NovelToon NovelToon
Muslimah In Love

Muslimah In Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen School/College / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mirna Samsiyah

Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.

Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?

-Alisha Sabiya Nadifah

Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Lima

Deanna melepas high heels yang dikenakannya setelah masuk ke dalam mobil. Deanna melihat arloji berwarna gold yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul 16:10. Kaki Deanna mulai menginjak gas mobil, ia hendak pergi ke rumah Daniel untuk meminta lelaki itu membantunya menghias pohon natal, ia selalu bersemangat tiap kali hari natal datang. Kalaupun uang tabungan nya habis untuk membeli segala keperluan pesta natal, Deanna tidak akan menyesal.

Deanna menghentikan mobil di depan rumah Daniel, mengganti high heels nya dengan sandal yang lebih nyaman sebelum turun dari mobil. Tak jarang kaki Deanna lecet akibat berdiri terlalu lama menggunakan sepatu hak tinggi

"Dean!"

Deanna yang hendak menekan bel pintu rumah Daniel spontan memutar kepala mendengar seseorang memanggil namanya.

"Daniel." Denna menurunkan tangannya dari bel yang tidak jadi ditekannya. "Kamu baru pulang?"

"Iya." Daniel melihat arloji di tangannya. "Kamu juga?"

"Iya, aku mau ajak kamu ke rumah, aku minta tolong bantu hias pohon natal bisa nggak?" Deanna tersenyum ke arah Daniel yang memasang wajah datar.

"Bisa." Daniel mengangguk. "Kalau gitu aku ganti baju dulu." Daniel membuka gerbang rumahnya dan masuk meninggalkan Deanna.

Deanna bersandar di mobil nya, ia menggigit bibir. Rasanya cukup lama Deanna tidak bertemu Daniel sejak ia melihat Daniel berada di Hotel Jinggo bersama Ica. Deanna tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tersebut. Daniel yang dicintainya terang-terangan menyukai gadis lain. Sakit memang tapi Deanna tidak bisa mengendalikan perasaan seseorang. Saat ini yang bisa Deanna lakukan adalah mempertahankan Daniel agar selalu di sisinya.

"Ayo!"

Deanna terlonjak saat Daniel tiba-tiba datang, lelaki itu sudah mengganti jas almamater nya dengan kaos abu-abu tua dan jeans biru.

"Loh, nggak naik mobilku aja?" Tegur Deanna saat melihat Daniel hendak masuk ke dalam mobil nya sendiri.

"Enggak, biar nanti kamu nggak usah anter aku pulang." Daniel masuk ke dalam mobilnya. Deanna terdiam sesaat sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri.

Deanna pikir Daniel tidak berubah sama sekali tapi ternyata ia salah. Daniel seperti menghindar agar tidak ada kesempatan untuk berdua dengan Deanna.

Sementara itu Daniel memasang headset di telinganya untuk menelepon seseorang sambil tetap menyetir.

"Halo Mas Umar" Daniel mengawali saat Umar di seberang sana menjawab teleponnya.

"Kenapa Niel?"

"Besok aja ya aku kesana, sekarang aku mau ke rumah Deanna dulu."

"Iya, Mas tunggu."

"Makasih Mas." Daniel melepas headset yang dikenakannya.

Daniel sudah membuat janji bahwa dirinya akan menemui Umar, suami Atalie setelah ujian hari terakhir. Daniel ingin memantapkan hatinya sebelum benar-benar membuat keputusan. Setengah tahun cukup baginya untuk mempelajari dasar-dasar islam sedangkan hal lain bisa dipelajarinya sambil mempraktekkan nya nanti. Setiap kali memikirkan islam berada di pelukannya, jantung Daniel berdetak dua kali lebih cepat seperti saat dirinya bertemu dengan Ica. Keinginan Daniel terhadap islam lebih besar dari pada keinginannya untuk memiliki Ica. Daniel ingin berlari kencang mengejar islam lalu memeluknya setulus hati tiada henti.

Daniel turun dari mobil setelah sampai di halaman rumah Deanna. Rencananya bertemu Umar gagal karena harus membantu Deanna menghias pohon natal. Daniel tidak bisa menolak permintaan Deanna, walau bagaimanapun perempuan itu adalah temannya sejak kecil. Daniel tidak mau Deanna merasa dijauhi hanya karena ia menyukai gadis lain bukannya Deanna. Daniel memang laki-laki yang ramah, tapi ia tidak mempunyai teman dekat kecuali Deanna.

"Ayo!" Deanna melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya. Daniel mengikuti dari belakang. Mereka menuju ruang tengah dimana terdapat pohon natal yang dibeli beberapa minggu yang lalu.

"Aku nggak ganggu waktu kamu kan?" Tanya Deanna saat menurunkan pernah-pernik pohon natalnya dari atas meja.

"Kebetulan aku lagi senggang." Jawab Daniel sambil tersenyum tipis. Ia duduk di atas lantai dekat pohon natal.

"Makasih ya Niel." Deanna menatap Daniel di hadapannya cukup lama.

"Umm." Daniel mengangguk.

"Oh iya, kamu mau minum apa?" Deanna beranjak dari duduknya bersiap-siap pergi ke dapur untuk membuat minuman.

"Apa aja." Daniel mendongak, bibirnya tersenyum lebar melihat Deanna.

"Tunggu sebentar ya?" Deanna melangkah keluar ruang tengah sedangkan Daniel mulai mengeluarkan berbagai jenis lampu dan amplop berwarna merah dari dalam kantong plastik besar.

Daniel merentangkan bola-bola lampu sebelum memasangkan nya pada pohon natal di dekatnya.

Apakah benar ini natal terakhirku?

Deanna kembali membawa 2 kaleng softdrink dingin dan setoples manisan kiamboy yang merupakan manisan dari buah plum yang dikeringkan.

Deanna menyukai aktivitas ini, ia menyukai apapun yang bisa membuatnya bisa berlama-lama dengan Daniel. Ia menahan perasaannya sangat lama, sekarang Deanna tidak ingin menahannya lagi. Walaupun Daniel tidak menyukainya tapi Deanna tidak akan menyerah. Deanna masih berhak memiliki Daniel, ia punya waktu banyak untuk membuat Daniel jatuh cinta

*****

Halaman Kampus Poliwangi ramai oleh para mahasiswa yang baru saja keluar dari ruang kelas usai ujian akhir sebelum naik tingkat. Ujian seminggu penuh yang menguras pikiran dan tenaga. Libur panjang di depan mata, sesaat lagi akan tiba waktunya bagi mereka beristirahat dari kuliah yeng melelahkan.

Ica dan Dianis menuruni tangga yang menghubungkan lantai 3 hingga lantai dasar gedung 454 tempat mereka ujian.

"Kita ke kantin ya." Ujar Ica pada Dianis yang sedang memainkan ponselnya sambil menuruni tangga.

"Ngapain?" Tanya Dianis tanpa melihat Ica.

"Nggak tahu, Kak Arfan ngajak ketemu di kantin."

"Hah? Tumben.." Dianis memasukkan ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan.

"Nggak tahu." Ica mengangkat kedua bahunya. "Dia udah bikin janji sama aku dari seminggu yang lalu." Terang Ica.

"Dari seminggu yang lalu!" Ulang Dianis dengan ekspresi terkejut yang lebay khas nya.

"Iya." Ica mengangguk.

"Kok kamu baru ngasih tahu aku sekarang sih?" Omel Dianis.

"Emang penting?" Ica menoleh ke kiri dan kanan melihat mahasiswa lain yang masih berada disana, juga mencari sosok Arfan. "Ayo, kayaknya Kak Arfan udah nunggu di kantin!" Ica menarik tangan Dianis agar berjalan lebih cepat.

Ica penasaran pada sesuatu yang akan Arfan bicarakan. Mereka jarang sekali bertemu secara pribadi kalau tidak untuk keperluan Rohis. Ica menduga ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rohis karena semua hal penting sudah dibicarakan pada pertemuan minggu lalu.

"Itu Kak Arfan!" Giliran Dianis menarik tangan Ica untuk menghampiri Arfan yang duduk di salah satu meja di sudut kantin.

"Kak Arfan udah lama?" Ica duduk di kursi tepat di hadapan Arfan sementara Dianis duduk di sampingnya.

"Belum kok." Arfan tersenyum manis pada Ica dan Dianis. "Kalian mau makan?"

"Enggak." Ica menggeleng.

"Iya iya." Dianis mengangguk. "Aku laper, Kak Arfan tahu sendiri kan ujian geografi pariwisata itu sulit banget, aku butuh makan banyak, Kak Arfan mau traktir?"

"Boleh." Arfan tersenyum lebar sambil mengangguk.

Ica menginjak kaki Dianis agar sahabatnya yang berisik itu berhenti bicara.

"Oke!" Dianis beranjak dari duduknya tidak terpengaruh dengan Ica yang menginjak kakinya. "Aku pesen makanan dulu." Dianis meninggalkan Arfan dan Ica untuk memesan makanan.

"Nggak usah ditraktir Kak." Ucap Ica pada Arfan karena merasa tidak enak pada lelaki itu.

"Nggak apa-apa, traktiran sebelum libur panjang." Arfan tersenyum, ia mengenakan jas yang sama dengan milik Ica karena mereka berada di jurusan yang sama.

Mereka sama-sama terdiam cukup lama, tidak tahu harus bicara apa.

"Oh iya, Kak Arfan mau ngomong apa? Ica to the point memecah keheningan di antara mereka.

"Sebelumnya maaf kalau mungkin ini terlalu mendadak Ca." Arfan mengubah posisi duduknya yang sebenarnya sudah benar, ia tiba-tiba nervous saat akan mengutarakan maksud dari pertemuan mereka. Ica memperhatikan Arfan seksama menunggu kalimat selanjutnya.

"Aku berniat mengkhitbahmu Ca." Ucap Arfan dengan suara lembut, bukan dibuat-buat tapi Arfan memang memiliki suara yang lembut.

"Apa!" Dianis spontan berteriak saat mendengar ucapan Arfan.

Ica menoleh ke arah Dianis yang berdiri di dekatnya membawa mie ayam dan es jeruk di tangannya. Dianis melongo, tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Dengan cepat Ica menarik tangan Dianis agar segera duduk untuk menghindari perhatian oleh mahasiswa lain yang juga berada disana.

Ica melihat Arfan setelah Dianis duduk di sampingnya.

"Bisa ulangi kalimatnya?" Ujar Ica.

"Bersediakah kamu jika aku mengkhitbah mu dalam waktu dekat?" Ulang Arfan penuh penekanan untuk membuktikan bahwa dirinya memang serius pada Ica.

Ica terdiam cukup lama, berusaha mencerna setiap kalimat yang Arfan ucapkan, ia tidak pernah memperkirakan hal seperti ini sebelumnya. Ica tidak pernah berkhayal ada lelaki yang tiba-tiba datang ingin mengkhitbahnya.

"Terima aja." Bisik Dianis di telinga Ica.

"Gini Kak." Ica memperbaiki posisi duduknya sedikit maju hingga tubuh nya hampir menempel pada meja agar Arfan mendengar dengan jelas setiap kalimat yang diucapkannya. "Maaf sebelumnya, aku sangat menghargai niat baik Kakak, tapi aku belum punya keinginan untuk menikah dalam waktu dekat, aku pengen selesain kuliah dulu." Jawab Ica terus terang, ia tidak ingin memberikan harapan pada Arfan sedangkan Ica tidak yakin pada lelaki itu.

Dianis melongo karena Ica menolak lamaran lelaki paling populer di jurusan MBP dan seangkatannya, ketua Rohis, alim, punya penghasilan sendiri di usia muda dan tentu saja tampan. Jika Dianis berada di posisi Ica, ia pasti akan langsung menerima Arfan.

"Kalau gitu aku tunggu kamu wisuda." Ucap Arfan dengan senyum tipis, matanya berkaca-kaca.

Ica terkejut dengan kalimat terakhir Arfan, ia tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Melihat raut wajah Arfan yang berubah drastis membuat Ica merasa bersalah.

"Kalau hari ini kamu tolak aku, aku berharap di hari lain kamu bisa terima." Arfan memaksakan senyumnya. "Jangan merasa terbebani, jika nanti kamu berniat menerima maksud baik ku, cari aku di istikharah mu Ca."

Ica menelan saliva nya saat tiba-tiba tenggorokan nya terasa tidak enak. Ica akhirnya mengangguk pelan setelah lama terdiam. Baik sekali Allah pada Ica karena mendatangkan pria sempurna seperti Arfan. Tapi Ica butuh yang waktu sangat lama untuk memantapkan hatinya.

Btw, edisi kompak pakai kacamata nih 😂

1
flower12
bagus banget ceritanya
Mirna: makasih sayang 🥰
total 1 replies
falea sezi
zyan ne munafik
Rere Winda
ihh kirain laki² zayann
Rere Winda
baru mampir thor👍bagus nih ceritanya
Mirna: Wah makasih kak, semoga suka sampe akhir cerita
total 1 replies
ಡNaツ
beneran gabisa move on sama ica dan daniel, download noveltoon buat baca ulang ini doangggg
Mirna: Yeay udah ada sekuel nya lo sekarang, jangan lupa baca juga 😘
total 1 replies
Wury Ayra
suka bgt sama ceritanya
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Jaga Hati Babang Daniel jika ingin satu Amin yg sama sama ica 🤭🤭 tapi harus satu iman dulu ya 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Suatu hari nantik 🤔🤔🤔🤔
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Waduhhhh Rakuss nyaa Bang 🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Ngarep ya Bang di Tawarin 🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
sok nanyak lu bang 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Bohongg terussss 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
ngintilin kamu Icha 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
sok atuhh Bang di makan 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Makanya Harus Satu Iman & Amin yg sama Bang 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Bau Bau Mualaf ini mahh 🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Aduhhhhj senyum mu melelehkan Banggg🤭🤭 Meleleh tapi bukan Eskrim bangg 🤭🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Sabarrr Babang,, Dek Ica mu Menghadap Allah dulu yaa 🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Sekalian bilang yg Cantik plus Mungil 🤭
🦋⃟ℛ★🦂⃟ᴀsᷤᴍᷤᴀᷫ ★ᴬ∙ᴴ࿐❤️💚
Waduhhhh Babang Daniel sampek kebawa Mimpi yaa perihal Binatang yg di kataan Dek Ica 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!