Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Musuh, teman, dan rahasia
Pagi itu, suasana sekolah terasa seperti biasanya. Di salah satu kelas, tepatnya di kelas XII IPA B, murid-murid sudah mulai memenuhi bangkunya masing-masing. Sebagian membuka buku, sebagian lainnya sibuk bercanda tawa.
Namun di depan pintu kelas itu, mendadak sedikit berbeda. Dua orang yang baru saja tiba di waktu yang hampir bersamaan, kini berdiri berhadapan di depan pintu.
Tya berdiri dengan wajah datar, tasnya bertengger di punggung. Langkahnya sudah setengah masuk ke dalam kelas, lalu tiba-tiba berhenti.
Di sampingnya, Faris baru saja tiba. Tangan masih di saku jaketnya, sementara ekspresinya malas seperti biasa.
Mereka saling menatap dalam keheningan. Lalu bersamaan, keduanya bergerak maju.
"Geser," ujar Faris dingin.
"Lo yang geser," sahut Tya tak mau kalah.
Tya mencoba masuk lebih dulu, sementara Faris langsung melangkah tanpa ragu, membuat bahunya sedikit mendorong sisi pintu yang sama.
"Gue duluan," ujar Faris santai.
Tya langsung mendelik, "Lo yang telat, jadi gue duluan."
"Siapa yang telat?" Jawab Faris tidak terima.
"Lo."
"Ngawur."
Mereka tetap di posisi itu, tidak ada yang mau mengalah bahkan hanya untuk satu langkah. Bahu mereka sesekali bersinggungan di ruang pintu kelas yang sempit, membuat beberapa murid di dalam mulai memperhatikan.
"Serius, bisa gak sih sedetik aja lo gak nyebelin?!" Ujar Tya tajam.
Faris berdecak pelan. "Lo juga bisa gak sih, sehari aja gak galak?"
"Lo duluan yang mulai!" Tunjuk Tya ke arah Faris.
"Gue cuma masuk kelas." Balas Faris datar.
Dorongan kecil kembali terjadi, kali ini lebih jelas. Tya tidak mau kalah, Faris pun tidak berniat mundur. Sampai akhirnya, pintu itu benar-benar jadi batas sempit untuk dua ego yang sama-sama tinggi.
Faris baru saja ingin kembali maju, namun tiba-tiba...
Dukk!
Siku Tya menyenggol perut samping Faris dengan cukup keras. Faris langsung mundur sedikit, menatap Tya tajam.
"Main kasar sekarang?" Ujar Faris dengan satu alis terangkat.
Tya langsung melirik tajam, "Makanya awas!"
Faris mendengus kecil, sorot matanya mulai berubah lebih tajam. Bahkan, rahangnya terlihat sedikit mengeras. "Gue gak ngapa-ngapain."
"Justru itu masalahnya," balas Tya cepat.
Faris menghela nafas pelan, lalu melangkah sedikit ke samping tapi tidak sepenuhnya memberi jalan.
"Masuk aja duluan, ribet banget," gerutu Faris.
"Gitu kek dari tadi!" Ujar Tya sembari merotasikan bola matanya. Lalu, ia melangkah masuk melewati Faris sambil menabrak lengan cowok itu dengan sengaja.
Faris langsung melirik tajam, "Lo sengaja, ya?"
"Emang gue peduli?" Tya terus melangkah tanpa menoleh.
Jawaban itu terlalu jujur, hingga membuat Faris terdiam sepersekian detik. "Ck! Cewek gila," gumam Faris lirih, nyaris tak terdengar.
Belum sempat suasana kelas kembali normal, dua sosok lain memasuki kelas. Starla dan Megan, dua sahabat Tya.
Begitu mereka melangkah masuk, mata keduanya langsung menangkap satu pemandangan yang sudah terlalu familiar. Tya duduk dengan wajah kesal, sementara Faris melangkah santai dengan ekspresi datar, jelas tidak kalah emosi.
Starla langsung berhenti di tempat, sementara Megan sedikit menyipitkan mata.
Starla menghela nafas kecil, lalu menggeleng pelan. "Udah ketebak."
Megan langsung menoleh, "Apanya?"
Starla menunjuk pelan ke arah Tya dan Faris tanpa perlu penjelasan. "Biasa..."
Tya langsung melirik tajam dari bangkunya. "Kalian sahabat siapa sih? Gue lagi bete juga."
Faris yang baru duduk di bangku paling belakang hanya menatap tajam, sebelum akhirnya duduk dengan malas di bangkunya.
Dua gadis itu terkekeh setelah mendengar penuturan Tya. Lalu, mereka berjalan mendekat sambil menurunkan tasnya.
"Setiap hari kalian tuh punya ritual, ya?" Ledek Starla. "Harus ribut dulu baru bisa hidup tenang."
Megan duduk di bangkunya sambil menahan senyum. "Atau, lagi latihan debat ya?"
"Debat apaan?" Sahut Tya cepat. "Dia aja yang nyebelin dari lahir."
Faris dari belakang langsung menoleh. "Lo kayak enggak!"
Starla kembali terkekeh. "Lihat," ujarnya. "Belum juga lima menit."
Megan ikut terkekeh dengan gelengan kepala. Tya hanya menghela nafas pelan, tanpa membalas apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pikirannya berkecamuk antara kesal dengan Faris dan percakapan dengan keluarganya tadi malam.
Tak lama kemudian, seorang guru memasuki kelas. Suasana yang tadinya riuh oleh perbincangan, kini senyap tanpa kata. Semuanya mulai bersiap, mengikuti pembelajaran hari ini.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Bel istirahat berbunyi, memecah suasana kelas yang tadi fokus. Faris langsung beranjak tanpa banyak kata. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, lalu melangkah keluar kelas. Tujuannya jelas, menghampiri teman-temannya di kelas lain.
"Tya, kantin yuk," ajak Starla ketika menghampiri Tya.
"Iya, gue juga laper," timpal Megan.
Tya terdiam sesaat. Tangannya masih di atas meja, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Ia mengangkat wajahnya beberapa detik kemudian, lalu menjawab pelan.
"Ayo." Suaranya terdengar lebih lesu dari biasanya.
Starla langsung mengernyit. "Lo kenapa?"
Megan juga ikut memperhatikan. "Iya, biasanya juga kalo ribut sama Faris masih ada tenaga."
Nama itu membuat Tya kembali terdiam. Bukan sekedar kesal, tapi ada sesuatu yang terasa berat.
"Gue..." Tya menghela nafas berat. "Butuh teman curhat."
Starla dan Megan saling pandang sejenak, lalu kembali menatap Tya.
"Kami ada buat lo," ujar Starla.
"Ya, cerita aja." Sahut Megan.
Tya tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya. "Di kantin aja," ujarnya singkat.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Tya berjalan lebih dulu keluar kelas. Starla dan Megan mengikuti dari belakang, masih bertanya-tanya, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan sahabatnya hari ini.
Tiba di kantin, Starla dan Megan langsung memesan makanan masing-masing, sementara Tya hanya memesan segelas jus buah.
Megan melirik sekilas, "Serius gak makan?"
Tya hanya menggeleng singkat. "Gak lapar."
Setelahnya, mereka mencari tempat duduk di sudut kantin yang sedikit lebih tenang dari keramaian utama.
Tya duduk di antara dua sahabatnya, meletakkan jus itu di meja tanpa langsung diminum. Tangannya sibuk memainkan sedotan, mengaduk pelan isinya tanpa tujuan yang jelas.
Starla menatapnya, lalu membuka suara. "Katanya mau curhat," ujarnya. "Apaan?"
Megan langsung menimpali sambil menyuap makanan. "Iya, dari tadi lo kayak orang kepikiran."
Tya menghela nafas panjang. Matanya masih tertuju pada gelas jus di depannya, seolah ada sesuatu yang sedang ia susun di kepalanya sebelum diucapkan.
"Lo berdua percaya gak?" Ujar Tya membuka suara.
Baru kalimat itu keluar, Starla langsung menyela. "Enggak," ujarnya santai. "Kan lo belum cerita."
Megan langsung menoleh ke arah Starla. "Star, dengerin dulu."
Tya berhenti mengaduk jusnya, wajahnya terlihat semakin ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Tapi ini rahasia," ujar Tya pada akhirnya.
Starla langsung berhenti mengunyah. Megan ikut menatap Tya lebih serius kali ini.
"Rahasia?" Ulang Starla, nadanya lebih serius kali ini.
Tya mengangguk pelan, "Iya, gue cuma mau bilang ke kalian."
Megan sedikit mencondongkan tubuhnya, "Rahasia apa?"
Tya menghela nafas pelan, lalu menghembusnya perlahan. "Gue bakal nikah," ujarnya lirih.
Sunyi, keduanya sama-sama terkejut mendengar penuturan Tya. Starla langsung berhenti, sementara Megan menatap Tya tanpa berkedip.
"Hah, nikah?" Ujar Starla tidak percaya.
"Jangan berisik," lanjut Tya, memberi kode untuk diam.
Starla langsung menurunkan nada suaranya, tapi jelas masih terkejut. "Sorry-sorry."
"Sama siapa?" Lanjut Megan sedikit berbisik.
"Faris."
Nama itu jatuh begitu saja di antara mereka. Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang langsung bereaksi. Starla dan Megan kembali bertukar pandang, sementara Tya menunduk tanpa kata.
"Lo bercanda, kan?" Ujar Starla tidak percaya.
Tya menggeleng pelan. "Gue gak mungkin bercanda buat hal beginian."
Nada suaranya terdengar lelah. Bukan lelah karena tugas atau sekolah, tapi lelah karena sejak semalam pikirannya terus dipenuhi hal yang sama.
Starla dan Megan langsung terdiam. Megan perlahan meletakkan sendoknya di atas meja, sementara Starla masih menatap Tya dengan ekspresi tidak percaya.
"Wait," Starla kembali mengernyit. "Lo sama Faris?"
"Iya."
Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu, Starla refleks menatap langit-langit kantin sambil mengusap wajahnya pelan. "Gue gak ngerti lagi sama dunia."
Biasanya, Tya langsung membalas ucapan itu. Tapi kali ini, ia hanya diam tanpa semangat sedikitpun.
"Yang tiap hari ribut sama lo?" Ujar Megan memastikan.
"Exactly."
"Tapi, kok bisa?" Lanjut Megan.
Tya menunduk sebentar, sebelum akhirnya menjawab pelan. "Katanya ini udah direncanain dari dulu, bahkan sejak kecil." Ujarnya jujur.
Starla langsung membelalakkan mata. "Gila!"
"Pelan dikit," desis Tya cepat sambil melirik sekitar.
"Sorry," ucap Starla.
Wajah Tya terlihat jauh lebih murung dari biasanya. Bahkan rasa kesalnya pada Faris pagi tadi terasa kalah jauh dibanding beban yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Gue juga masih gak ngerti harus gimana," ujar Tya. "Semua ini terlalu tiba-tiba."
Megan menatap Tya lebih lembut dari sebelumnya. "Terus, Faris udah tau soal ini?"
"Harusnya udah," jawab Tya ragu.
Karena sejak tadi pagi, Faris tetap bertingkah menyebalkan seperti biasa. Tidak ada tanda bahwa cowok itu baru saja mendapat kabar yang sama besarnya dengan dirinya. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin aneh.
Starla menghela nafas panjang. "Oke, apapun yang terjadi lo gak sendirian."
Megan langsung mengangguk setuju. "Iya, kalau lo butuh cerita atau sekedar marah-marah juga gapapa."
Tya menatap keduanya bergantian. "Kenapa hidup gue jadi gini sih?" Gumamnya lirih.
"Karena hidup suka drama," jawab Starla cepat.
Megan langsung menahan tawa, sementara Tya hanya menggeleng pasrah melihat tingkah sahabatnya.
Sementara itu di belakang sekolah, Faris berdiri bersandar dengan satu kaki di dinding. Tangannya masuk ke saku celana, sementara ekspresinya jauh lebih malas dari biasanya.
Di depannya, Dhyo sibuk memainkan botol minumannya. Lex duduk di atas pembatas taman sambil sesekali melempar batu ke arah parit. Sementara Andre berdiri sambil memperhatikan Faris penuh curiga.
"Lho kenapa sih?" Tanya Dhyo. "Tumben diem."
"Biasanya paling berisik," timpal Lex.
Andre mengangguk kecil. "Muka lo kayak orang habis diputusin."
Faris langsung menoleh tajam. "Gak lucu."
"Oh, pasti soal semalam haha," sahut Dhyo dengan tawa tanpa dosa.
Faris terdiam beberapa saat. Tatapannya lurus ke depan seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Bukan itu."
"Terus?" Tanya Lex penasaran.
Faris menghela nafas panjang. "Gue dijodohin."
Untuk sesaat, teman-temannya hanya menatap tanpa ekspresi. Lalu, Dhyo langsung tertawa keras.
"Hah?" Ujar Lex seolah masih mencerna.
Andre mengernyit tidak percaya. "Serius lo?"
Dhyo menyeringai lebar, ekspresinya berubah seperti orang yang baru menemukan hiburan terbaik hari ini. "Sama siapa?" Ujarnya cepat.
Faris menatap mereka datar, lalu menjawab singkat. "Tya."
Dan detik berikutnya, belakang sekolah itu langsung penuh suara tawa. Dhyo menatap Faris dengan senyum meledek, tentu saja.
"Itu juga terpaksa, daripada motor yang ditarik nyokap," lanjut Faris mengklarifikasi.
"Gila, musuh bebuyutan jadi istri!" Ledek Dhyo.
Lex langsung menepuk jidatnya sendiri. "Gue gak bisa bayangin rumah lo isinya nanti apaan selain ribut."
Andre yang tadi diam, kini justru terkekeh kecil. "The real, musuh tapi menikah."
Faris langsung mendelik tajam. "Mulut kalian mau gue jahit?"
"Wah, takut banget! Babang Faris udah marah!" Ujar Dhyo sambil tertawa, bahkan pura-pura mengangkat tangannya seolah menyerah.
"Ris," panggil Lex sambil menahan tawa. "Lo tiap hari aja udah ribut sama dia. Gimana serumah?"
"Gue pindah planet aja kali," sahut Faris cepat.
Ketiganya tertawa puas melihat reaksi Faris. Sementara Faris terlihat mulai kesal, tidak tahan menghadapi mereka.
Dhyo yang melihat itu justru semakin bersemangat. Ia mendekat tanpa rasa takut sedikitpun. "Eh, tapi serius." Ujarnya. "Kalau lo berantem terus, tetangga lo aman gak tuh?"
Lex langsung menahan tawa, sementara Andre buru-buru menunduk pura-pura batuk demi menyamarkan tawanya sendiri.
Dhyo masih lanjut tanpa rem. "Dan kalau malam-"
Belum selesai kalimatnya, Faris langsung bergerak cepat membekap mulut Dhyo dengan satu tangan. "DIEM LO!"
"Hmphh!"
Dhyo langsung mendelik sambil berusaha melepas tangan Faris. Tapi temannya itu justru semakin menekan dengan wajah penuh ancaman.
"Suara lo kecilin dikit!" Desis Faris tajam. "Mau satu sekolah denger?!"
Tawa Lex akhirnya pecah melihat Dhyo yang kesulitan berbicara, sementara Andre sampai memalingkan wajah karena tidak bisa lagi menahan tawanya.
Dhyo akhirnya berhasil melepaskan tangan Faris lalu menarik nafas dalam-dalam. "Hampir mati gue."
"Syukur," sahut Faris.
Dhyo langsung menunjuk Faris dengan wajah penuh tuduhan. "Galak banget calon suami orang."
"Dhyo," ujar Faris sembari melontarkan tatapan tajam.
"Iya-iya," jawab Dhyo santai. "Rahasia negara."
Faris mengusap wajahnya kasar, benar-benar menyesal bercerita pada mereka. Sementara ketiga temannya semakin tertawa tanpa beban.
"Temen gila," gumam Faris.
Dhyo langsung mengangguk penuh penghormatan. "Terima kasih."
"Gue gak muji."
"Mukanya stres banget, haha!" Celetuk Lex.
Faris berdecak kesal. Tanpa kata, ia langsung melangkah pergi. Hari itu, Faris menyadari satu hal, punya sahabat minus akhlak ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi musuh bebuyutannya sendiri.
Hari itu bukan hanya tentang dua orang yang tidak bisa akur setiap harinya. Bukan juga tentang sekedar teman-teman yang selalu ada di sisi mereka. Tapi juga tentang sebuah rahasia perjodohan yang perlahan mulai mengubah hidup Faris dan Tya, sedikit demi sedikit.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️