Arella atau sering dipanggil Arel adalah siswi tercantik disekolahnya. Banyak sekali cowok tampan yang berbaris ingin menjadi kekasihnya. Namun, entah seperti apa tipe cowok yang disukai oleh Arel. Sejauh ini Arel tidak tertarik pada cowok manapun.
Bahkan Rey saja yang gantengnya luar biasa dan menjadi pangerannya para siswi disekolahnya, ia tolak begitu saja. Selama ini Arel tidak pernah jatuh cinta pada cowok. Entahlah, tidak ada cowok yang menarik perhatiannya sejauh ini.
Sehingga suatu hari, disekolahnya kedatangan siswa transfer dan kebetulan satu kelas dengannya. Awalnya ia biasa saja pada siswa pindahan itu. Namun, semakin Arel sering bertemu dan berbicara dengannya hatinya mulai tergerak dan luluh.
Apakah siswa baru itu adalah tipe yang Arel suka?
Memangnya seperti apa sih tipe cowok yang disukai oleh Arel?
penasaran? Yuk, mampir! Kali aja minat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angka dalam jam tangan
Tok... Tok.. Tok..
Amelia mendadak cemas akan perubahan sikap Arel dan emosi yang ia tunjukkan setelah pulang sekolah. Ia mencoba berbicara apa yang terjadi pada Arel sekarang. Ia mengetuk pelan pintu kamar Arel.
"Arel, sayang? Bunda ingin bicara sama kamu," ucap Amelia begitu lembut dari balik pintu.
Awalnya Arel masih kesal dan tidak ingin membukakan pintu untuk Bundanya. Tapi, ia juga merasa sangat bersalah dan tidak enak karena telah melawan Amelia sampai membentaknya. Ini adalah pertama kalinya ia melawan dan membentak Bundanya seperti itu. Jadi, ia merasa sangat takut menghadapi Bundanya saat ini.
"Arella, tolong! Buka pintunya sayang!" pinta Amelia tidak menyerah. Dan terus mencoba membujuknya.
Arel tidak tega mengabaikan Bundanya seperti ini. Terpaksa ia bangkit dan mengalah membuka pintu untuk Amelia.
"Ada apa, sayang? Bicaralah pada Bunda. Pasti ada alasan kenapa kamu bersikap seperti tadi pada Bunda," ucap Amelia mencoba bertanya apa yang terjadi.
Arel terdiam menunduk dan tidak menjawab. "Arella? Ceritakan sama Bunda, jika kamu punya masalah. Mungkin Bunda bisa bantu," bujuk Amelia lagi dengan gigih.
Arel mengangkat kepalanya dan menatap teduh sendu wajah sang Bunda. Mendadak ia menangis tiba-tiba. Tangisnya pecah membuat Amelia tidak paham akan derita yang dialami putrinya ini. Sudah lama sejak terakhir kalinya Amelia melihat Arel sesedih ini, setelah kematian Ayahnya.
Arel memeluk erat tubuh sang Bunda. Menangis hebat dalam pelukannya. Hatinya sangat terluka setiap kali memikirkan ucapan Devina. Kata-katanya itu telah menusuk hatinya sangat dalam.
"Sayang! Kenapa kamu menangis?" tanya Amelia mengelus pelan rambut Arel.
Arel tidak kuasa untuk bicara saat ini. Amelia mengerti, bahwa saat ini ia harus membiarkan Arel agar meluapkan semua emosi dalam tangisannya. Biarkan apa yang telah menyakitinya berjatuhan dalam setiap tetesan air mata yang keluar. Dan meredam sedikit rasa sesaknya. Walau menangis tidak menyembuhkan luka, tapi setidaknya itu bisa membuat hati menjadi lebih lega.
Arel menangis cukup lama. Sampai akhirnya ia berhenti setelah 32 menit menangis dalam pelukan Amelia.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Amelia diikuti anggukan kecil dari Arel.
"Jadi, apa yang membuat kamu menangis seperti ini?" tanya Amelia masih ingin tahu.
"Bunda?" ucap Arel masih sesegrukan.
"Iyah, sayang?"
"Apa dulu, Bunda punya teman dekat?" tanya Arel.
"Tentu saja, Bunda punya. Kenapa?"
"Apakah, Bunda pernah bertengkar dengannya?"
"Iyah, Bunda pernah. Kamu bertengkar dengan temanmu?" tanya balik Amelia. Arel mengangguk pelan.
"Memangnya, kenapa kalian bisa bertengkar?" tanya Amelia lagi. Arel menggeleng.
"Dia marah tiba-tiba. Tadi pagi dia masih baik-baik saja. Tapi setelah istirahat, dia begitu marah dan bilang, kalau aku munafik dan telah mengkhianatinya," jelas Arel.
"Begitu yah? Itu artinya, kamu sudah melakukan kesalahan yang membuat dia begitu marah. Coba kamu ingat lagi, apa yang telah kamu lakukan? Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi dia merasa tersakiti dengan apa yang telah kamu lakukan itu," balas Amelia memberi nasihat.
Arel terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Bunda. Ia kembali mengingat apa yang salah dengan semua tindakannya. Dan menggabungkan dengan apa yang sesuai dengan perkataan Devina.
🍂🍂🍂
"Yoga, kau pergilah! Mereka hanya mengincarku," ujar Satrya.
"Aku tidak akan pergi, sebelum kau memberitahu ku apa yang sedang terjadi?" tanya Yoga sangat ingin tahu.
"Kau sangat keras kepala. Akan ku jelas kan nanti," jawab Satrya.
Tatkala para mafia itu tampak sangat antusias setelah melihat jam tangan yang Satrya tunjukkan itu.
Kini tatapan mereka menajam seperti tatapan burung elang yang sedang menarget mangsanya untuk di cabik-cabik hingga hancur dan memakannya.
"Berikan saja jam tangan itu! Maka kami akan membiarkan kalian pergi," ucap pria besar itu.
Satrya tersenyum mendengarnya. "Spider! Katakan padanya, dia tidak berhak atas apapun yang ada dalam jam tangan ini. Karena ini adalah milikku. Katakan padanya, dia tidak akan mendapatkannya," ancam Satrya melempar jam tangan itu ketanah, lalu menginjaknya dan menghancurkannya.
pria besar itu, tampak sangat marah. "Berani sekali kau bocah tengik!" bentaknya.
"Hei, Fugo! Kau tidak perlu marah! Aku hanya menghancurkannya," ujar Satrya pada pria besar itu, yang ternyata bernama Fugo.
Semua ini semakin membingungkan dan membuat Yoga semakin penasaran apa artinya ini? Dan Satrya, sepertinya dia mengenal para mafia ini dengan baik. Bagaimana tidak? Ia bahkan sampai tahu nama dari pimpinannya.
Fugo sangat marah. Kedua tangannya tekepal erat merasa diremehkan oleh Satrya.
"Selamat tinggal!" seru Satrya menarik Yoga dan berlari kabur dari mereka.
"Kali ini, tidak akan ku biarkan kau lolos, bocah tengik!" seru Fugo mengejar Satrya dan Yoga diikuti oleh para anak buahnya.
Aksi saling mengejar terjadi begitu saja. Anak buah Fugo berpencar untuk mengepung Satrya dan Yoga. Namun, jangan remehkan Satrya. Ia sangat cepat dan lincah. Bahkan memang itu rencananya. Membuat para anak buahnya berpencar justru memudahkan Satrya untuk melumpuhkan mereka satu persatu.
Sementara Yoga kini mengerti, dihari dimana saat 12 orang pria tiba-tiba menyerang mereka adalah, karena Satrya. Yang mereka incar saat itu, adalah Satrya. Namun, kebetulan saja saat itu Yoga sedang bersamanya. Karena ia sedang belajar cara bertarung pada Satrya. Ia bisa berkelahi dan mengalahkan 12 pria itu bersama Satrya karena ilmu yang di berikan oleh Satrya.
Namun, sekarang yang menjadi pertanyaan baginya adalah, apa hubungan Satrya dengan para Mafia ini? Apa yang ada dalam jam tangan yang diincar oleh para Mafia ini? Dan siapa Spider, orang yang dimaksud oleh Satrya itu? Begitu banyak hal yang Satrya sembunyikan dari Yoga selama ini.
Pantas saja, saat dimana mereka mengalahkan 12 pria itu, ketika Yoga bertanya apa yang terjadi? Mengapa 12 orang pria itu tiba-tiba menyerang mereka? Satrya menghindari setiap pertanyaan Yoga. Dan hanya menjawab, "mungkin, mereka salah orang. Atau mereka sedang mabuk dan menyerang orang begitu saja. Untuglah kita bisa berkelahi." Itulah yang Satrya katakan.
Pada saat itu, Yoga hanya percaya dengan kata-katanya. Tapi, ternyata Satrya lebih tertutup dari yang ia duga. Dan dari ilmu bela diri yang ia ajarkan pada Yoga, seperti ilmu berada diri khusus yang diajarkan oleh seseorang.
Semua ini benar-benar sangat rumit dan sulit. Fugo kembali terhenti. Ia lagi-lagi kehilangan jejak Satrya. Dan dari sekian banyaknya anak buah yang ia bawa, tidak satu pun dari mereka yang memberi laporan kemana Satrya dan Yoga pergi.
"Ahh sial! Bocah itu, lolos lagi," geram Fugo. "Ternyata benar yang dikatakan oleh bos besar. Satrya EL, bukanlah bocah yang harus diremehkan. Aku harus mencari kelemahannya terlebih dahulu," ucap Fugo baru menyadarinya.
"Tapi, jam tangan itu sudah hancur. Dan semua angka itu telah lenyap. Apa yang harus ku katakan pada bos sekarang?"
by the way..... thank you so much thor.....
😍😍😍😍😘😘😘😘😘