Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 25
Suara petir menggelegar di langit Bogor Utara, menyambar sesaat dan menerangi siluet Farrel yang berdiri tegak di tengah derasnya hujan.
Di hadapannya, seratus lebih anggota Ormas Cakar Bumi tampak seperti sekumpulan serigala kelaparan yang siap mengoyak mangsa.
Namun di mata Farrel, mereka tak lebih dari sekadar deretan angka stat yang siap dipanen.
Bramantyo bangkit dari kursi kayunya. Tubuh raksasanya yang setinggi seratus sembilan puluh sentimeter melangkah maju, membuat tanah berpasir di bawahnya seolah bergetar.
Tato macan di dadanya tampak menyeringai di bawah siraman air hujan.
"Hahaha! Jadi lu tikus kecil bernama Farrel?!"
Bramantyo tertawa terbahak-bahak, suaranya parau dan berat.
"Cuma bawa dua puluh orang ke markas gua? Lu pikir lu dewa?!
" Anak-anak, potong kaki dan tangannya, sisakan kepalanya buat gua injek-injek!"
"Seranggg!!!"
Lebih dari seratus preman pangkalan itu bergerak serentak bagaikan air bah jahanam.
Mereka mengayunkan golok, celurit, dan pipa besi secara membabi buta, menciptakan dinding besi yang siap mencincang apa saja di depan mereka.
Dari dalam kaca mobil Land Cruiser yang gelap, Amelia Putri menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya sesak. Antara rasa ngeri melihat lautan manusia bersenjata, dan rasa khawatir yang mendalam pada keselamatan Farrel, air matanya hampir menetes.
"'Farrel... kamu bisa mati kalau sendirian...' batinnya panik.
Namun, Farrel justru menyeringai kejam. Aura haus darah yang pekat meledak dari tubuhnya, mengaktifkan kemampuan Mata Sang Penguasa tingkat maksimal.
Wuss!
Gerakan seratus orang di depan Farrel seketika melambat drastis seperti siput.
Farrel menjejakkan kakinya ke tanah, memicu stat kecepatan 25 yang baru saja ditingkatkan oleh sistem setelah menaklukkan Clarissa.
Tubuhnya melesat maju, meninggalkan bayangan kabur di bawah guyuran hujan.
Brak!
Farrel menghantamkan sikutnya tepat ke rahang preman pertama yang mendekat.
Hantaman dengan kekuatan stat 25 itu begitu dahsyat hingga rahang pria itu hancur berkeping-keping dan tubuhnya terlempar lima meter ke belakang, menabrak tiga temannya.
Sebelum parang dari penyerang kedua sempat turun, Farrel sudah memutar tubuhnya dengan anggun, merebut parang tersebut, dan melakukan satu tebakan horizontal yang sangat presisi.
Sret!
Tiga kepala preman melesat ke udara, memancarkan air mancur darah segar yang langsung larut bersama air hujan.
Gaya bertarung Seni Bela Diri Militer Mematikan milik Farrel benar-benar sebuah tarian kematian.
Tidak ada gerakan yang sia-sia, setiap tebasan dan pukulan selalu mengincar titik vital.
Bugh! Krak! Jleb!
Bunyi tulang patah dan erangan sekarat bersahut-sahutan, beradu dengan suara gemuruh guntur.
Farrel bergerak bagai hantu di antara kerumunan. Pakaian taktis hitamnya kini basah kuyup oleh kombinasi air hujan dan darah musuh.
Tiger dan pasukan elit Garuda Hitam tidak perlu melepaskan satu tembakan pun dari senapan HK416 mereka.
Mereka hanya berdiri mengunci perimeter, menonton dengan pandangan penuh kekaguman pada bos muda mereka yang sedang melakukan pembantaian sepihak.
Hanya dalam waktu lima menit, depo pasir itu telah berubah menjadi pemakaman massal.
Lebih dari delapan puluh anggota Cakar Bumi terkapar tak bernyawa di atas tanah yang kini berubah warna menjadi merah pekat.
Sisa dua puluh orang lainnya langsung menjatuhkan senjata mereka, berlutut di atas lumpur berdarah sambil menangis histeris memohon ampun.
Nyali mereka telah diperas habis hingga tak bersisa.
Farrel berdiri di tengah-tengah genangan darah, membuang parang di tangannya yang sudah rombeng dan bengkok.
Ia berjalan santai mendekati Bramantyo yang kini berdiri mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
Seluruh tubuh raksasa sang gembong Cakar Bumi itu gemetar hebat, lututnya lemas hingga akhirnya ia jatuh terduduk di atas pasir.
"K-Kamu... kamu bukan manusia... Kamu iblis..." bisik Bramantyo dengan suara yang tersedat di tenggorokan.
Farrel berhenti tepat satu langkah di depan Bramantyo. Ia menunduk, menatap sang gembong dengan tatapan mata yang penuh penghinaan mutlak.
【 Ting! Tugas Mandiri Selesai dengan Sangat Sempurna! 】
【 Anda berhasil meratakan seluruh kekuatan inti Ormas Cakar Bumi sendirian! 】
【 Selamat! Pengguna mendapatkan Hadiah Utama: 】
1. Tambahan Saldo Tunai Pribadi: Rp 1.000.000.000 (Satu Miliar Rupiah) langsung masuk ke rekening BCA.
2. Poin Atribut Bebas: +5 Poin.
3. Penguasaan Wilayah: 100% Jalur Hitam Bogor Utara dan Barat resmi berada di bawah kendali Grup Garuda Hitam!
Farrel tidak memedulikan panel virtual di otaknya.
Tangan kanannya melesat maju, mencengkeram leher besar Bramantyo, lalu mengangkat tubuh seratus sembilan puluh sentimeter itu ke udara hanya dengan satu tangan!
"Bramantyo," bisik Farrel sedingin es, suaranya membuat bulu kuduk pria raksasa itu meremang.
"Mulai malam ini... cakar lu resmi gua patahkan. Dan seluruh wilayah lu... adalah milik Garuda Hitam."
Dengan satu sentakan bertenaga, Farrel melemparkan tubuh Bramantyo ke arah Tiger.
"Tiger, urus sisanya. Buat dia menandatangani semua pengalihan aset wilayah barat dan utara sebelum lu kirim dia ke dasar sungai."
"Siap, Tuan Besar!" jawab Tiger dengan sigap.
Farrel membalikkan tubuhnya, berjalan kembali menuju mobil Land Cruiser dengan langkah yang anggun namun sarat akan otoritas seorang penguasa baru yang tak tertandingi.
Ketika ia membuka pintu kursi belakang, ia melihat Amelia Putri menatapnya dengan mata yang dipenuhi oleh kombinasi rasa syok, kagum, dan debaran gairah yang kian tidak terbendung.
Farrel masuk, menutup pintu kabin yang kedap suara, lalu menatap wajah manis sang dewi kedokteran yang kini telah takluk sepenuhnya di bawah pesona sang predator urban.