Ini hanya cerita fiksi belaka.
Demi mendapatkan harta kekayaan, Bisma rela melakukan jalan pintas. Dia berkata kepada istrinya akan pergi untuk merantau ke kota, dia akan mengadu nasib di kota.
Namun, ternyata Bisma pergi menuju gunung larangan. Hal itu dia lakukan untuk mencari kekayaan, agar hidupnya tak lagi dalam kemiskinan dan jadi hinaaan.
Akankah dia bahagia dengan kekayaan yang dia capai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keesokan harinya Bisma benar-benar membuka Resto impiannya, pukul sembilan pagi Bisma mengadakan gunting pita. Tentunya yang menyaksikan hal itu adalah seluruh karyawan Resto.
Di sana juga ada pemilik ruko tersebut, dia nampak ikut mendukung keinginan dari Bisma. Karena menurutnya niat Bisma untuk membuat Resto adalah hal yang sangat baik.
Bisma juga merasa terbantu oleh pria paruh baya itu, karena pria itu benar-benar menyiapkan semuanya untuk dirinya. Bisma benar-benar hanya tinggal terima bersih saja.
Jika tanpa bantuan pria paruh baya itu, Bisma tidak tahu harus mencari empat koki masak ke mana. Dia juga tidak tahu harus mencari 8 karyawan yang akan dijadikan pelayan ke mana, dia tidak tahu harus mencari empat pelayan dapur dan dua OB ke mana.
Bisma bahkan tidak tahu harus mencari empat petugas kasir dan satu orang security ke mana, semuanya benar-benar diatur oleh pria paruh baya itu.
Lalu bagaimana dengan Surti dan kedua putranya?
Pada saat acara pengguntingan kita tentunya mereka turut hadir dan memberikan semangat untuk Bisma, Surti bahkan terlihat bahagia karena dia mengira jika suaminya kini sudah mulai merintis usaha.
Usaha yang tentunya dikira Surti berawal dari kata halal, padahal tanpa istrinya tahu bisnis yang Bisma jalani saat ini berawal dari memuja berakhir dengan kata tumbal.
"Semangat, Sayang. Semangat mencari rezeki untuk anak dan juga istrimu, kami selalu ada untukmu." Itulah kata-kata penyemangat yang keluar dari bibir Surti, Bisma nampak tersenyum dengan penuh kebanggaan.
karena banyaknya promosi yang tentunya diatur sedemikian rupa agar menarik, Resto Bisma langsung ramai oleh pengunjung. Hal itu tidak lepas dari bantuan pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu berkata jika selama satu minggu Bisma harus mengadakan promosi, setelah itu barulah dia memberlakukan harga normal. Hal itu dilakukan untuk memancing pengunjung.
Tentu saja Bisma selalu setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu, karena semua yang dikatakan oleh pria paruh baya itu selalu saja benar adanya.
"Terima kasih atas bantuan anda, Tuan. Anda benar-benar sangat baik. saya benar-benar berhutang budi kepada anda," ujar Bisma ketika pria paruh baya itu berpamitan.
"Sama-sama, kalau ada perlu apa pun jangan sungkan untuk menelpon saya."
"Tentu saja, Tuan. Pasti saya akan segera menghubungi anda kalau ada apa-apa," ujar Bisma.
Setelah terjadi obrolan singkat di antara keduanya, akhirnya pria paruh baya itu pun pergi. Karena memang masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
Selepas kepergian pria paruh baya itu, Surti juga nampak berpamitan kepada Bisma. Wanita itu beralasan jika di Resto sangat ramai, takutnya kedua putranya nanti malah mengganggu pekerjaan Bisma.
"Kenapa harus cepat-cepat pulang?" tanya Bisma.
"Aku tidak mau mengganggu kamu dalam bekerja, Sayang. Lebih baik aku pulang saja membawa anak-anak," jawab Surti.
"Tapi kan' ada lantai 3 buat kalian beristirahat, kalian bisa bersantai di sana selama aku membantu melayani pembeli," usul Bisma.
"Nggak usah, Mas. Lebih baik kami pulang saja, biar mas bisa fokus dalam bekerja."
"Iya iya, ya udah kalian pulang gih. Naik taksi aja, soalnya aku nggak bisa antar."
"Iya," jawab Surti.
Setelah berpamitan kepada Bisma, Surti langsung pulang ke kediaman mereka dengan menggunakan taksi. Sedangkan Bisma nampak melangkahkan kakinya menuju dapur.
Selain ingin mengecek kegiatan di dapur, Bisma juga ingin membantu para pekerjanya. Takutnya mereka membutuhkan bantuan dari Bisma, saat pria itu hendak masuk ke dapur, kebetulan dari arah dapur juga seorang wanita muda terlihat hendak keluar.
Tentu saja hal itu membuat Bisma dan gadis muda itu tanpa sengaja bertabrakan, wanita muda itu bahkan hampir saja jatuh tersungkur karena terpental tubuh Bisma. Beruntung Bisma dengan cepat menarik wanita itu sampai jatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bisma.
"Eh? Maaf, Tuan. Maaf saya tidak sengaja, saya tidak tahu kalau anda mau masuk ke dapur," ucap wanita itu seraya melepaskan diri dari Bisma.
Bisma tidak langsung menjawab ucapan dari wanita itu, dia malam memindai penampilan wanita muda yang ada di hadapannya.
Wanita itu terlihat begitu cantik sekali, sangat muda dan sepertinya umurnya saja masih belasan tahun. Tentu saja hal itu membuat Bisma ingin berkenalan dengan wanita itu.
Dia juga merasa ingin melakukan hal yang diminta oleh Kanjeng Ratu, yaitu meniduri wanita itu agar bisa mengandung benihnya.
"Tidak apa-apa, siapa nama kamu?" tanya Bisma.
"Shela, Tuan. Nama saya Shela, tolong jangan pecat saya, karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Wanita muda itu terlihat memohon kepada Bisma, melihat akan hal itu justru Bisma malah ingin memanfaatkan hal tersebut. Otak Bisma kini mulai berpikir licik.
"Tidak, saya tidak akan memecat kamu kok. tenang saja, oh ya. Nanti malam sebelum kamu pulang tolong kamu ke ruangan saya terlebih dahulu, di lantai 3," ujar Bisma.
"Iya, Tuan. Saya pasti akan menemui anda terlebih dahulu, tapi anda tidak akan memecat saya, kan?" tanya wanita muda itu.
Bisma tersenyum menyeringai, lalu dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga wanita itu.
"Tidak, saya tidak akan memecat kamu. Jangan lupa nanti malam datang ke ruangan saya, jangan sampai ada yang tahu."
"Iya," jawab wanita itu dengan perasaan gugup.