurat demi bisa segera mengangkat kaki dari rumah terkutuk tersebut. Ia sudah benar-benar tidak sanggup lagi jika setiap malam harus terus-menerus diteror oleh makhluk gaib pesugihan milik majikannya.

Mendengar alasan tersebut, Ratna mengerutkan keningnya, merasa tidak tega sekaligus tidak ingin kehilangan pembantu setianya.

"Apa tidak ada cara lain, Bi? Kenapa harus sampai berhenti bekerja di sini? Atau bagaimana kalau bawa saja anak Bibi ke sini, biar kita rawat sama-sama di rumah ini? Saya malah akan sangat senang kalau anak Bibi mau tinggal di sini bersama kita. Iya kan, Mas?" sahut Ratna meminta persetujuan suaminya.

"Iya, betul kata Ibu. Mending Bibi bawa anak Bibi ke sini saja. Alangkah senangnya saya dan istri jika di rumah besar ini ada banyak orang. Anak Bibi juga bisa sekalian jaga dan main sama anak kita kelak kalau sudah lahir nanti," ujar Rahmat ikut mengiyakan, mencoba membujuk Bi Sumi agar membatalkan niatnya untuk berhenti bekerja.

Mendengar tawaran mengejutkan dari kedua majikannya, Bi Sumi seketika terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu dan kaku. Akal bulus yang sudah ia susun matang-matang sama sekali tidak mempan menghadapi kebaikan palsu di rumah terkutuk ini. Kepalanya kian pening, membayangkan bahaya besar yang akan mengintai anaknya jika sampai menginjakkan kaki di tempat bersarangnya benih iblis ini.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!