Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan 3 Pria
Malam semakin larut, sekitar pukul setengah sebelas tadi Reksa dan Zef pamit keluar dengan alasan pekerjaan. Tidak ada yang menaruh curiga pada mereka, karena pasalnya Zef adalah seorang CEO dan Reksa sebagai asistennya.
Ketiga sahabat Irene pun masih menikmati malam mereka dengan canda tawa. Sesekali mereka menggoda Irene maupun Hanzel.
“Ren, tadi gue denger Opah loe selalu manggil Kak Zef cucu menantu. Apa benar loe sama Kak Zef mau dijodohkan?” tanya Citra yang terbilang cukup kepo.
Ya, sejak mereka berkumpul opah Rian selalu memanggil Zef dengan sebutan itu. Membuat ketiga sahabat Irene bingung, apalagi keluarga Irene tidak sama sekali marah atau heran pada panggilan opah Rian terhadap Zef. Seakan mereka semua sangat setuju kalau Zef dipanggil “cucu menantu”.
Irene mengelikkan matanya. “Tidak ada perjodohan,” tegas Irene.
Citra mengatupkan bibirnya. “Tapi, kalau beneran loe nantinya akan dijodohkan, bagaimana?”
Irene menghela nafasnya, rasanya obrolan mereka sangat membosankan menurut Irene. Sementara ketiga sahabatnya masih sangat penasaran dengan jawaban Irene.
“Kalau beneran tinggal nikah saja kan? Begitu aja kok repot,” celetuk Irene.
Kini ketiga sahabat Irene lah yang menghela nafas, karena merasa tidak puas dengan jawaban dari Irene.
“Itu artinya loe terima perjodohan itu,” cetus Alya.
“Hmm, kalau loe terima perjodohan itu. Terus bagaimana dengan White?” tanya Citra yang langsung mendapat pelototan dari Alya.
Sementara Hanzel langsung menyenggol lengan Citra. Membuat Citra kebingungan.
“Kenapa? Benar kan pertanyaan gue? Secara kita tahu kalau sudah sangat lama Irene suka sama White, tambah lagi mereka sudah pacaran. Kalau Irene menerima perjodohan ini, gimana dengan perasaannya terhadap White? Apa semudah itu Irene melupakan cintanya?” cerocos Citra.
Irene bergeming mendengar ucapan Citra. Ya, bagaimana dengan perasaannya saat ini terhadap White. Bahkan Irene pun bingung dengan perasaannya terhadap pria itu. Selepas apa yang sudah dilakukan White terhadapnya. Bahkan Irene baru menyadari kalau selama mereka berhubungan, hanya Irene lah yang berjuang dalam hubungan itu. Sementara White, tidak peduli dengan hubungan mereka. Pria itu lebih peduli dengan hubungannya bersama Nancy.
Irene menghela nafasnya, dadanya tiba-tiba saja terasa sesak mengingat kejadian itu. Bahkan kata-kata White masih begitu terngiang di telinganya.
“Kalian sudah tahu ‘kan, kalau aku dan White sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi tolong jangan ungkit orang itu saat kita sedang berkumpul,” sahut Irene dengan suara datar terkesan dingin.
Citra menggigit bibir bawahnya, begitupun juga dengan Alya dan Hanzel yang seakan tenggorokan nya langsung kering.
“Sorry, Ren. Gue nggak ada maksud menyinggung atau mengingatkan loe sama dia,” sesal Citra.
Citra paham sangat dengan sahabatnya ini, jika sudah sangat kecewa pada seseorang.
Irene tersenyum tipis, dan mengangguk. “Its oke, lupakan saja!” jawab Irene.
Sementara itu di sebuah cafe yang masih begitu ramai. Reksa dan Zef berjalan masuk ke dalam cafe itu. Mereka segera menuju ke meja yang sudah mereka pesan. Disana sudah ada pria yang memang sengaja ingin mereka temui.
“Maaf kami terlambat!” ucap Reksa dengan ramah.
Pria itu pun berdiri setelah mendongakkan kepalanya dan melihat Zef dan Reksa berdiri di dekatnya.
Pria itu tersenyum ramah. “Tidak apa, saya pun baru juga tiba. Silakan duduk!” jawab pria itu.
Reksa dan Zef pun akhirnya duduk berhadapan dengan pria itu. Seketika itu juga Reksa dan Zef menatap dingin pada pria yang sedang duduk di hadapan mereka.
“Jadi, ada apa Tuan meminta saya untuk datang ke tempat ini?” tanya pria itu.
Reksa menyunggingkan sebelah bibirnya, tambah lagi tatapannya begitu tajam. Zef pun juga masih sama memasang wajah datarnya.
“Saya sangat mengenal anda Tuan White Emilio Grisham,” tutur Reksa.
Ya, pria yang bertemu dengan Reksa dan Zef adalah White. Reksa meminta White untuk bertemu dengannya, karena tanpa sengaja ia memergoki salah satu orang suruhan White berada di sekitar rumahnya untuk kesekian kalinya. Reksa yang merasa cukup geram pun akhirnya menghubungi White dan mengajaknya untuk bertemu. Awalnya Reksa hanya ingin sendiri, namun Zef minta ikut dengannya. Untuk mencegah suatu hal yang tak diinginkan.
“Atas tujuan apa kau memerintahkan seseorang untuk mengawasi rumahku?” tanya Reksa dengan datarnya. dan tanpa berbasa basi lagi.
White cukup terkejut mendengarnya, yang ia tahu hanya Reksa adalah kakak tiri dari Irene. Itupun menurut data yang diberikan oleh orang suruhan Venus. White sudah membaca data keseluruhan milik Irene, ia pun juga baru mengetahuinya kalau ternyata kedua orang tua Irene sudah bercerai dan ayah Irene sudah menikah lagi. Namun White tidak tahu mengenai siapa ayah kandung dari Irene. Karena di data yang didapatkan oleh orang suruhan Venus itu Thomas lah ayah kandung Irene.
White mengubah ekspresi keterkejutannya dengan mimik datarnya. White mencoba untuk tenang, walau dalam pikirannya berusaha untuk menghindari pertanyaan itu.
“Apa maksud anda, Tuan?” tanya White.
Reksa tertawa sinis, lalu ia merogoh kantong jaketnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya.
“Kau mengenalnya?” Reksa bertanya sambil menunjukkan sebuah foto.
White nampak menelan salivanya dengan kasar. Foto itu menunjukkan seorang pria yang memang diutus olehnya untuk mengamati rumah Reksa.
White menghela nafasnya. “Ya, dia orang suruhanku,” jujur White.
Reksa tersenyum miring, ia cukup salut dengan keberanian White yang mau berkata jujur.
Reksa melipat kedua tangannya di depan dada. “Jadi, bisa kau jelaskan?” cecar Reksa.
White bergeming, ditatapnya wajah Reksa dan Zef bergantian. Lalu ia membenarkan posisi duduknya.
“Aku hanya ingin memastikan kalau Irene tinggal disana. Hanya itu, tidak ada maksud lainnya,” jawab White.
Reksa dan Zef sama-sama menaikkan satu alisnya. Lalu Reksa sekilas melirik ke arah Zef yang sudah mulai mengeraskan rahangnya.
“Lalu, jika kau sudah tahu Irene tinggal di rumah itu. Apa yang ingin kau lakukan?” selidik Reksa.
White menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. “Aku ingin menemuinya, hanya itu. Aku hanya ingin minta maaf padanya,” jawab White lirih.
Reksa menautkan kedua alisnya. “Minta maaf? Memang apa yang sudah kau lakukan pada adikku?” tanya Reksa dengan tatapan tajam.
“Apa yang sudah kau perbuat pada Irene, hah?” bentak Zef yang sejak tadi menahan rasa kesalnya.
Reksa segera menahan tangan Zef yang berada di bawah meja. Memberi isyarat kalau pria itu harus tenang. White menelan salivanya dengan kasar, wajahnya terlihat semakin pucat.
“Sial, orang ini auranya benar-benar menakutkan.” Gumam White dalam hatinya.
White berdehem guna menetralkan kegugupan dalam dirinya. Ia memberanikan diri menatap kembali Reksa dan Zef.
“Hanya salah paham saja, tidak terlalu serius. Aku ingin sekali bertemu dengan Irene, agar masalah kami tidak semakin panjang.” tutur White.
“Kesalahpahaman dalam hal apa?” selidik Zef yang berpura-pura tidak tahu.
Zef sengaja memberi pertanyaan yang nantinya dapat menyudutkan White. Zef ingin sekali memberi pelajaran pada White, agar pria itu tidak lagi memperlakukan Irene dengan sesuka hatinya.
White bingung harus menjawab apa? Tidak mungkin dirinya akan menceritakan hal yang sebenarnya di hadapan pria yang notabenenya adalah kakak dari Irene dan juga pria yang bersama kakak tirinya Irene itu. Entah siapa pria itu, namun White merasa kalau pria bernama Zef itu sangat dekat dengan Irene.
“Maaf, bukannya aku tidak ingin menjawab pertanyaan kalian berdua. Tapi bukankah setiap masalah itu tidak harus selalu diumbar? Begitupula masalah kesalahpahaman antara aku dan Irene. Walaupun kamu adalah Kakak tiri Irene, dan anda... maaf aku tidak mengenal anda, yang jelas aku tidak ingin memberitahukan apa kesalahpahaman itu,” jawab White yang memang sengaja mengelak sambil ia menunjuk Zef juga.
Reksa berdecak seraya tertawa hambar. “Baiklah, kalau begitu alangkah baiknya, kau menjauh dari kehidupan adikku, agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kalian berdua. Kau tahu, aku sangat menyayangi Irene. Jika terjadi sesuatu padanya, maka aku lah orang pertama yang akan memberi pelajaran pada orang yang telah menyakitinya, ingat itu!” Reksa berkata seraya berdiri dan sedikit menggebrak meja.
Reksa berjalan terlebih dahulu meninggalkan White yang masih tercengang. White melirik Zef yang ternyata masih duduk sambil menatapnya tajam.
“Kau sudah mendengar setiap kata yang Reksa ucapkan tadi?” tanya Zef dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh White.
Zef tersenyum sinis. “Perlu aku ingatkan lagi padamu Tuan Grissham. Bukan hanya Reksa yang akan menjadi garda terdepan untuk melindungi Irene. Tapi aku pun juga sama, bahkan akulah orang yang pertama kali akan memberi pelajaran pada semua orang yang telah menyakiti hati maupun fisik wanitaku.”
Zef berdiri seraya menepuk lengan White dengan pelan. Lalu ia pergi meninggalkan White seorang diri, yang masih mencerna setiap kata-kata Zef dan Reksa. Terutama kata Zef yang mengatakan kalau Irene adalah wanitanya. White mengusap rambutnya dengan kasar.