Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati Lagi?
Turnamen berlangsung meriah. Penonton membawa segala atribut untuk mendukung jagoannya. Mulai mengisi tribun yang kosong. Pertandingan dilaksanakan di aula khusus tarung. Tidak di dojo untuk tempat latihan.
Dania dan Keagan memasuki aula. Mengambil posisi strategis untuk mengambil gambar. Dania mengeluarkan kamera dari tas. Mulai memotret tribun hingga aula pertandingan.
Sementara Keagan mengikuti dari belakang Dania. Tangannya bersedekap. Sesekali ia memberi arahan kepada Dania untuk mengambil objek tertentu.
Dania melihat anak-anak turut menonton pertandingan. Mereka saling menunjuk jagoannya masing-masing. Berargumen singkat. Salah satunya tertawa ketika jagoannya bisa memukul telak. Sementara, satunya bermuram durja karena jagoannya kalah.
Dengan cepat Dania membidik momen tersebut. Menyesuaikan lensa kameranya, mengatur fokus, kemudian memencet tombol bidikan. Dania me-review beberapa hasil jepretannya dan tersenyum puas.
“Great.” Ucap Keagan di samping wajah Dania. Melihat layar kamera. Begitu dekat dengan pipinya hingga Dania bisa mencium wangi colonge Keagan. Dania menoleh karena terkejut. Hidungnya nyaris menempel pada pipi Keagan.
Dengan sigap Dania menghadap ke depan lagi. Sebelum ia mencium Keagan karena ketidaksengajaan.
Ketika wasit mengumumkan pemenang pada babak pertandingan, penonton langsung bersorak-sorai. Dengan kompak melempar balon suporter ke udara.
Namun naas, ketika Dania sibuk mengabadikan momen kemenangan, sebuah botol minuman yang setengah terisi terlempar ke arah Dania. Dania tidak mengetahui dan hanya terus memotret momen-momen yang nantinya akan sulit ia dapatkan. Yakni wajah ceria dari penonton.
Dengan cekatan, Keagan yang berada tepat di belakang Dania langsung memukul botol minuman setengah terisi itu ke arah lain.
Dania menoleh.
Wajah Keagan konsentrasi. Melihat sekitar jika ada peristiwa serupa. Keagan tidak lagi bersedekap. Melainkan sudah berkacak pinggang. Tatapannya seperti elang. Wajahnya menengadah. Melihat dengan teliti setiap penonton yang bersorak-sorai.
“Are you okay?” tanya Dania ketika dia melihat Keagan mulai memutar-mutar pergelangan tangannya.
“Yeah.” Balasnya sambil memegang pergelangan tangannya yang sedikit ngilu. Namun tatapannya masih memburu.
“We have to move.” Ucap Keagan menggiring Dania lebih dekat dengan para atlet. Tangan Keagan menyentuh pinggang Dania. Membuat Dania merasa seperti tersengat listrik. Jantungnya sedikit berdebar.
Menikmati perhatian Keagan yang jarang ia dapatkan. Menikmati sentuhan yang ia tidak tahu kapan terulang kembali.
“Potret atletnya. Ini akan berguna untuk profil mereka.” Keagan mengarahkan Dania. Ia masih memutar-mutar pergelangan tangannya.
Dania dengan sigap memotret para atlet karate. Di sisi lapangan, atlet yang akan bertanding melakukan pemanasan singkat. Mereka terlihat mengencangkan sabuknya. Melatih pukulan tangan dan tendangan. Kemudian babak kedua pun berlanjut.
Riuh gemuruh penonton pertandingan karate tidak kalah dengan suporter bola.
🍃🍃
“Terima kasih sudah datang ke pertandingan. Semoga bisa menambah materi untuk website.” Ujar Pak Bao.
“Sama-sama, Pak. Besok kemungkinan saya akan kemari lagi. Untuk menambah materi mengenai fasilitas dojo.” Kata Dania sambil memasukan kamera ke dalam tasnya.
Keagan menunggu tidak jauh dari tempat Dania. Ia tampak melihat sekeliling. Setelah pertandingan berakhir, aula tampak sepi. Hanya terlihat beberapa pengelola dan murid membersihkan lapangan.
“Oh ya Pak Bao apa punya etil klorida?” tanya Dania pada Pak Bao. Melihat Keagan memutar-mutar pergelangan tangannya, Dania menebak bahwa tangan Keagan terkilir.
“Oh ada.” Ucap Pak Bao mengambilkan spray yang bisa meredakan nyeri otot sementara itu dan memberikannya pada Dania. “Ini ambil saja. Siapa tahu kamu masih membutuhkannya lagi.” Kata Pak Bao.
“Terima kasih Pak Bao. Saya pamit dulu.” Ucap Dania.
Dania berjalan mendekati Keagan yang sedang berdiri.
“Apa sudah selesai?”
“Sudah. Kemari sebentar, Pak.” Dania mengajak Keagan duduk di kursi aula. Keagan mengikuti dan duduk di sebelah Dania. “Ngilu kan? Mana pergelangan tangannya, Pak?” tanya Dania.
Keagan menyerahkan pergelangan tangannya yang nyeri. Kemudian mengocok spray anti nyeri dan menyemprotkannya pada pergelangan tangan Keagan. Tiba-tiba ia merinding ketika menyentuh langsung kulit Keagan.
Jantungnya berdebar. Tangan Dania semakin dingin. Oh, apa efek terkena spray? Sementara tangan Keagan semakin hangat pada bagian yang di sentuh Dania.
Dania tidak berani mendongak. “Dulu waktu saya sering ikut tarung juga sering nyeri. Apalagi waktu terkena tulang kering.” Kata Dania.
Keagan hanya memperhatikan gerak-gerik Dania. Melihat Dania menyentuh tangannya. Membolak-balikkan dan menyemprotkan spray pada pergelangan tangannya.
Rambut ikal Dania yang sebelumnya terselip di telinga, terlepas bebas dan menutupi sebagian wajah Dania. Keagan semakin memperhatikan wajah Dania yang tertutupi rambutnya. Dia sedikit menunduk untuk melihat wajah Dania.
Tangannya yang bebas, refleks ingin menggapai rambut Dania. Dania menengadahkan wajahnya. Kini tatapan mereka bertemu. Sementara tangan Keagan menggantung di udara. Dania kemudian melihat tangan Keagan yang bebas di dekat wajahnya.
“Nyamuk! Kamu belum mandi sih!” ucap Keagan sewot sambil menepis-nepis udara.
Dania mengeryitkan dahinya dan membenarkan rambutnya. Menyelipkan lagi ke belakang telinga.
“Siapa belum mandi?!” balas Dania tidak kalah sewot.
Kini mereka saling melotot. Tidak ada yang mau mengalah, hingga akhirnya Keagan menutup obrolan tidak penting itu.
“Ayo kita pulang! Mau sampai kapan di sini!” Kata Keagan kemudian ia berdiri dan meninggalkan Dania yang masih sibuk menutup spray.
“Yes sir!” ucap Dania kemudian mengejar Keagan dan berjalan mendahuluinya. Mengibaskan rambutnya dan terus berjalan tanpa menoleh.
🍃🍃
Dania menyetir dengan kecepatan sedang. Matanya konsentrasi menatap jalanan. Sesekali melihat spion. Tangannya terkepal di kemudi.
“Mobil baru emang enak ya, Pak.” Ucap Dania mencairkan suasana karena jantungnya mulai berdegup kencang. Dia baru sadar hanya berdua saja di mobil.
“Hm hm.” Balas Keagan malas untuk berbasa-basi.
“Kenapa ganti mobil pak?” tanya Dania akhirnya setelah dari tadi penasaran.
“Supaya nanti kalau punya anak lebih mudah bawanya.” Jawaban Keagan menohok hati Dania. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari bibir Keagan.
Keagan melihat Dania. Dania hanya terdiam.
“Oh jadi bapak sudah pacar? Atau tunangan ya?” tanya Dania sambil tertawa sumbang.
“Buat apa saya bilang kalau punya.” Ucap Keagan tenang namun masih terus memperhatikan Dania yang mulai resah dari tempat duduknya.
“Iya ya? He he. Masa se ganteng bapak nggak punya ya. Udah mapan, umur juga sudah siap.” Jawab Dania sekenanya sambil mengusap tengkuk lehernya. Namun di dalam hatinya ia merasa nyeri.
“That’s right.”
Satu jawaban dari Keagan cukup membuat Dania mengunci mulutnya rapat. Sepanjang perjalanan, Dania hanya memperhatikan jalan. Menahan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Menahan nyeri di hatinya.
Semakin menyesal dengan perbedaan usia mereka yang terpaut jauh.
Semakin menyesal karena terlalu berharap pada kebaikan Keagan.
Kini Dania sadar, Keagan tidaklah seburuk dugaannya. Tanpa sadar ia mulai memperhatikan gerak-gerik Keagan. Tanpa mencari tahu siapakah yang bisa meluluhkan hati Keagan yang sedingin es krim berbentuk patrick.
Ya iyalah, mantan pacarnya aja secantik Bu Mai. Lo mah apa, bebek di sawah.
🍃🍃
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀