Dijodohkan dengan kakak sepupu, Mysha yang berusia dua puluh tiga tahun sangat bahagia. Karena sejujurnya, dia sudah sangat lama menyukai kakak sepupunya itu.
Namun sayangnya, rasa suka yang Mysha punya tidak terbalas. Karena kakak sepupunya telah menyukai perempuan lain. Dan hanya menganggap dia hanya sebagai adik saja.
Bagaimana kisah cinta Mysha selanjutnya? Apakah pernikahan itu akan terlaksana, atau akankah hati kakak sepupu berubah? Atau ... malah menikah dengan perempuan yang kakak sepupunya sukai?
Temukan jawabannya di sini! Di Jodoh lah! Yang menentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 25
"Bukankah itu sama saja dengan Mysha yang mencari alasan untuk tidak menjawab apa yang papaku tanyakan?"
Mysha langsung menarik napas dalam-dalam. Lalu, dia lepas napas itu secara perlahan. Kemudian, dengan langkah anggun, Mysha berjalan mendekat ke arah Unna yang berada tak jauh dari papanya.
"Kak Unna ingin aku menjawab apa yang kakak dan om tanyakan, bukan? Kenapa aku tidak terlihat seperti orang yang patah hati saat tahu hubungan kak Unna dan kak Geza yang sudah sangat-sangat terlalu jauh. Itu semua karena aku sudah tahu dari awal tentang hubungan kalian. Aku sudah mendengar semuanya saat kalian membahas masalah hubungan kalian di kamar mandi kantor."
"Kalian bilang, kalian ingin menjelaskan padaku tentang hubungan kalian. Aku menunggu penjelasan itu. Tapi sayangnya, tidak ada satu katapun yang aku terima dari kalian berdua."
"Kalian malah diam dan terus menjauhi aku. Saat aku tanya apa alasannya, kalian bilang, kalian sedang sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing."
"Aku berusaha menerima semua itu. Kalian yang sangat dekat dengan aku sejak kecil, tapi malah menjauh secara tiba-tiba tanpa memberikan sedikitpun alasan dari sikap dingin yang kalian perlihatkan. Apakah kalian pikir, aku tidak sakit hati dengan semua itu?"
"Teruntuk kamu, kak Geza. Kau sungguh sangat aku sayangkan. Aku mungkin bisa mengerti dengan perasaanmu padaku. Jika tidak bisa kamu ubah perasaan itu, aku juga bisa bantu bicara pada om dan tante, kalau kita mungkin memang tidak ditakdirkan bersama. Karena jodoh lah yang akan menentukan sebuah pernikahan. Tapi kamu tidak bicara terus terang. Malah selalu menyudutkan aku dengan kata-kata kasar yang selalu kamu lontarkan setiap kali kita bertatap muka. Kau bilang aku ini kurang dewasa. Aku tidak seperti kak Unna. Yang bisa bekerja dengan serius dan lain sebagainya. Apakah itu cara terbaik untuk kita menyelesaikan masalah?"
"Jawab aku, kalian berdua!" Mysha berucap dengan nada tinggi.
Bukannya menjawab, Geza dan Unna malah menundukkan kepala. Keduanya merasa seperti sudah tidak punya muka untuk menatap Mysha.
"Maaf ... maafkan aku, Mysha. Aku .... "
Geza malah menggantungkan kalimat karena tidak punya kata-kata untuk dia ucapkan lagi.
Ruangan itu hening beberapa detik. Semua orang yang ada di ruangan itu seperti sedang berada di perhentian waktu.
Mysha tidak ingin lagi berada di ruangan ini sebenarnya. Rasa sakit yang dia tahan, seakan sudah tidak mampu lagi dia bendung. Buliran bening pun mengalir secara perlahan.
"Aku tidak akan menyalahkan kalian berdua. Mungkin, jalan takdir sudah menentukan ini semua. Anggap saja jika jodoh sudah menentukan semua ini. Kalian diinginkan bersama."
Selesai berucap, Mysha langsung memutar tubuh. Dia seka air mata yang tumpah.
"Mama, papa, ayo kita pulang. Tidak ada lagi yang harus kita bahas. Semua sudah selesai."
"Mysha. Tunggu, nak!" Mama Geza langsung bangun dari duduknya.
Lalu, perempuan paruh baya itu langsung berjalan cepat untuk mendekat ke arah Mysha. Setelah sampai, dia peluk erat tubuh Mysha sambil terisak.
"Hanya kamu yang akan aku anggap sebagai menantuku selamanya, Sha. Posisi itu tidak akan pernah bisa diganti oleh siapapun. Tetaplah anggap tante seperti biasa, Nak. Jangan pernah jadikan apa yang telah terjadi hari ini sebagai batasan antara kamu dengan keluarga ini."
"Juga ... maafkan tante, Sha. Tante tidak bisa mendidik anak tante dengan baik. Anak tante sudah melukai hati perempuan secantik kamu. Matanya mungkin sudah tidak berfungsi dengan baik. Hatinya juga, mungkin sudah mati, Mysha."
"Jangan bicara seperti itu tante. Aku tidak sebaik gadis yang anak tante pilih. Aku gadis manja menurutnya. Jadi, apa yang dia pilih, mungkin itulah yang terbaik. Untuk sikapku pada keluarga ini, mungkin aku butuh waktu untuk bersikap seperti biasa lagi. Maaf, aku dan kedua orang tuaku tidak bisa menyatukan keluarga ini, tante."
"Mysha." Perempuan itu semakin tergugu sambil memeluk erat tubuh Mysha.
Karena pelukan yang disertai isak tangis itu, Mysha yang sudah berusaha menahan air mata dengan sekuat tenaga itupun harus mengalah. Air mata yang dia tahan, mengalir dengan deras melintasi pipi.
Malam ini, semua harapan telah sirna. Sebelumnya, sempat Mysha berpikir untuk memaafkan Geza jika malam ini keduanya tidak mengatakan kalau mereka sudah punya calon anak dari buah hubungan mereka.
Demi bersatunya keluarga Prayoga seperti yang tertulis dalam surat wasiat oma dan opa mereka. Mysha rela mengorbankan hati dengan menerima Geza meski dia tahu, Geza tidaklah menginginkan dia. Namun, saat dia tahu, hubungan Unna dan Geza sangat amat jauh, dia langsung tidak bisa memaksa hati lagi. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah, memutuskan hubungan dengan keduanya, meski itu terasa cukup berat.
Mysha langsung melepaskan pelukannya dari mama Geza. Namun sebelum melepaskan pelukan itu, Mysha menghapus air matanya yang tumpah terlebih dahulu.
"Maaf, tante. Kami harus pulang sekarang."
Selesai berucap, Mysha langsung melangkah. Papanya mengikuti dia dari belakang. Sementara mamanya, langsung menghampiri mama Geza yang masih terdiam dengan tatapan penuh kesedihan.
"Kami pulang dulu, Amel. Semoga ada waktu untuk kita berkumpul lagi. Tapi tentunya, tidak akan pernah mengulangi hal yang sama seperti malam ini."
"Anggun. Maafkan aku. Aku .... "
Mama Geza tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya. Dia sungguh sangat malu untuk bertatap muka dengan sahabat sekaligus kakak ipar karena apa yang sudah terjadi malam ini.
Tapi sepertinya, mama Mysha adalah perempuan yang berhati besar. Sama sekali tidak ada dendam dan kemarahan dalam hatinya atas apa yang sudah terjadi. Mama Mysha langsung tersenyum kecil dengan tatapan penuh dengan kesejukan ke arah mama Geza.
"Tidak perlu minta maaf, Mel. Karena kamu tidak salah. Seperti yang anakku katakan, anggap saja ini sudah takdir. Lihatlah putriku, Mel! Dia begitu tegar dengan hal ini. Jadi, tolong jangan merasa bersalah."
"Anggun .... "
"Amelia. Hubungan kita tidak akan berubah sedikitpun. Jadi, tolong jangan menangis dan sudahi penyesalan yang kamu rasakan. Kau harus kuat, selayaknya anakku yang sangat kuat dalam menghadapi masalah kali ini."
"Kami pulang dulu. Jaga kesehatan kamu, Mel."
Mama Geza masih terus tergugu saat melihat kepergian orang-orang yang dia sayangi melintasi pintu utama rumahnya. Hatinya seakan bertambah sakit saat melihat kepergian orang-orang itu.
Sementara Mysha dan kedua orang tuanya sudah meninggalkan rumah itu. Kiyan masih tetap berdiri tempatnya, kini langsung mendekat ke arah mama Geza.
"Tante, aku minta maaf karena sudah menimbulkan kekeruhan dalam permasalahan keluarga kalian malam ini. Karena kesalahpahaman yang terjadi barusan sangat menganggu pikiranku, maka aku harus menjelaskan pada tante agar tidak ada kesalahpahaman lagi di hati tante untuk Mysha."
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Gaza yg keras kepala...
Gaza yg mengikuti hawa nafsu..