NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 8

Cengkeraman tangan Mahesa di pergelangan tangan Amerta tidak mengendur sedikit pun sepanjang malam. Di dalam ruang kerja yang luas dan bernuansa gelap itu, waktu seolah berjalan begitu lambat, berputar di antara deru napas Mahesa yang berat dan detak jarum jam dinding yang monoton. Setiap kali Amerta mencoba menarik tangannya secara perlahan—bermaksud untuk memeras handuk kompresan di baskom marmer yang mulai mendingin—kerutan di dahi Mahesa akan semakin dalam. Laki-laki itu akan mengeluarkan erangan rendah yang terdengar begitu tersiksa, seolah-olah pelepasan tangan itu adalah sebuah kehilangan yang amat besar di tengah ketidaksadarannya.

Terpaksa, Amerta harus melakukan semuanya dengan satu tangan. Dengan gerakan yang canggung dan lambat, ia memeras handuk kecil, menyekanya ke kening Mahesa yang berkeringat, lalu kembali membiarkan telapak tangan kanannya dipenjara oleh kehangatan abnormal dari telapak tangan sang kakak tiri. Kulit Mahesa yang biasanya terasa sejuk kini bagaikan tungku pembakar, menyalurkan rasa panas yang menjalar langsung ke pembuluh darah Amerta, memicu debaran ganjil yang tak mampu ia jelaskan sendiri.

Matahari pagi perlahan mulai mengintip dari balik celah gorden abu-abu arang yang menjulang tinggi, membawa berkas cahaya keemasan yang menerangi wajah pucat Mahesa. Kamar kerja yang semula dipenuhi bayang-bayang malam kini sedikit lebih terang. Perlahan, sepasang kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik dan tebal itu bergerak. Amerta yang sedari tadi bersandar di pinggiran sofa kulit dengan mata yang mengantuk berat langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya melebar saat melihat manik mata biru sebiru laut luas itu perlahan terbuka.

Namun, tidak ada tatapan tajam, angkuh, atau mengintimidasi pagi ini. Sepasang mata biru itu tampak luar biasa sayu, berair karena efek demam tinggi yang menyerang sistem imunnya. Mahesa menatap Amerta dengan pandangan kosong selama beberapa detik, berkedip pelan beberapa kali hingga kesadarannya pulih sepenuhnya dari kabut mimpi buruk semalam.

Mahesa melirik ke bawah, mengikuti arah kehangatan yang mengunci lengan kirinya. Ia menatap pergelangan tangan Amerta yang masih digenggamnya erat-erat dengan buku-buku jari yang memutih. Bukannya melepaskan pegangan itu setelah sadar, jemari tegap dan kekar milik Mahesa justru semakin mengunci pergelangan tangan gadis itu, seolah-olah tindakan itu adalah insting bawah sadar yang enggan ia bantah.

"Kenapa kamu di sini?" suara Mahesa terdengar sangat parau, pecah, nyaris habis, dan kehilangan seluruh wibawa baritonnya yang biasa mendominasi ruang rapat korporat.

Amerta menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa kantuk dan lelah yang menggelayuti pundaknya setelah terjaga semalaman penuh. "Kak Mahesa demam tinggi semalam. Bi Sumi panik karena Ayah dan Mama sama sekali tidak bisa dihubungi akibat perbedaan waktu yang ekstrem di London. Jadi, aku terpaksa menjagamu." Amerta sengaja memberikan penekanan yang tajam pada kata 'terpaksa'. Ia merasa perlu menegaskan kembali batas asing yang selama satu bulan ini telah mereka sepakati bersama lewat keheningan yang membeku.

Mahesa terdiam, mengalihkan pandangannya dari Amerta menuju langit-langit ruangan yang tinggi. Napasnya masih terdengar sangat berat dan pendek-pendek, tanda bahwa paru-parunya masih bekerja keras melawan infeksi di dalam tubuhnya. Tubuhnya yang biasanya berdiri kokoh, tegap, dan tak tergoyahkan seperti patung marmer mahakarya Tuhan, kini terasa begitu lemas tak berdaya. Jangankan untuk berdiri atau berjalan, bahkan untuk sekadar mengubah posisi duduknya di atas sofa pun ia merasa tidak memiliki energi sama sekali. Sebersit rasa frustrasi kilat melintas di wajah tampannya; Mahesa membenci kelemahan, dan ia jauh lebih membenci fakta bahwa ia harus terlihat serapuh ini di depan gadis yang selama satu bulan ini sengaja ia abaikan dan ia anggap tak kasat mata.

Tok, tok, tok.

Ketukan pelan di pintu kayu ek besar memecah keheningan yang kaku di antara mereka. Bi Sumi masuk dengan langkah berjingkat yang sangat hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan majikannya. Wanita paruh baya itu membawa sebuah nampan perak berisi semangkuk bubur ayam hangat yang masih mengepulkan asap tipis, segelas air putih, dan beberapa butir obat yang baru saja disiapkan sesuai instruksi dokter keluarga yang sempat dihubungi lewat telepon subuh tadi.

"Ah, Den Mahesa sudah sadar? Alhamdulillah, Gusti..." ucap Bi Sumi dengan raut wajah yang luar biasa lega. Ia melangkah mendekat dan meletakkan nampan itu di atas meja kerja jati yang besar di sudut ruangan. "Den, ini buburnya harus dimakan sekarang ya, lalu obatnya langsung diminum. Dokter bilang Den Mahesa terkena gejala tifus karena terlalu lelah memeras otak dan sering telat makan selama beberapa minggu berturut-turut."

Mahesa tidak sudi menatap makanan tersebut. Dengan sisa tenaganya, ia membuang muka ke arah sandaran sofa, memejamkan matanya kembali dengan rapat. "Bawa keluar, Bi. Saya tidak lapar. Taruh saja obatnya di sana."

"Tapi Den, perutnya harus diisi sedikit supaya obatnya tidak melukai lambung—"

"Biar aku saja yang mengurusnya, Bi," potong Amerta cepat. Ia merasa tidak tega melihat gurat kecemasan yang mendalam di wajah tua pelayan setianya itu.

Bi Sumi menatap Amerta dengan pandangan penuh rasa terima kasih, lalu mengangguk pelan. Ia segera melangkah meninggalkan ruangan, menutup pintu ek besar itu dengan bunyi klik yang halus, menyisakan dua orang itu kembali dalam kurungan sunyi.

Amerta menatap mangkuk bubur yang aromanya mulai memenuhi ruangan, lalu beralih menatap punggung lebar Mahesa yang masih memunggungi dirinya dengan sikap keras kepala yang kekanak-kanakan. Dengan satu hentakan kecil yang disengaja, Amerta akhirnya berhasil menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Mahesa yang sempat melonggar akibat sisa kantuk dan lemas. Merasa tangannya bebas, Amerta bangkit berdiri, mengambil mangkuk bubur hangat tersebut, dan duduk di sebuah kursi kayu kecil tepat di samping sofa tempat Mahesa berbaring.

"Kak, tolong jangan keras kepala seperti anak kecil. Makan dua atau tiga sendok saja, lalu minum obatnya. Setelah itu, Kakak bebas untuk tidur lagi seharian," ujar Amerta. Ia berusaha menjaga nada suaranya selembut dan setenang mungkin, menekan ego kemarahannya demi merawat pria yang sedang sakit ini.

Mahesa membalikkan tubuhnya perlahan, gerakan yang tampak sangat menyiksa fisiknya yang lemas. Ia menatap mangkuk porselen di tangan Amerta, lalu mengalihkan pandangannya ke atas, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata jernih gadis itu. Detik itu juga, Amerta menahan napasnya. Kilat posesif yang gelap—kilat berbahaya yang seminggu lalu ia lihat berkobar di dalam kamar tidurnya saat Mahesa memarahinya—tiba-tiba kembali muncul di balik sepasang mata birunya yang sayu akibat demam.

"Aku akan makan," ucap Mahesa, suaranya terdengar sangat rendah, serak, namun memiliki nada penekanan yang mutlak dan tak boleh dibantah. "Tapi dengan satu syarat."

Amerta mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa dalam kondisi tubuh yang nyaris ambruk dan sekarat seperti ini, laki-laki di hadapannya masih sempat mengajukan negosiasi dan persyaratan? "Apa?"

"Jangan tinggalkan ruangan ini sedikit pun. Tetap duduk di sampingku, suapi aku sampai makanan ini habis, dan jangan pernah pergi ke mana pun sampai aku benar-benar sembuh total," perintah Mahesa. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar dan dingin, namun mengandung rantai belenggu yang sangat kuat, sebuah instruksi mutlak dari seorang pria dominan yang tidak mengenal kata penolakan dalam bentuk apa pun.

Amerta tertegun di kursinya, jantungnya mendadak berdegup kencang seketika karena intensitas tatapan mata Mahesa. "Kak, aku harus pergi ke kampus hari ini. Tugas kelompokku harus dikumpulkan siang ini, dan aku tidak bisa—"

"Aku tidak peduli dengan tugas kelompokmu," potong Mahesa egois, sepasang mata birunya mengunci seluruh pergerakan Amerta seolah-olah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Aku bisa meminta asisten pribadiku untuk menghubungi dekanat kampusmu dan mengurus izin kuliahmu dalam waktu satu menit saja. Jadi, menurut saja pada perintahku, Amerta."

Amerta mencengkeram pinggiran mangkuk porselen di tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ego, harga diri, dan kemarahan di dalam dadanya berteriak kencang untuk menolak perintah gila itu. Ia ingin melempar mangkuk bubur ini ke lantai marmer, lalu berjalan pergi meninggalkan laki-laki angkuh yang mengesalkan ini. Namun, saat matanya menangkap bagaimana tubuh tegap Mahesa sedikit bergetar karena menahan dinginnya sisa demam di balik kemejanya, dan saat ingatannya berputar pada fakta bahwa Mahesa—dengan segala keangkuhannya—telah mengancam Rian hingga ia bisa kuliah dengan tenang selama satu bulan ini tanpa gangguan, Amerta mengembuskan napas pasrah. Dinding pertahanannya kembali runtuh oleh rasa kemanusiaan yang tipis.

"Baik," jawab Amerta dengan nada terpaksa yang sama sekali tidak ia tutupi. "Aku akan tetap di sini, menyuapimu sampai Kakak sembuh."

Mendengar jawaban patuh yang keluar dari bibir mungil Amerta, ketegangan yang menegang di rahang kokoh Mahesa perlahan-lahan mengendur. Topeng esnya sedikit mencair. Laki-laki itu membiarkan Amerta meletakkan bantal tambahan di belakang punggungnya, membantunya bersandar pada sandaran sofa dengan gerakan yang sangat hati-hati.

Amerta mulai menyendok bubur, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya ke depan bibir tebal Mahesa. Laki-laki itu membuka mulutnya, menerima suapan pertama dengan mata yang tidak pernah lepas dari wajah Amerta. Untuk pertama kalinya dalam satu bulan penuh, jarak asing dan beku yang sengaja mereka bangun di antara mereka menguap begitu saja di dalam ruangan kerja yang remang-remang itu. Jarak itu kini digantikan oleh sebuah belenggu baru yang tak kasat mata—sebuah ikatan intim yang aneh, yang entah akan membawa hubungan rumit dan terlarang di antara dua saudara tiri ini ke arah yang seperti apa di masa depan.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!