NovelToon NovelToon
MERESET TAKDIR SUAMIKU

MERESET TAKDIR SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:72.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.

Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.

Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG MERAH YANG TERLEPAS.

Hari-hari berlalu bagai deru angin yang berkejaran, membawa kalender kian mendekat pada ambang batas yang paling mengerikan. Hari ini sudah tanggal 12 April. Artinya, hanya tersisa tiga hari lagi sebelum tanggal 15 April, hari terkutuk di mana kecelakaan maut itu merenggut nyawa Damar di masa lalu.

Sepanjang perjalanan menuju kampus pagi ini, kegelisahan Kirana sudah berada di titik puncaknya. Jemarinya terus meremas tali tas ranselnya hingga kuku-kuku jarinya memutih, sementara keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Damar yang sesekali melirik dari balik kemudi segera mengulurkan tangan kirinya, menggenggam jemari Kirana yang terasa sedingin es. "Kiran, tenangkan pikiranmu, Sayang. Lihat aku, aku ada di sini, sehat dan baik-baik saja. Apa yang sebenarnya sedang kamu takutkan, hm?"

Kirana menoleh, menatap wajah tegas suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Pikiran wanita itu sama sekali tidak bisa beralih dari visualisasi mengerikan tentang mobil yang hancur berantakan. Namun, saat tatapannya turun ke arah punggung tangan Damar, netra Kirana mendadak terpaku pada kilauan sebentuk cincin pernikahan yang melingkar kokoh di jari manis suaminya.

"Cincin itu!" batin Kirana berteriak seketika.

Ingatan masa lalu menghantamnya dengan keras. Di dalam kantong jenazah Damar pada tanggal 15 April yang pernah ia lewati, cincin itulah satu-satunya benda yang tersisa utuh di tubuh suaminya, seolah menjadi jangkar takdir maut yang mengikat pria itu pada kematian. Rasa panik yang irasional mendadak menguasai seluruh akal sehat Kirana.

"Kak, maksudku, Suamiku... tolong buka cincin itu. Buka sekarang juga, aku mohon," pinta Kirana dengan suara yang bergetar, bahkan napasnya mulai memburu.

Damar mengernyitkan dahinya bingung, perlahan menepikan mobilnya di tepi jalan raya yang tak jauh dari gerbang kampus. "Buka cincin pernikahan kita? Tapi kenapa, Kiran? Ada apa dengan cincin ini?"

"Aku mohon, buka saja, Sayang! Jangan banyak bertanya dulu, lepaskan cincin itu dari jarimu!" desak Kirana dengan nada yang mulai meninggi, air matanya kini meluncur bebas membasahi pipi.

Melihat kondisi psikologis istrinya yang tampak semakin lama semakin gelisah dan histeris, Damar akhirnya memilih untuk mengalah. Ia tidak ingin membuat Kirana semakin tertekan. Dengan perlahan, Damar memutar cincin emas putih berdesain elegan itu, lalu menariknya keluar dari jari manisnya.

Begitu cincin itu terlepas, terlihatlah perbedaan warna kulit yang cukup kontras di jari manis Damar. Kulit di bekas lingkar cincin itu tampak jauh lebih putih dan bersih, sebuah bukti nyata bahwa Damar memang tidak pernah sekali pun melepaskan simbol ikatan suci mereka sejak hari pernikahan dua tahun lalu.

Namun, tepat setelah cincin itu berpindah ke telapak tangan Kirana, perasaan Damar mendadak berubah menjadi sangat tidak enak. Dadanya terasa kosong, digelayuti oleh sebuah firasat buruk yang asing dan mengusik ketenangannya.

"Kiran, rasanya aneh sekali setelah cincin ini dibuka," ucap Damar dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. Ia kembali mengulurkan tangannya ke arah Kirana. "Tolong kembalikan cincinnya padaku, Sayang. Aku berjanji tidak akan pernah membukanya lagi setelah ini. Aku merasa tidak tenang jika tidak memakainya."

"Tidak boleh!" seru Kirana dengan tegas sembari langsung memasukkan cincin tersebut ke dalam bagian paling dalam dari tas ranselnya. "Untuk beberapa hari ke depan, Kak Damar tidak boleh memakai cincin ini lagi. Tolong turuti permintaanku kali ini saja."

Damar menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kecewa dan ketidaknyamanan yang bergejolak di dalam dadanya, namun melihat gurat trauma yang begitu pekat di wajah Kirana, sang CEO dingin itu akhirnya kembali mengembuskan napas pasrah. "Baiklah, kalau itu bisa membuatmu merasa lebih tenang hari ini."

Setelah ketegangan itu mereda dan mobil kembali melaju hingga berhenti tepat di depan gerbang kampus, Kirana segera menghapus sisa air matanya. Ia mencium punggung tangan Damar dengan takzim. "Kiran kuliah dulu ya, Suamiku. Hati-hati di jalan menuju kantor."

Damar hanya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan untuk menutupi perasaan tidak enaknya yang kian menebal.

Kirana turun dari mobil dan mulai melangkah berjalan memasuki gerbang kampus dengan perasaan yang sedikit lebih lega karena berhasil mengamankan cincin tersebut. Namun, baru beberapa meter ia melangkah menyusuri koridor taman depan yang sepi, sebuah tepukan kasar mendadak mendarat di pundak sebelah kanannya.

Kirana tersentak dan langsung membalikkan badannya. Detak jantungnya seketika mencelos ke dasar lambung saat melihat sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor namun berwajah ketus yang kini berdiri angkuh di hadapannya.

"Tante Mirna?" cicit Kirana. Wanita di depannya ini adalah ibu dari Rusiadi, tantenya sendiri yang selama ini selalu menutup mata atas penderitaannya.

"Bagus, kamu masih mengenali Tantemu sendiri, anak sialan!" desis Mirna dengan tatapan mata yang menghunjam penuh kebencian.

"Mau apa Tante datang ke kampusku?" tanya Kirana, memberanikan diri meski lututnya gemetaran.

Mirna maju selangkah, memangkas jarak di antara mereka hingga Kirana bisa mencium bau parfumnya yang menyengat. "Jangan berlagak bodoh, Kirana! Gara-gara kamu dan suami kayamu itu, anak laki-laki kebanggaanku, Rusiadi, sekarang harus mendekam di penjara bersama keluarga Pratama!"

"Itu adalah hukuman yang pantas untuk Kak Rusiadi, Tante! Dia sudah berbuat jahat dan mencoba mencelakai suamiku!" balas Kirana dengan suara bergetar.

"Cukup! Aku tidak butuh ceramahmu!" potong Mirna kejam. "Dengar baik-baik, Kirana. Aku beri kamu waktu dua hari. Temui suamimu, jalang kecil, dan paksa dia untuk mencabut semua tuntutan hukum serta mengeluarkan Rusiadi dari penjara saat ini juga!"

Kirana menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan penjahat seperti dia bebas!"

Mendengar penolakan itu, sebuah senyuman licik terukir di bibir Mirna. Ia merogoh tas tangannya, lalu menunjukkan sebuah kilasan layar ponsel di depan wajah Kirana.

"Oh ya? Kalau begitu, bersiaplah melihat video rekaman di mana kamu dilecehkan secara seksual dulu tersebar luas di seluruh media sosial!" ancam Mirna dengan nada kemenangan yang mutlak. "Kamu tahu apa artinya itu, kan? Nama baikmu akan hancur, dan yang paling penting, reputasi bisnis serta harga diri suamimu yang terhormat itu akan hancur lebur menjadi abu dalam semalam!"

Kirana membelalakkan matanya, tubuhnya seketika gemetar hebat. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini mendadak ditarik paksa ke permukaan. "Tante... jangan... aku mohon, jangan lakukan itu..."

"Dan ingat satu hal lagi, Kirana," bisik Mirna tepat di telinga Kirana, suaranya terdengar bagai bisikan iblis yang mematikan. "Jangan pernah berpikir untuk melaporkan pertemuan atau ancaman ini kepada suamimu yang arogan itu. Jika aku melihat ada pergerakan mencurigakan dari anak buah suamimu, aku tidak akan segan-segan menyuruh orang-orang bayaranku untuk menghabisi dan membunuh Damar di jalan raya!"

Deg!

Kata "membunuh Damar di jalan raya" seketika menghantam kesadaran Kirana seperti menghancurkan seluruh pertahanannya. Otaknya langsung mengaitkan ancaman Mirna dengan takdir maut tanggal 15 April yang sudah berada di depan mata.

"Ternyata... dalang di balik kecelakaan maut Kak Damar di masa lalu... adalah Tante Mirna?" batin Kirana menjerit histeris dalam keheningan yang mencekam.

Mirna menarik kembali tubuhnya, menatap puas pada wajah Kirana yang kini sudah sepucat mayat tanpa darah. "Dua hari, Kirana. Jika Rusiadi tidak keluar, bersiaplah menerima mayat suamimu atau kehancuran total rumah tanggamu. Pilihan ada di tanganmu."

Setelah mengucapkan kalimat kutukan itu, Mirna berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Kirana yang kini jatuh terduduk di atas rerumputan taman dengan air mata yang mengalir deras, terjebak di dalam labirin pilihan yang mematikan.

1
Tira Aneri
suuukaaa
my favorit
cerita nya mirip sama cerita weebtoon KK
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
nanti.anak2nya dijodohin thor
Aidil Kenzie Zie
sempat-sempatnya si Damar berbisik Resepnya Yang Mujarab 🤣🤣🤣
selamat y Ricko dan Susan🥰🥰
Ari Sawitri
heran kenapa di novel ngidam selalu aneh aneh pdhal kenyataan nya tdk seperti itu. terlalu lebay kenapa tdk yg natural aja .. jd enak baca nya ga usah terlalu dilebih lebih kan 🤨🤔
Ramanda.: Maaf kak, itu tidak berlebihan, karena memang ada fakta yang seperti itu. saya menulis insyaallah selalu sesuai fakta. rasa saya itu tidak berlebihan, karena adik iparku sendiri juga seperti itu loh. aneh-aneh pun banyak terkadang yang tidak masuk akal pun ada. tapi itulah kekuasaan Allah menunjukkan yang menurut kita tidak mungkin, tapi mungkin bagi Allah kak. semoga paham ya.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
udah bisa gombal si kulkas 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
anak baru sok-sokan ingin terlihat 🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
mertuamu mana Ricko🤔
Aidil Kenzie Zie
topcer Ricko "Operasi Bulan Madunya Sukses "karena Susan lagi masa suburnya selamat ya🥰🥰🥰🥰
Pujiastuti
jangan² susan hamil ni
Ari Sawitri
klu emang dr awal pengawal banyak kenapa nunggu smp ditusuk br mendekat bodyguard nya 😅😅 .. ini mah telat namanya
Ari Sawitri
rektorat ya maksudnya???
Aidil Kenzie Zie
akhirnya gol juga
Nanik Arifin
si robot es unboxingnya masih tahun depan Thor ?
Aidil Kenzie Zie
🤣🤣🤣apa Ricko nggak paham tentang Operasi Bulan Madunya 🤭🤭🤭
Indri Almaidar
hummm
Indri Almaidar
aneh benar
Indriani Kartini
malu2tapi mau 🤣🤣🤣
Radya Arynda
akhirnya,,,bebas dari mimpi buruk
Lia siti marlia
semoga kebahagiaan kalian di berkahi tuhan 🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!