Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HHM 25
Siang hari seharusnya aman.
Cahaya matahari jatuh lurus menembus celah kanopi, memantul di badan pesawat yang penyok, membuat akar lumina berkilau samar. Udara panas, nyaris menipu seolah hutan itu cuma hutan biasa.
Lalu suara itu datang.
Awalnya jauh.
Getaran rendah, seperti dengungan yang salah tempat.
Evan langsung menegakkan tubuh.
“Itu...” gumamnya.
Belum sempat kalimatnya selesai, suara baling-baling merobek udara. Keras. Menggulung. Membuat tanah bergetar pelan di bawah kaki mereka.
Helikopter.
Evan menyalakan radio. Beberapa detik statis, lalu suara balasan muncul, menanyakan apakah posisi yang mereka tangkap sudah benar.
“Posisi tepat,” jawab Evan cepat. “Tapi dengarkan. Harap bawa senjata. Ada makhluk aneh di bawah.”
Hutan yang tadi diam... hidup kembali.
Bukan karena angin. Daun-daun bergetar. Bayangan bergerak di bawah kanopi. Tanah di sekitar pesawat berderak oleh langkah yang terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya takut cahaya.
Makhluk-makhluk itu keluar.
Mereka tidak menyerang karena gelap.
Mereka menyerang karena wilayahnya terancam.
Makhluk itu tak peduli meski kulit mereka terbakar. Kulit tipis itu menjadi merah bercampur kehitaman oleh cahaya terang.
Evan menggenggam senjata seadanya, matanya menyapu sekeliling. Dan di detik itu, ia sadar.
“Ini serangan terakhir mereka.”
Makhluk pertama muncul dari balik bayangan pohon, berlari rendah, menunduk agar tubuhnya tetap di bawah garis cahaya. Yang lain menyusul, menyebar, mencoba celah dari berbagai arah.
Logam bawah pesawat kembali dicakar.
Keras. Brutal.
Victor berdiri, napasnya terkontrol, meski urat di lehernya mulai menegang. Ia bisa merasakan tubuhnya bereaksi dari dalam, karena panggilan dari makhluk- makhluk itu.
Sierra justru membeku.
Suara helikopter makin dekat. Terlalu dekat.
“Van...” suaranya pecah.
“Van, itu helikopter, kan?”
“Iya,” jawab Evan singkat.
“Berarti kita selamat, kan?”
“Berarti... ini beneran, kan?” katanya lagi, seolah tak percaya.
Makhluk menghantam sisi pesawat. Logam bergetar.
Sierra menutup telinga.
Bukan karena suara makhluk tapi karena baling-baling yang semakin keras.
“Gue... gue nggak suka ini,” katanya terengah.
“Gue kira pas helikopternya datang semuanya bakal beres. Kok malah--kok malah makin kacau sih?”
Ia menelan ludah.
“Gue takut, Van. Gue beneran takut.”
Evan menggenggam lengannya. Kuat. Menahan.
“Dengerin gue. Jangan lari. Jangan panik.”
“Apa gue kelihatan panik?” Sierra tertawa pendek nyaris histeris.
“Ini gue versi kalem.”
Makhluk lain muncul dari sisi berlawanan. Mereka belajar. Menyesuaikan.
Victor berseru, “Mereka nggak peduli cahaya sekarang. Mereka nggak mau kita pergi atau mereka mati.”
Helikopter menurunkan ketinggian. Angin dari baling-baling menyapu dedaunan, membuat makhluk-makhluk itu semakin liar.
Cahaya melemahkan mereka.
Tapi suara asing itu... membangunkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada takut seperti naluri bertahan.
Evan mengangkat wajah, menatap ke arah langit.
Helikopter melayang rendah, cukup dekat hingga angin dari baling-balingnya memukul tanah dan membuat dedaunan beterbangan liar. Dari pintu samping, sebuah tali tebal dengan pengait dijatuhkan berayun sebentar sebelum menegang.
Satu petugas rescue meluncur turun, tubuhnya terkendali meski tanah di bawahnya belum sepenuhnya aman. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung berjongkok, senjata terangkat.
“Kontak visual,” suaranya terdengar lewat radio. “Ada beberapa makhluk.”
Dari atas, petugas kedua membalas tembakan. Dentuman senjata memecah udara siang. Peluru mengenai tubuh makhluk-makhluk itu membuat mereka tersentak, terhuyung, tapi tidak roboh. Tidak mati. Hanya melemah. Cukup untuk memaksa mereka mundur beberapa langkah... lalu menggeram.
“Pelurunya nggak mempan penuh,” gumam Evan.
“Naik sekarang!” teriak petugas di bawah.
Sierra hampir harus diseret ke arah tali. Tangannya gemetar, kakinya berat seperti menolak bergerak.
“Gue--gue nggak kuat, Van!” suaranya nyaris hilang oleh deru helikopter.
“Liat gue,” Evan memegang wajahnya. “Pegang talinya. Jangan banyak mikir. Naik sekarang.”
Petugas rescue membantu mengaitkan pengaman di tubuh Sierra. Tarikan dari atas membuat tubuhnya terangkat perlahan. Sierra menjerit kecil, antara takut dan lega, saat kakinya terlepas dari tanah.
“Jangan jatuhin gue!” teriaknya ke udara. Refleks khasnya yang muncul bahkan di detik paling kacau.
Ia berhasil naik. Masuk ke dalam helikopter dengan napas terengah, wajahnya pucat.
Victor menyusul. Kondisinya jauh lebih lemah. Tubuhnya hampir tak bereaksi saat pengaman dipasang. Urat di lehernya samar menghitam, tapi matanya masih sadar.
“Cepat,” kata petugas itu singkat.
Victor terangkat. Lebih lambat. Setiap detik terasa terlalu lama. Dari bawah, Evan menatap tanpa berkedip sampai tubuh Victor akhirnya ditarik masuk ke dalam helikopter.
Evan berbalik cepat, mengumpulkan barang ke ransel: radio, sisa catatan Victor, buku, apa pun yang masih bisa dibawa. Ransel itu dilempar, ditarik naik ke helikopter.
Sekarang tinggal Evan.
“Naik!” teriak seseorang dari atas.
Evan melangkah mundur, siap meraih tali.
Lalu suara logam itu datang.
Bukan dari luar tapi dari bawah.
Satu makhluk berhasil merangkak ke bagian rusak badan pesawat. Cakarnya menghantam logam yang sudah rapuh. Robek. Satu sobekan panjang terbuka tepat di sisi Evan.
Bangkai pesawat itu bergetar keras.
Makhluk itu muncul setengah tubuh, terlalu dekat.
Tali masih bergoyang di udara.
Evan terhenti.
Dan di detik itu, semuanya menggantung antara tanah, udara, dan sesuatu yang menolak melepaskan mangsanya.
Evan meraih tali itu.
Tangannya sudah menggenggam erat, kaki baru terangkat dari tanah, saat itu sesuatu menarik balik dari bawah.
Bukan satu.
Beberapa cakar mencengkeram ujung tali helikopter, serentak, brutal. Tali itu menegang lalu tertarik ke bawah, membuat badan helikopter terguncang keras di udara.
“Kontak di tali!” teriak seseorang dari atas.
Baling-baling meraung lebih kencang. Helikopter miring sedikit, cukup untuk membuat semua orang di dalamnya terhuyung.
Makhluk-makhluk itu tidak mencoba memanjat.
Mereka mencoba menjatuhkan semuanya.
Evan mengangkat wajah, menatap ke atas. Ia tahu persis kalau ini diteruskan, bukan cuma dia yang jatuh.
Sierra.
Victor.
Semua.
“LEPAS!” teriaknya.
“TARIK SEKARANG!” balas suara dari helikopter.
Evan menggeleng keras, meski mereka mungkin tak melihatnya.
“JANGAN!”
Tangannya mengencang di tali, lalu perlahan... ia melepaskan satu pegangan.
Ia menoleh ke arah bawah. Makhluk itu menatap balik tertarik oleh gerakan, oleh tarikan, oleh perlawanan.
Evan berteriak lagi, suaranya memotong deru baling-baling.
“LEM PARIN RADIONYA!"
“Hah?!”
“SEKARANG!”
Di dalam helikopter, seseorang meraih tas ransel. Radio yang tadi tetap berada di tas ransel akhirnya dikeluarkan.
Helikopter itu tidak lagi stabil.
Bukan cuma berguncang tapi terombang-ambing, seperti benda hidup yang sedang ditarik ke bawah oleh sesuatu yang tidak mau melepaskan wilayahnya. Tali berderit. Baling-baling meraung lebih keras, berjuang menjaga keseimbangan.
Satu kesalahan lagi, dan semuanya bisa jatuh.
Di tengah kekacauan itu, Evan baru sadar ada sesuatu di sisi jaketnya.
Saku.
Tangannya menyelip ke dalam.
Masih ada.
Patahan akar lumina, redup. Ia lupa memilikinya.
Evan menelan ludah.
Dia tidak butuh senjata.
Dia cuma butuh radio.
Matanya menyapu cepat: Victor dan Sierra selamat. Itu cukup.
“Victor harus hidup,” gumamnya, hampir tanpa suara.
Bukan karena harapan.
Tapi karena logika.
Victor satu-satunya yang memahami racikan itu. Satu-satunya yang tahu bagaimana makhluk-makhluk ini bekerja bagaimana menghentikannya, bukan hanya sekadar kabur.
Kalau hutan ini dibiarkan, makhluk-makhluk itu akan menyebar ke pulau lain, ke manusia lain.
Hutan ini harus kembali steril.
Berapa pun harga yang harus dibayar.
Evan minta radio itu dilempar, benda itu berayun di udara sebelum jatuh ke tanah.
Makhluk-makhluk itu bereaksi seketika.
Cengkeraman mereka tidak mengendur dari tali.
Evan menatap ke atas sekali lagi.
“GUE LEPAS.”
Dan sebelum ada yang bisa menghentikannya,
sebelum ada teriakan lain,
Evan melepaskan tali helikopter dengan pisaunya.
Tubuhnya jatuh terhempas ke tanah, patahan akar Lumina ia keluarkan dari saku sebagai alat pertahanannya.
Evan berlari menyelamatkan diri dari kejaran makhluk.
Evan rela menjadi umpan hidup, untuk memberi yang lain kesempatan pergi.
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
semangat💪