NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sesampainya di dalam mobil, Sania membanting pintu dengan keras hingga berbunyi nyaring. Wajahnya masih merah padam menahan amarah, dan tangannya mencengkeram setir mobil dengan erat. Siska yang duduk di kursi penumpang pun masih terlihat gelisah, terus menoleh ke belakang seolah masih merasakan tatapan menghakimi orang-orang di supermarket tadi.

"Sialan! Benar-benar sialan wanita itu!" gerutu Sania dengan suara tinggi, memecah keheningan di dalam kabin. "Beraninya dia bicara seenaknya begitu di depan umum! Dia benar-benar mempermalukan kita!"

Siska menghentakkan kakinya kesal, wajahnya masih terlihat cemberut. "Iya, gila ya dia! Dulu diam saja kalau dihina, sekarang mulutnya jadi setajam silet begitu. Aku benar-benar gemas rasanya!"

Mereka terdiam sejenak, napas mereka masih memburu. Namun perlahan kemarahan itu berubah menjadi keraguan yang mulai mengusik pikiran. Siska menatap ke arah jendela, lalu bergumam pelan dengan nada bingung.

"Tapi, San... coba pikirkan deh. Apa yang dia katakan tadi... apakah mungkin dia bukan sekadar orang biasa seperti yang kita kira selama ini?"

Sania menoleh sekilas dengan dahi berkerut. "Maksudmu?"

"Dulu kan dia selalu terlihat sederhana sekali, bahkan kadang bajunya terlihat kusam . Tapi belakangan ini aku sering mendengar kabar kalau pemilik hotel bintang lima yang baru saja dibuka di pusat kota itu bernama Samantha. Dan katanya wanita itu sekarang berpenampilan lebih sopan dan selalu memakai jilbab," jelas Siska perlahan, matanya menyiratkan kebingungan. "Apakah mungkin itu... dia?"

Sania tertawa sinis seolah tak percaya, namun tawanya terdengar ragu. "Samantha? Pemilik hotel mewah itu? Jangan bercanda kamu! Dulu dia bahkan tidak mampu membeli bekal di kantin, masa sekarang punya usaha sebesar itu? Pasti cuma kebetulan nama saja yang sama."

"Tapi lihat penampilannya hari ini," bantah Siska, masih terus memikirkan hal itu. "Dia tenang sekali, berani menatap kita tanpa rasa takut, dan bicaranya sangat berwibawa. Kalau dia benar-benar miskin atau orang kecil, mana mungkin dia berani bicara begitu? Lagian dia masuk ke sini dengan santai, belanja barang apa saja tanpa melihat harga. Padahal dulu dia selalu menunduk kalau berpapasan dengan kita."

Kata-kata Siska membuat Sania perlahan ragu juga. Ia mulai teringat kartu hitam yang pernah didengar orang lain, keberanian Samantha menghadapi mereka, dan cara dia melindungi sahabatnya. Semua itu tidak cocok dengan citra Samantha yang mereka kenal dulu.

"Kalau memang benar dia pemilik hotel besar itu... berarti selama ini kita salah menilainya?" gumam Sania pelan, rasa sombongnya perlahan luntur digantikan rasa cemas. "Dan semua tuduhan yang dia lontarkan tadi... mungkin dia memang tahu kebenarannya. Kalau dia punya kekuasaan sebesar itu, apa dia bisa berbuat sesuatu pada kita?"

Keduanya saling berpandangan, kebanggaan yang tadi meluap-luap kini perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. Mereka baru menyadari bahwa menilai seseorang hanya dari penampilan luar ternyata adalah kesalahan yang sangat besar.

Mobil Samantha berhenti di halaman rumah baru. Mereka pun segera turun dan mulai menurunkan kantong-kantong belanja yang penuh sesak dari bagasi. Terdengar suara riuh pelan saat mereka menumpuk barang di teras, hingga Bu Lastri yang ternyata sudah bangun dan menyapu halaman segera bergegas menghampiri dengan wajah terkejut.

"Wah, ya ampun... sebanyak ini belanjaannya?" seru Bu Lastri sambil membelalakkan mata melihat tumpukan kantong yang berisi beras, minyak, bumbu, sayuran segar, buah-buahan, hingga peralatan dapur baru. Ia segera membantu membawa satu kantong, namun tangannya terasa berat. "Ini pasti menghabiskan banyak uang ya, Nak? Ibu jadi merasa sungkan sekali. Rasanya kami terus-menerus saja membebani mu."

Bu Lastri menunduk, wajahnya tampak tidak tenang dan merasa tidak enak hati. Ia merasa belum bisa membalas sedikit pun kebaikan Samantha, namun terus-menerus menerima bantuan materi sebesar ini.

Samantha tersenyum lembut, lalu menaruh barang yang dipegangnya dan mendekat ke arah Bu Lastri. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan hangat.

"Bu, tolong jangan merasa begitu ya. Ibu tidak perlu sungkan atau merasa berhutang apa pun kepada saya," ucap Samantha dengan nada menenangkan. "Sebenarnya, semua biaya ini nantinya akan menjadi tanggung jawab Suci. Ingat kan rencana saya sebelumnya? Suci akan menjadi asisten kepercayaan saya di salon baru nanti. Jadi, ini sudah menjadi haknya sebagai bagian dari persiapan pekerjaannya."

Bu Lastri menatap Samantha dengan mata berbinar-binar, rasa cemasnya perlahan berubah menjadi lega luar biasa. Ia menoleh ke arah Suci yang tersenyum lebar.

"Benar begitu, Nak? Jadi Suci benar-benar akan bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri?" tanyanya dengan suara bergetar penuh harap.

"Tentu saja benar, Bu," jawab Suci sambil mengangguk mantap. "Aku akan bekerja keras membantu Sam. Jadi semua ini bukan sekadar pemberian cuma-cuma, tapi ini adalah awal dari tanggung jawabku nanti. Aku juga ingin bisa menghidupi Ibu dan mandiri."

Mendengar penjelasan itu, beban berat di dada Bu Lastri seketika hilang lenyap. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum bahagia sambil menatap kedua gadis itu.

"Syukurlah... syukurlah kalau begitu," ucap Bu Lastri tulus, matanya berkaca-kaca karena lega. "Ibu jadi tenang sekali sekarang. Terima kasih ya, Nak Samantha. Kamu tidak hanya memberi tempat berlindung, tapi juga membuka jalan bagi masa depan Suci. Ibu yakin Suci akan menjadi anak yang berguna dan tidak akan mengecewakanmu."

"Sama-sama, Bu. Sekarang mari kita masuk dan menata semuanya bersama-sama," ajak Samantha gembira.

Mereka pun tertawa riang, lalu bersama-sama membawa masuk semua barang belanjaan ke dalam rumah, hati mereka kini penuh dengan kedamaian dan harapan yang cerah.

Setelah selesai menata semua barang belanjaan dan dapur kembali rapi, mereka bertiga duduk bersantai di ruang keluarga. Mereka menyalakan televisi dan menonton acara hiburan yang menghibur, sesekali tertawa lepas sambil saling bercerita hal-hal ringan. Suasana terasa begitu hangat dan damai, membuat mereka lupa waktu.

Sementara itu, di atas meja samping yang agak jauh dari tempat duduk mereka, ponsel Samantha sebenarnya sudah bergetar berkali-kali. Namun karena sejak tadi ia mengatur perangkatnya ke mode senyap, tidak ada nada dering yang terdengar. Ditambah lagi suara televisi dan obrolan mereka yang seru, sama sekali tidak ada yang menyadari layar ponsel yang terus menyala dan mati bergantian.

Penelepon itu tak lain adalah Samuel, yang sudah berulang kali mencoba menghubunginya sesuai janji untuk makan siang bersama. Namun karena tidak ada jawaban, akhirnya Samuel menutup telepon dengan perasaan sedikit kecewa namun tetap sabar, berasumsi bahwa Samantha mungkin sedang sibuk atau belum sempat melihat ponselnya.

Di rumah baru itu, ketiga wanita itu masih terus menikmati waktu kebersamaan mereka, tanpa menyadari panggilan yang sempat datang.

Bersambung...

 

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!