"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Udara di koridor lantai dua mendadak terasa setipis kertas.
Tatapan Sophia menusuk tajam, seolah bisa menguliti isi kepala Almeera detik ini juga. Di seberang mereka, Heera masih tersenyum bangga di tengah kerumunan, sementara Akram—sang aktor utama dari segala kekacauan hidup Almeera—berdiri mematung dengan rahang mengeras, bersiap mengambil langkah jika istrinya itu kehabisan alasan.
"Gue tanya sekali lagi, Al," desak Sophia, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Lo nyembunyiin apa? Kenapa wangi sabun lo bisa sama persis kayak wanginya Akram?"
Otak Almeera berputar dengan kecepatan cahaya. Adrenalin memompa jantungnya begitu keras hingga telinganya berdenging. Ia menelan ludah, menatap Sophia, lalu menatap kerumunan Heera sejenak.
Dan kemudian, sebuah kebohongan impulsif meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Promo Indomaret!" seru Almeera, suaranya sengaja dikeraskan, memecah ketegangan di antara mereka.
Sophia terperanjat mundur selangkah. "Hah? Promo apaan?"
"Sabun mint-musk itu lagi promo Buy 1 Get 1 di minimarket depan komplek gue, Phia!" cerocos Almeera tanpa jeda, mengibaskan tangannya dengan gaya emak-emak yang sedang pamer harga diskon. "Sabun stroberi gue habis semalam, dan lo tahu sendiri nyokap gue penganut sekte emak-emak hemat. Dia ngeborong sabun cowok itu selusin cuma karena harganya miring! Makanya pagi ini gue terpaksa mandi pakai sabun cowok!"
Hening sejenak. Sophia mengerjapkan matanya berulang kali, mencerna rentetan kalimat tak masuk akal namun sangat realistis itu.
Dari jarak lima langkah, Akram buru-buru menundukkan kepalanya, menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang nyaris meledak. Promo Indomaret? Ya Tuhan, istri gue bener-bener aktris kelas Oscar, batinnya geli.
Suara cempreng Almeera yang cukup keras tadi rupanya menarik perhatian Heera. Mantan pacar Akram itu menoleh, menatap Almeera dengan tatapan meremehkan.
"Oh, jadi lo pakai sabun cowok gara-gara promo?" Heera tersenyum mengejek, melipat tangannya di dada. "Pantesan. Gue kira lo habis nginep di mana gitu. Selera lo emang unik ya, Al. Tapi wajar sih, anak band kan biasanya emang... seadanya."
Urat kesabaran Almeera yang tadinya sudah tipis, kini resmi putus. Kepanikannya menguap, digantikan oleh mode senggol-bacok andalannya. Ia balas melipat tangan di dada, mendongak menantang primadona sekolah itu.
"Mending gue mandi pakai sabun promo, Mbak," balas Almeera dengan senyum manis yang mematikan. "Daripada gue capek-capek masak sup iga malam-malam, dandan cantik, datang ke apartemen cowok, tapi ujung-ujungnya cuma ngomong di depan pintu alias nggak disuruh masuk. Itu namanya effort yang sia-sia."
BOOM.
Koridor yang tadinya dihiasi bisik-bisik seketika senyap. Rahang beberapa siswi di sebelah Heera nyaris jatuh menyentuh lantai.
Wajah Heera yang tadinya semerah tomat kini berubah sepucat kertas. Ia menatap Almeera dengan mata membelalak, lalu menoleh panik ke arah Akram. "A-apa? Lo nguping ya, Al?!"
Almeera mengangkat bahu acuh tak acuh. "Gue nggak nguping, lo aja yang suaranya toa pas cerita ke temen-temen lo tadi. Ya kan, Phia?"
Sophia yang masih loading hanya bisa mengangguk kaku.
Sebelum Heera sempat membalas dengan amukan, Akram melangkah maju, memecah kecanggungan mematikan itu. Wajah cowok itu kembali datar, aura Ketua OSIS-nya menguar kuat, menutupi rasa bangga yang diam-diam mekar di dadanya melihat Almeera meratakan sang mantan dalam satu kalimat.
"Udah, bubar. Bel masuk udah bunyi dari tadi," perintah Akram dengan suara baritonnya yang tegas. Ia menatap Heera sekilas. "Ra, mending lo balik ke kelas. Nggak usah bahas urusan pribadi di koridor."
Tanpa menunggu balasan, Akram berbalik dan berjalan pergi. Namun saat ia berpapasan dengan Almeera, cowok itu memiringkan kepalanya sedikit, berbisik sangat pelan hingga hanya udara yang menangkapnya.
"Nice block, Istriku."
Bulu kuduk Almeera meremang seketika. Jantungnya yang baru saja tenang kembali melompat salto di dalam dadanya. Ia mematung, menatap punggung tegap Akram yang menjauh dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa ia jelaskan. Kata 'istriku' yang diucapkan dengan nada bariton rendah itu terasa seperti sengatan listrik berdosis tinggi.
"Al! Lo berani banget ngeroasting Heera!" Sophia memekik girang, menarik lengan Almeera dan membuyarkan lamunannya. "Gila, muka dia langsung pucet! Tapi beneran kan lo pakai sabun promo? Bukan gara-gara lo nyembunyiin cowok di rumah?"
"Beneran, Phia. Udah ah, ayo ke kelas! Pak Bambang udah nungguin!" Almeera buru-buru menyeret sahabatnya itu, berharap warna merah di pipinya tidak terlihat jelas.
Pukul 15.00 WIB, Ruang Aula.
Suara ketukan drum terdengar menggelegar, beradu dengan melodi distorsi gitar dan dentuman bas. Almeera sedang melampiaskan seluruh kekesalan dan debaran aneh di hatinya pada set drum di depannya. Keringat membasahi pelipisnya, anak rambut menempel di lehernya, tapi ia sama sekali tidak peduli.
"Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika..."
Nino menyanyikan lirik lagu Agnes Monica yang sedang mereka aransemen ulang dengan gaya rock alternatif.
Di ambang pintu aula, Akram berdiri dalam diam. Niat awalnya adalah mengecek kesiapan aula untuk gladi bersih pensi lusa, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Almeera.
Cewek itu terlihat begitu hidup. Saat memukul drum, Almeera bukanlah siswi galak yang selalu berteriak di koridor, bukan juga istri rahasia yang dipaksakan padanya. Dia adalah seniman yang sedang terbakar gairah. Gerakan tangannya luwes namun bertenaga, matanya terpejam meresapi setiap ketukan, dan ekspresinya... begitu menawan.
Akram menyandarkan bahunya di kusen pintu, tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis. Ia melipat tangan di dada, matanya tak lepas sedetik pun dari sosok Almeera. Ada rasa posesif aneh yang tiba-tiba merayap di hatinya. Keindahan liar cewek ini, sekarang secara teknis adalah miliknya.
Namun, ketenangan batin Akram terganggu saat lagu selesai.
Nino, sang vokalis, berjalan menghampiri set drum. Ia tertawa melihat Almeera yang terengah-engah. Dengan santai, Nino mengambil handuk kecil dari atas amplifier dan mengusapkannya ke dahi Almeera.
"Gila lo mainnya, Al. Kesurupan reog mana lo hari ini?" canda Nino, tangannya masih mengusap keringat di pelipis Almeera.
Almeera hanya tertawa, membiarkan perlakuan Nino karena bagi mereka, itu adalah hal biasa antar sahabat. "Biasa, lagi banyak beban hidup. Kencengin dikit sound gitar Darren, tadi ketutup sama cymbal gue."
Di ambang pintu, rahang Akram mengeras. Senyumnya lenyap tak bersisa. Ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya melihat jarak Nino dan Almeera yang begitu dekat, terlebih melihat tangan cowok lain menyentuh wajah istrinya.
Tanpa berpikir panjang, Akram melangkah masuk ke dalam aula. Sepatu pantofelnya berketuk nyaring di lantai kayu, sengaja menarik perhatian.
"Jarak panggung sama barikade penonton tolong diatur ulang. Ini acara pensi sekolah, bukan konser underground," tegur Akram dengan nada dingin yang mengintimidasi. Matanya menatap lurus ke arah Nino, sebelum beralih menatap tangan cowok itu yang memegang handuk.
Nino menurunkan tangannya, menoleh pada Akram dengan malas. "Elah, Pak Ketos. Dateng-dateng marah. Udah gue ukur kali, sesuai sama proposal yang lo tanda tangani semalam."
Akram melangkah naik ke panggung, mengabaikan protes Nino. Ia berhenti tepat di depan set drum Almeera, menghalangi pandangan Nino ke arah cewek itu. Aroma *mint* dan parfum maskulin Akram menguar, langsung menyelimuti Almeera.
"Lo," Akram menunjuk Almeera dengan dagunya, suaranya sengaja direndahkan. "Main drum atau mau bongkar panggung? Suaranya sampai kedengaran ke ruang guru. Telinga gue sakit dengernya."
Almeera meletakkan stik drumnya dengan kasar. Ia mendongak, menatap Akram dengan kesal. Baru saja ia merasa berutang budi karena diselamatkan tadi pagi, sekarang makhluk ini kembali memancing emosinya.
"Kalau telinga lo sakit, mending lo periksa ke THT, bukan protes ke gue! Namanya juga band rock, masa gue mukul drumnya sambil bisik-bisik?!" semprot Almeera tak mau kalah.
Akram mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di pinggiran snare drum Almeera. Jarak wajah mereka terpangkas drastis. Ia menatap mata Almeera lekat-lekat, kilat cemburu yang tersembunyi berbaur dengan dominasi.
"Gue cuma ngingetin," bisik Akram tajam, suaranya hanya bisa didengar oleh Almeera. "Fokus main musik. Nggak usah tebar pesona sampai minta dilapin keringat segala. Risih gue lihatnya."
Mata Almeera membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Risih? Dia cemburu?!
Belum sempat Almeera melontarkan balasan mematikan, suara derap langkah kaki berlari terdengar dari arah pintu aula.
"KRAM! AKRAM!"
Bastian muncul dengan napas terengah-engah, wajahnya memerah penuh semangat. Ia berlari mendekati panggung sambil melambai-lambaikan sebuah map berisi draf proposal.
Akram menegakkan tubuhnya, menatap wakilnya dengan dahi berkerut. "Kenapa lo lari-lari? Dikejar anjing satpam?"
"Bukan!" Bastian berhenti di bawah panggung, mengambil napas dalam-dalam. Matanya berbinar-binar. "Gue bawa kabar gembira buat lo dan seluruh anggota inti OSIS!"
"Kabar apa?" tanya Akram curiga. Firasat buruk mulai menggelitik tengkuknya.
Almeera di belakang Akram juga ikut menajamkan pendengaran, entah kenapa perasaannya ikut tidak enak.
"Karena proposal pensi kita direvisi total sama kepsek dan deadline-nya mepet banget..." Bastian tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. "...anak-anak inti OSIS sepakat buat lembur ngerjain semuanya bareng-bareng *weekend* ini!"
"Terus?" Akram mengangkat sebelah alisnya. "Mau lembur di sekolah? Nggak bakal dikasih izin sama Pak Satpam."
Bastian menggeleng semangat. "Bukan di sekolah, Bos! Tapi di apartemen baru lo!"
Hening.
Akram mematung. Otaknya mendadak berhenti berfungsi.
"Di... apartemen gue?" ulang Akram dengan suara parau, memastikan ia tidak salah dengar.
"Iya! Mewah gitu masa nggak dipakai buat markas? Dan berita bagusnya, gue udah nelepon nyokap lo barusan buat minta izin, dan Tante Jihan dengan senang hati ngizinin kita nginep dari Sabtu sore sampai Minggu siang! Katanya biar apartemen lo ramai dan lo nggak kesepian!" Bastian bertepuk tangan bangga atas inisiatifnya sendiri. "Gimana? Keren kan ide gue?"
Di balik set drum, stik di tangan Almeera tergelincir jatuh ke lantai. Klak.
Udara di aula itu seakan tersedot habis.
Seluruh anggota OSIS. Menginap. Di apartemen mereka. Selama dua hari satu malam.
Akram menoleh perlahan ke arah Almeera. Gadis itu menatapnya dengan horor yang luar biasa, wajahnya lebih pucat daripada saat Heera datang membawa sup iga. Di dalam kepala mereka berdua, alarm tanda bahaya berbunyi memekakkan telinga.
Skenario kiamat bukan lagi mengetuk pintu rumah mereka, tapi sudah bersiap untuk mendobraknya dengan kekuatan penuh.