Elina san Rafa besar di panti asuhan yang sama. Suatu hari mereka berpisah karena Elina diadopsi oleh sebuah keluarga kaya yang menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Lima belas tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam kondisi yang sudah amat berbeda. Rafa lah yang paham jika itu Elina dan kemudian memberinya cinta yang Elina butuhkan selama ini dengan kesederhanaan yang dimiliki.
Namun bukan itu masalahnya. Ternyata Rafa sudah bergabung dengan sekelompok mafia dengan tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Bahkan Rafa adalah yang terbaik disana.
Hingga suatu hari kenyataan pahit menghampiri keduanya, bahwa target terbesar Rafa adalah keluarga yang membesarkan Elina selama ini.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Bertahan dan Rafa berhenti dari dunia Mafia, atau Elina mengkhianati keluarga yang sudah membesarkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elina dan Rafa 25
Rafa sudah tiba di rumahnya dan segera masuk ke dalam. Yang pertama kali ia cari adalah Ina, dan tenyata saat itu Ina tengah tidur siang diatas rajangnya yang besar dan tampak amat begitu nyaman. Rafa tak lantas membangunkannya karena harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu yang terkena bau sampah tadi.
Ina menggeliat membuka matanya ketika mendengar Rafa ada di kamar mandi saat ini. Ia lantas merubah posisinya untuk duduk sembari melirik jam yang ada di hp, “Satu jam ketiduran,” lirihnya saat itu.
“Kau sudah bangun?” tanya Rafa yang keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya saat itu dan tubuh atasnya tanpa bungkus. Hanya selembar handuk kecil yang sejak tadi ia usap ke rambut dan wajahnya.
“Rafa, kok cepet banget pulangnya?” heran Ina.
“Lalu, kau mau aku pergi seharian hingga kita tak bertemu?” Ina menggelengkan kepalanya lalu merentangkan kedua tangan untuk menyambut Rafa ke dalam pelukannya saat itu.
Rafa datang dan kemudian Ina memeluk pinggang, serta menempelkan wajahnya di otot perut Rafa yang tercetak sempurna. Ina hanya tak ingin mengganggi Raf ajika memang tengah sibuk bekerja, dan ia akan menunggu selama apapun itu hingga Rafa benar-benar selesai dengan tugasnya.
“Jika aku pulang, tandanya tugasku diluar sudah selesai. Tinggal tugasku untukmu, Sayang.”
Ina langsung membulatkan matanya kaget saat itu. Rafa meraih pergelangan tangan Ina dan mengecupinya, semakin naik hingga ke leher lalu melumaat bibir indah itu dengan begitu hausnya. Tangan Ina ia raih lagi agar dikalungkan ke lengan dan paguttan keduanya semakin dalam dan lebih dalam hingga suara lenguuhan indah Ina mulai terdengar ditelinga Rafa.
“Rafa,” lirih Ina dengan tubuh yang sesekali bergidik geli karena ulahnya saat itu. Ia hanya bisa memejamkan mata saat ini, dan terbuka kembali ketika Rafa meraih wajahnya dan saling tatap antara kedua mata.
“Aku tak ingin kehilanganmu lagi, Sayang…. Tak ingin,” ucap Rafa yang kemudian langsung mendekap Ina dengan begitu hangatnya.
“Ina ngga akan pernah tinggalin Rafa lagi, Ina janji.” Ina lalu mengecup dada Rafa yang terbuka saat itu dengan aroma khasnya yang begitu ia sukai. Bahkan Ina menunduk sedikit dan terus mengecupi perut Rafa hingga handuknya terbuka hingga ia menggenggam sesuatu dibawah sana hingga membesar dan pas ditangannya.
“Ina, aku…”
“Ina yang akan memberinya buat Rafa.” Ina lantas membenarkan posisi agar bisa lebih memperdalam hisapannya dibawah sana. Ia merangkak dan menundukkan bagian kepala, dan Rafa hanya memejamkan mata merasakan sensasi luar biasa yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya.
Suasana tenang disana terus saja membakar gelora muda yang semakin menggila. Mereka memang sempat besar di lingkungan bebas tanpa aturan, bahkan cukup takjub karena keduanya sama-sema tak pernah menyentuh pria atau wanita lain selama mereka berpisah. Keduanya sama-sama saling memilki satu sama lain saat ini.
“Rafa!” rintih Ina ketika Rafa mulai menjebol pertahanan di inti tubuhnya saat ini. Ia mengadahkan kepala keatas dan mencengkram apapun yang ia temukan dengan jemari yang tampak keluar uratnya. Mulutnya ternganga membuang semua desaahan yang ada.
Tenyata hal itu tak seindah seperti yang sering ia baca di dalam sebuah novel. Nyatanya ia merasakan sakit yang begitu luar biasa saat ini hingga ia berurai airmata. Tapi ia bahagia karena pemilik kehormatannya adalah Rafa.
“Aahhh… Rafa!”
“Sakit, Sayang?” bisik Rafa dengan begitu lembut ditelinga Ina saat itu, sembari terus mengecupi dan mulai bergerak dibawah sana. karena ini benar-benar yang pertama, maka Rafa masih begiti pelan dengan ritmenya.
“Sedikit. Tapi mulai enak,” ucap Ina yang mulai bisa menyesuaikan dirinya dengan milik Rafa dibawah sana. Mereka saling berngutan kembali, dan saat ini keduanya benar-benar mulai saling menikmati. Bahkan Ina tak segan melolong panjang ketika mendapatkan puncaknya untuk kesekian kali.
“Berjanjilah untuk tak saling meninggalkan setelah ini, Ina.”
“Kok Ina? HArusnya Rafa yang begitu?” tukasnya dengan senyum puas bersama.
“Kenapa? Kau menuduhku suka bermain wanita?”
“Ya, gimana? Rafa kelihatan sudah professional. Bahkan Ina juga nyaris pingsan tadi,” godanya dengan kembali memainkan jemari lentik di dada hingga perut Rafa. Tapi ia tak berani meminta lagi karena lelah, apalagi nyaris pingsan karenanya.
“Ina mandi, ya? Abis ini Ina mau pulang dulu. Besok Ina kesini lagi,” ucapnya yang meyibak selimut kemudian duduk mengikat rambut. Kakinya tergantung di ranjang, Rafa meraih pinggang itu dan mengecupi Pundak hingga punggungnya kebawah dengan begitu mesra, namun tak meninggalkan tanda disana.
“Udah, Rafaaa. Besok lagi,” tegur Ina yang sebenarnya amat menikmati itu semua. Dari yang awalnya menangis ingin berkata tidak mau, dan sekarang seperti ingin lagi dan lagi hanya dengan bersama Rafa yang begitu perkasa.
Ina melangkah dengan tubuh polosnya itu menuju kamar mandi. Ia melangkah biasa saja seperti sudah tak kesakitan saat ini, padahal kehormatannya baru saja dijebol oleh Rafa. Ia bahkan begitu santai mengenakan pakaiannya lagi didepan Rafa yang masih berselimut dikasurnya.
“Ina pulang dulu, ya?” ucapnya, merangkak naik menghampiri Rafa dan mengecup bibirnya saat itu.
Rafa ditinggal sendirian lagi, ia memejamkan mata sejenak mengenang pergumulan tadi. Ia tak menyesal pada Ina, hanya saja keluarganya? Rafa bahkan belum mengenal mereka semua hingga saat ini.
“Aku janji akan menyelesaikan semua pekerjaanku. Dan setelah semuanya selesai, kita kan hidup bersama dengan dunia yang lebih damai dari ini, Sayang. Misi terbesarku hanya tinggal satu sekarang,” ujar Rafa yang ingat akan misi terbesarnya untuk melumpuhkan Armagedon demi Storm.
Dengan semua uang yang ia punya, Rafa berniat menikahi Ina dan memulai hidup baru mereka yang pasti akan sangat bahagia. Ia bahkan sudah mulai merancang untuk mendirikan sebuah perusahaan dibidang pengiriman barang di dalam ataupun diluar negri. Ia bahkan sudah memiliki kolega yang menyatakan siap bekerja sama kapan saja dengan dirinya.
Bukankah semua terdengar begitu mudah? Khayalan itu begitu bahagia difikiran Rafa saat ini seakan semuanya akan mengalir deras tanpa adanya batu rintangan yang menghalangi nanti.
“Ayah, Ina pulang…” panggil Ina yang berlari masuk kedalam rumah besarnya saat itu. Ia langsung menemui sang ayah di ruang kerja dan memberikan pelukan mesra padanya.
“Ina mandi dimana?” tanya ayah yang mendapati rambut putrinya basah.
“Oh, ini? Ina tadi belajar kelompok sama temen-temen baru Ina untuk kejar materi. Ina kegerahan, jadi numpang mandi.” Ayah meliriknya tajam saat itu,”TEmen Ina cewek, Kok.”
“Yasudah, kamu masuk ke kamar dan istirahat aja dulu. Kamu ada tugas?”
“Ada, Satu. Ina kerjain dulu, ya?” kecupnya lagi pada pria parub baya itu dan segera pergi dari sana.
Ina yang tiba di kamar langsung mengunci pintu dan membuka semua pakainnya disana. ia baru sadar ada bekas cinta Rafa di dada dan kedua puncak indahnya yang padat itu.
“Iiih, Rafa nakal. Untung ngga digigit,” kesalnya, tapi ia suka.
lanjut kak upnya 💪💪💪💪