NovelToon NovelToon
Keluargaku Adalah Hama

Keluargaku Adalah Hama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.

Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,

Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Setelah mengurus berkas pengobatan ibunya di puskesmas untuk dirujuk ke kota tempatnya tinggal sekarang, belum lagi dia juga mengurus surat kepindahan kependudukan sang ibu untuk tinggal disana, bagitu juga surat pindah adiknya dari sekolah sebelumnya untuk dia daftarkan disekolah dekat rumahnya itu, setelah semuanya selesai Aminah segera membawa keduanya ketempat dimana dia kerja dan tinggal

Setelah menempuh jarak dan waktu yang lumayan akhirnya mereka sampai pada rumah sederhana milik Aminah.

Aminah tidak lagi kos seperti setahun lalu, dia membeli sebuah rumah lama permanen yang dia perbaharui dan lebih cantik, rumah lumayan luas dengan lima kamar tidur dan tiga kamar mandi.

"Ayo masuk". Ajaknya sambil mengangkat sang ibu turun dari mobil dan duduk di kursi roda.

Mayra mengedarkan pandangannya ke segala arah dan tampak terpesona dengan rumah yang ada dihadapannya ini, rumah cantik dan memiliki kebun sayur dan buah dan dia yakin itu adalah hasil karya sang kakak.

"Ini rumah aku, ayo kita masuk".

Aminah membuka pintu gerbang itu agar sopir mobil online itu mengangkat barang keduanya untuk masuk kedalam rumah.

"Rumah kakak besar juga". Ucap Mayra dengan senyum lebar.

Dia senang akhirnya memiliki tempat tinggal baru yang lebih nyaman dari rumah ibunya dan yang pasti tidak akan ada drama pertengkaran yang dia dengar setiap hari.

"Terima kasih pak, ini ongkosnya". Ucap Aminah memberi uang lebih kepada sopir itu.

"Ini lebih mbak".

"Tidak apa-apa pak, anggap rejeki untuk keluarga dirumah".

"Terima kasih".

Aminah tersenyum kemudian mengangguk kemudian membuka pintu rumah dan mempersilahkan keduanya masuk sedangkan dirinya keluar untuk mengunci pagar rumah.

"Ini kamar aku, ini kamar ibu dan ini kamar kamu Mayra, kebetulan disini hanya tiga kamar ini yang ada tempat tidurnya, yang lainnya aku gunakan untuk kerja dan tempat barang-barang endorse".

Aminah membukakan pintu kamar itu kemudian mendorong koper sang ibu sedangkan Mayra mengambil koper-kopernya untuk dimasukkan ke kamarnya sendiri.

Mata Halimah berkaca-kaca melihat anaknya yang ternyata bisa mapan hanya lebih dari setahun sejak kepergiannya dari rumah

"Ibu istirahat disini dulu yah, aku akan mengurus makan siang dulu, nanti baru aku rapikan pakaian ibu".

Aminah membawa ibunya keranjang tempat tidur untuk istirahat karena hari sudah menjelang siang dan ibunya harus minum obat.

Setelah mengurus ibunya, Aminah mengelus kepala sang ibu dan memakaikannya selimut dan menyalahkan AC agar ibunya tidak kepanasan baru lah dia keluar dari kamar untuk membuat makan siang.

Dia memasak dengan cepat dan membuatkan bubur ayam untuk sang ibu.

"Kakak sudah memasak, ada yang bisa Mayra bantu?". Tanyanya begitu mendapati sang kakak berada didapur.

Gadis yang dulu begitu manja dan tidak pernah mengurus pekerjaan rumah kini bisa melakukannya karena dituntut oleh keadaan.

Aminah berbalik kemudian tersenyum kepada adiknya itu.

"Barang-barang kamu sudah selesai kamu rapikan?".

Mayra mengangguk pelan dan mengambil air minum disebelah sang kakak.

"Anggap saja ini rumah kamu juga, kalau kamu mau masak dan makan bahannya kakak taruh di kulkas yah, kamu bisa masak kan?".

Mayra mengangguk sambil tersenyum kepada sang kakak, matanya berkaca-kaca melihat kakak tertuanya yang dulu memanjakannya kini sudah ada dihadapannya sekarang.

"Kakak sudah menghubungi sekolah SMP favorit disini, kamu sudah bisa masuk sekolah besok, kakak sudah melunasi biayanya, kamu jangan khawatir yah".

Mayra menghambur kepelukan sang kakak setelah mendengar itu, akhirnya dia bisa kembali bersekolah setelah hampir 6 bulan tidak pernah masuk sekolah.

"Makasih kak, aku akan sekolah yang rajin maafin aku jika selama ini aku tidak pernah mendengar apa yang kakak katakan". Ucapnya dengan tangis.

Aminah mengangguk kemudian mengelus kepala sang adik dengan sayang.

" Cukup belajar yang rajin dan bantu kakak mengurus ibu dirumah yah, nanti bantu kakak untuk mengurus barang endorse untuk dikirim ke pelanggan ok".

Mayra mengangguk kemudian melihat masakan sang kakak.

"Kamu panggil dan bawah ibu kesini saja, masakannya sudah hampir selesai, bubur ibu sudah matang".

Mayra mengangguk kemudian berjalan menuju kamar sang ibu dan membantunya untuk keluar dari kamar.

Melihat kepergian sang adik, dia menghela nafasnya, dia kembali teringat kedua adiknya yang lain entah dimana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.

Hermawan yang masih didepan rumah berusaha memanggil tukang kunci untuk membuka rumah itu tapi saat akan melakukannya ketua RT dan RW datang mencegatnya.

Aminah sudah mendapatkan orang yang akan mengontrak rumah ibunya dan itu adalah saudara RT itu sendiri, Aminah tadi sudah membuat kontrak hukum untuk keluarga yang akan mengontrak rumah ibunya dan beruntung dirinya karena yang mengontraknya adalah orang penting dilingkungan tempat tinggal ibunya.

"Berhenti,kamu tidak berhak melakukan itu". Teriak parubayah yang kini mendekati Hermawan dengan geram

"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian menghentikan aku?". Bentaknya tidak terima.

Baginya rumah ini adalah miliknya, Halimah sudah pergi dan dia berkuasa atas rumah ini tapi kenapa ketua RT ini melarangnya membuka paksa rumahnya.

"Tentu saja kami melarang, ibu Halimah sudah menjual rumah ini kepada saya, anda tidak berhak melakukan ini". Ucapnya dengan garang.

Dia menatap Hermawan dengan garang dan penuh emosi, dia memang sudah muak dengan lelaki sombong dan keterlaluan ini.

Dia sangat tahu bagaimana kelakukan Hermawan pada istri dan juga anaknya, tapi dia tidak memiliki cara untuk mengusir lelaki ini dari sini dan sekarang sudah waktunya.

Hermawan yang mendengar perkataan ketua RT itu langsung mundur selangkah , dirinya nyaris limbung karena tidak percaya.

Dia tertawa sumbang menatap sang ketua RT dengan geram dan penuh emosi.

"Jangan bicara omong kosong, Halimah tidak akan bisa menjualnya dia lumpuh dan tidak bisa bergerak, dan anak bungsuku masih dibawah umur, aku akan tuntut kalian karena penipuan". Teriaknya dengan suara menggelegar.

Ketua RT bernama Reyhan itu tersenyum sinis, dia senang membuat laki-laki ini tidak berdaya karena ketakutan.

"Tentu saja bisa pak Hermawan, dan saat penjualan itu juga ada Aminah putri sulung anda dan putri bungsu sebagai saksi dan kami sudah sahkan secara hukum melalui notaris jadi sekalipun anda menuntut itu tidak akan bisa karena semua sertifikat dan urusannya adalah atas nama ibu Halimah".

Duar..

Hermawan nyaris terjatuh dirinya seakan tersambar petir yang tidak kasat mata, matanya membelalak karena tidak menyangka .

"Itu tidak mungkin.. Itu tidak mungkin". Jeritnya dengan penuh emosi.

Kedua parubayah itu tersenyum sinis melihatnya, mereka sangat senang lelaki ini mendapat karma atas perbuatannya.

"Dan anda tukang kunci sebaiknya pergi, atau saya akan laporkan anda kepolisian kalau masih mencoba membuka pintu pagar dan rumah".

1
Anime aikō-kā
Keluargaku Adalah Hama
Test Baru
kak kok belum up lagi 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!