Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 WISUDA
Pagi itu Dinar baru pulang dari salon, memakai kebaya biru soft dan kain batik, polesan Make up minimalis yang cantik.
"Wah Nanar cantik sekali" Puji Bik Ani.
"Makasih Bik, Bapak dan Dut sudah siap Bik? "
"Sudah Non, mereka di belakang habis sarapan"
"Oh ya ini undangan pegang ya Bik untuk masuk nanti"
"Baik Non, Jika tidak ada Papa datang menemani Dinar, Nanti Papanya Bobby yang akan menemani Dinar Bik untuk menerima penghargaan"
"Iya lebih baik begitu Non, kita tidak tahu Papa Non akan datang atau tidak, Non harus tetap kuat, kan ada Bibi, Bapak dan Iqbal"
"Iya Bik, InshaAllah Dinar sudah siap, Ayo kita berangkat nanti kita terjebak macet" Rombongan Dinar akhirnya berangkat menuju Aula dimana Dinar akan diwisuda secara serentak.
Hari masih sangat Pagi saat mereka sampai disana, Beberapa security dan para panitia sudah ada di Aula dari berbagai jurusan di Universitas itu. Kemarin Dinar sudah mengadakan gladi resik, jadi dia sudah tahu dimana posisi duduknya dan undangan.
"Cepat masuk Pak,Bibi, duduk tamu dibelakang takutnya nanti penuh" Dinar menyuruh Pak Sukri dan Bik Ani mengambil tempat duduk didalam Aula khusus tamu yang jumlah nya terbatas. Sementara Dinar sudah memiliki tempat duduk sesuai nomor lotnya.
"Dinar... " terdengar suara yang tidak asing lagi memanggilnya" Dinar menoleh kebelakang, dia melihat Bobby dan keluarganya disana, Dinar sudah mengenal keluarga Bobby dari SMA yang seorang pengusaha alat-alat kesehatan sedangkan Mama Bobby seorang dokter spesialis, Bobby memiliki seorang adik perempuan yang sudah duduk di kelas Dua SMA bernama Chairani.
Dinar bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri keluarga Bobby. Dinar memberi salam kepada Papi dan Mami serta adik Bobby.
'Nanti Papi akan tolong kamu. jika Papa kamu tidak datang kamu jangan kwatir ya, Bobby sudah menceritakan semua"
"Iya Pi Terima kasih" Mami Bobby kenal dengan Mama Dinar mereka dulu juga bersahabat dan bekerjasama saat Buk Bunga menjadi perawat dengan Mami Bobby, sampai Buk Bunga mengundurkan diri untuk focus merawat anak- anaknya.
Setelah bersalaman Dinar dan Bobby duduk di masing-masing bangku mereka sesuai lot mereka. Panitia nampak sibuk didepan Arena untuk menunggu guru Besar Dekan tertinggi. Dinar gelisah melihat Jam tangannya sebentar lagi pintu Aula akan ditutup dan para tamu yang tidak bisa masuk akan menunggu diluar.
"Assalamu'alaikum Pa, Papa dimana Dinar hari ini wisuda, kenapa Papa belum datang" Dinar mengirimkan pesan WhatsApp kepada Pak Rudiansyah, Namun pesan tersebut centang satu, Dinar berusaha menelpon Papanya tapi Handphone itu mati, Dinar kembali menghubungi nomor keluarga juga sama mati. Dinar berusaha sabar dan dadanya mulai sesak ketika Para panitia sudah mulai berkumpul didepan menyambut Guru besar.
"Hadiri para wisuda dan wisudawati dimohon untuk berdiri guru besar akan memasuki ruangan" Musik pun mulai berbunyi tanda Guru besar sudah diluar. Panitia pun menutup jalan ditengah Aula, beberapa saat kemudian Guru besar, dekan , dosen dan para Staf memasuki ruangan aula, rombongan itu cukup panjang dan masing-masing nya telah memiliki tempat duduknya masing-masing. beberapa menit kemudian guru besar dekan dan dosen jurusan telah hadir didepan.
"Hadiri dipersilakan duduk" MC sebagai komando telah memulai rangkaian acaranya. Pintu Aula pun ditutup oleh para petugas dalam artian tidak ada seorangpun yang bisa masuk atau keluar lagi dari Aula tersebut. Saat itu ada kepedihan dihatiku, Papa tidak datang, aku menahan tangis terdalam dihatiku dengan gemetar agar airmataku tidak jatuh saat semua orang dalam kegembiraan dan khusuk mengikuti setiap rangkaian kegiatan acara.
Semetara di kantor dimana Pak Rudiansyah sudah datang pagi sekali, duduk di kursi jabatannya dipandanginya undangan wisuda Putrinya diatas meja, batinnya berperang, hari ini putri tertuanya wisuda moment yang sudah lama ditunggunya ketika istrinya masih hidup.
Ingatan candaan-candaan mereka berdua dimeja makan saat Dinar menghayal akan wisuda mendapat nilai tertinggi kedua orangtuanya akan naik di pentas dan menerima Piagam penghargaan. "Papa dan Mama jangan lupa hadir nanti kalau Dinar meraih wisudawati terbaik, Papa dan Mama akan naik di panggung untuk menerima penghargaan dan kita akan berphoto bersama dengan Guru besar"
"Memang Dinar nyakin akan menjadi terbaik" canda Pak Rudiansyah kepada putrinya.
"Tentu dong Pa, Dinar akan berjuang sampai ke titik darah penghabisan supaya Papa dan Mama bangga kepada putrinya." bayangan masa lalu ketika itu muncul di otak Pak Rudiansyah dan hari ini putrinya membuktikan perkataan nya itu.
Kemudian Bayangan lain muncul saat semalam dia bertengkar hebat dengan Meta, untuk meminta izin menghadiri wisuda Dinar. "Mas jangan sampai menghadiri acara itu, jika Mas hadir sama saja Mas melukai perasaan ku, gara-gara Mas aku tidak bisa melanjutkan kuliah ku karena hamil, seharusnya aku sudah diwisuda juga bersama putrimu itu, kini semua orang sudah tahu aku menikah dan suamiku kaya dia melarang aku untuk kuliah lagi, tapi nyatanya apa aku dibenci putrimu itu. Kini Mas enak-enakkan mau pergi kesana menunjukan kebahagiaan dan kebanggaan bahwa ini putri Mas wisudawati peraih nilai tertinggi"
"Dia anakku Meta, bagaimanapun dia putriku, bagimana perasaan nya jika namanya dipanggil tapi dia sebatang kara disana sementara Mamanya sudah tiada hanya punya Papa dan apa kata orang nanti yang mengenal aku adalah ayahnya tidak menghadiri wisuda anaknya sendiri sementara Papanya pejabat yang dikenal."
"Aku tidak perduli pokoknya Mas jangan sampai hadir, aku tidak rela aku akan pergi jika Mas sampai tidak mengindahkan perkataanku, aku akan pegang Handphone Mas, besok Mas pergi kerja tidak membawa Handphone jadi si Dinar itu tidak akan bisa menghubungi Mas" ingatan dan bayangan antara Anaknya, istrinya Bunga dan Meta berkecamuk dipikirannya, bisikan halus muncul di telinganya seperti suara Bunga istrinya. "Mas Rudi kasihan anak kita, jangan permalukan dia, dia amanat Tuhan untuk kita, jangan sia-siakan dia, yang membuat dia sedih dan benci kepadamu seumur hidup nanti Mas, dia darah dagingmu Mas"
Suara halus itu menyentakkan hati Pak Rudiansyah, airmatanya keluar dari pelipisnya. "Bunga....kamu dimana" Pak Rudiansyah histeris memanggil nama istrinya, tiba-tiba dia mengambil undangan wisuda Dinar dan pergi ke parkiran dengan kencang dia melajukan mobilnya, hatinya berdebar. "Ya Allah izinkan aku melihat putriku, kasihan dia aku tak bisa memberi rasa malu kepada dirinya karena dia adalah cerminan kehidupan ku"
Lebih kurang lima belas menit Pak Rudiansyah sampai ke kampus Dinar, namun dimana-mana macet dan akhirnya dia meninggalkan mobilnya diparkiran dan berlari sekuat tenaga menuju Aula dimana acara wisuda berlangsung.
Acara pembukaan dan penyambutan demi penyambutan telah usai, MC pun memulai acara lanjutannya ke acara puncak "kini saat nya pengumuman wisudawan dan wisudawati terbaik dari seluruh jurusan yang ada di Universitas pada tahun ini yang terdiri dari Tujuh Universitas dengan jumlah Dua Ratus Enam belas jurusan, maka secara keseluruhan peserta wisudawan dan wisudawati semester genap tahun ini yang dinyatakan lulus berjumlah Seribu Dua Ratus Dua Puluh Satu orang"
"Dengan ini menyatakan dari Seribu Dua Ratus Dua Puluh Satu orang mahasiswa, maka akan kami umumkan Sepuluh Rengking tertinggi Wisudawan atau wisudawati terbaik dari seluruh peserta wisudawan atau wisudawati pada tahun ini"
Disisi lain Pak Rudiansyah yang sudah sampai ke pintu Aula yang tertutup, memohon kepada petugas agar dia bisa masuk. karena nama anaknya Dinar akan dipanggil hari ini sebagai wisudawati terbaik. "Tolong Nak anak saya akan tampil. di panggung dan saya Ayahnya, ini kartu nama saya,"
"Tapi Pak apa benar anak Bapak akan naik diatas panggung, maaf saya harus adil karena banyak. yang ingin menyaksikan acara ini tapi mereka bohong supaya bisa masuk"
"Saya benar Nak silakan nama anak saya akan dipanggil"
"Baiklah diharapkan para wisudawan atau Wisudawati bersiap untuk Sepuluh kategori mahasiswa terbaik tahun ini dimulai dengan Juara umum kategori terbaik satu dengan nilai kumulatif tertinggi di raih oleh Dinar Mahasiswa Jurusan Management Bisnis dengan Ayah bernama Bapak Rudiansyah,M.Sc dan Ibu bernama Bunga Putri Jayanti Almarhumah Kepada Dinar dipersilakan naik diatas panggung ditemani Ayah tercinta atau mewakili. Dinar hanya terdiam terpaku di tempat duduknya air matanya mulai keluar.
"Kami Persilahkan kepada Dinar dengan lot urutan Satu untuk maju keatas panggung"
"Dengar itu nama anak. saya tolong izinkan saya masukkkk anak saya menunggu Saya, Pak Rudiansyah. menerobos security tersebut. "Pak.... jangan merusak. acara" Security mengejar Pak Rudiansyah yang setengah berlari.
"Dinar.... hallo... saudari Dinar silakan naik keatas panggung, Panitia menghampiri Dinar yang sedang menangis meluapkan kepedihannya, teringat kepada Papanya yang tega kepadanya.
"Ayo Dinar kamu sudah dipanggil ucap panitia " Tiba-tiba muncul Papi dan Mami Bobby menghampiri Dinar. "Biar Om dan tante mewakili Papa kamu" Dinar bangkit dan menghapus airmatanya, semua mulai bertanya-tanya kenapa dengan Dinar. Semua yang hadir paham bahwa Papanya tidak hadir.
"Dinar..... Dinar... Tiba-tiba Pak Rudiansyah yang terengah-engah memanggil namanya, Dinar menoleh kebelakang. " Papa.... Papa datang..? " Semua melihat kearah pak Rudiansyah yang masih mengatur nafasnya.
"Maafkan Papa Nak, Papa terlambat, Terima kasih Bang sudah menolong putriku" Papi Bobby menepuk bahu Pak Rudiansyah yang sudah saling kenal. "Jagalah harga diri putriku saat semua menatapnya dengan kebanggaan karena tidak semua orang seberuntung dirimu menjadi Ayah sang juara umum dari beribu peserta"
Pak Rudiansyah terpaku dengan ucapan Papi Bobby yang bermakna tapi tajam. Pak Rudiansyah memeluk putrinya "Selamat sayang Papa bangga denganmu".
"Terima kasih Pa" Dinar memegangi tangan Papanya, semua orang bertepuk tangan melihat keharuan itu, akhirnya dengan kebanggaan Toga Dinar berpindah posisi dan sah kini mendapatkan gelarnya, Piagam dan sertifikat tertinggi pun diberikan, Buket bunga yang wangi pun dipegangnya. "Kak Dinar..... " terdengar Dut memanggil kakaknya, semua orang menyuruh Dut turun, Dut pun turun menghampiri kakaknya, Guru besar pun terharu melihat keluarga itu yang baru tahu bahwa ibunya Dinar meninggal beberapa bulan karena keracunan"
"Jadilah anak sukses Ya mahasiswa ku, ucap Guru besar" Setelah serah Terima penghargaan Dinar pun diminta berpidato. Dengan airmata yang sedikit dia tahan agar suaranya tidak hilang saat pidato sekaligus mewakili seluruh mahasiswa Dinar pun memulai pidatonya.
"Assalamualaikum Guru besar dan para dosen kami, serta para teman sejawat yang sama-sama dilantik. Hari ini saya berdiri disini tidaklah mudah, sampai pada pencapaian tahap ini begitu banyak perjuangan saya, dari perjalanan saya menyelesaikan skripsi, saya diuji dengan meninggalnya Mama saya secara mendadak, sejak saat itu berbagai masalah keluarga muncul yang memecahkan focus dan konsentrasi saya, tapi saya percaya setiap ujian pasti ada hikmahnya setiap perjuangan pasti ada hasilnya terimakasih Papa, Mama disana, kini Dinar sudah lulus seperti mimpi Dinar dulu bisa menjadi yang terbaik bagi Papa dan Mama serta Nusa dan Bangsa. kerikil pasti ada tapi dengan. luka saya mencoba bangkit demi amanah yang sudah saya dapat hari ini saya akan berjuang menjadi yang terbaik nantinya ditengah masyarakat. Assalamu'alaikum.
Semua bertepuk tangan atas pidato Dinar yang singkat tapi menjadi inspirasi bagi kaumnya yang dihadang badai serupa, tapi berusaha bangkit dalam lukanya. Merekapun berphoto bersama dan diliput TV dan media sosial. Bobby nampak terharu melihat kekasihnya akhirnya bisa tersenyum bahagia, Bobby yang juga ada dalam urutan Sepuluh besar diposisi Tujuh juga memberikan kebanggaan bagi keluarganya.
Pak Rudiansyah pun menghadiri wisuda putrinya sampai akhir, selain di aula umum, dikampus jurusan Dinar pun memiliki acara tersendiri. Sekali lagi Dinar dikalungkan medali, jurusan Dinar nampak bangga atas prestasi Dinar dan Pak Rudiansyah diminta memberi kata sambutan perwakilan orang tua, Dengan Pidatonya Pak Rudiansyah nampak. bangga atas prestasi putrinya dan berharap akan diikuti oleh adik adik tingkat Dinar nantinya. Setelah setiap momen mereka lakukan akhirnya mereka berphoto bersama Pak Rudiansyah, Dut dan Dinar serta dilanjutkan photo yang mengikuti Pak Sukri dan Bik Ani yang sudah mereka anggap keluarga sendiri.
Setelah menjelang Sore Pak Rudiansyah Pamit untuk kembali kekantor dan meninggalkan Dinar acara bersama teman-temannya. "Terima kasih Pa, sudah datang untuk Dinar".
"Jaga dirimu baik-baik dan Iqbal ya, Pak Sukri saya titip anak-anak saya kepada Bapak dan Bik Ani" Pak Sukri mengangguk, Dinar memeluk Papanya begitu juga Dut, Dut dicium oleh Pak Rudiansyah kedua anak yang disayanginya. Akhirnya Pak Rudiansyah pun pergi dengan beban yang lepas, bayangan istrinya Bunga nampak tersenyum di hadapannya, walau selanjutnya entah apa yang terjadi dirumah nantinya dia siap menghadapinya.
Hubungan darah mungkin bisa terpecah oleh orang lain, tapi kekuatan darah itu pula yang akan bisa mengubah apapun, karena ikatan batin yang tak bisa dipisahkan oleh apapun, walau mungkin tidak sejalan ikatan rasa dan hati membuat semua bisa kembali baik. Inilah yang dirasakan oleh Pak Rudiansyah anaknya, darah dagingnya walau tak sejalan dengan perbuatanya, kemarahan dan dendam akhirnya luntur dengan rasa tulus dan kebaikan bunga istrinya yang sempat hadir mengingatkannya.