Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaisar Mulai Curiga, "Kenapa Selir Ini Gak Nangis Lagi?"
Pagi hari di lingkungan Istana Dingin dimulai dengan pemandangan yang sangat tidak estetis bagi standar protokoler kekaisaran yang ketat.
Alara, dengan rambut yang dicepol asal-asalan menggunakan sebatang ranting pohon mawar kering, sedang duduk bersila di atas undakan batu paviliunnya yang sudah retak-retak dan ditumbuhi lumut. Di kedua tangannya, ada sisa tulang ayam panggang semalam yang sedang dia bersihkan sampai ke sumsum terakhirnya dengan penuh khidmat.
"Gusti... Selir... Anda benar-benar nekat tingkat dewa," Lily berjalan mondar-mandir di depan Alara seperti setrikaan panas yang tak kunjung dingin. Wajah pelayan kecil itu pucat pasi, dan lingkaran hitam di bawah matanya menegaskan kalau semalaman dia tidak bisa tidur sedetik pun karena membayangkan kepala mereka berdua akan dipajang di gerbang kota pagi ini. "Bagaimana kalau Yang Mulia Kaisar mengirim sepasukan algojo pembantai pagi ini?"
"Tenang, Lily. Tarik napas dalam-dalam, embuskan," sahut Alara santai sembari mengunyah bagian tulang muda ayam dengan bunyi *kriuk* yang renyah. "Cowok modelan Kaisar lu itu, tipikal cowok *tsundere* gengsian. Dia gak bakal kirim algojo cuma gara-gara urusan satu ekor ayam. Paling banter dia bakal..."
"YANG MULIA KAISAR MEMASUKI ISTANA DINGIN!"
Lengkingan suara Kasim Wen yang melengking tinggi dari arah gerbang depan langsung memotong kalimat Alara dengan telak.
Lily sukses memekik kecil, matanya membelalak, dan tubuhnya langsung tiarap di atas tanah dengan posisi sujud tobat yang sangat dramatis. Sementara Alara? Dia cuma berkedip tenang, buru-buru menelan sisa kunyahannya, dan dengan gerakan santai menyembunyikan sisa tulang ayam ke dalam pot tanaman mati yang ada di dekat undakan batu tempat duduknya.
*‘Panjang umur juga itu kulkas dua pintu berjalan,’* batin Alara sembari mengelap tangannya ke kain baju.
Rombongan Kaisar melangkah masuk ke halaman Istana Dingin yang gersang. Kaivan berjalan di barisan paling depan, mengenakan jubah harian berwarna biru tua berbordir awan perak yang membuatnya terlihat luar biasa gagah dan berwibawa. Wajahnya datar, dingin, tanpa ekspresi sedikit pun—seolah-olah dia sedang menghadiri upacara pemakaman kenegaraan, bukan sedang mengunjungi selirnya sendiri. Di belakangnya, Kasim Wen dan empat prajurit berwajah sangar mengikuti dengan langkah kaki yang tegap berirama.
Kaivan menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Alara yang masih duduk santai. Matanya yang tajam bak mata elang langsung memindai penampilan Alara dari atas sampai bawah. Penampilan yang... jauh dari kata anggun untuk seorang wanita bangsawan.
"Alara Villin," suara Kaivan menggema di halaman sunyi itu, terdengar sangat dingin dan penuh intimidasi yang sanggup membuat nyali pelayan biasa ciut. "Kau tidak memberikan salam hormat yang sesuai saat melihat penguasa tertinggi kekaisaran ini? Apakah kau sudah bosan memiliki kepala di pundakmu?"
Alara menghela napas malas, merasa ritual salam-salaman ini sangat tidak efisien. Dia bangkit berdiri perlahan, lalu melakukan gerakan *curtsey* (salam hormat wanita istana) yang super asal-asalan—lebih mirip gerakan orang yang sedang melakukan posisi *squat jump* di tempat kebugaran modern.
"Salam hangat untuk Suamiku yang terhormat dan agung. Semoga panjang umur, murah rezeki, dan tidak pelit lagi," ucap Alara dengan nada datar yang dibuat-buat seolah sedang membaca teks proklamasi.
Kasim Wen langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar panggilan "Suamiku" yang diucapkan dengan nada sekurang-ajar dan seberani itu di depan publik. "S-Selir Alara! Lancang sekali Anda! Jaga ucapan dan lidah Anda di depan Yang Mulia Kaisar!"
Kaivan mengangkat satu tangannya ke udara, sebuah isyarat mutlak yang membuat Kasim Wen langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Tatapan Kaisar es itu kini terkunci sepenuhnya pada wajah Alara. Dia sedang mencari sesuatu di sana. Sesuatu seperti pancaran air mata ketakutan, keputusasaan, atau kepasrahan yang biasanya selalu diperlihatkan oleh Alara yang asli setiap kali dia menatap wajah suaminya.
Namun, Kaivan tidak menemukan apa pun. Di dalam sepasang mata bulat milik Alara yang sekarang, yang ada hanyalah kilatan rasa lapar yang belum tuntas dan sedikit kejengkelan karena waktu santai paginya diganggu oleh kunjungan mendadak ini.
"Aku datang ke sini hari ini untuk menuntut ganti rugi atas kelakuan kriminalmu semalam," ujar Kaivan dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin mungkin, melangkah satu kali lebih dekat hingga bayangan tubuh jangkungnya menutupi tubuh kurus Alara. "Kau telah mencuri hidangan makan malam kekaisaran. Di Kekaisaran Ruelle, tindakan pencurian di dalam lingkungan istana dalam bisa dijatuhi hukuman potong tangan kanan."
Mendengar frasa 'potong tangan kanan', Lily yang masih tiarap di tanah langsung menangis tanpa suara, mengira riwayat hidup majikannya benar-benar akan tamat di tempat gersang ini.
Namun, Alara justru melakukan sesuatu yang di luar dugaan semua orang. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, memiringkan kepalanya sedikit, lalu menatap Kaivan dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai—seolah-olah Kaisar yang ditakuti seluruh negeri itu hanyalah barang diskonan yang sedang dia tawar di pasar.
"Potong tangan? Wah, keras banget ya hukum di sini," Alara mencibir ringan. "Tapi bentar deh, Yang Mulia yang terhormat. Sebelum Anda memotong tangan saya yang berharga ini, gimana kalau kita hitung-hitungan dulu secara adil dan transparan? Anggap saja ini sesi audit internal antara pihak manajemen istana dan saya sebagai mitra."
Kaivan kembali mengernyitkan alisnya yang tebal. Kosa kata wanita ini makin hari makin aneh di telinganya. "Audit? Mitra? Apa maksud bualanmu itu?"
"Sini, saya jabarkan biar otak pintar Anda itu makin tercerahkan," Alara melangkah maju mendekati Kaivan tanpa ada rasa takut sama sekali. Tindakan nekat itu membuat para prajurit pengawal di belakang Kaisar secara refleks memegang gagang pedang mereka, bersiap bertindak jika ada ancaman. Namun, Kaivan kembali mengangkat tangannya, menahan para pengawal.
"Sebagai selir resmi kekaisaran—biarpun saya dibuang ke tempat jin buang anak ini—saya secara hukum masih punya hak atas tunjangan makan bulanan berupa daging dan beras premium, jatah kain sutra baru setiap pergantian musim, dan pasokan arang berkualitas untuk musim dingin. Bener atau bener?" tanya Alara dengan nada menginterogasi.
Kaivan tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi diamnya menandakan bahwa dia tidak bisa membantah aturan dasar kekaisaran tersebut.
"Nah, sekarang coba Anda lihat sekeliling," Alara mengibaskan tangannya ke arah bangunan Istana Dingin. "Selama tiga bulan berturut-turut saya dikurung di sini, pihak dapur utama cuma mengirimkan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi. Baju saya gak pernah diganti sampai warnanya kusam begini, dan atap paviliun ini bocor parah kalau hujan datang. Kalau seluruh hak saya yang ditahan oleh pegawai Anda itu dihitung secara nominal material materialistis... total kerugian saya itu setara dengan harga... seratus ekor ayam panggang madu premium kekaisaran!"
Alara mencondongkan badannya ke depan, menatap tepat ke dalam manik mata elang milik Kaivan dengan jarak yang sangat dekat. Jarak mereka kini hanya berkisar tiga puluh sentimeter, hingga Kaivan bisa mencium aroma samar bedak murah namun sangat segar yang menguar dari tubuh Alara—berbeda jauh dengan wewangian parfum selir lain yang selalu menusuk hidung dan bikin pusing.
"Jadi," lanjut Alara dengan senyuman penuh kemenangan. "Semalam saya cuma mengambil *satu* paha ayam dari meja Anda. Berarti secara sistematis, Anda masih punya utang sembilan puluh sembilan ekor ayam panggang lagi sama saya. Sekarang saya tanya balik, siapa yang harusnya dihukum potong tangan karena menahan hak orang lain? Anda atau pegawai dapur Anda?"
Suasana di halaman Istana Dingin mendadak berubah menjadi sepi senyap, bahkan suara angin pun seolah enggan berembus.
Kasim Wen sudah memegangi dadanya dengan wajah pucat, merasa jantung tuanya hampir copot dari tempatnya. Belum pernah ada dalam sejarah panjang ratusan tahun Dinasti Ruelle, seorang wanita—seorang selir terbuang berstatus tahanan rumah pula—berani menodong sang Kaisar penguasa mutlak dengan hitung-hitungan utang ayam bakar.
Kaivan mematung di tempatnya berdiri. Otaknya yang biasanya digunakan untuk menyusun strategi perang rumit melawan negara-negara tetangga atau membaca taktik licik para menteri korup di aula sidang, mendadak mengalami kemacetan total alias *blank* menghadapi logika absurd nan ajaib dari wanita di depannya ini. Ada perasaan aneh yang mulai menggelitik di dalam dadanya—sebuah rasa gemas yang bercampur dengan rasa geli yang luar biasa.
Mata Kaivan yang jeli mendadak beralih melihat ke arah pot tanaman mati di dekat undakan batu, dan dia menangkap ujung sepotong tulang ayam panggang yang menyembul malu-malu dari balik tanah pot.
*‘Dia bahkan menyembunyikan bukti kejahatannya di tempat sejelas itu,’* batin Kaivan, sekuat tenaga menahan kedutan di sudut bibirnya agar tidak runtuh menjadi sebuah senyuman di depan para bawahannya.
Kaivan kembali memasang wajah esnya yang paling angker dan dingin untuk menjaga wibawanya sebagai penguasa tertinggi. "Kau pikir kau bisa membual dan mengancamku dengan kata-kata anehmu itu? Selir Alara, seluruh istana ini adalah milikku. Semua tanah, bangunan, dan makhluk hidup yang ada di dalamnya adalah properti milik Kaisar. Termasuk dirimu sendiri. Jadi, tidak ada istilah aku berutang pada propertiku sendiri."
Alara memutar bola matanya dengan malas, *'Dih, dasar bos kapitalis berwujud kaisar kuno. Egoisnya mendarah daging,'* umpatnya dalam hati dengan gemas.
"Baiklah, kalau Anda gengsi dan gak mau mengakui utang manajemen Anda," Alara mengibaskan tangannya dengan santai seolah sedang mengusir lalat. "Terus sekarang tujuan Anda ke sini mau apa lagi? Mau menonton saya mati kelaparan sambil menangis? Maaf ya, pertunjukan drama melankolis itu sudah resmi ditutup sejak saya bangun tidur kemarin pagi."
Kaivan membalikkan badannya secara dramatis, memunggungi Alara agar wanita itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang sebenarnya sudah mulai goyah dan tidak bisa menahan tawa lagi. "Kasim Wen."
"Y-ya, Yang Mulia Kaisar?!" Kasim Wen maju dua langkah dengan lutut yang masih gemetar hebat.
"Mulai hari ini, pindahkan seluruh urusan pasokan logistik dan dapur untuk Istana Dingin di bawah pengawasan langsung dari Paviliun Naga Emas. Kirimkan makanan yang... layak dan bergizi untuknya setiap hari," perintah Kaivan dengan nada suara yang dibuat sedingin mungkin, seolah-olah dia sedang menjatuhkan hukuman mati untuk tahanan politik tingkat tinggi. "Aku tidak mau reputasiku sebagai kaisar tercoreng di... apa tadi namanya? Gugel? Hanya karena ada laporan selirku mati kelaparan."
Alara yang mendengar perintah itu langsung melebarkan kedua matanya dengan sempurna. 'Eh? Dia beneran denger gue nyebut kata Google semalem? Dan ingatan cowok ini tajam banget sampai bisa melafalkannya lagi dengan gaya kuno begitu?!' Sebelum Alara sempat mengeluarkan kata-kata balasan untuk menggoda kaisar itu lagi, Kaivan sudah melangkah pergi dengan cepat meninggalkan halaman Istana Dingin. Jubah biru tuanya berkibar dengan sangat dramatis tertiup angin pagi. Namun, tepat sebelum tubuh jangkungnya benar-benar keluar melewati gerbang kayu yang reyot, Kaivan sempat menghentikan langkahnya sebentar dan melirik ke belakang lewat sudut bahunya.
"Dan satu hal lagi, Alara Villin," ucap Kaivan dengan nada datar namun tegas. "Bersihkan sisa tulang ayam yang kau kubur di dalam pot tanaman itu. Baunya yang amis sangat mengganggu indra penciumanku yang agung."
Setelah rombongan megah sang Kaisar benar-benar menghilang dari pandangan dan suasana kembali sunyi, Alara berdiri mematung selama tiga detik sebelum akhirnya dia melompat tinggi-tinggi ke udara sambil mengepalkan tangannya ke atas, meledak dalam tawa kemenangan yang sangat puas.
"YES!! MAKAN ENAK KITA, LILY!! PROTES GUE TEMBUS KE ATASAN LANGSUNG TANPA LEWAT BIROKRASI ULAR KEKET!!" teriak Alara kegirangan, melakukan gerakan dansa kemenangan yang aneh di halaman.
Lily akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan tubuhnya dari tanah yang kotor. Dia menatap sosok Alara dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kekaguman dan pemujaan yang luar biasa tinggi. Di mata pelayan kecil itu, Alara sekarang bukan lagi selir lemah yang butuh dilindungi, melainkan sesosok dewi perang tangguh yang baru saja berhasil memenangkan pertempuran besar melawan Kaisar Es tanpa perlu menumpahkan setetes darah pun.
Sementara itu, di sepanjang koridor batu menuju istana utama kekaisaran, Kaisar Kaivan berjalan dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dan santai daripada biasanya. Kasim Wen yang berjalan dengan posisi sedikit membungkuk di sampingnya akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara, "Yang Mulia... hamba lancang bertanya. Mengapa Anda tidak memberikan hukuman fisik atau kurungan pada Selir Alara? Sikap dan ucapannya tadi benar-benar sudah melanggar batas kesopanan istana."
Kaivan tidak langsung menjawab pertanyaan kasim setianya itu. Dia menghentikan langkahnya sebentar, melihat ke arah telapak tangannya sendiri, lalu mengingat kembali bagaimana beraninya sepasang mata bulat milik Alara saat menatap langsung ke dalam manik matanya tadi tanpa ada secuil pun rasa takut atau tunduk.
"Dia sudah berubah total, Wen," bisik Kaivan dengan suara yang sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara desis angin koridor. "Sangat berubah. Dan entah kenapa... perubahan bar-barnya itu membuat lingkungan istanaku yang kaku dan membosankan ini jadi terasa sedikit lebih hidup."
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪