Bercerita tentang Aretha yang mempunyai hubungan dengan kekasihnya yaitu Bagas. Pria yang sangat di cintainya. Namun kedua orang tua Aretha tidak merestui hubungan itu. Karena alasan yang tepat.
Aretha tidak bisa meninggalkan kekasihnya yang membuat sang ayah Alvian yang menjodohkannya dengan seorang Dokter bernama Arryan. Terjadi penolakan dari Aretha. Namun dia tidak bisa membantah perjodohan itu.
Aretha yang mencintai kekasihnya. Memilih lari di hari pernikahannya. Meninggalkan calon suaminya. Namun apa yang di lakukan Aretha membuat bencana dalam hidupnya yang menjadikan kehidupannya berubah 180 derajat.
Sampai akhirnya 2 tahun kemudian Aretha yang akhirnya di pertemuan kembali dengan Pria yang di tinggalkannya di hari pernikahannya.
Bagaimana kelanjutan pertemuan mereka saat keduanya di hadapkan dengan permasalahan yang rumit dan perasaan yang bercampur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 keadaan darurat
Kabar kecelakaan Aretha terdengar juga sampai di telinga Alvian dan Alea, mereka langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Aretha. Aretha masih berada di dalam ruangan ICU yang masih ditangani oleh dokter karena keadaannya yang benar-benar sangat kritis.
Sementara Alvian dan Alea berada di luar ruangan operasi dengan keduanya yang sama-sama panik yang takut terjadi sesuatu pada Aretha. Sebagai orang tua memang pasti sangat mengkhawatirkan putri mereka. Sama dengan Alvian yang bagaimana pun Aretha adalah anaknya.
"Ya Allah bagaimana ini? Apa yang terjadi pada kamu Aretha? kenapa kamu bisa sampai seperti ini Aretha," Alea sebagai ibu pasti panik dan terus menangis yang takut terjadi putrinya kenapa-kenapa.
"Sayang kamu tenanglah. Aretha pasti akan baik-baik saja," ucap Alvian.
"Apa kamu bilang. Kamu masih bisa mengatakan jika Aretha akan baik-baik saja. Bukannya ini yang kamu mau selama ini. Kamu menginginkan Aretha mati," ucap Alea
"Apa maksud kamu?" tanya Alvian.
"Kamu lupa sumpah kamu sendiri kepada Putri kamu sendiri. Putri kamu sudah minta maaf dan bersujud di kaki kamu dan kamu menginginkan Putri kamu mati dan jika Putri kamu mencari rumah yang baru kamu akan memberi maaf kepada-nya," ucap Alea dengan menangis terisak-isak.
Alvian terdiam mendengar perkataan istrinya dan Alvian juga terbayang dengan kata kejam yang keluar dari mulutnya untuk putrinya sendiri. Kata mayat yang keluar. Maka dia akan memaafkan Aretha.
"Kamu itu ayah yang sangat kejam. Kamu tega melakukan semua ini kepada anak kamu sendiri, darah daging kamu sendiri. Kamu tega menyumpahi putri kamu sendiri. Kamu sangat kejam," Alea yang terus menangis sampai memukul dada suaminya.
"Jika aku sampai kehilangan Aretha. Aku tidak akan memaafkanmu, aku juga akan pergi supaya kamu hidup sendirian. Tidak punya istri dan juga tidak punya anak," tegas Alea.
"Kamu itu ayah yang jahat, ayah kejam,"
"Kamu jahat pada Aretha!" Alea terus saja memukul dari bidang Alvian. Alvian menangkap kedua tangan istrinya dan memeluk istrinya untuk memenangkannya.
"Aku tidak mau kehilangan Aretha! Dia anakku satu-satunya. Kenapa kamu melakukan semua ini," ucap Alea dengan suaranya merendah masih menangis dipelukan suami.
"Maafkan aku. Aretha pasti akan baik-baik saja," ucap Alvian.
Alvian sepertinya menyesal telah mengucapkan kata begitu kasar kepada Aretha. Dia juga tidak akan memaafkan dirinya jika sampai kehilangan Aretha. Kemarahannya pada Aretha membuatnya mengeluarkan kata sumpah serapah yang sangat kejam. Dia hanya akan memberi maaf pada mayat Aretha.
Sementara Aretha di meja operasi sedang berjuang untuk hidup. Arryan sebagai Dokter utama yang menanganinya yang berusaha untuk pasiennya.
Namun Arryan mendadak kurang fokus yang sebentar sebentar melihat layar monitor jantung Aretha yang memastikan kondisi Aretha.
"Jantungnya semakin lemah," batin Arryan dengan kepanikannya.
"Dokter jantung pasien turun drastis!" tegur Suster. Arryan kembali melihat monitor jantung.
Tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit.
Jantung Aretha berhenti dengan garis lurus di monitor jantung.
"Siapkan pompa jantung!" titah Arryan. Suster langsung mengambil pompa jantung dan Arryan langsung melakukan pompa jantung untuk pasien. Dada Aretha naik keatas dengan mengikuti irama pompa jantung tersebut.
"Bertahanlah Aretha. Orang tuamu sedang menunggumu. Aku mohon padamu bertahanlah!" pinta Arryan dengan cemas yang terus melihat wajah Aretha.
Entah mengapa dia menginginkan Aretha untuk tetap hidup. Dengan deru nafas Arryan yang naik turun yang terus memompa jantung Aretha dengan harapan Aretha untuk selamat.
Air mata tiba-tiba keluar dari pelupuk mata Aretha dengan Aretha yang pasti berjuang untuk tetap bangun. Suasana di dalam ruang operasi semakin terang dengan kondisi Aretha yang sudah semakin memburuk dan bahkan jantungnya sudah berhenti.
Namun Arryan masih tetap berusaha untuk menyelamatkan Aretha yang melakukan segala tindakan untuk menyelamatkan Aretha. Sementara Alvian dan Ale yang masih berada di depan ruangan operasi yang semakin panas dan semakin.
Tidak lama akhirnya Arryan keluar dari ruangan operasi dan di hampiri Alvian dan Aretha.
"Bagaimana keadaan Aretha?" tanya Alea dengan panik.
"Aretha masih dalam keadaan kritis. Aretha kehilangan banyak darah dan benturan di kepalanya membuat lukanya semakin parah," jawab Arryan.
"Lalu sekarang Aretha bagaimana?" tanya Alea.
"Masih kritis dan Aretha juga mengalami kelumpuhan pada kakinya akibat benturan keras yang terjadi," ucap Arryan yang membuat Alea benar-benar terkejut yang mendengar pernyataan dari dokter mengenai putrinya.
"Apa kamu bilang?" tangan Alea yang begitu shock.
"Benar Tante. Aretha mengalami banyak luka berat," jawab Arryan.
"Tante kami akan berusaha untuk kesembuhan Aretha. Tante harus sabar dan serahkan semua kepada yang maha kuasa," ucap Arryan.
"Aretha!" Alea yang mendengarkan keadaan putrinya membuatnya semakin lemah dan yang terduduk lemas.
"Sayang!" Alvian berusaha untuk menenangkan Alea. Walau dirinya sendiri juga begitu kaget mendengar kondisi Aretha.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Arryan pamit.
"Aretha, Aretha, Aretha!" Alea hanya bisa memanggil-manggil nama putrinya itu.
********
Setelah melakukan operasi Arryan yang berada di dalam ruangannya dan membuka pakaian operasinya. Arryan yang juga mencuci tangannya di wastafel dan juga mencuci wajahnya dengan kedua tangan nya. Arryan melihat dirinya di cermin.
"Apa aku juga harus menjadi mayat seperti yang di inginkan papa. Baru kamu memaafkanku?" tiba-tiba perkataan Aretha terbayang di dalam benak Alvian. Bagaimana dia mengingat permintaan maaf Aretha tadi malam dan hari ini Aretha kembali kerumah sakit dalam keadaan kecelakaan.
Tidak tau kenapa Arryan harus terbayang dengan ucapan Aretha dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
**********
Keluarga Arryan sedang makan malam bersama seperti biasanya.
"Jadi Aretha mengalami kecelakaan?" tanya Mira memang sudah mendengar kabar tersebut.
"Iya mah," jawab Arryan.
"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Matteo.
"Aretha masih mengalami kritis dan belum sadar dari koma. Untuk perkembangannya dia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Tetapi itu sementara," jawab Arryan.
"Astagfirullah," lirih Mira yang simpatik mendengar kondisi dari Aretha.
"Itu adalah karma untuk wanita seperti itu. Sekarang baru menerima akibat dari perbuatannya dan lihatlah akibatnya tidak main-main diberikan balasan yang sangat parah," cicit Wulan.
"Wulan kamu itu bicara apa sih. Bisa-bisanya kamu itu membicarakan karma di saat seseorang sedang mengalami musibah. Bagaimana jika semua ini terjadi kepada kamu dan orang menyerupai kamu yang tidak benar," sahut Mira yang semakin lama semakin kesal dengan kejulitan dari iparnya itu.
"Mbak itu selalu saja membela wanita. Apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Apa yang terjadi pada wanita itu adalah sebuah teguran dan juga untuk peringatan untuk kita semua juga. Kita sebagai anak tidak boleh melawan orang tua dan lihat dia adalah salah satu contoh orang yang melawan orang tua. Mbak juga ada di sana dan ayahnya sendiri yang mengatakan jika putrinya datang maka kakinya harus dipatahkan kaki anaknya tidak bisa berfungsi dan itu karena sumpah dari orang tuanya sendiri," tegas Wulan.
"Sudah-sudah Wulan, mas tidak mau kamu itu terus saja mengatai Aretha. Dia sedang mengalami musibah. Jika kamu tidak menyukainya ya sudah. Kamu tidak perlu mengatai ini dan itu. Kasihan dia," tegas Mateo.
"Isss mas juga ikut-ikutan membelanya," sahut Wulan kepala. Arryan hanya menghela nafas saja di tengah makan malam itu.
Bersambung