NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 PUJIAN PERTAMA

Lian menarik kasar dasi yang melekat di lehernya sejak tadi. Dua kancing atas kemejanya sudah terlepas saat ia memasuki ruang tamu yang di penuhi aroma gurih kuah kaldu.

Kedua alis Lian bertautan, rahangnya seketika mengeras menyangka bahwa Elena kembali datang padahal ia sudah memperingatkan wanita itu untuk tidak mendatangi apartemennya. Lian melempar jasnya ke sofa begitu saja lalu bergegas menuju dapur.

"Aku sudah bilang ja—"

Esther yang tengah berdiri di depan kompor menoleh dengan tatapan bingung. "Kak Lian... Ada apa? Kau bilang apa?"

Lian mematung. Namun matanya bergerak menatap Esther dari atas sampai bawah, melihat bagaimana apron hitam yang kekecilan di tubuhnya itu justru begitu kedodoran ketika di gunakan oleh Esther yang masih menatapnya bingung. Rambutnya berantakan dan bagian depannya menempel di dahinya.

Lian berdeham lalu berjalan mendekat. "Kau... Masak?" tanyanya dengan suara pelan. "Kenapa?"

Esther terdiam beberapa detik. Tidak mungkin kan ia bilang bahwa ia belajar masak supaya pria itu memujinya.

"Itu... " Kedua mata Esther menatap langit-langit seolah tempat itu bisa memberinya jawaban logis.

"Apa?"

"Esther lapar kak," jawabnya cepat. Padahal beberapa jam yang lalu ia sudah makan cukup banyak bersama Giselle. "Tapi tidak ada makanan yang cocok, makanya aku coba memasak siapa tahu masakanku sendiri cocok."

Lian mengangguk paham lalu mendekat hingga jarak mereka menipis karena pria itu mendekati kompor. "Apa yang kau masak?"

"Sayur sop."

Ini percobaan kedua Esther memasaknya karena sayur pertama rasanya sangat aneh hingga ia harus membuangnya lalu pergi ke minimarket untuk membeli bahan baru dan membuatnya lagi.

"Oh.. " Lian menarik laci, mengambil sendok lalu mengaduk sayur yang mendidih di panci itu sebelum akhirnya ia menuangkan sedikit kuah ke sendok untuk ia cicipi.

"Kau mau apa ka?" Esther menahan tangan Lian sebelum bibir pria itu menyentuh sendok dan merasakan masakannya yang bahkan Esther sendiri belum tahu rasanya karena ia belum mencobanya.

"Mencobanya, kenapa?"

"Jangan dicoba."

Alis Lian terangkat. "Kenapa?"

"Esther... " Esther menunduk sekilas sebelum kembali menatap Lian. "... Esther belum menambahkan bumbu."

"Benarkah? Padahal sudah wangi." gumam Lian lalu memasukan sendok itu ke dalam mulutnya tanpa berpikir. Seketika raut wajahnya berubah. Ia menatap ke arah Esther dengan tatapan yang sulit wanita itu artikan.

Esther menelan ludahnya susah payah lalu menunduk. "Aku tahu rasanya tidak seenak buatan Elena," gumamnya pelan lalu melangkah pergi.

Namun Lian menahan tangannya hingga membuat langkah Esther berhenti dan menoleh.

"Kau sudah mencoba masakanmu?" tanya Lian.

Esther menatap jari Lian yang masih menahan tangannya lalu menggeleng pelan.

"Lalu kenapa kau bilang tidak enak?"

Lian melepaskan tangannya lalu memberikan sendok berisi kuah yang masih mengepulkan uap panas itu pada Esther. "Cobalah masakanmu sendiri sebelum berkomentar."

Sebelum Esther menyeruput kuah dari sendok itu, Lian tiba-tiba menariknya menjauh hingga membuat pandangan Esther mengikuti gerakannya. Ternyata pria itu meniupnya dulu sebelum akhirnya kembali memberikan pada Esther.

"Bagaimana?"

Esther menatap Lian setelah ia mencicipi kuah itu. Rasanya memang tidak separah masakannya yang pertama. Tapi ia merasa ada sesuatu yang kurang dengan rasa sayur itu namun tidak tahu apa itu.

"Rasanya seperti ada yang kurang, tapi aku tidak tahu apa itu."

Lian mengambil bumbu, memasukannya beberapa sendok, lalu kembali menyicipi lagi setelah mengaduknya. Kini pria itu melakukan hal yang sama. Meniup kuah itu lalu memberikannya pada Esther.

"Bagaimana sekarang?"

Esther berpikir beberapa detik lalu tersenyum. "Enak, apa yang kau masukan ke dalam supnya kak?"

"Kaldu dan sedikit garam." jawabnya, "Aku suka makanan yang gurih di bandingkan makanan manis." lanjutnya.

Esther menatap wajah Lian itu dari samping. Akhirnya ia tahu sesuatu tentang suaminya selain pria itu sangat menyukai kebersihan.

"Kalau begitu kau ambil mangkuk kita makan sekarang."

Esther mengangguk dan mengambil dua mangkuk bersama sendok ke meja makan yang sudah ia rapikan sementara Lian mengangkat panci dan membawanya ke tengah meja makan.

Lian menatap Esther yang tengah menyangga dagunya lalu melirik mangkuk Esther yang masih kosong. "Kenapa kau tidak makan? Bukannya kau bilang kau lapar?"

"Aku mendadak kenyang, kak." katanya.

Lian langsung bangkit mengambil mangkuk Esther yang masih kosong dan mengisinya dengan penuh. "Makanlah pelan-pelan," katanya seraya menyimpan mangkuk itu di hadapan Esther. "Aku tadi bertemu Arash dan dia memarahiku karena kau terlihat kurus semenjak tinggal denganku."

Esther melirik Lian yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dengan terpaksa ia meraih sendok itu, menikmati makan malam dengan sangat malas karena ia sudah kenyang.

...*****...

Setelah selesai makan Esther duduk bersandar lemah di kursi. Rasanya perutnya akan meledak karena kekenyangan. Lian terus memaksanya untuk menghabiskan sup yang ada di mangkuk meskipun Esther sudah berulang kali menolaknya. Dan kini pria itu tengah berdiri di depan wastafel mencuci alat makan bekas mereka.

"Aku sepertinya tidak bisa jalan karena kekenyangan," keluh Esther.

Lian mengibaskan tangannya beberapa kali sebelum ia keringkan dengan tisu.

"Tidurlah di kamar, jangan di sini," ujar Lian. "Aku akan membersihkan rumah."

"Aku tidak bisa tidur jika kekenyangan seperti ini, kak," Esther menatap Lian yang berdiri tegak di depannya.

Huek.

Tubuhnya terhentak saat rasa mual kambali menerjang membuat Esther refleks menutup mulutnya.

"Bangun. Jangan muntah disini," Lian membantu Esther untuk bangkit lalu memegangi bahu Esther.

"Sepertinya aku harus jalan-jalan sebentar supaya tidak kekenyangan." lirihnya pelan seraya bersendawa kecil.

"Besok saja kau jalan-jalannya, Aku lelah."

"Tidak apa-apa, aku jalan sendiri saja." katanya. "Lagipula aku tidak akan berjalan jauh dari apartemen." lanjutnya lalu berjalan pelan untuk mengambil mantel.

"Kau yakin?" tanya Lain lagi.

Esther mengangguk, lalu melangkah keluar dari apartemen.

Sebelum berjalan-jalan Esther lebih dulu mencari security yang waktu pernah memberinya mantel saat ia terkunci di luar waktu itu. "Ini saya mau mengembalikan jaket yang di pinjamkan oleh bapak waktu itu," ucap Esther.

"Jaket?" security itu mengeryit bingung. "Oh, itu bukan jaket saya nona, seseorang menyuruh saya untuk memberikannya pada nona."

"Seseorang? Siapa?"

"Entahlah, saya lupa wajahnya karena dia bukan penghuni apartemen ini." jelas security itu.

"Oh, kalau begitu jika kalian bertemu lagi tolong kembalikan jaket ini dan sampaikan ucapan terima kasih saya padanya."

"Baik, nona."

Esther kembali melanjutkan niatnya untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen. Udara malam itu begitu dingin hingga membuat tubuhnya yang sudah mengenakan mantel tetap menggigil kedinginan. Uap tipis mengepul dari hidungnya saat ia berdiri di bawah lampu jalan.

"Sepertinya menyenangkan jalan-jalan bersama papamu saat perut mama sudah besar." gumam Esther sambil terkekeh kecil.

...*****...

Cukup lama Esther menghabiskan waktu jalan-jalan di luar dan kini ia memilih kembali karena tangannya sudah membeku kedinginan. Esther meniup tangannya setelah ia menggosok-gosoknya sambil menunggu pintu lift terbuka.

Ting.

Esther melangkah keluar saat pintu lift terbuka dan bersamaan dengan itu seseorang masuk terburu hingga menabrak bahunya dengan keras.

"Aw!"

Esther menoleh dan seketika terkejut saat melihat siapa yang sudah menabraknya.

"Joshua?" gumam Esther tak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku? Aku baru pindah ke sini," katanya sambil tersenyum hangat seperti biasa. "Kau sendiri kenapa ada di sini? Apa kau juga tinggal di sini setelah menikah?"

Esther tersenyum kaku lalu mengangguk. "Iya, aku tinggal di sini sekarang."

"Di lantai ini juga?"

Esther mengangguk.

"Oh... Kebetulan sekali," katanya tanpa sedikitpun senyuman di wajahnya pudar. "Oh iya, selamat atas pernikahanmu, Esther."

"Terima kasih."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!