Dia adalah gadis yang bernasab pada ibunya, satu satunya orang yang sangat mengasihinya di keluarga besar yang terhormat itu.
ia tak pernah dianggap ada, kehadirannya hanyalah aib yang memalukan bagi keluarganya.
hidupnya semakin hancur ketika satu satunya pelita dan sumber kasih sayang dalam hidupnya harus pergi selamanya.
naasnya...ia sama sekali tak di perkenankan melihat sang ibu untuk terakhir kalinya. bahkan ia tak tahu di mana sang ibu di makamkan.
dan malam dimana sang ibu tiada, di usianya yang masih menginjak remaja. ia harus menerima pelecehan dari seseorang yang seharusnya merangkulnya guna sedikit mengurangi beban kesedihan akibat kepergian sang ibu.
kakak sepupunya berniat merenggut mahkotanya sebagai seorang wanita.
ia berlari dan berlari dengan kaki berdarah pergi menjauh dari istana kelam itu.
mencoba menyelamatkan kehidupannya yang penuh dengan luka dan cemoohan.
dia....Izhayana Namira Shafeea.
seorang gadis tak bernasab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 semakin sakit... ( revisi )
Ujian nasional telah berlalu tiga hari yang lalu, selama itu pula Shafeea seolah tak pernah lepas dari Axel.
Namun hari ini, tanpa ia sadari..ia merasa ada sedikit berbeda yang di rasakan oleh Shafeea.
Dua hari Axel tak datang ke sekolah, dan tiba tiba ia merasakan hatinya seolah kosong.
" ayo kuantar pulang, Axel tidak masuk lagi ?! " tanya Luna ketika keduanya telah berada di pintu gerbang sekolah.
Shafeea mengangkat bahunya..
" tidak tahu...tapi terimakasih, aku pulang sendiri saja " jawab Shafeea menolak ajakan Luna.
Luna sudah sangat paham karakter sahabatnya itu, hampir satu tahun berteman dengan Shafeea, sedikit banyak ia mulai hafal karakter gadis itu hingga ia pun tak memaksanya lagi.
" baiklah aku pulang lebih dulu...jemputanku sudah datang " pamit Luna dan seperti biasa, Shafeea menjawabnya dengan senyuman dan deheman.
" hmmm " itulah jawaban Shafeea.
Selepas kepergian Luna, Shafeea segera menuju halte bis tempat ia biasa menunggu bis untuk pulang.
Belum lama ia mendudukkan pantatnya di bangku halte itu, seorang pria berbadah tegap dengan postur tubuh tinggi dan memakai seragam warna hitam.
Warna seragam yang sangat familiar di ingatannya.
Pria itu mendekat dan semakin mendekat kepada Shafeea.
Keadaan halte memang sepi saat ini.
" berhenti disana...jangan mendekat kepadaku, katakan ada apa ?! " tanya Shafeea dengan tegas dan tatapan tajam kepada pria itu.
" maaf nona, silahkan masuk ke mobil..." kata pria itu.
" kalau aku tidak mau...?! Aku tidak punya hubungan apa apa dengan orang yang mungkin memerintahkan anda " kata Shafeea.
" maaf nona...terpaksa saya akan memaksa anda.." jawab orang itu tak kalah tegas.
" baiklah tetap di sana, tunjukkan kepadaku.." kata Shafeea kemudian.
" mari nona..." pria itu membawa Shafeea mengikuti langkahnya setelah sebelumnya ia sejanak melirik ke tempat lain.
Shafeea masuk ke dalam sebuah mobil sport mewah warna hitam. Matanya sedikit melebar ketika ia melihat dua orang telah duduk di sana.
satu di samping ia akan duduk, dan satu di samping kursi kemudi.
Tanpa bersuara, gadis itu segera duduk di samping orang itu.
" sepertinya kau benar benar telah menjadi liar dan kehilangan sopan santunmu..." kata orang itu terdengar begitu pedas menyindir Shafeea.
" salam tuan besar...salam tuan Faritz..." akhirnya setelah beberapa menit dalam kebisuan, Shafeea pun bersuara sembari mengarahkan wajahnya kepada dua orang itu dan tak lupa menganggukkan kepalanya secara bergantian kepada keduanya.
Ada sesuatu yang nyeri di rasakan oleh Faritz ketika Shafeea menyebut dirinya dengan panggilan Tuan..
Shafeea harus menelan sakit ketika ia tak mendapatkan respon untuk sapaannya itu.
Ya..mereka yang tak lain adalah sang kakek, Tuan besar Abdullah Nasser Latief dan tuan Faritz Abdullah Nasser Latief.
Mobil yang membawa Shafeea segera berlalu dari tempat itu.
Sementara itu, setelah beberapa waktu mobil mewah warna hitam berlaku meninggalkan are halte...
" hallo... xel...." suara Aresh terdengar sedikit gagap dan panik.
" hmmm...." jawab Axel dari seberang telephon.
" seseorang membawa Shafeea pergi Xel..."
" apa ?! kemana ?! "
" maaf Xel, aku tak tahu "
" tak tahu kau bilang ?! "
" sorry Xel..aku kehilangan mobil itu...sepertinya mereka tahu aku mengikuti mereka.."
" Aresh....!! " Axel tedengar berteriak, dari kemaren ia memang tak datang ke sekolah karena menyelesaikan suatu pekerjaan bersama Jacob dan Faris.
Sedangkan Shafeea ia serahkan kepada Aresh.
" sorry Xel..." jawab Ares tertunduk lesu sembari menjauhkan smart phonenya dari telinganya.
" dimana kau sekarang, kirimkan lokasimu sekarang "
" ya..."
Axel yang kini berada di sebuah rumah besar berlantai tiga dan kini tengah berada di dalam sebuah kamar di lantai teratas bangunan itu nampak kalut dan seketika meraih kunci motornya yang ia simpan di atas nakas kamarnya.
Farugh...satu nama yang terukir dalam pikirannya dan mungkin yang kini membawa Shafeea. Hatinya bergemuruh dan semakin membuatnya tak tenang.
bergegas ia lari menuruni anak tangga..
" tuan muda anda mau kemana, sebentar lagi nyonya besar akan segera datang " seorang kepala pelayan mencoba menghentikan langkah Axel.
Axel tak menggubris sedikitpun teriakan pria tua itu, dengan langkah lebar ia semakin mempercepat langkahnya.
Hingga sampai di pintu utama, seseorang yang nampak baru saja menginjakkan kakinya di rumah ini menghentikan langkah Axel sejenak.
Seorang pria hampir seumuran dengannya namun sedikit lebih tua dia atasnya, namun sangat jelas jika ia berbeda darah dengan Axel.
Pria itu cenderung berwajah bule. Sementara Axel berwajah Asia.
" mau kemana...nenek sebentar lagi sampai " kata pria muda itu kepada Axel.
Dia adalah Edward Collin Tang. Cucu angkat sang nenek yang di ambil dari garis keluarga suami sang nenek yang memang berdarah bule.
Lebih tepatnya, Edward adalah keponakan sang nenek dari keluarga kakeknya.
Keduanya adalah saudara satu buyut.
Hubungan keduanya memang tak begitu baik, hal itu di picu lantaran sang nenek selalu membanding bandingkan dirinya dengan Edward yang cenderung penurut dan anak rumahan.
Berbeda jauh dengan dirinya yang terkesan liar dan masa bodoh.
Edward selama ini berada di Hongkong bersama sang nenek dan menuntut ilmu juga di sana.
Dan entah kenapa dan ada urusan apa sehingga ia juga turut ikut bersama sang nenek, biasanya Edward jarang ikut ke Indo bersama nenek.
" bukan urusanmu .." jawab Axel kemudian dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Dirinya memang paling malas berbasa basi dengan Edward.
Baginya Edward hanya seorang yang suka berbasa basi, dan Axel tak suka itu.
Edward melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah sepeninggal Axel.
Ia pun tak begitu menanggapi perangai Axel kepadanya.
🌿🌿🌿
Di sebuah ruang privat di sebuah resatauran berbintang.
Nampak Shafeea tengah duduk berhadapan dengan sang kakek juga pamannya.
Gadis itu terlihat menundukkan wajahnya, sedang kedua tangannya berada di pangkuannya.
Seumur umur dalam hidupnya, ini kali pertama Shafeea duduk dalam satu meja yang sama dengan kedua orang paling di hormati dan di segani di dalam keluarganya itu.
" lihatlah dirimu...pakaian apa yang sudah kau kenakan itu. Apa kau tengah belajar menggoda laki laki dengan memakai pakaian sempit itu ?? " tuan Latief bersuara dengan nada menghakimi kepada Shafeea.
Sungguh di mata tuan Latief, seragam sekolah yang kini di kenakan oleh Shafeea sungguh tak layak pakai.
Dulu..di tempat sekolah Shafeea yang lama, gadis itu memakai seragam dengan mode long dress busana muslim yang sama sekali tak memperlihatkan lekuk tubuhnya karena sekolahnya berbasis agamis.
Shafeea diam tak menjawab.
Andai ia punya pilihan...ia akan memilih tak memakai seragam ini.
Karena walaupun seragam yang ia pakai ini berlengan panjang, tetap saja ia kurang nyaman karena ia yang terbiasa dengan pakaian serba besar.
Sementara seragam ini...cukup sempit.
kasihan bayimu klo tanpa nasab😊