menjalani hidup sebagai seorang siswa dan sebagai istri di usia yang masih terbilang sangat muda ada lah pantangan tersendiri bagi Almira Larasati namun ia harus menjalankan walaupun hati kecilnya menolak namun karena ingin mendengarkan jantung nenek yang ada di tubuh orang yang akan di nikahi nya ia bersedia menikah muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qiang ifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa bersalah
Amira terkejut sendiri setelah menampar wajah Abi. Tatapan nya mulai mengatakan kalau ia sedang ketakutan, sangat ketakutan.
Amira melangkah mundur, lalu membelakangi Abi, dengan deru nafas yang memburu.
Abi sendiri mematung memegang pipinya.
"Kamu ganti baju aja, aku keluar sebentar." ucap Abi meninggalkan Amira.
Tak sedikit pun Amira melihat Abi, ia lebih terlihat ketakutan, membungkus dirinya dengan selimut, dan mulai meneteskan air mata.
"Aku ini kenapa sih." gumam Amira mulai merasa bersalah.
Menatap tangan nya, yang sudah menampar wajah Abi.
perkataan Rombla kembali melintas di ingatan nya bagaimana seharusnya bersikap pada suami
"Kamu kenapa bodoh banget Amira." memukul dirinya sendiri.
"Pak Abi pasti marah banget. Mama ." Amira mulai bingung sendiri.
Amira kembali mengingat bagaimana aybi memperlakukannya tadi. Tubuh Amira merinding saat mengingat sentuhan Abi di kulitnya.
"Aku takut apaan sih." gumam Amira kesal dengan dirinya sendiri
"Tapi aku takut kalau sampai pak Abi ngapa ngapain aku." meringkuk tubuhnya dalam pelukan sendiri.
"Tapi kenapa, kenapa pak Abi menginginkan itu."pikir Amira.
"Seharusnya dia tahu kan, kalau aku masih sekolah." memukul kasur
"Akhhhh, aku pasti sudah gila." semakin merasa bersalah
Cukup lama Amira merenungkan dirinya sendiri, menatap pintu berulang kali, berharap Abi akan datang. Namun, sampai menjelang petang, Abi masih belum datang, bahkan Amira sudah menghabiskan makanan, yang seharusnya mereka santap berdua tadi pagi.
Amira beberapa kali mengutak-atik ponselnya menunggu pesan dari pak Abi.
"Aku aja kali yah yang chat." mengumpulkan niat.
"Emm tapi kalau gak di bales gimana." menatap ponselnya dengan bimbang.
"Telfon aja kali yah." membuka panggilan di ponselnya.
"Gak, gimana kalo pak Abi minta yang aneh aneh." menahan tangan nya menyentuh ponsel
"Wajar sih sebenarnya, aku kan istrinya." meraih ponselnya dengan cepat.
"Eh tapi aku kan masih sekolah." berpikir kembali.
"Gak ada harga diri banget." menatap ponselnya kesal
"Eh, pak Abi kan belum makan." langsung menghubungi nomor Abi seketika. Panggilan Amira pertama kali menghubungi Abi. Untuk beberapa saat masuk, setelah itu tak aktif.
Rasa khawatir membuat Amira, panik sendiri. Amira mulai tak tenang karena panggilan ya sama sekali tak masuk, di tambah mengirimkan chat, yang tak juga terbaca. Bayangan aneh yang muncul di pikiran Amira, semakin membuat takut kalau terjadi apa apa dengan Abi.
Amira pun tak bisa tenang, cepat cepat memakai baju, memilih dengan asal berniat mencari Abi di luar. Seperti mendapatkan serangan panik Amira dengan gerakan cepat berlari untuk mencari Abi.
Saat membuka pintu Amira menabrak tubuh Abi yang akan masuk.
"Mau kemana." tanya Abi melihat Amira yang terlihat tergesa gesa.
"Bapak dari mana aja." memeluk Abi dengan erat, dan sedikit isak tangis.
"Kamu ini kenapa." tanya Abi heran.
"Tadi kamu nampar aku, sekarang kamu peluk aku seenak nya." protes Abi dengan nada lembut
"Aku khawatir, ponsel bapak gak aktif. Aku takut terjadi sesuatu sama bapak." menenggelamkan wajahnya dalam pelukan.
"Ponsel aku baterei nya habis." memperlihat kan ponselnya pada Amira yang di ambil dari saku celana.
"Bapak udah makan belom." ucapan Amira membuat Abi merinding karena takut di tampar lagi.
"Tadi kan bapak minta makan." menggesek gesekan wajahnya di dada bidang Abi.
Ya ampun Amira, pliss jangan mancing deh, aku keluar tadi tuh gara gara mau nenangin si joni nih. gumam Abi menahan diri.
"Tapi pak, makanan nya udah abis aku makan." mengeratkan pelukannya karena takut
Abi menatap tempat makan, di atas meja yang sedikit berantakan. Tersenyum kembali mengelus kepala Amira.
"Yaudah gak apa apa. Sekarang berangkat ke bandara yah." pinta Abi mencium kepala Amira yang mengangguk.
Mereka pun bersiap siap untuk bandara.