“Marriage is scary? haha, aku rasa bukan menikah yang menakutkan, tapi salah pasangan lah hal yang menakutkan”
Aruna Kyla Shaquille, gadis yang tidak suka memikirkan hal yang tidak perlu, dia lebih suka hidup damai dan berteman dengan siapapun
Ketika manusia memiliki cinta dan ambisi menjadi satu, kadang manusia bingung mendahulukan yang mana, tapi percayalah… keduanya jika disatukan dalam kondisi yang baik pun akan sama sama bagus
“Tidak semua orang seperti yang kamu pikirkan, ada kalanya manusia memiliki rasa takut, tapi setidaknya kali ini kamu mau mencoba menerima cinta ku yang tulus”
Saksikan kisah cinta yang manis ini!🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nuriya_hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Lindu
Di rumah sewa, Aruna dan teman teman sudah rapi, wangi, harum karena habis sholat maghrib tadi
Mereka menunggu kedatangan dospem tercintahh dan ter garang yaitu bu Widia✨
Tin tin! perlahan mobil yang Doni kemudikan masuk ke halaman rumah
“Assalamualaikum… halooo, gimana kabar nya anak anak?” Tanya bu Widia saat beliau baru turun dari mobil
“Waalaikumsalam…”
“Ibuuuuu” Tiga mahasiswi putri itu langsung menyalami dan memeluk bu Widia, tenaga mereka sepertinya terkuras habis setelah sosialisasi bareng ibu ibu tadi pagi
Bu Widia cuman tersenyum sambil membalas pelukan mereka “Kenapa? capek ya?”
“Tidak kok bu” Jawab Aruna
“Tapi capek dikit sih bu” Sahut Salsa
“Cuman rasanya ada yang kurang saja kalau tidak bertemu sama ibu” Jawab Novi
“Ye… sa ae lu galon air” Ledek Bima pada Novi
“Kalau Aruna nggak capek karena ada penyemangatnya sih” Ucap Bagas terkekeh
“Penyemangat? siapa? punya pacar disini?” Tanya bu Widia
“Iya tuh bu, Aruna punya pacar disini” Jawab Bima yang cepu
“Eh enggak ya enak aja” Ucap Aruna menyangkal
Bu Widia hanya geleng geleng kepala dengan kelakuan anak didik nya, agak tantrum sih… tapi okelah masih bisa di tangani
“Yaudah yuk masuk lah kita, kasian kalau bu Widia diluar terus” Ajak Doni, dia yang capek wak nurunin koper sendirian
Mereka semua masuk ke dalam rumah, satu koper di letakkan di atas dan satu koper lagi dibiarkan di ruang tamu
Bu Widia membongkar koper itu di depan mahasiswa nya, dia memang sengaja mengisi satu koper tersebut dengan berbagai macam makanan, bumbu dapur instan, camilan, dll pokoknya yang tidak ada disini
“Bu… ibu baik banget sih” Ucap Aruna, tidak menyangka saja dosen yang terkenal galak itu perhatian dengan mereka semua
“Ya saya kasian sama kalian, udah dilempar jauh sama kampus haha” Ucap bu Widia tertawa
“Tapi masih ada yang lebih jauh dari kita bu” Ucap Bagas
“Ya itu urusan dospem nya lah, yang ibu urus kan kalian” Ucap bu Widia
“Jadi makin sayang deh sama ibu, sarengheo bu” Ucap Novi sambil memberikan jari nya
“Sarangheo sih sarangheo, tapi laporan KKN harus jadi tepat waktu, tidak ada kelonggaran” Ucap bu Widia
Mereka yang tadinya ketawa ketawa kini langsung lemas lagi, yaa itulah… bu Widia emang baik kok, tapi soal waktu benar benar sangat disiplin
“Diskon satu minggu aja nggak ada bu?” Tanya Salsa
Bu Widia menggeleng keras, tidak! pokoknya tidak boleh ada suatu apapun yang tertunda
“Jam sembilan malam kalian sudah harus tidur, jika ketahuan masih belum tidur, ibu berikan sanksi” Ucap bu Widia
Mereka malah semakin lemas, apalagi trio cowok itu yang kalau malam kadang sering begadang untuk ngegame bareng
“Mau nurut gak sama ibu? atau ganti dospem?” Tanya bu Widia melihat reaksi anak anaknya
Dan semua langsung semangat lagi sambil menjawab dengan kompak “NURUT BU”
“Nah bagus kalau mau nurut” Ucap bu Widia, ia membagikan makanan dan camilan itu kepada anak anaknya, kecuali barang di satu tas yang tidak ia bongkar
Akhirnya bu Widia istirahat terlebih dahulu setelah makan malam bersama
“Sebat enak gak sih bro?” Ucap Bagas menaik turunkan alisnya
“Gundulmu, kita bisa di gorok sama bu Widia” Jawab Doni
Mereka mereka ini sadar kalau sudah ada bu Widia, maka tidak boleh tidur terlalu malam, jadi jam sembilan mereka sudah masuk ke kamar masing masing
Bu Widia juga di lantai atas kok, kamarnya sebelahan dengan kamar mahasiswi
___________
23:00
Di tengah malam begini Aruna terbangun, ia merasa tenggorokannnya kering dan butuh minum, tapi sayangnya botol air minum di kamar itu isinya sudah habis
“Haduh… aslinya males banget sih” Ucap Aruna, tapi mau tidak mau dia harus turun ke dapur untuk mengambil air minum
“Ngapain run?” Tanya Bima yang saat itu keluar dari kamar mandi
“Eh, ini loh air minum di kamar habis, aku haus” Jawab Aruna sambil mengisi terus botol itu dari dispenser
Tapi tiba tiba
Pyarrr!!!! Gelas yang awalnya ada di meja makan itu jatuh sendiri
“Eh astaga” Mereka berdua terlonjak kaget dan kompak diam sesaat
“Run… Aruna” Ucap Bima memanggil berkali kali karena menyadari ada yang aneh, Aruna pun juga demikian
Bima melihat bahwa lampu di atas mereka itu goyang ke kanan dan ke kiri, sedangkan Aruna sendiri menyadari kalau air dari dispenser itu jatuh kemana mana
“Bim… ini gempa gak sih bim? apa aku doang yang linglung?” Ucap Aruna memastikan karena dia juga merasa kaki nya tidak bisa berdiri dengan seimbang
“Run awas!” Ucap Bima yang menarik tangan Aruna untuk menjauh dari lampu
Pyarrr!!!! lampu di dapur juga jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa kepingan, jadi sekarang dapur dalam keadaan gelap
“Bim, aku ke atas bangunin semuanya”
“Aku juga bangunin yang lain dulu” Ucap Bima karena jika mau keluar rumah, maka mereka harus keluar bersama sama
Bima berlari membangunkan teman temannya, sedangkan Aruna berusaha naik ke lantai atas walau dia jalan nya juga tidak bisa lancar akibat tanah yang bergoyang
“GESSS BANGUN GESS GEMPA!!!!”
“HAH?” Salsa terlonjak kaget karena dia mendengar teriakan Aruna dan merasa kalau kasur itu juga goyang
“Bangunin Novi, aku ke kamar bu Widia dulu”
Aruna ganti masuk ke kamar bu Widia, untung saja kamar nya tidak terkunci
“Bu… bangun bu, ada gempa bu… kita harus keluar” Ucap Aruna sambil menggoyangkan lengan dospem nya itu
“APA? GEMPA?” Bu Widia juga langsung bangun
“Iya bu, ayo keluar bu” Ajak Aruna, saat dia keluar kamar ternyata Salsa dan Novi juga baru keluar
Mereka berempat langsung turun ke bawah dan dilihatnya para laki laki juga baru keluar kamar dengan wajah panik nya “Anak anak jangan panik, lindungi kepala kalian masing masing, kita keluar bersama sama” Ucap bu Widia
Bu Widia merangkul Aruna dan melindungi kepala masing masing, mereka berdua berjalan keluar rumah untuk menuju halaman, disusul dengan Salsa dan Novi yang juga berpegangan erat, lalu baru Bima, Bagas, dan Doni yang keluar sambil merangkul pundak teman temannya
Saat sudah diluar pun banyak warga yang sudah duduk di jalanan desa
“GEMPAAAA, KELUAR SEMUA”
“SEMUA WARGA KELUAR”
Teriak mereka dengan panik dan menyuruh semua warga keluar dari rumah masing masing, mencari tempat yang luas dan menghindari bangunan
“AAAAA YA ALLAH”
“ASTAGHFIRULLAH”
Terdengar suara riuh dari warga yang baru keluar juga, tengah malam begini jelas mereka panik nya bukan main
Dan karena halaman rumah sewa cukup luas, jadi mereka duduk di halaman tanah itu bersama warga yang lain, mereka juga sama panik nya, tapi tidak se panik Aruna dan teman teman
“Bu, saya takut” Ucap Novi, ia jadi ingin pulang ke rumah sekarang
“Sabar Novi, ini gak akan lama” Ucap Salsa menenangkan sahabatnya, sedangkan Aruna masih berpelukan dengan bu Widia, asli dia juga ketakutan sekarang
Getaran itu masih terjadi sampai sekarang, mereka saling berpelukan dan berdo’a agar gempa ini cepat selesai
“Semoga kami semua selamat” Batin Aruna berdo’a sambil memejamkan mata
2 menit kemudian getaran sudah berkurang perlahan, bahkan tanah yang mereka duduki kini sudah tidak goyang lagi, itu artinya gempa sudah selesai
“Anak anak, kalian ada yang luka?” Tanya bu Widia
“Tidak bu, aman” Jawab Bima setelah memeriksa kedua teman nya
“Kami aman bu” Jawab Salsa setelah dia juga memastikan bahwa Novi baik baik saja, cuman masih shock saja
“Aruna, kamu baik baik aja?” Tanya bu Widia sambil melonggarkan pelukannya untuk memeriksa Aruna
“Aman bu” Jawabnya
Akhirnya warga desa yang lain bisa bernapas dengan lega, mereka juga menyemangati satu sama lain dan kembali ke rumah masing masing karena tidak ada kerusakan apapun, dan semua rumah dalam keadaan baik baik saja, mungkin hanya beberapa barang yang jatuh
Disini bu Widia juga bisa bernapas dengan lega “Kita masuk yuk” Ajak nya
“Tapi kalau ada gempa susulan bagaimana bu?” Tanya Novi
Bu Widia menggeleng “Insya Allah tidak ada, pusat gempa bukan disini, jadi disini memang terkena lindu”
Para mahasiswa itu membatin sebenarnya, baru lindu aja mereka sudah kelabakan seperti ini, tidak bisa dibayangkan gimana yang ada di pelosok atau pusat gempa
Mereka akhirnya menurut dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah, memang tidak ada yang rusak, hanya saja beberapa barang ada yang berjatuhan
“Sekarang kalian tidur saja, kita bereskan semuanya besok pagi” Ucap bu Widia dan anak anaknya langsung menurut.
ga ada yang namanya ikhlas benar-benar bisa loss di hati dan pikiran. tetap masih membekas meski bertahun-tahun.
ga perlu nunggu di sumpal bim, noo langsung sosor aja tuu salsa ntar juga kicep, kan Uda buka puasa/Curse/
mudahan suatu kelak Bu Dewi benar-benar menyesali perbuatannya selama ini run...
mudahan jadi anak yg Sholeh, pinter dan jadi kebanggaan ortu dan keluarga ya...
tetap semangat aruna.. perasaan takut wajar, tapi harus tetap positif thinking runa.
Kk othor masalahnya jangan lama-lama ya..biar ga ber bab-bab masalahya /Applaud//Smile/