Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
• Spica
kesokan harinya seperti biasa Daniel bangun pagi dan menjalankan aktivitasnya. Ia membantu di Restoran pak Mil dan melayani sedikit pelanggan. Setelahnya ia berganti pakaian dan berangkat sekolah.
Di kelas ia meletakkan semua barangnya dan menunggu pelajaran pertama dimulai. Chiru baru saja datang setelah Daniel. Mereka tidak ada yang berani bertegur sapa atau sekedar menatap mata.
"Ini kira-kira situasi susah apa buset?" Gumamnya.
...
Pelajaran pertama dimulai, guru membuka buku Fisika yang dimulai dengan pelajaran Astronomi.
"Hari ini kita akan belajar hukum gerak planet" Guru memulai pelajaran AstroFisika di hari ke-2 sekolah. Daniel sangat menyukai astrofisika dan sangat menantikan pelajaran ini sedari lama.
"Hukum gerak planet ada tiga yang disebut hukum kepler." Jelas guru tersebut.
"Yang pertama adalah Hukum I Kepler. Hukum yang mengatakan bahwa semua planet bergerak dalam lintasan atau orbit yang mengorbit matahari." Guru menjelaskan apa itu hukum kepler I.
"Semuanya, tolong dicatat, ya!" Ucap guru.
Semua murid disuru untuk mencatat, namun Daniel tidak ikut mencatat, ia sudah mempelajari fisika sedari kecil, baginya pelajaran ini hanya mengulang hal yang sudah pernah ia pelajari dulu dan bukan masalah besar baginya.
"Aku tidak ingin mencatatnya, lagian ini soal gampang, kan?" Danile bergumam sembari menyombongkan dirinya.
...
pelajaran telah berakhir, Chiru pergi tanpa menegur Daniel. Daniel juga tidak memikirkannya karna ia takut kalau akan ada keributan nantinya.
Daniel membereskan barang-barangnya dan beranjak dari kursinya. Hari ini ia harus bekerja lagi di Restoran Pak Mil.
...
Di Restoran Chiru datang lagi, kali ini ia datang bersama Kin, teman sekelas mereka juga. Chiru hanya melayani mereka tanpa pembicaraan apapun. sekedar mencatat pesanan dan mengantarkannya lalu pergi .
kondisi canggung ini membuat Daniel gelisah, ia ingin menyapa Chiru, tapi dia takut jikalau Chiru malah mengabaikannya.
"Ahhh, kenapa aku selalu dapat peran susah sih!" Gumam Daniel.
Daniel melanjutkan pekerjaannya dengan gelisah di dalam hatinya.
Minami hari itu mampir, Ia memesan Roti Coklat dan Jus Mangga, Makanan yang selalu ia pesan saat berkunjung ke restoran pak mil.
"Daniel, Kamu kemaren kenapa gak bertemu Latifa?" Minami bertanya dengan Daniel yang sedang menyiapkan pesanannya.
"Um... Aku gak tau kalau dia datang ke sini, aku dan karyawan lain kemaren ada tugas di belakang" Jawab Daniel yang beralasan.
"Begitukah? aku pikir kalian sedang berantem" Ucap Minami.
"Tentu tidak, dong" Jawab Daniel.
Tak lama Latifa datang ke Restoran. Ia menghampiri Daniel yang sedang menyiapkan pesanan. Daniel terdiam seribu bahasa saat Latifa menyapanya.
"Halo Daniel! kamu kemaren kemana, kok ku cariin gak ada, sih!" Latifa bertanya dengan nada sarkasnya.
Daniel perlahan berbalik badan dan menjawab seadanya.
"Kemaren aku sibuk" Daniel berlari ke belakang dan itu membuat Latifa Dan Minami kebingungan.
Di meja pelanggan, Chiru sedari tadi memperhatikannya, Chiru bagai seorang pengamat yang tajam, tatapannya bagai burung elang yang siap menangkap mangsanya.
"Astagaa, Kenapa Latifa ada di sini, sih?" Daniel panik karna takut jika Daniel mendekati Latifa nanti Chiru akan memarahinya.
"Kenapa persahabatan kami hancur hanya karna seorang cowok yang baru ku kenal, sih??" Daniel kesal namun tak bisa melakukan apa-apa.
Jika ia melawan, ia takut Chiru akan bercerita yang tidak-tidak dengan Pak mil, Itu membuat ia tak bisa bekerja nantinya. tapi jika dibiarkan begini terus, justru persahabatannya yang lebih 10 tahun ini akan hancur begitu saja.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya.
...
waktu pulang kerja sudah tiba. seperti biasa ia mengambil jatah sisa makanannya dan pulang. di rumah seperti biasa ayah menunggu. namun sang ayah melihat Daniel seperti mayat hidup yang berkeliaran di kota.
ayah tidak menanyakan makanan, ia justru menanyakan kondisi anaknya yang terlihat seperti mayat hidup.
"Nak, kamu kenapa?" Tanya sang ayah
Daniel yang melamun akhirnya sadar kalau dirinya sudah sampai rumah dan sang ayan menyapanya.
"Ah... ke-kenapa, Yah!?" Daniel menjawab spontan karna ia baru saja sadar.
"Kamu itu, lho. kenapa kayak mayat hidup gitu." Ayah menanyakan kembali tentang kondisi putra kesayangannya itu.
"Gak apa-apa, yah. kecapean aja" Daniel berlalu masuk, ia memberikan makanan yang menjadi jatah ia hari ini kepada ayah.
ia mengunci pintu kamarnya dan segera berbaring. dalam kegelisahannya Daniel tertidur.
...
Putih, Salju...
Daniel terbangun di sebuah tempat luas yang sedang mengalami badai salju.
"Di-dimana.. aku?" Daniel perlahan berdiri dan mencoba menyeimbangkan badannya.
suara flute dimainkan dari arah barat, Daniel perlahan berjalan menuju suara itu. semakin mendekat suaranya semakin mengecil. saat suaranya sudah dekat, Daniel mendapati seorang gadis berambut kuning keemasan sedang memainkan instrument Flute. suaranya merdu dan indah, permainan itu terhenti seketika. gadis itu membalikkan wajahnya dalam kondisi sedang menangis.
..
"Kringggggg....."
Suara alarm berdering. pertanda pagi hari telah dimulai. Daniel tidak langsung bangun dan mandi, ia ingin melanjutkan tidurnya karena hari ini adalah hari sabtu dan ini adalah hari libur.
ia melanjutkan tidurnya, dan kebetulan juga restoran pak mil hari ini tutup. Daniel menggunakan hari itu hanya dengan berbaring di ranjang dan tidak melakukan apapun.
...
Bel tiba-tiba berbunyi, Ternyata itu adalah Minami. Daniel langsung membukakan pintu untuk Minami masuk ke dalam rumahnya.
Minami bertanya dengan Daniel karna sikapnya kemaren yang aneh, Minami merasa curiga dengan Daniel, Mengapa tingkahnya seperti menghindari Latifa.
"Daniel, Kamu berantem, ya . sama Latifa?' Minami langsung menanyakan hal penting tanpa basa-basi
"Tidak, Aku tidak berantem dengannya, cuman perasaan Minami aja, kali" Jawab Daniel
"Kenapa jadi formal bahasanya?" Minami curinga jika memang benar ada apa-apa dengan mereka berdua.
"Coba, jelaskan saja! aku akan menjadi pendengar yang baik bagimu!" Minami meyakinkan Daniel untuk bercerita dengannya masalah dengan Latifa.
"Sebenarnya bukan masalah besar, hanya masalah kecil" Daniel perlahan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya dan Latifa.
"Aku dibenci seseorang, sepertinya dia menyukai Latifa, tapi dia pikir aku juga menyukai Latifa" Daniel bercerita.
"Padahal aku hanya berteman dengan Latifa, Aku menyayanginya dalam artian ingin berteman dan menjaga ya, bukan menjadi orang yang akan menikahinya" Ucap Daniel
"Yaa meski kemaren aku ditembak sih sama Latifa" Gumamnya.
"Ohhh, jadi begitu, kondisi kamu cukup terhempit, ya!" Minami sekarang mulai memahami kondisi Daniel.
"Baiklah, aku akan membantumu, aku akan bilang ke Latifa agar ia tidak memdekatimu untuk sementara, tapi kita akan tetap menjadi teman, jangan asing!" Minami tersenyum dan akan membantu Daniel dalam menghadapi masalah ini.
"Cuman kamu yang bisa aku andalkan, Minamiku" Gumam Daniel sembari tersenyum kecil.