seorang wanita yang masih muda berusia 21 tahun harus merasakan sulitnya rumah tangga. suami yang sangat ia cintai hilang ketika menjadi relawan peperangan di palestina.
shania namanya. Ternyata ia mendapat sebuah surat dari suaminya yang mengatakan apabila dalam waktu 3 bulan tidak ada kabar maka dinyatakan jatuh talak dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon choirul amaliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Hari kebahagiaan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari minggu, dimana ia dan Fahri akan melangsungkan lamaran. Memang ini bukan yang pertama bagi Shania. Tapi mengulangi hal seperti ini terasa sangat mendebarkan.
"Cantik sekali anak mama" kata Hamidah sambil merangkul anaknya dari belakang. Shania hanya tersenyum. Ia sedang merias muka saat ini, wajahnya terlihat anggun dan cantik apalagi dengan gaun yang indah pemberian Fahri.
"ma, aku belum memberitahu umi Fatimah" katanya sedih. Ia merasa bersalah sebenarnya tidak memberitahu lebih dulu pada umi Fatimah. Tapi apa yang dikatakan Fahri memang ada benarnya.
"Sudahlah nanti setelah lamaran kau bisa memberitahunya. Inikan juga masih lamaran sayang. Gak baik di cerita-ceritakan" tutur mamanya. Shania mengambil nafas dalam dan mengeluarkan pelan.
Dilantai dasar semua keperluan sudah tertata. Cemilan dan makan malam sudah disiapkan Hamidah bersama pembantunya sejak siang tadi. Disana juga ada dekor simpel juga ditaman belakang karena mereka mengusung tema outdoor and indoor.
Abdullah menunggu kedatangan keluarga Fahri. Ia sudah siap diruang tamu sejak selesai sholat isya'. Abdullah menunggu calon menantunya bersama Zaki, kakak tertuanya.
Mereka tak mengadakan lamaran yang terlalu mewah, karen memang ini bukan pernikahan pertama Shania jadi ia malu jika sampai mengundang banyak orang.
" Assalamualaikum"
Terdengar suara salam disana. Abdullah langsung berdiri dan melihat. Ternyata keluarga dari pihak Fahri sudah tiba.
"Waalaikum salam. Silahkan masuk " jawab Abdullah dan Zaki bersamaan.
Fahri datang hanya berenam. Dirinya, ibu, Aisyah , paman Yuda , bibi Hilya dan Cici. Ia tak ingin membawa orang terlalu banyak karena takut ada yang memiliki niat jahat untuk hubungannya dengan Shania selanjutnya.
Sebenarnya hati Fahri tak karuhan. Ia takut ada Zizah disana karena ia tahu Zizah adalah sahabat Shania. Bagaimana jika Zizah menceritakan hal yang aneh-aneh pada Shania tentang dirinya.
"Ahhh... aku tak boleh suudhon dulu" gumamnya menenangkan hati.
Mereka mendapat sambutan yang sangat hangat dari pihak keluarga Shania.
"Langsung saja pada intinya. Saya selaku wakil dari keluarga Fahri ingin melamar anak
anda pak Abdullah, Shania abdullah untuk menjadi istri Fahri dan sebagai penyempurna imannya." Tutur paman Fahri.
Shania hanya menunduk, entahlah ia malu dan gugup disana. Fahri pun juga sama, wajahnya terlihat tegang walaupun tak setegang Shania.
Setelah perbincangan serius kini saatnya pemasangan cincin sebagai tanda pengikat antara keduanya. Dua cincin berjejer rapi didalam satu kotak merah. Bu Wiji memasangkan untuk Shania dan Hamidah memasangkan untuk Fahri.
Mereka tersenyum senang. Fahri pun sekarang lebih tenang lagi karena ia sudah menganggap Shania miliknya dan tak akan ada lagi pengganggu hubungan mereka kelak.
Setelah acara pemasangan cincin, Abdullah mengajak semua keluarga Fahri untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan dimeja makan.
"kak Shan" Cici lari kearah Shania dan memeluknya.
"Ahhh nih bocah" gerutu Fahri. padahal saat semua orang sibuk makan Fahri berniat akan mengajak Shania berbicara dan ingin mendapat perhatian lebih. Tapi lagi-lagi ia kalah dengan bocah satu ini.
"Aisyah sini" kata Fahri sedikit berbisik. Aisyah mendatangi kakaknya. Ia dibisiki sesuatu dan membuat Aisyah cekikikan.
"Hai kak. Aku sekarang memanggilmu kakak ipar" Aisyah mendatangi Shania dan mengajaknya berbincang sebentar.
"Cici ikut kak Aisy yuk. Entar kak Aisy kasih es krim" Namanya anak kecil, ia pasti akan langsung tertarik dengan bujukan seperti itu. Maka dengan senangnya Cici meninggalkan Shania.
Tinggal Fahri dan Shania disana. Semua orang tengah sibuk dimeja makan. Fahri pura-pura tak melihat Shania sehingga wanita itu mendatanginya dan mengajak berbicara.
"kak Fahri gak makan?" tanya Shania. Fahri memandang calon istrinya yang cantik itu dengan takjub.
"kamu cantik hari ini Shan" kata Fahri tak menghiraukan pertanyaan wanita itu. Wajah Shania berubah merah malu.
"kakak gak makan?" tanya Shania lagi. Ia tak mau Fahri terus membuatnya malu.
" Aku pingin ngobrol dulu sama kamu" kata Fahri. Shania mengerutkan keningnya.
"ini kan kita udah ngobrol kak" jawab Shania. Ahhh Fahri gemas dengan wajah polos itu.
Ia berdiri dan memberi kode pada sang calon istri untuk ikut bersamanya keluar.
"Kamu beneran nerima aku kan Shan?" tiba-tiba Fahri menanyakan hal itu ketika mereka sudah duduk di kursi taman. Fahri merasa semua ini adalah mimpi baginya. Ia baru merasakan namanya jatuh cinta lagi setelah 3 tahun.
"kenapa kakak tanya kayak gitu? Aku beneran ingin kakak jadi yang terakhir" jawab Shania. Seperti ada guratan kesedihan disana. Ia takut Fahri pergi seperti suami pertamanya. Rasa rindu dan sakit hati itu masih membekas.
"Aku akan berusaha disampingmu dengan izin Allah" jawab Fahri sambil tersenyum menatap Shania. Shania pun malu hanya menundukkan kepala.
"Ehhh ternyata disini. Gak ada yang makan nih" tiba-tiba Abdullah datang. Ia memergoki anak dan calon menantunya berbicara serius. Shania yang malu hanya menundukkan kepala sedangkan Fahri memijat tengkuknya.
"Fahri malu mau ambil makan Shan. Ambilkan untuknya sekalian kalian makan berdua. Kami semua sudah selesai" Katanya terkekeh. Fahri dan Shania pun masuk. Mereka makan berdua di meja makan sedangkan yang lain asyik berbicara di ruang tamu.
Tak ada pembicaraan disana. Shania tertunduk karena malu sedangkan Fahri asyik menikmati wajah Shania. Ia makan sambil terus menatap wajah ayu itu.
Diruang tamu semua orang asyik menggoda Cici. Pihak keluarga Shania tak keberatan dengan hadirnya Cici diantara mereka berdua. Fahri berniat jika sudah menikah dengan Shania akan menjadikan Cici sebagai anak angkatnya bukan lagi sebagai adik.
"kak Aisy Cici mengantuk" katanya dengan polos. Matanya sudah tak bisa dikondisikan dan berkali-kali menahan untuk terpejam.
Aisyah memangku bocah gembul itu dan tak lama pun ia sudah tertidur.
Setelah Fahri makan semua orang pamit pulang. Bu wiji semobil dengan paman dan bibi Fahri, sedangkan Aisyah bersama abangnya.
"Aku pamit pulang ya Shan." kata Fahri ketika mereka berjalan. Cici berada digendongan Fahri. Shania hanya mengangguk dan terseyum.
Ia juga berpamitan pada calon mertuanya kemudian masuk mobil dan pulang kerumah.
Haii... haii..
jangan lupa like, komen dan vote.
aku cinta kalian😘😘😘😘
entah kenapa proses reviewnya lama banget deh😢 sabar yaaa
📷 : choirul_amaliyah26
Semangat terus buat author😉
Ditunggu up selanjutnya yup😘
Salam dari "UNSEEN."
mampir juga yuk ke karya aku, kita sama2 suport rating &like ❤
Sukses iya buat karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku.
yang menceritakan seorang lelaki letoy yang selalu di tolak sama cwe dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
cinta pak bos hadir😘
semangat teruss💪