NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Pulang ke kampung halaman

Bab 12: Pulang ke Kampung Halaman

Perjalanan menuju kampung halaman Diana memakan waktu hampir lima jam.

Jalanan yang mulus dan pemandangan yang memanjakan mata.

Dari hiruk-pikuk kota yang padat dan berasap,

Menjadi hamparan sawah hijau dan deretan pohon kelapa yang menjulang tinggi,

membuat suasana di dalam mobil terasa semakin tenang.

"Ada banyak makanan di belakang, kamu mau?" Tanya Arga

Tangannya lihai memutar kemudi.

Setelah kejadian tadi pagi, ketegangan perlahan hilang dan Diana terlihat sangat nyaman.

Arga sesekali melirik Diana di sampingnya,

melihat gadis itu tampak menikmati pemandangan di luar jendela dengan senyum lembut terukir di bibirnya.

Mendengar perkataan suaminya,

Diana menolehkan kepala nya, lalu mengangguk.

"Iya Mas, aku laper" Ujarnya

Dengan hati-hati, ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk membawa bungkusan plastik dari jok belakang.

pinggangnya yang ramping begitu dekat dengan Arga, wangi parfum yang manis, menusuk hidung Arga , membuat si empunya candu dan rasanya ingin terus menghirupnya.

Arga menoleh sekilas, lalu bibirnya tersenyum misterius.

"Hati-hati, Diana !" Ujarnya

"Iya"

"Mas mau ?" Tanya Diana, setelah dia kembali duduk dengan benar.

Diana membuka sebungkus Rosi isi coklat, tangannya menggantung di hadapan Arga.

Tanpa ragu, Arga langsung menggigitnya.

Diana tersenyum dan dia juga memakan roti itu, bahkan Diana memakan bekas gigitan Arga.

"Kamu gak jijik?" Tanya Arga

"Jijik kenapa, Mas?" Jawab Diana heran, dia masih mengunyah rotinya

"Roti itu bekas aku gigit, terus kamu makan"

Diana menelan rotinya terlebih dahulu, lalu melihat Arga.

"Enggak lah, Mas kan suami aku" Jawab Diana santai.

Sepertinya, Diana juga tanpa sadar sudah jatuh cinta pada Sosok Arga Wijaya.

Arga mengelus rambut Diana dengan lembut,

"Terimakasih" Senyumnya memancarkan kebahagiaan.

Diana terus menyuapi Arga, dan si empunya pun dengan senang hati menerima suapan istrinya.

Mereka terus tertawa dan banyak bercerita hal-hal lucu.

Sesekali Diana juga bercerita tentang masa kecilnya,

tentang tempat bermainnya, dan sungai tempat ia biasa mandi,

hingga kebiasaan warga desa yang masih sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan gotong royong.

“Sebentar lagi kita sampai, Mas. Dari sini tinggal dua puluh menit lagi,” ujar Diana tiba-tiba,

suaranya terdengar antusias.

Matanya berbinar-binar menatap jalan yang mulai terasa semakin akrab di ingatannya.

Arga tersenyum mendengarnya.

“Benarkah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu, juga melihat tempat di mana kamu tumbuh besar.”

Tak lama kemudian, mobil memasuki jalanan desa yang masih beraspal namun lebih sempit.

Di kiri kanan jalan terlihat rumah-rumah panggung sederhana dengan halaman yang luas, serta warga yang sedang beraktivitas di luar rumah.

Beberapa warga menoleh melihat mobil mewah yang lewat,

"Wahhh pejabat dari mana yah?"

"Mobilnya bagus banget"

"Siapa yah kira-kira?"

Beberapa warga saling berbisik-bisik dan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Saat mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung kayu yang terawat.

jantung Diana berdegup kencang karena rasa rindu yang meluap.

Begitu juga beberapa warga, yang kaget karena mobil mewah itu ternyata berhenti di depan rumah pak Joko.

Mereka berbondong-bondong melihat dari kejauhan.

Begitu pintu mobil terbuka, Diana langsung melangkah turun dan segera berjalan mendekati teras rumah.

"Eh... Itu Diana, anaknya pak Joko"

"Sudah sukses yah sekarang"

"Hebat Diana! Pulangnya pake mobil mewah"

Warga kembali berbisik-bisik karena takjub.

“Bapak! Ibu!” panggil Diana dengan suara lantang memanggil penghuni rumah.

Tak lama kemudian, dua sosok orang tua yang sudah beruban keluar dari dalam rumah.

Wajah keduanya berseri-seri melihat putri mereka satu-satunya ada di hadapan mereka.

Putri yang sudah lama tidak mereka temui.

“Diana, Nduk!” seru Bu Lestari sambil berjalan tergesa-gesa,

diikuti oleh Pak Joko yang berjalan agak lambat, tetapi ia tersenyum lebar.

"Ibuuu... Bapak"

Diana segera memeluk kedua orang tuanya.

air matanya menetes membasahi bahu mereka.

“Aku kangen sama Bapak - Ibu,” ucapnya dengan suara terisak.

“Kami juga kangen banget sama kamu, Nduk. Alhamdulillah kamu terlihat sehat” jawab Bu Lestari sambil mengusap punggung putrinya dengan lembut.

Sementara itu,

Arga sudah turun dari mobil dan berdiri agak menjauh,

menunggu dengan sabar agar tidak mengganggu momen kebersamaan itu.

Tetapi, perhatian Pak Joko dan Bu Lestari segera tertuju padanya

Mereka menatap Arga dengan pandangan rasa ingin tahu.

Walaupun hanya melihat sekilas, mereka bisa merasakan wibawa dari seorang pemimpin, aura nya begitu kuat.

Bahkan para warga yang masih melihat dari kejauhan, begitu terpana.

Arga tidak terlihat seperti usia 45 tahun, ketampanannya semakin terpancar dan terlihat sebagai pria matang yang mempesona.

Diana segera menyadari hal itu, lalu menarik napas panjang dan tersenyum lebar.

“Bapak, Ibu… ini Pak Arga Wijaya. Dia suamiku. Seperti yang sudah aku ceritakan lewat telepon waktu itu”

Arga segera melangkah maju,

lalu membungkukkan badannya.

“Selamat siang, Pak - Bu. Saya Arga. Mohon izin untuk berkunjung, dan mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu Bapak dan Ibu,” ucapnya dengan nada lembut namun tegas, terdengar sangat tulus.

Pak Joko dan Bu Lestari saling berpandangan, lalu tersenyum ramah.

Pak Joko yang sudah berusia 70 tahun mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Selamat datang, Nak Arga. Saya sebagai ayah Diana sangat berterimakasih, karena anda berkenan untuk berkunjung kemari. Silakan masuk, jangan berdiri di luar terus.”

"Terimakasih Pak, Saya juga memiliki niat baik kemari" Ujar Arga,

"Kalau begitu Ayo kita bicara di dalam, sekalian istirahat, pasti kalian capek, habis perjalanan jauh!" Ajak pak joko

Mereka pun masuk ke dalam rumah.

Suasana di dalamnya terasa sederhana, bersih dan wangi,

ada nuansa hangatnya keluarga yang sulit ditemukan di kota besar.

Arga duduk di kursi tamu, berhadapan dengan ayah mertuanya.

“Terima kasih sudah menerima Diana dengan baik, Nak Arga. Kami tahu awalnya ini bukan keputusan yang mudah, dan banyak hal yang harus dihadapi,” ujar Bu Lestari lembut sambil menyajikan teh hangat dan kue-kue buatan sendiri.

Arga mengangguk dengan tatapan tulus.

“Ibu tidak perlu khawatir. Meskipun pertemuan kami singkat, saya berjanji akan menjaga Diana sebaik mungkin, dan memenuhi segala kewajiban saya sebagai suami.

Diana adalah wanita yang baik, sabar, dan memiliki hati yang mulia. Saya justru merasa beruntung bisa memilikinya.”

Mendengar penjelasan itu,

hati kedua orang tua Diana terasa sangat tenang.

Rasa khawatir yang sempat mereka simpan perlahan hilang berganti keyakinan.

“Kami percaya, Nak. Seperti yang sudah kami katakan pada Diana, kami sangat merestui pernikahan kalian. Semoga rumah tangga kalian diberkahi, dijauhkan dari masalah, dan saling melengkapi,” ujar Pak Joko dengan nada bijaksana.

Saat percakapan berlangsung,

Arga juga menyerahkan oleh-oleh yang ia bawa.

Tidak berlebihan, tapi cukup dan bermanfaat. — ada obat-obatan untuk menjaga kesehatan Bu Lestari, pakaian, dan lain-lain.

serta berbagai barang untuk kebutuhan sehari-hari.

"Anggap saja ini sebagai hadiah pertemuan untuk pertama kalinya Pak, ini bukan apa-apa jika di bandingkan dengan putri bapak yang mau menerima saya" Ujar Arga

"Baiklah, bapak terima. Semoga rezeki mu semakin lancar dan kalian selalu di berkahi oleh kebahagiaan" Do'a ayahnya dengan tulus

Setelah suasana semakin akrab,

Diana pun menyampaikan rencana mereka,

untuk melaksanakan ijab qobul secara sederhana di rumah itu pada sore hari nanti,

agar pernikahan mereka juga sah secara agama.

“Kami sudah menyiapkan semuanya Pak - Bu, Kami hanya ingin pernikahan ini diakui oleh Agama dan dan banyak yang mendo'akan,” tambah Diana dengan senyum bahagia.

Pak Joko dan Bu Lestari merasa sangat senang.

Mereka segera bersiap mengundang tokoh agama dan tetangga terdekat untuk hadir dalam acara sederhana itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!