Saling mencintai satu sama lain tidak cukup untuk mengartikan sebuah kata cinta sejati, namun cinta sejati yang sesungguhnya ialah dua insan yang saling mencintai menerima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing untuk bisa hidup bersama.
Bima mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang menimpanya tapi tidak membuat Seira meninggalkan dirinya dan tetap menikahinya.
Namun disaat kondisinya yang mengalami kelumpuhan, Bima harus menerima kenyataan bila Seira--istrinya hamil.
"Hamil? Aku bahkan belum pernah menyentuhmu." Bima.
Apakah cinta Bima dan Seira ialah cinta sejati?
Lalu bagaimana bila ayah dari anak Seira tahu ternyata dia memiliki seorang anak dari Seira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 25 Tolong Rahasiakan
Bima merasakan tubuhnya begitu sakit terlebih lagi pada bagian punggungnya. Dia sedang berada didalam taksi menuju rumah adiknya setelah berhasil melarikan diri dari Madam Jen.
Bima ingin menghubungi Seira sebab dia yakin sang istri tengah mengkhawatirkan dirinya tapi saat merogoh saku celananya dia baru sadar ponsel miliknya dirampas Madam Jen saat dia ditahan.
‘Sial!’ rutuknya didalam hati. Dia tidak menyangka bila urusannya akan seperti ini. Madam Jen sangat licik bisa-bisanya melipat gandakan pinjamannya hingga berkali-kali lipat. Dia mana punya uang sebanyak itu untuk membayarnya.
Tiba didepan rumah adiknya Bima perlahan turun dari taksi dan meminta sopir taksi menunggu sebentar sebab dia pun tidak punya uang untuk membayar taksi. Setelah menekan bell rumah dan keluar adiknya Bima meminta sang adik untuk membayarkan taksi.
Adik Bima nampak syok melihat sang kakak sudah bisa berjalan. Dia ingin menanyainya namun fokusnya teralihkan saat melihat wajah Bima yang terluka.
“Kakak kenapa?” Adik Bima menyentuh wajah Bima yang lebam.
”Aku tidak apa-apa, An.”
Sebetulnya nama adik Bima itu adaalah Andini namun dia sering kali dipanggil An.
Andini tidak banyak bicara. Dia bergegas membawa sang kakak masuk kedalam rumah duduk disofa dan mengobati luka diwajah Bima terlebih dahulu. Melihat Bima yang nampak kelelahan Andini meminta sang kakak untuk beristirahat dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.
“Iya aku istirahat. Tapi sebelumnya aku bisa pinjam ponselmu aku ingin menghubungi kakak iparmu”
“Boleh, Kak. Ini.”
Bima mengambil ponsel Andini kemudian segera menghubungi Seira namun panggilan teleponnya tidak mendapat jawaban. Mencoba sekali lagi menghubungi namun Seira masih tidak menjawab. Pada akhirnya Bima memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dikamar tamu sembari menunggu Edwin--adik iparnya pulang bekerja dan meminta bantuan pria itu.
Setelah dua jam beristirahat Bima membersihkan diri dan makan siang bersama sang adik. Melihat perut adiknya yang besar sebab sedang hamil tujuh bulan Bima jadi teringat pada Seira yang juga tengah hamil namun bukan hamil anaknya.
Dada Bima berdenyut nyeri dia pun hanya bisa tersenyum getir. Bila tidak karena cinta, Bima tidak akan menerima Seira yang sudah menghianatinya meskipun itu tidak sengaja. Mengandung benih pria lain tentu saja adalah kesalahan fatal namun dia masih memaafkan Seira hanya saja dia tidak bisa menerima janin itu sebagai anaknya.
“Boleh Kakak mengelus perutmu?” tanya Bima yang melihat perut sang adik bergerak.
“Boleh, Kak. Sini.” Andini meraih tangan Bima kemudian menyentuhkan pada perutnya yang buncit. Terasa gerakan janin didalam kandungan Andini pada telapak tangan Bima membuat pria itu tersenyum senang dan terus mengelus mengikuti gerakan janin didalam perut sang adik.
“Kalau kandungan Kak Seira sudah tujuh bulan nanti Kakak juga bisa ngerasain anak Kakak nendang didalam perut Kak Seira.”
Seketika Bima menghentikan tangannya yang sedang mengelus perut Andini, menjauhkan tangan tersebut kemudian memalingkan wajah menyembunyikan kegetiran didalam hatinya. Meski janin didalam kandungan Seira aktif bergerak dan menendang sekalipun, dia tidak akan mau menyentuhnya.
Sempat terlintas dikepala Bima setelah janin itu lahir dia berniat memberikan janin itu pada Vero selaku ayah janin itu namun sepertinya dia tidak akan tega memisahkan Seira dengan anaknya.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya.
Beberapa waktu lalu Bima merasa menjadi pria beruntung yang dicintai Seira begitu besar hingga mau menerima dirinya apa adanya bahkan ketika dirinya lumpuh sekalipun Seira tidak meninggalkannya. Namun, ketika mengetahui Seira mengandung benih pria lain Bima merasa ditampar oleh kenyataan bila dirinya pun harus menerima kekurangan Seira yang telah ternoda oleh pria lain.
“Kak, kenapa melamun?”
Bima menggeleng pelan. Dia tidak ingin membahas tentang kehamilan Seira. Biarkan saja Seira menjalani kehamilannya seorang diri sebab yang dikandung wanita itu juga bukan anaknya. Memang terkesan jahat tapi apa boleh buat sebab dirinya tidak bisa menerima anak Seira bersama Vero. Setiap kali melihat perut Seira yang membuncit setiap kali itu juga dia merasa terluka.
“Suamimu masih lama pulangnya?” tanya Bima mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar lagi, Kak, tadi aku chat sudah dijalan. Eh, itu dia sudah datang.”
Andini bergegas menghampiri suaminya yang baru pulang bekerja. Mengambil tasnya kemudian mencium tangannya. Suami Andini membalas mencium kening kemudian mengusap perut yang besar itu.
“Apa kabar, Pak Edwin?” Bima bersalaman dengan adik iparnya.
“Baik, Bim. Kata Andini ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku. Apa itu?” tanyanya tanpa basa basi sebab dia tahu Bima menemuinya bukan untuk membicarakan hal sepele.
Bima melirik sebentar pada Adiknya kemudian menceritakan masalah yang tengah dia hadapi dimana dirinya sedang terlilit hutang yang dia pinjam pada Madam Jen. Bima juga menceritakan bila dirinya baru saja kabur dari wanita jallang itu setelah hampir dua puluh empat Jam ditahan.
“Kenapa Kak Bima tidak pernah bilang kalau pinjam uang pada rentenir?”
“Karena Kakak merasa kamu tidak perlu tahu.”
“Tapi kan Kakak minjam uang buat biaya pengobatan ibu dan kuliahku.”
“Kakak melakukannya karena merasa itu memang tanggung jawab Kakak.”
“Aku bisa saja membantumu membayarkan hutang pada Madam Jen. Tapi aku merasa cara itu kurang baik.” Edwin menanggapi masalah yang tengah Bima bahas setelah mendengarkannya dengan baik.
“Lalu saya harus bagaimana, Pak?”
“Menurut saya menjebloskannya kepenjara adalah jalan yang terbaik sebab dengan menjebloskan Madam Jen kepenjara maka tidak akan ada lagi korban-korban sepertimu nantinya.”
Bima mengangguk setuju dengan adik iparnya sebab Madam Jen sudah melanggar perjanjian dengan melipat gandakan uang yang dia pinjam demi keuntungannya sendiri. Madam Jen bahkan menahannya dan berniat melecehkan dirinya bila tidak membayar hutang dengan nominal yang tentu saja tidak mungkin Bima bisa membayarnya.
Setelah menemukan solusi permasalahannya dan Edwin mau membantunya mengurus pelaporannya kekantor polisi, Bima pun diantar pulang oleh Andini dan Edwin. Bima meminta Edwin menghentikan mobil didepan pagar rumah saat melihat ada mobil asing terparkir dihalaman rumahnya.
Kini pandangannya terfokus pada Seira dan Vero yang sedang duduk diteras membuat Bima menduga bila mobil tersebut ialah mobil milik Vero.
Tangannya terkepal kuat, dia tidak suka melihat pria itu datang kerumahnya apa lagi menemui istrinya. Belum lagi tatapan Vero saat melihat Seira selalu berhasil membuatnya cemburu.
“An, Pak Edwin, tolong rahasiakan tentang aku yang sudah bisa berjalan pada siapapun termasuk Seira.”
Meski tidak mengerti adik dan adik ipar Bima itu tetap menganggukan kepala.
Bima kemudian meminta bantuan adik iparnya untuk turun dari mobil seolah pria itu masih lumpuh seperti sebelumnya. Kebetulan didalam mobil Edwin ada kursi roda milik Andini yang sedang hamil besar dan itu dia gunakan untuk membawa Bima menghampiri Seira yang sedang berdebat dengan Vero.
”Apa yang kalian bicarakan?”