Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frans
Anetta's POV
Aku tidak dapat menahan senyuman di wajahku sepanjang pagi ini. Setelah kemarin menghabiskan waktu sehari penuh bersama Marco dan keluarganya, serta mengetahui kedua orang tuanya menerimaku, membuat hatiku dipenuhi bunga-bunga.
Aku merasa kini dapat menjalani hubungan dengan Marco tanpa beban. Sampai, aku teringat akan permainan cinta sembunyi-sembunyi kami dari rekan-rekan di kantor.
Seperti ada sengatan kecil di jantungku ketika mengingat hal itu, tapi berusaha kualihkan. Mungkin berpura-pura melupakan kenyataan itu untuk sementara merupakan pilihan terbaik.
“Netta! Halooooo!” Frans menjentikkan jari tangannya di depan wajahku hingga membuat aku tersadar dari lamunanku.
Aku mengerjap. “Eh, iya, Frans? Gimana tadi?” tanyaku tergagap. Aku tidak terlalu fokus kepada apa yang Frans bicarakan sedari tadi.
“Lo enggak dengerin penjelasan gue, ya?” gerutunya.
Aku merekahkan senyuman selebar mungkin, mencoba meminta permaklumannya. Sungguh, hatiku sedang bermain-main di kebun bunga hati Marco tadi, sehingga tidak memperhatikan bahwa Frans sedang memberikan penjelasan sejak tadi.
Frans mendengus, lalu mengulangi kembali penjelasannya mengenai proyek sebuah kafe yang baru saja buka di tengah kota. Marco mendapuk Frans dan aku untuk menangani proyek tersebut.
Aku jadi teringat ketika tempo hari Marco cemburu terhadap Frans, saat aku terpaksa menumpang mobil lelaki itu untuk pergi meeting. Kenapa hari ini Marco begitu lempang menunjuk aku untuk mendampingi Frans pada proyek ini?
“Ngelamun lagi ...” tegur Frans lagi.
“Enggak, Frans. Aku perhatiin kamu, kok. Ayo teruskan,” kataku sambil berusaha meyakinkan Frans bahwa aku sudah benar-benar memperhatikannya kali ini.
Frans melanjutkan kembali penjelasannya, sementara aku sembari bermain dengan pensilku, mencoba mengeksekusi apa yang ada di kepalaku dan Frans di atas kertas. Setidaknya kami bisa mendapatkan gambaran awal seperti apa desain yang akan kami ajukan pada pemilik kafe tersebut.
“Frans, coba lihat ini.” Kusodorkan hasil desain ruangan yang aku buat pada Frans.
Dalam proyek ini, aku mendapat bagian untuk mendesain interior kafe, sesuai dengan bidangku. Sementara itu, sesuai bidang keahliannya, Frans akan menangani desain bangunan.
“Bagus. Gue suka nuansanya,” puji Frans.
Aku tersenyum, berterima kasih atas pujian itu. Lalu tiba-tiba, Frans berdeham. Beberapa detik kemudian, permintaan yang diutarakannya membuat aku ingin terjungkal saja rasanya.
“Untuk urusan material, tolong lo yang follow up ke bagian pembelian, ya.”
“Sebelum aku bilang oke, aku mau tanya sesuatu ...” tanyaku berusaha tampak serius.
Frans memandangiku dengan wajah yang seolah mengatakan ‘gue-tahu-lo-bakal-nanya-apa’ dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, bahkan sebelum pertanyaanku yang mungkin akan membuatnya menggigit pensil di hadapannya itu terlontar dari bibirku.
“Aku enggak akan nanya yang aneh-aneh, Frans." Aku berusaha mengatur ekspresi wajahku sedatar mungkin agar Frans mau menjawab pertanyaanku.
"Ya udah, lo mau tanya apa? Buruan tanya!" Huh, belum bertanya saja, dia sudah keki begitu.
Aku berdeham. "Tapi kamu jangan marah, ya, Frans? Janji?" Dia bergeming, hanya memutar bola mata enggan. "Aku cuma mau tanya ... Kamu mau menghindar dari Mbak Ningrum, ya?”
“Enggak,” jawabnya ketus.
“Lalu, kenapa harus aku yang ngurusin material?”
“Ya ... kita bagi tugaslah ...” jawabnya, setengah tergagap.
“Iya, tapi kamu cepat banget nyuruh aku yang follow up ke pembelian," kataku setengah merengek.
Frans tampak gusar. Beberapa kali dia berdecak, lalu mendengkus. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku. “Lo enggak tahu aja, sih, Net ... Mbak Ningrum itu ngeselin banget,” katanya.
“Emang ...” selaku cepat.
“Dia tuh, sikapnya plin-plan banget,” lanjutnya lagi.
“Emang ...” selaku lagi.
“Kadang jutek, kadang senyum-senyum sendiri. Kadang gue ngomong, dia pura-pura tuli. Kadang lagi, belum gue ngomong, dia udah nyahutin dari jauh. Enggak jelas, deh, pokoknya ...” sungut Frans panjang lebar.
Sekali lagi, semua yang Frans bilang mengenai Mbak Ningrum itu juga pernah aku rasakan. Selain ketus, jutek, atau apa pun itu sebutannya, dia juga sering bersikap tidak jelas. Kadang menggumam sendiri dengan tidak jelas, dikira semua orang bisa membaca suara hatinya.
Sekarang, malah Frans menjerumuskan aku untuk berurusan dengan perempuan judes itu. Dia bisa menghindar, tapi aku yang harus masuk ke dalam lubang singa betina. Dasar!
“Ya terus, menurut kamu dia enggak akan bersikap gitu sama aku? Kamu enggak tahu aja, sih ... aku juga males banget berurusan sama dia,” balasku tak kalah putus asa.
Mengingat berurusan dengan Mbak Ningrum dalam urusan pengadaan atau pembelian material selalu berjalan alot, aku memutar otak bagaimana caranya untuk tetap melaksanakan tugas tanpa harus berhubungan dengan 'gadis-hampir-paruh-baya' yang juteknya ampun-ampunan itu.
Tiba-tiba saja, hape Frans berdering. Singkat. Sepertinya nada dering pendek itu menandakan ada pesan yang masuk.
Frans membuka layar hapenya yang terkunci, kemudian menggeser layar menu untuk membuka laman Whatsapp. Beberapa detik kemudian, kulihat lelaki itu bergedik sendiri sambil mengetukkan jari-jarinya ke permukaan meja.
“Kamu kenapa, Frans?” tanyaku penasaran.
Frans belum menjawab. Dia masih bergedik, lalu menyodorkan hapenya ke hadapanku.
Aku memperhatikan layar hape Frans dan membaca sebuah pesan Whatsapp yang masuk dengan nama pengirim: Mills_Pembelian_Ningrum.
Sebenarnya tidak akan menjadi lucu kalau saja Mbak Ningrum mengirimkan pesan biasa saja pada Frans. Namun, pesan yang dikirim Mbak Ningrum barusan itu bernada ‘menggoda’, terang saja Frans menjadi geli sendiri.
Aku terkikik melihat tingkah laku Frans saat ini. Saking asiknya tertawa, sampai-sampai keluar air dari ekor mataku.
“Lo lihat sendiri, kan? Udah beberapa hari ini dia selalu ngirim pesan kayak gini ke gue. Gimana gue enggak mau menghindar, coba!” gerutu Frans sambil menarik napasnya dalam-dalam.
Aku semakin tergelak. Entah apa maksud Mbak Ningrum mengirimkan pesan seperti itu pada Frans. Masa iya dia naksir Frans?
Eh? Kenapa kemungkinan itu tidak terpikirkan olehku? Sebuah kenyataan yang bagus, bukan, kalah Mbak Ningrum naksir Frans? Tentu ini akan menjadi jalan keluar untuk kami bisa berhubungan lancar dengan bagian pembelian.
Aku melirik Frans sebentar, sambil mengendalikan diri agar tidak tertawa kembali.
“Frans, kamu harus percaya sama aku kali ini. Sekarang ini kesempatan yang bagus untuk kita ngajuin pembelian material ke Mbak Ningrum. Kalau kamu mau bersabar sedikit aja menghadapi dia, kerjaan kita bakal cepat beres.” Aku menatap Frans penuh harap. Semoga dia mau mengikuti pendapatku barusan.
Frans masih bergeming, tapi wajahnya tampak berpikir.
“Oke, oke. Demi proyek kali ini, gue rela, deh, jadi tameng!” katanya, tapi bisa kulihat rona keterpaksaan di wajah lelaki itu.
Ah, biarlah. Setidaknya satu masalah teratasi. Mudah-mudahan saja ideku tadi tidak berdampak buruk untuk Frans.
"Tapi ..." ucapan Frans terputus.
"Tapi apa?" Aku membulatkan mata, menunggu jawabannya.
"Kalau dia sampai nyebelin lagi, gue bakal suruh lo yang hadapin dia."
Aku hanya bisa tersenyum masam.
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍