"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tanah Kota
Gema suara sintetis dari pengeras suara tua itu perlahan memudar, meninggalkan keheningan pekat yang mencengkeram.
Suara desis gas pendingin mulai tersembur keluar dari empat sudut ventilasi di langit-langit gudang.
"N-Nio... napasku... dingin banget..." rintih Nora gemetar hebat sambil meremas ujung jaket Nio.
"Tenang. Panik cuma membakar sisa oksigen di paru-paru lu," sahut Nio tenang, tanpa sedikit pun keraguan.
Nio melangkah santai menuju panel transmisi utama di balik rak peladen hitam yang berkedip biru.
Jemari tangannya yang berada di balik saku meraba tekstur halus kertas kosong, memastikan fokusnya tetap utuh.
'Cih! Zero pikir trik kamar es murah ini bisa bikin otak gue membeku?!' batin Nio menggeram.
Kael menghantamkan linggisnya ke engsel pintu baja dengan sekuat tenaga hingga memercikkan bunga api.
"Argh!! Sialan! Pintu baja ini dilas dua lapis dari luar!" umpat Kael terengah-engah dengan napas beruap.
"Gak usah buang tenaga untuk merusak pintu, Paman. Jalur keluar kita bukan di sana," sela Nio datar.
"H-hah?! L-lalu kita keluar lewat mana, Nio?!" tanya Nora panik dengan bibir yang mulai membiru.
Nio menunjuk saluran pembuangan pendingin berukuran setengah meter di bagian bawah rak peladen.
"Lorong kabel bawah tanah kota. Pipa ini terhubung langsung ke jaringan server relay tua," jawab Nio.
"T-tapi celah itu sempit banget... d-dan gelap..." bisik Nora ragu sambil menekurkan kepalanya.
Nio mencengkeram lembut dagu Nora, menatap matanya dengan kepemimpinan dingin yang memikat sekaligus dominan.
"Pilih merayap di lorong sempit sama gue, atau membeku jadi patung es di sini?" tantang Nio rendah.
"Ngh... i-iya Nio... aku ikuti kamu... aku mau merayap..." sahut Nora pasrah, menyerahkan seluruh tubuhnya.
Nio tersenyum tipis, lalu menendang kisi-kisi besi pipa pembuangan hingga terlepas ke dasar lorong.
Nio menembus celah tersebut lebih dulu, disikuti oleh Nora yang merangkak pasrah dan Kael di barisan belakang.
Udara lorong kabel di bawah tanah terasa jauh lebih hangat, meski tercium aroma kimiawi cair yang sangat menyengat.
Pendar merah dari lampu darurat bawah tanah memantulkan dinding beton tua yang dipenuhi jaringan serat optik.
"Nio... bau cairan apa ini? Menyengat sekali sampai hidungku perih," keluh Kael mengusap hidungnya.
"Asam sulfat pekat. Seseorang baru saja melebur bahan kimiawi di lorong ini," tebak Nio tajam.
Langkah sepatu mereka berbunyi teratur menembus remang-remang lorong kabel yang berdebu.
Nio mendadak berhenti di sebuah persimpangan beton yang diterangi lampu gantung berkedip-kedip.
Di tengah ruangan bawah tanah itu, tergeletak tumpukan rak besi yang telah bengkok dan meleleh.
Ratusan harddisk lama menumpuk di atas lantai, sebagian besar telah hancur luluh meleleh oleh cairan kimia.
"Astaga... apa yang terjadi di sini?!" pekik Nora menutup mulutnya akibat keterkejutan hebat.
"Ini pemancar sinyal relay milik Zero. Dia sengaja membakar fasilitas ini," gumam Nio mendekati tumpukan.
'Cepat sekali bajingan itu bergerak. Dia melenyapkan bukti fisik sebelum gue sempat mengekstraknya,' batin Nio.
Kael berlutut di sebelah tumpukan lelehan komputasi tersebut lalu menusuknya menggunakan ujung linggis.
"Semuanya hancur total, Nio. Tidak ada pelat magnetik yang tersisa di dalam lelehan besi ini," ujar Kael.
"Tidak semuanya. Zero memakai teknik penghancuran standar industri, bukan protokol militer," balas Nio.
Nio mengamati sudut celah rak besi yang belum sepenuhnya tersiram cairan asam sulfat.
Sebuah drive peladen mini berukuran dua inci terselip di antara rongga besi yang terbakar separuh.
"Nora, ambilkan penjepit besi di dalam tas Kael. Cepat," perintah Nio tanpa menoleh.
"I-iya, Nio! Ini penjepitnya!" sahut Nora sigap, menyodorkan alat tersebut dengan cengkeraman gemetar.
Nio menarik drive peladen tersebut dengan sangat hati-hati agar lelehan plastik di sekitarnya tidak merusak sirkuit.
Meskipun casing luarnya gosong parah, lampu indikator kecil di sudut drive itu mendadak berkedip merah samar.
"Masih ada residu daya yang tersisa dari kapasitor internalnya," gumam Nio terkesima.
"A-apa data di dalamnya masih bisa diselamatkan, Nio?!" tanya Nora penuh harapan yang membumbung tinggi.
Nio mengambil laptop mini dari balik jaketnya lalu menghubungkan pin drive tersebut menggunakan transmiter nirkabel.
"Gue perlu melakukan rekonstruksi parsial. Kalau sirkuit memorinya belum cair, datanya bisa dibaca," jelas Nio.
Layar monitor kecil itu menyala terang, memunculkan baris perintah komputasi tingkat tinggi yang berjalan otomatis.
Pendar biru dari layar menyinari raut wajah Nio yang begitu fokus, memancarkan aura ketenangan luar biasa.
Nora berdiri terpaku di samping Nio, matanya tidak bisa lepas dari ketegasan garis wajah pria di sebelahnya.
'Dalam kegelapan bawah tanah seperti ini... dia terlihat seperti satu-satunya tumpuan hidupku,' batin Nora kagum.
Bip! Bip!
Layar monitor Nio menampilkan direktori berkas tersembunyi yang dilindungi oleh dua belas lapis enkripsi acak.
"Ketemu. Ini direktori log transaksi penghapusan eksistensi korban," desis Nio tersenyum sinis.
"A-apa ada nama adiku di dalam sana, Nio?! Tolong periksa nama Milo!!" rintih Nora memohon.
"Sabar. Kalau gue terburu-buru, enkripsi penyapu otomatis milik Zero bakal aktif dan membakar drive ini," pangkas Nio.
Nora membendung napasnya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya sambil menunduk tunduk di samping Nio.
"M-maaf... aku tidak akan memotong lagi... lakukan sesukamu, Nio..." bisik Nora pasrah.
'Wanita ini makin paham cara bersikap di depan gue,' batin Nio puas melihat kepatuhan Nora.
Jemari Nio menari cepat menembus pertahanan algoritma pertama hingga lapis kedelapan tanpa preseden.
Struktur enkripsi Zero kembali menunjukkan pola logika lama yang sangat dihafal oleh ingatan batin Nio.
"Konstruksi variabelnya selalu sama. Dia tidak pernah mengubah logika dasar yang pernah gue ciptakan," gumam Nio.
"Maksudmu... Zero cuma meniru caramu mengunci data?" tanya Kael mengamati dari belakang.
"Dia bukan cuma meniru, Paman. Dia hidup di dalam bayang-bayang logika yang gue tinggalkan di masa lalu," jawab Nio.
Satu per satu kunci enkripsi terbuka, memunculkan ribuan baris nama-nama korban yang telah tereliminasi dari dunia.
Di antara deretan nama tersebut, sebuah nama terpampang jelas dengan penanda :
target_id: MILO_ROSS
status: pending_deletion
location_anchor: Sector_09_Substation_0
9_Substation
"Milo!! Itu nama adikku!! Dia masih hidup, Nio!!" histeris Nora menunjuk layar monitor dengan deru napas memburu.
"Eksistensinya belum terhapus total. Dia cuma diisolasi di pemancar stasiun induk Sektor Sembilan," jelas Nio.
"Kita harus ke sana sekarang juga sebelum Zero menuntaskan proses penghapusannya!" pangkas Kael tegas.
Nio mencabut drive mini tersebut lalu menutup laptopnya dengan gerakan satset dan efisien.
"Tenang. Stasiun induk Sektor Sembilan adalah benteng utama jaringan kota. Kita tidak bisa asal menerobos," sahut Nio.
"T-tapi Nio... kalau Milo diisolasi di sana... adikku pasti sangat ketakutan..." rintih Nora merapat pada dada Nio.
Nio menepuk bahu Nora pelan, memberikan sentuhan dominan yang menenangkan gejolak emosi cewek itu.
"Adikmu tidak akan hilang selama gue masih memegang kendali atas kunci logika ini," janji Nio dingin.
"Ngh... i-iya Nio... aku percaya sepenuhnya padamu..." sahut Nora menatap Nio dengan kepatuhan mutlak.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah menuju lorong keluar, gema langkah sepatu boots berat terdengar mendekat.
Pendar lampu senter taktis menyapu kegelapan lorong kabel bawah tanah dari dua arah yang berbeda.
"Serahkan drive peladen itu, atau eksistensi kalian bertiga akan dicabut di tempat ini!" teriak sebuah suara berat.