NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Komedi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Kilatan Hijau Membelah Kabut Darah

Dua jam sebelum matahari di timur menampakkan sinarnya di atas tebing Lembah Anggrek.

Kabut dingin pegunungan menyelimuti kompleks perkemahan utara—tempat menginap delegasi utama Klan Teratai Darah. Puluhan tenda sutra merah berdiri di antara pepohonan pinus, dijaga oleh patroli ketat para murid yang berkeliling setiap lima belas menit.

Di balik dahan pohon pinus tinggi di luar pagar perkemahan, Wei Changqing dan Mu Qingxue mengamati situasi di bawah.

"Tenda besar dengan lambang teratai emas di tengah itu adalah tenda komando Paman Guru Gao Tianhao," bisik Qingxue. Suaranya terdengar dingin, namun matanya menyiratkan kepedihan mendalam atas pengkhianatan orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarga. "Dia memiliki enam pengawal pribadi tingkat Pendekar Menengah Tahap 5 yang berjaga di luar tendanya."

"Patroli murid di sayap barat memiliki celah pergantian jaga selama empat tarikan napas," kata Changqing tenang sambil memperhatikan ritme langkah patroli di bawah. "Ikuti langkahku tepat di belakang bayanganku."

Tanpa ragu sedikit pun, Qingxue mengangguk. Pembunuh wanita yang biasanya selalu bekerja sendirian dalam ketidakpercayaan itu kini menaruh seratus persen keselamatan hidupnya pada pemuda berjubah abu-abu di depannya.

Wesh... wesh...

Dua bayangan melompat turun dari pohon pinus menembus kabut fajar.

Changqing bergerak seperti angin. Setiap kali penjaga menoleh ke kiri, ia bergeser ke kanan. Setiap kali ranting kering di tanah berpotensi patah terinjak, ujung kakinya meluncur ringan di atas rerumputan basah tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Hanya dalam waktu dua menit, mereka berdua berhasil menyusup melewati tiga lapis penjagaan kamp tanpa memicu satu pun tanda peringatan, lalu bersembunyi di balik tumpukan peti logistik di samping tenda komando Gao Tianhao.

Dari dalam tenda kayu lapis sutra merah tersebut, terdengar suara percakapan pelan yang sangat jelas di telinga Changqing dan Qingxue.

"Kenapa belum ada kabar kematian dari Mu Qingxue ataupun keributan dari penginapan Sekte Pedang Langit?" suara berat dan serak seorang pria terdengar cemas—itu adalah Wakil Ketua Klan, Gao Tianhao.

"Mungkin gadis pembunuh itu terbunuh atau tertangkap dalam diam oleh Tetua Sekte Pedang Langit, Tuan Wakil Ketua," sahut suara lain yang serak dan asing—suara seorang utusan dari Bayangan Gerhana. "Namun itu tidak masalah! Sesuai rencana cadangan, ini adalah Surat Palsu Kedua yang telah dicap stempel palsu klan Anda."

Terdengar suara gulungan dibuka di atas meja.

"Surat ini menyatakan bahwa Mu Qingxue telah ditangkap, diperkosa, dan dibantai secara keji oleh Jiang Chen malam tadi," lanjut utusan Bayangan Gerhana itu dengan nada kejam. "Sebarkan surat ini kepada seluruh murid Klan Teratai Darah di kamp ini tepat saat fajar menyingsing. Emosi mereka akan meledak! Mereka akan langsung menghadang dan menyerang rombongan Sekte Pedang Langit di persimpangan jalan raya lembah pagi ini juga!"

Mendengar betapa kejinya kebohongan yang dirancang untuk memicu pertumpahan darah saudara sektenya sendiri, kedua tangan Mu Qingxue mengepal erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Napas gadis itu bergetar menahan amarah yang mendidih.

Sebuah tangan yang hangat menempuk lembut punggung tangan Qingxue yang mengepal, menyalurkan ketenangan Niat Pedang Nirwana untuk menahan emosinya agar tidak meledak terburu-buru.

Changqing menoleh pada Qingxue, memberi isyarat dengan matanya, ‘Aku yang masuk mengambil suratnya dari Gao Tianhao. Kau hadang utusan Bayangan Gerhana itu jika dia mencoba lari keluar tenda.’

Qingxue mengangguk tegas, mencabut kedua belati merah darahnya tanpa suara.

Di dalam tenda, Gao Tianhao tertawa licik. "Bagus sekali. Begitu Ketua Klan mendengar murid kesayangannya dibunuh, dia akan turun gunung memimpin perang. Saat dia gugur di medan pertempuran melawan monster-monster Sekte Pedang Langit... takhta Ketua Klan Teratai Darah akan jatuh ke tanganku!"

Gao Tianhao menggenggam gulungan Surat Palsu Kedua itu, bersiap menyerahkannya kepada para anggota kamp.

"Sayang sekali," sebuah suara yang tenang dan dingin menyela dari pintu masuk tenda. "Takhta yang kau impikan itu hanya akan menjadi kursi di neraka."

Sreeek!

Kain sutra pintu tenda terbuka lebar.

Wei Changqing melangkah santai masuk ke dalam tenda komando dengan pedang besi hitam kusam terikat di pinggang, sementara di belakangnya, Mu Qingxue berdiri memblokir jalan keluar dengan cadar terlepas dan tatapan mata membunuh yang menusuk lurus ke wajah Gao Tianhao!

"Q-Qingxue?!" mata Gao Tianhao melotot lebar melihat murid keponakannya berdiri hidup dan sehat bersama seorang pemuda asing. "Bagaimana mungkin kau..."

"Kau menjual nyawaku dan kehormatan klan ini demi ambisi busukmu, Paman Guru!" geram Mu Qingxue dengan suara bergetar oleh kemarahan suci.

Utusan Bayangan Gerhana di dalam tenda langsung panik. Ia melompat menabrak dinding tenda samping berniat melarikan diri membawa salinan dokumen!

"Jangan lari!" Qingxue melesat mengejar utusan bayangan itu menembus robekan tenda ke arah hutan pinus belakang.

Kini, di dalam tenda komando yang diterangi lampu minyak fajar, hanya tersisa dua orang: Wei Changqing dan Wakil Ketua Klan Teratai Darah, Gao Tianhao.

Gao Tianhao menyadari kedoknya telah terbongkar total. Wajah tua pria itu berubah bengis dan kelam. Ia menyelinapkan gulungan surat palsu itu ke dalam sabuknya, lalu mencabut pedang lengkung bergerigi merah darah dari pinggangnya.

Jdharrr!

Ledakan hawa tenaga dalam tingkat Pendekar Ahli Persilatan Tahap 1 meledak menghancurkan meja komando kayu di depannya! Aura kabut darah beracun memancar pekat dan menyelimuti ruangan tenda.

"Bocah keparat!" raung Gao Tianhao dengan mata merah menyala. "Berani-beraninya kau mencampuri urusan Klan Teratai Darah! Kubungkam mulutmu dan kubawa kepalamu sebagai bukti kematian Qingxue pagi ini juga!"

Changqing berdiri tenang empat langkah di depan badai aura darah tersebut. Ia perlahan meraba gagang pedang besi hitamnya.

Sementara itu, Gao Tianhao tersenyum kejam di tengah uap merah pekat yang menyelimuti ruangan. Aroma amis darah dan bau busuk herbal racun memenuhi setiap inci udara—cukup untuk membuat pendekar biasa muntah darah hanya dengan menghirup satu tarikan napas.

"Di dalam ruangan tertutup ini, kabut racun Teratai Darah-ku meresap melalui setiap pori-pori kulitmu, bocah!" geram Gao Tianhao sambil mengangkat pedang lengkung bergerigi merah miliknya. "Tanpa perlu menebasmu pun, jantungmu akan melepuh dalam tiga menit! Serahkan hidupmu!"

Wuuush!

Gao Tianhao melesat menerjang ke depan bagaikan iblis kehausan darah. Ia melancarkan jurus pamungkas kelas tinggi klannya: Tarian Sabit Darah Seribu Kelopak.

Pedang bergeriginya berputar dengan kecepatan mengerikan, menciptakan gelombang tebasan sabit merah yang membelah meja, kursi, dan seluruh perabotan tenda menjadi serpihan kayu beracun! Serangan ini jauh lebih padat dan ganas daripada yang pernah ditunjukkan oleh Mu Qingxue.

Namun di tengah kepungan badai sabit merah beracun itu, Wei Changqing tetap berdiri tenang di posisi semula.

‘Tidak ada yang melihat di dalam tenda ini,’ batin Changqing. ‘Tidak perlu lagi menahan cahaya mata pedang hijau.’

Changqing memejamkan matanya sekejap.

Ketika ia membuka matanya kembali...

WUUUUSH!

Dua berkas cahaya hijau zamrud yang sangat padat, silau, dan suci meledak keluar dari kedua bola matanya! Kilatan Mata Pedang Hijau menyinari seluruh isi tenda komando yang gelap dengan cahaya zamrud yang begitu agung, mengusir kabut darah beracun di sekitarnya bagaikan matahari fajar membakar embun pagi!

Di bawah tatapan mata hijau itu, seluruh pergerakan cepat pedang bergerigi Gao Tianhao seolah berhenti berputar di udara.

Changqing meraba gagang pedang besi hitam kusamnya.

Sring!

Pedang hitam ditarik keluar. Tidak ada jurus rumit yang dilancarkan. Changqing hanya melangkah satu inci ke depan dan mengayunkan pedang besinya secara mendatar dalam Tebasan Mata Pedang Hijau.

Tranggg... Kraaak!

Satu tebasan kelabu bercahaya hijau zamrud melintasi ruangan.

Seluruh gelombang sabit merah Gao Tianhao seketika terbelah menjadi dua! Ujung pedang besi hitam Changqing menghantam telak bagian tengah bilah pedang bergerigi merah pusaka milik Gao Tianhao—menghancurkannya menjadi puluhan serpihan logam beracun yang berserakan di lantai tenda!

"A-Apa?!" mata Gao Tianhao melotot lebar melihat senjata pusakanya hancur berantakan oleh pedang besi biasa dan matanya tersilaukan oleh cahaya hijau zamrud yang menakutkan.

Sebelum Gao Tianhao sempat membuka mulutnya untuk berteriak memanggil pengawal di luar tenda, siluet jubah abu-abu Changqing sudah bergeser dengan sekejap mata, dan berdiri tepat satu jengkal di depan wajahnya.

Tangan kiri Changqing meluncur cepat menepuk tiga titik saraf meridian di dada dan leher Gao Tianhao dengan kecepatan kilat.

Tik! Tik! Tik!

Aliran tenaga dalam Pendekar Ahli Persilatan Tahap 1 milik Gao Tianhao tersumbat total seketika. Tubuhnya kaku seperti patung batu, suaranya tercekat di tenggorokan tak mampu mengeluarkan suara jeritan.

Bersamaan dengan lumpuhnya Gao Tianhao, tangan kanan Changqing meluncur halus ke pinggang sabuk sutra pria itu, lalu menyambar gulungan Surat Palsu Kedua sebelum sempat terjatuh atau rusak!

Bruk!

Gao Tianhao jatuh berlutut di lantai tenda yang hancur, menatap Changqing dengan mata bergetar penuh ketakutan seolah ia baru saja melihat dewa perang turun dari langit. Cahaya hijau zamrud di mata Changqing perlahan menyusut kembali menjadi mata hitam pemuda biasa saat pedangnya disarungkan.

Satu tebasan memutus kabut racun. Satu ketukan melumpuhkan Wakil Ketua Klan!

Tepat pada saat Changqing mengamankan gulungan surat palsu itu ke dalam tangannya, kain tenda belakang yang koyak terbuka lebar.

Sreeek!

Mu Qingxue melompat masuk kembali ke dalam tenda dengan napas sedikit terengah namun matanya bersinar tajam. Tangan kirinya menyeret tubuh utusan Bayangan Gerhana yang telah pingsan dan terikat erat oleh sabuk sutra.

Saat Qingxue melihat Gao Tianhao sudah berlutut lumpuh tak berdaya di lantai dan surat palsu kedua telah berada aman di tangan Changqing, gadis pembunuh itu terperangah takjub dan terkejut.

"Kau... kau berhasil mengalahkannya secepat ini tanpa membuat keributan yang terdengar oleh penjaga di luar tenda?!" gumam Qingxue tak percaya.

"Bukti konspirasi sudah lengkap di tangan kita," kata Changqing tenang sambil memperlihatkan gulungan surat palsu kedua bercap stempel merah tersebut. "Utusan Bayangan Gerhana dan Wakil Ketua Klan yang berkhianat telah berhasil kita amankan hidup-hidup."

Dari luar tenda komando, sinar matahari pagi berwarna keemasan mulai menyelinap masuk melalui celah pintu tenda.

Fajar telah resmi menyingsing di atas Lembah Anggrek.

Di luar sana, terdengar derap langkah kaki kuda dan suara terompet pagi yang menandakan bahwa Ketua Klan Teratai Darah—pimpinan tertinggi klan yang sebenarnya, baru saja bangun dan bersiap mengumpulkan para tetua untuk upacara keberangkatan pulang.

Changqing menoleh pada Mu Qingxue dengan tatapan mantap.

"Akar perang telah berhasil kita cabut sebelum tunasnya mekar menjadi bencana," kata Changqing. "Sekarang... bawa aku menghadap gurumu, Ketua Klan Teratai Darah."

1
Arman Jaya
alur ceritanya bagus..
lanjutkan Thor.....👍👍🙏
Jhon
mantap thor👍
Suhartini Wahono
suka jg.....😍👍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Jimmi
Aku sangat menyukai cerita ini😍😍😍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fatih Al
lanjut lagi🙏🙏
Fatih Al
mantap thor💪
Budi Xiao
Lanjut, semangat thor👍
Celestial Quill
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote supaya novel ini semakin dikenal dan semangat author untuk update juga semakin besar. Terimakasih sudah membaca🙏
Fatih Al
Cerita bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!