Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Jerat Terikat dan Malam yang Berubah
Deru mesin sedan hitam milik Dallas membelah keheningan jalan raya kota yang masih basah. Di kursi penumpang, Bellamy memeluk lengan Dallas dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah rahang tegas yang masih tampak kaku.
"Kau tahu, Dallas? Sifat kaku seperti patung ini yang membuatku semakin ingin memilikimu seutuhnya," celetuk Bellamy, memecah keheningan dengan tawa cegil-nya yang khas.
Dallas tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan, namun sudut bibirnya berkedut kecil. "Kau baru saja memicu perang dengan dua keluarga besar malam ini, Bellamy. Dan sekarang kau masih bisa memikirkan hal seperti itu?"
"Tentu saja!" Bellamy mendongak, menatap profil samping wajah Dallas dengan binar mata yang intens. "Enrique Group sudah runtuh dari dalam. Javier sedang menangis di pojokan rumah temannya, dan ayahnya yang tua bangka itu tidak punya kartu as lagi. Kenapa aku harus cemas? Musuh kita sudah menjadi abu."
"Ini belum selesai," ucap Dallas, suaranya memberat saat mobil mulai memasuki area parkir bawah tanah gedung apartemen eksklusif miliknya. "Javier mungkin sudah hancur secara sosial malam ini, tapi pria seperti dia akan menjadi sangat berbahaya saat terdesak. Aku mengenal tabiatnya selama belasan tahun hidup sebagai bayangannya."
Cicit ban mobil terdengar saat Dallas menghentikan kendaraannya di slot parkir khusus. Begitu mesin mati, keheningan total kembali membungkus mereka.
Dallas melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Bellamy. "Dan yang paling membuatku tidak tenang... adalah kau."
Bellamy menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura terkejut. "Aku? Kenapa? Apa aku kurang cantik malam ini saat melamarmu di atas panggung?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bellamy," Dallas memajukan tubuhnya, mengurung pergerakan Bellamy dengan satu tangan yang bertumpu pada sandaran kursi. Sepasang mata sedingin es miliknya menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. "Kau bergerak terlalu rapi. Cara kau menjebak Lucianna, bagaimana kau meretas sistem proyektor di gedung pertunjukan, hingga ketenanganmu saat menghadapi pasukan militer privat ayahku... kau bukan sekadar putri manja dari keluarga Guinevere."
Jantung Bellamy berdesir tajam. Instingnya sebagai Livana Minerva berteriak bahwa pria di hadapannya ini memiliki intuisi yang luar biasa mematikan. Namun, ketakutan itu justru memicu adrenalin liarnya.
"Lalu menurutmu aku ini siapa, hm?" Bellamy berbisik, tidak mundur satu senti pun. Ia justru memajukan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan, mengembuskan napas hangat di permukaan kulit Dallas. "Seorang agen rahasia? Atau penyihir yang datang untuk mencuri hatimu?"
Dallas menahan napas sejenak, matanya menggelap melihat keberanian gadis di depannya. "Siapa pun kau... kau sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupku. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah mengacaukan segalanya."
"Memangnya siapa yang mau pergi?" Bellamy terkekeh, jemarinya merayap naik ke dasi Dallas, menariknya pelan agar wajah pria itu semakin mendekat. "Aku sudah bilang, kau adalah milikku. Takdirmu sudah kukunci malam ini."
Dallas tidak menjawab lagi. Keberanian Bellamy yang di luar batas itu akhirnya meruntuhkan sisa-sisa pengendalian diri yang ia pertahankan sejak di mansion tadi. Dengan gerakan cepat dan posesif, Dallas mencengkeram tengkuk Bellamy, membungkam bibir ranum gadis itu dengan sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dengan luapan emosi yang selama ini ia tekan di balik topeng pelayannya.
Bellamy membelalakkan matanya sesaat, terkejut dengan serangan balik yang begitu agresif dari sang tokoh utama. Namun detik berikutnya, jiwa cegil-nya bersorak menang. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Dallas, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama besarnya, mengabaikan dunia luar yang sedang hancur berantakan akibat ulah mereka.
...****************...
Sementara itu, di sebuah sudut distrik komersial yang sepi, sebuah mobil sedan mewah berhenti di tepi jalan yang gelap. Di dalam mobil, Tobias—orang kepercayaan yang selama ini mengelola manipulasi saham Enrique Group—sedang menelepon seseorang dengan tangan yang gemetar.
"Semua dokumen sudah mendarat di meja Jaksa Agung, Tuan," ucap Tobias dengan suara berbisik, matanya terus melirik ke kaca spion, takut jika ada pasukan taktis Diego Costa yang membuntutinya.
"Bagus," sebuah suara bariton yang sangat berwibawa menyahut dari seberang telepon. Itu adalah suara James Guinevere. "Bagaimana dengan sisa aset likuid milik Fernando?"
"Kami sudah membekukannya hampir delapan puluh persen, Tuan James. Besok pagi, saat bursa saham dibuka, Enrique Group secara hukum dinyatakan bangkrut. Fernando tidak akan bisa membayar pengacara terbaik sekalipun untuk kasus kekerasan rumah tangga dan penggelapan dana publiknya."
James di seberang telepon terkekeh rendah, suara tawa yang begitu kejam dan dingin. "Kerja bagus, Tobias. Bagianmu akan ditransfer ke rekening luar negerimu sebelum fajar. Sekarang, menghilanglah dari kota ini sampai situasi mereda."
"Baik, Tuan. Terima kasih atas kemurahan hati Anda," Tobias mematikan sambungan telepon, menghela napas lega karena ia memilih untuk berkhianat ke pihak yang tepat.
Di dalam kamar utama mansionnya, James menurunkan ponselnya dari telinga. Rambut peraknya tampak berkilau di bawah temaram lampu kamar. Layar semu Sistem Novel di sudut matanya kembali berkedip.
[ Plot Utama 'Kehancuran Antagonis Fernando Enrique' telah diselesaikan dengan sempurna. ]
[ Hadiah Poin Takdir: 50.000 Poin telah ditambahkan ke akun 'Sylvester'. ]
James menyipitkan matanya menatap layar tersebut dengan pandangan meremehkan. "Hanya segini kekuatan dari plot asli dunia ini? Sangat rapuh."
Ia melirik ke arah ranjang, di mana Diane sedang tertidur lelap setelah kelelahan menangis dan menghadapi ketegangan malam ini. James melangkah mendekat, memperbaiki selimut yang menutupi tubuh istrinya dengan sangat lembut.
"Kau aman sekarang, Diane," bisik James, jemarinya mengusap kening wanita itu dengan posesif. "Sistem ini berpikir bisa mengendalikan nasib kita. Tapi mereka lupa... aku adalah Sylvester, dan tidak ada satu pun skenario sialan yang bisa mendikte hidupku lagi."
James kemudian melirik ke arah luar jendela, memikirkan pertemuan singkatnya dengan Diego Costa melalui perantara Dallas tadi. 'Diego... kau mencurigai putriku, bukan? Kau tahu ada yang berbeda dari Bellamy,' batin James dengan senyuman misterius. 'Tentu saja dia berbeda. Karena gadis yang bersanding dengan anakmu sekarang... adalah putri nakalku yang ikut tersesat di dunia ini.'
Kembali ke apartemen pribadi Dallas, pintu lift terbuka langsung di dalam griya tawang mewah yang didominasi warna hitam dan abu-abu maskulin. Dallas melangkah keluar sambil menggandeng tangan Bellamy yang tampak tidak berhenti tersenyum sejak mereka berada di dalam lift.
"Jadi, ini wilayah kekuasaanmu yang sebenarnya, Calon Suamiku?" Bellamy mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang rapi dan dingin, sangat mencerminkan kepribadian Dallas.
"Ini tempat teraman yang kupunya," jawab Dallas pendek, melepaskan jas hitamnya yang sedikit lembap lalu menggantungnya di dekat pintu. "Kau bisa menggunakan kamar utama untuk membersihkan diri. Aku akan tidur di sofa luar."
Bellamy langsung berbalik, menatap Dallas dengan pandangan tidak percaya yang dibuat-buat. "Apa? Sofa luar? Dallas, kita baru saja bertunangan di depan seluruh konglomerat kota, dan kau mau membiarkan tunanganmu yang cantik ini tidur sendirian di kamar yang luas ini?"
Dallas menghela napas, menatap Bellamy dengan tatapan memperingatkan. "Bellamy, kendalikan dirimu. Kita belum menikah."
"Tapi kita akan menikah, kan?" Bellamy melangkah mendekat, memojokkan Dallas ke dinding lorong apartemen dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia mendongak, menatap mata Dallas dengan senyuman manis yang mematikan. "Atau... kau sebenarnya takut tidak bisa menahan dirimu jika berada di satu kamar denganku, Dallas?"
Rahang Dallas kembali mengeras. Keberanian gadis ini benar-benar selalu berhasil memancing sisi gelap di dalam dirinya yang selama ini ia kunci rapat. Pria itu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Bellamy, berbisik dengan nada rendah yang sarat akan ancaman berbahaya.
"Jangan menantangku, Bellamy Guinevere," bisik Dallas, suaranya begitu dalam hingga membuat getaran halus di dada Bellamy. "Jika aku benar-benar kehilangan kendali malam ini... kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini bahkan untuk melihat matahari terbit besok pagi."
Bukannya takut, Bellamy justru terkekeh renyah, merasakan debaran jantungnya yang menggila. "Oh, benarkah? Kalau begitu... aku menantikan pembuktianmu, Dallas Costa."
D itu ternyata Deborah?? 🤣