Bagaimana perasaanmu ...apabila kau memiliki kekasih , namun pria itu malah lebih mementingkan teman masa kecilnya di bandingkan dengan dirimu..
" Apa - apa Cleo..apa - apa Cleo . Yang pacarmu itu aku apa Cleo sih Gas..." teriak Clara ketika mendapati kekasihnya hanya memiliki waktu bersama teman masa kecilnya daripada dirinya yang notabene adalah kekasih Bagas
" Kamu memang pacar aku Clara ... tapi kamu harus ngertiin bahwa saat ini Cleo lebih membutuhkan aku dari pada kamu . please Clar...jangan bersikap egois seperti ini "
" Kamu bilang aku egois ! mana egoisan aku yang minta kamu buat nemenin ulang tahun aku ,dengan kamu yang menemani Cleo hanya buat beli kado buat mamanya . Tolong Bas , jangan anggap aku egois . jika nyatanya kalianlah yang lebih egois daripada aku "
Akankah Clara melanjutkan hubungan miliknya bersama Bagas yang telah selama tiga tahun mereka jalani . Atau Clara akan lebih memilih membuka hati yang baru untuk sosok pria lain yang lebih bisa menghargai dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
" Hai Gas..hai Clara..." sapa Cleo menyapa ramah
Sebelum balik ke rumah masing - masing , mereka menyempatkan diri untuk makan di area villa terlebih dulu
Niken dan Vigo pun juga tampak ada di sana
Gadis itu terlihat berperilaku biasa saja di hadapan Clara
Andai saja Clara tak menyaksikan dan mendengar sendiri pembicaran antara kedua wanita licik itu , tentu saja ia tak akan percaya jika kekasih dari Vigo itu berusaha untuk mencelakainya juga
" Tapi kenapa ? Kenapa Niken melakukan hal itu padaku ...bukankah selama ini hubungan kami tak ada masalah . Lalu apa alasannya " Clara tampak berpikir keras
Dipagi hari begini , otak milik gadis itu malah sudah terperas hebat akibat ulah Niken yang ia tak ketahui penyebabnya
" Ra..lo kenapa ? Lo sakit " tegur Vigo yang mana membuat Clara langsung tersentak dari lamunan
" Ah...ya..gue sedikit rada gak enak badan kemarin " jawab Clara sembari mengelus tengkuknya
" Ya..Go , kemarin Clara kepanasan meronta - ronta gitu . Untung bisa cepat teratasi "
Ucapan Bagas tentu saja membuat Vigo langsung terbelakak
Saking asyiknya Vigo memadu kasih bersama Niken , ia sampai tidak tahu jika Clara - sepupunya itu mendadak sakit
" Astaga Ra...sory gue baru tahu . Tapi lo gak apa - apakan ? Atau kita check up lagi ke rumah sakit dekat sini "
Clara terkekeh . Vigo memang suka selalu panik jika sudah mendengar keadaan dirinya sakit
Dulu saja ketika ia sakit , Vigolah yang langsung gercep membawa gadis itu kerumah sakit . Sampai - sampai harus berurusan sama guru BK karena kabur dari kelas di saat mata pelajaran sedang berlangsung
" Gak apa - apa Go...gue udah baik - baik aja sekarang . Lo gak usah khawatir begitu "
" Ya udah kalau udah gak apa - apa . Tapi kalau entar lo ngerasa gimana - gimana bilang sama gue . Oke "
Clara mengangguk senang
Di dalam hati gadis itu seakan memiliki seorang kakak kandung meski nyatanya ia adalah seorang anak tunggal
Sedangkan di sisi lain , tentu saja Niken merasa tak senang
Gadis toxic itu seakan tak terima jika Vigo memberi perhatian lebih kepada Clara
" Awas lo Ra . Berani sekali lo ngrebut perhatian Vigo dari gue "
____
Setelah menyelesaikan makan , kelima anak muda itu pun beranjak pulang
Dengan Vigo bersama Niken
Dan Cleo pulang bersama Bagas dan Clara
Seperti di awal , gadis licik itu terlihat sedang duduk di belakang sebagai obat nyamuk di antara Bagas dan Clara di depan sana
Dan hal itu tentu saja membuat Cleo makin merasa empet sekaligus cemburu akan kedekatan dan kemesraan yang di perlihatkan oleh dua pasang sejoli yang tengah di mabuk asmara tersebut
" Lihat saja lo Ra. Mungkin lo menang kali ini . Tapi tidak untuk nanti . Gue yakin . Dengan bantuan tante Belinda . Bagas akan segera menjadi milik gue "
****
" Udah pulang Ra ? " tanya Denaya sembari mengecup puncak kepala Clara penuh sayang
Setelah melihat kemurkaan Clara yang membelanya di hadapan Rashad . Denaya terlihat banyak berubah . Wanita itu tampak lebih banyak diam di rumah menunggu Clara yang hendak pulang
" Sudah ma....Clara senang sekali . Dari sekian lama , akhirnya kaki Clara bisa menginjak pasir pantai lagi "
Bahkan bukan hanya Denaya saja yang berubah
Melainkan Clara juga terlihat seperti itu
Gadis itu sekarang sudah lebih mau banyak terbuka dengan Denaya
Dan hal itu semakin mempererat hubungan antar anak dan ibu kandung tersebut
" Ekhem..."
Deheman keras terdengar , dengan Rashad yang saat ini telah terlihat berdiri di ambang pintu masuk
Semenjak pertengkaran dahsyat yang terjadi diantara mereka . Komunikasi antara Rashad , Clara dan juga Denaya menjadi renggang .
Bisa terbilang hampir tak pernah ada . Apalagi setelah kejadian itu , Rashad tak pernah pulang kerumah . Entah pergi kemana pria itu , Denaya seperti enggan bertanya dan tak terlalu perduli sama sekali .
lagipula percuma juga pria itu dirumah . Hanya akan selalu membawa pertengkaran dan akhirnya akan menambah luka baru di dalam hati rapuh yang Denaya miliki
" Kau baru datang dari mana Clara ? " tanya Rashad
" Bukan urusan ayah " ketus Clara hendak bangkit dan pindah pergi ke kamar pribadi miliknya
Sungguh ...ia belum mampu berbicara langsung dengan Rashad
Perilaku bejat pria yang bergelar sebagai ayah kandungnya itu masih terngiang di dalam benak Clara dan saat ini belum bisa ia maafkan
" Clara ! Jaga ucapanmu kepada orang tua . Apa ini didikan yang diajarkan oleh ibumu " bentak Rashad sembari melirik ke arah Denaya berada
Entah apa yang terjadi
Pulang - pulang pria itu terlihat sudah bermuka masam di hadapan Denaya dan juga Clara
" Bukan ibu yang mengajarkan aku begini tapi sikap tak tahu malu ayah yang membuatku ikut juga bersikap kurang ajar seperti ini kepada ayah " Clara juga ikut mengeluarkan nada tinggi
Sudah cukup selama ini ia diam ketika melihat perlakuan tidak adil Rashad kepada Denaya . Dan Clara sudah tak bisa menahannya lagi .
" Dasar anak kurang ajar "
Plak
Sebuah tamparan keras menggema
Clara tampak memejamkan mata
Tapi anehnya ...wajah gadis itu tak merasakan sakit sama sekali
Perlahan Clara tampak membuka mata
Deg
Mata gadis itu terbelalak , ketika melihat wajah Denaya yang tampak meneleng merah di hadapannya
Ya...sebelum Clara terkena tamparan dari tangan Rashad . Denaya sudah lebih dulu dengan sigap pasang badan untuk melindungi putrinya tersebut
" Ibu..." lirih Clara yang hanya di senyumi oleh Denaya
Meski tersenyum , namun mata Denaya tampak berair . Dan Clara tahu itu sakit...
Bukan sakit karena tamparan . Namun lebih ke sakit hati
Karena nyatanya pria yang harusnya melindungi keluarga . Malah berbalik memberi seribu luka pada mereka
" Dena..." selain Clara , Rashad juga ikut tercengang .
Karena emosinya yang kurang stabil . Ia sampai hati menampar wanita yang sangat ia cintai .
" Berhenti Rashad . Jangan sentuh aku lagi . Sudah cukup sampai disini kau menyakitiku . Mari kita berpisah . Dan berikan hak asuh Clara padaku "
Deg
Mata Rashad terbelalak
Tangan pria itu terkepal kuat di bawah sana
Berpisah ...
Kata itu sungguh sebuah kalimat angker yang tak ingin dia dengar dari Denaya
" Jika kau ingin berpisah , maka pergilah . Namun Clara akan tetap bersamaku "
" Rashad !! Kau jangan egois " bentak Denaya menatap nyalang
Ia tahu betapa besar kekuatan yang dimiliki keluarga Rashad . Pria itu bukanlah keturunan dari keluarga kaleng - kaleng . Meski Denaya seorang dokter dan memiliki banyak uang saat ini , namun dirinya pasti tetap akan kalah jika sampai menuntut hak asuh anak di pengadilan nantinya .
" Aku bukan pria egois Denaya. Kau tahu Clara keturunan dari keluarga siapa . Jadi aku tak akan membiarkan dia hidup bersamamu . Jika kau ingin pergi . Maka pergilah tanpa membawa Clara "
Sebenarnya Rashad tak ingin berpisah dengan Denaya . Menahan Clara adalah salah satu cara agar wanita itu tak sampai pergi bercerai darinya .
Namun yang tak pernah pria itu sangka terjadi di depannya
Clara tampak meraih tangan Denaya dan menggenggamnya
" Pergilah ma..jika itu bisa membuatmu tak menangis lagi di hadapanku . Aku berjanji akan baik - baik saja tanpamu "
Nyes
Seketika tangis Denaya pecah
Ini adalah sebuah pilihan terberat bagi seorang ibu
Melepaskan anak yang telah ia jaga sejak lahir . Meski itu di tangan ayah kandungnya sendiri . Itu merupakan hal yang sangat berat untuk Denaya lakukan
Kedua wanita itu tampak saling berpelukan dan menguatkan
Sedangkan di belakang sana Rashad tampak tercengang
Ia tak menyangka jika Clara akan mengatakan hal seperti itu kepada Denaya
" Apa ini akan menjadi akhir dari hubungan kita Dena..."