Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
.
Hari ini adalah hari pertama Alena bekerja sebagai asisten pribadi Nathan. Seorang staf HR membawanya menuju lantai paling atas untuk menemui Nathan dan menerima penjelasan mengenai tugas-tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya.
Begitu pintu lift terbuka, Alena langsung merasakan suasana berbeda.
Lantai eksekutif itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai-lantai lainnya. Tidak banyak karyawan yang berlalu-lalang. Setiap orang yang berada di sana tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Ruang kerja Tuan Nathan ada di ujung koridor," jelas staf HR yang mengantarnya. “Anda bisa langsung ke sana. Tuan Nathan sudah menunggu," ucap staf itu kemudian berbalik pergi tanpa menghiraukan wajah Alena yang terlihat pias.
Alena mengulurkan tangannya ingin mencegah kepergian staf itu. Bagaimana bisa dirinya ditinggalkan begitu saja di lorong itu? Bukankah seharusnya dia diantar sampai masuk ke dalam ruang presdir? Namun, apa daya? Punggung wanita itu sudah menjauh.
Alena menelan ludahnya. "Tuan Nathan sudah menunggu.” Kata-kata staf HR itu membuat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Tuan Nathan datang lebih dulu daripada dirinya? Apakah dia akan kena masalah di hari pertama bekerja?
Alena memejamkan mata sambil menarik napas panjang sebelum berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Lalu mengetuk pintu dengan tangannya yang sedikit gemetar karena gugup.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Suara Nathan terdengar dari dalam.
Alena membuka pintu perlahan dan terlihat olehnya Nathan yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Jas yang dikenakannya sudah dilepas dan hanya menyisakan kemeja putih dan rompi hitam yang membalut tubuhnya, yang memperlihatkan tonjolan pada bagian dadanya. Sebagai gambaran betapa kekar tubuh pria itu.
Dengan kedua mata yang terfokus pada layar laptop, pria itu mengangkat kepalanya dan berkata berkata, "Mulai besok datang sebelum pukul tujuh."
"Jam tujuh pagi?” Alena mengerutkan kening. "Bukankah jam kerja perusahaan dimulai pukul delapan.”
Nathan akhirnya mengangkat wajah dan menutup laptopnya. "Karena kamu asistenku. Jadi kamu harus mengetahui jadwalku sebelum hari kerja dimulai. Kamu harus memastikan semua dokumen yang kubutuhkan sudah tersedia, memeriksa agenda, menghubungi pihak yang akan bertemu denganku, dan memastikan tidak ada bentrokan jadwal."
Alena menelan ludahnya dengan susah payah. Gadis itu lupa, benar-benar lupa. Saat ini dirinya bukan lagi seorang direktur operasional yang memiliki asisten pribadi. Dirinya tidak adalah asisten pribadi yang harus siap kapanpun dirinya dipanggil.
"Baik," ucap gadis itu sambil menganggukkan kepala.
"Ini seluruh jadwalku selama dua minggu ke depan,” ucap Nathan seraya menyerahkan sebuah tablet kepadanya.
Alena menerima tablet tersebut dan matanya langsung membesar begitu melihat isinya. Rapat, pertemuan investor, jamuan bisnis, perjalanan keluar kota, presentasi, negosiasi. Bahkan terdapat beberapa agenda yang hanya memiliki jeda sekitar tiga puluh menit.
Alena menatap layar beberapa saat. Dari semua jadwal itu menunjukkan bahwa pria di hadapannya ini bahkan tidak punya waktu untuk istirahat. Apakah seorang pemilik perusahaan besar memang harus seperti ini?
Alena menurunkan perlahan gawai itu, lalu segera menegakkan punggung, dan menatap wajah Natan dengan sikapnya yang profesional.
"Baik, Tuan. Saya paham," jawabnya tenang dan jelas. "Saya akan mempelajari semuanya dan melakukan tugas saya sebaik mungkin."
Nathan hanya melirik sekilas, lalu tersenyum miring. senyum yang terasa menyebalkan bagi Alena. "Buktikan. Aku tidak suka hanya janji omong kosong."
"Saya mengerti," jawab Alena tenang. "Dan untuk hal pertama, bagaimana kalau kegiatan dikelompokkan menurut tempat saja. Agar tak banyak waktu terbuang di jalan."
Nathan menatap lurus ke wajah gadis itu. "Jelaskan!" titahnya.
Alena melihat kembali tablet di tangannya, kemudian meletakkannya di atas meja dengan posisi menghadap ke arah Nathan. dengan ujung jarinya ia menunjuk urutan jadwal di layar.
"Pertemuan di kawasan ini bisa disatukan dengan yang ini. Sementara yang ini disatukan dengan yang ini. Dengan begitu kita tidak perlu bolak-balik di jalan. Saya akan memberi jarak antar kegiatan supaya Anda memiliki cukup waktu untuk perjalanan dan istirahat sebentar. Jadi Anda tidak perlu khawatir terlambat. Agenda juga tidak saling bertumpuk. Tuan bisa lebih hemat waktu dan tenaga.
Nathan menatap wajah Alena menahan supaya di wajahnya kekaguman itu tidak nampak jelas. Alena baru melihat sebentar jadwal yang memang sengaja dia acak. Dan gadis itu sudah menemukan celah kesalahan.
"Baik, kerjakan seperti itu," jawab Nathan sambil bersandar santai. Benar-benar bersikap tenang, bahkan terlalu datar. "Dan mulai sekarang, kamu akan mengikuti ke manapun aku pergi."
"Siap."
"Baiklah. Kamu boleh pergi. HRD sudah menunjukkan ruanganmu, bukan?"
"Sudah, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Alena membungkukkan sedikit badannya sebelum kemudian keluar dari ruang presdir dan menuju ruangan yang berada tepat di sebelah ruang presdir.
Dan begitulah. Sejak saat itu, Alena memulai hidupnya yang baru sebagai seorang asisten pribadi.
Alena mengamati ruangan tempat dirinya berada. Ruangan yang begitu mewah dan nyaman. Bahkan lebih mewah dari ruangannya saat menjadi direktur operasional di Bagaskara grup. Nuansa ruangan yang begitu feminin dan elegan. Benar-benar seperti selera Alena selama ini. Dalam benak wanita itu bertanya, siapa asisten tuan Nathan sebelum dirinya masuk ke dalam Wijaya Kusuma Grup? Sejujurnya dia memang tidak tahu. Karena selama ini, setiap pertemuan dia selalu melihat Nathan datang dengan kawalan bodyguard. Bukan asisten.
Tidak mau ambil pusing sesuatu yang tidak penting, Alena lebih memilih mulai mengerjakan tugasnya. Ada banyak berkas bertumpuk di atas meja kerjanya. Dan gadis itu mulai memeriksa satu persatu. Dari semua yg ia lihat, sama sekali tidak ada jadwal untuk hari ini.
Namun gadis itu tidak berdiam diri begitu saja. Ia segera menyusun tumpukan berkas secara rapi, memisahkan mana yang mendesak, penting, dan sekadar arsip pelengkap. Membaca sekilas inti setiap dokumen, mencatat poin penting ke buku catatan kecilnya, lalu menyusunnya ke dalam rak penyimpanan sesuai kelompok agar mudah dicari sewaktu-waktu.
Semua dikerjakannya dengan tenang, teliti, dan teratur. Seperti kebiasaannya saat dia masih menjadi direktur operasional.
Baru saja ia hendak mencatat hal lain yang perlu diketahui, tiba-tiba ponsel yang terletak dia atas meja tak jauh dari tangannya berdering. gadis itu Segera ia mengangkatnya. "Selamat pagi, dengan Wijaya Kusuma Grup di sini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ke ruanganku sekarang." Suara yang sangat ia kenali terdengar singkat namun jelas dari seberang.
"Baik, Tuan."
Alena berdiri untuk merapikan pakaiannya sebentar, lalu melangkah keluar menuju ruangan Nathan. Tiba-tiba saja gadis itu merasa dadanya berdegup kencang. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sesampai di depan pintu ruang kerja Nathan, gadis itu mengetuk pintu pelan lalu segera masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Anda memanggil saya?" tanyanya begitu ia berdiri di depan meja kerja Nathan.
"Buatkan aku kopi!"
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣